Terusik aku oleh hadirmu
Si nomer satu dan terus begitu
Mengguncang setiap sudut ruangku
Membuat retak lagi bagian itu
Hei anak laki-laki
Jangan seperti ini
Tersenyum seolah tak terjadi sesuatu
Lalu kembali pergi membuat luka baru
Kediri, 28.11.17
28 Nov 2017
12 Nov 2017
Sun:day
Di rumah saja
Bersama segelas jus dan buku rumus
Atau mencoba resep baru bersama ibuk
Sepagi ini mbah kung sudah duduk bersila
Besama teh dan rokok surya
Mengobrol ini itu bersama bapak
Adiku menyapu
Kakakku baca buku
Aku kembali tidur, tenggelam bersama lagu lagu
Bersama segelas jus dan buku rumus
Atau mencoba resep baru bersama ibuk
Sepagi ini mbah kung sudah duduk bersila
Besama teh dan rokok surya
Mengobrol ini itu bersama bapak
Adiku menyapu
Kakakku baca buku
Aku kembali tidur, tenggelam bersama lagu lagu
5 Nov 2017
Halogen
Havana menggema seantero kamar
Bersama catatan halogenku dan pikiran tentangmu
Aku jadi mengkhayal sendiri
Kamu mungkin termasuk dalam unsurnya
Kamu reaktif, dalam setiap sudut otakku
Tapi tidak bisa aku temukan di alam bebas
Di dunia nyata kamu menjelma asing
Kamu kekal dalam khayal, mati di kenyataan
Kamu sangat oksidator, sehingga mudah tereduksi
Menyusut menjadi kepingan kecil dan siap untuk menyublim
Mengudara bersama ratusan kupu-kupu
Keindahanmu sungguh tak pantas untuku
Lebih baik kamu terbang, meledak, dan hilang
Tanpa pamit, kecup dan kenang.
Selamat Malam, Bu Aris.
(Ps: puisi ini di buat di samping tumpukan tugas bersama perut kenyang dengan sambal goreng ati dan nasi hangat)
Bersama catatan halogenku dan pikiran tentangmu
Aku jadi mengkhayal sendiri
Kamu mungkin termasuk dalam unsurnya
Kamu reaktif, dalam setiap sudut otakku
Tapi tidak bisa aku temukan di alam bebas
Di dunia nyata kamu menjelma asing
Kamu kekal dalam khayal, mati di kenyataan
Kamu sangat oksidator, sehingga mudah tereduksi
Menyusut menjadi kepingan kecil dan siap untuk menyublim
Mengudara bersama ratusan kupu-kupu
Keindahanmu sungguh tak pantas untuku
Lebih baik kamu terbang, meledak, dan hilang
Tanpa pamit, kecup dan kenang.
Selamat Malam, Bu Aris.
(Ps: puisi ini di buat di samping tumpukan tugas bersama perut kenyang dengan sambal goreng ati dan nasi hangat)
Langganan:
Komentar (Atom)
Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan
Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...
-
Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...
-
Udah lama banget ya dari terakhir kali aku update di blog ini. Kalo boleh jujur, sebenarnya banyak sekali cerita yang ingin aku bagikan sepa...
-
Hari ini seseorang berulang tahun Umurnya berkurang, ia tak tenang Tadi pagi satusnya sedang bersedih Ingin mengucapkan, takut pesanku...