7 Des 2015

Maling Ati

Harus aku menanti kepastian yang semu? Aku mengejarmu tanpa mengerti kata lelah. Meski kamu terus berjalan menjauh tanpa menoleh barang sedetik. Haruskah aku menanti kepastian yang semu? Kamu mengajaku melayang bersama kata kata indah. Kamu mengajar kan ku apa arti ketulusan. Haruskah kini aku yang berjuang sendiri?
***
Aku mendudukan tubuhku di deretan bangku panjang yang tertata di depan kelas. Dengan di temani sebotol susu kemasan favoritku. Memperhatikan gerbang yang terbuka dengan siswa siswi yang lalu lalang dan helm di genggaman mereka. Aku masih setia memperhatikan gerbang arah parkiran dengan seksama. Meneliti wajah wajah mereka yang baru datang. Sesekali membalas sapa kepada teman temanku sebaya. Tapi bukan mereka yang aku cari.

Bel tanda masuk berbunyi. Aku masih setia menanti janji. Yang telah kita bahas berjam jam semalam. Salah seorang temanku mengajak masuk kelas karna sudah saatnya tadarus bersama. Tapi aku diam mematung. Harapanku masih tinggi tentangnya.

"Udah gak usah ditungguin. Nanti juga nyamperin. Masuk yuk" ajak temanku entah sudah yang keberapa kali.

Saat aku berdiri dan hendak melangkah masuk. Sebuah suara bass memanggil namaku.

"Amala" aku menoleh ke sumber suara.

Tanganya yang langsung mendekap mulut karna tau suaranya membuat gaduh membuatku tidak dapat menahan tawa. Dia berlari kecil menghampiriku. Dengan sebotol susu kemasan yang sama rasanya dengan yang baru aku habiskan.

Tanganya menjulur memberikan susu itu. Aku hanya menatap tanpa berkata apapun. Aku memang menunggunya berkata sesuatu.

"Ini ambil. Balesan karna lo udah minjemin catetan fisika plus nerangin buat gue kemaren. Lo tau kan anak ips kurang faham sama begituan. Jadi thanks a lot" ucapnya beruntutan.

Aku tersenyum mendengar kalimat terakhir. Sambil mengangguk pelan.

"Kok lo cuman ngangguk? Lo gak mau ngomong apa gitu. Biasanya cerewet"

Aku menggeleng seadanya. Entah kenapa, lidahku terasa kaku untuk di gerakan. Tidak seperti biasanya.

Dia terkekeh pelan "yaudah, masuk gih. Tadarus dulu" ucapnya sebelum berlalu pergi. Dan setelah kepergian ya aku merasa baru saja menjadi orang terbodoh.

"Kenapa gue gak bisa buka mulut sama sekali tadi? Hih! Nyebelin banget itu cowok bisa bikin lidah gue kaku. Dia pake sulap apa yaa" cerocosku pada angin.

***
Hariku terus berlanjut. Dan tidak ada yang spesial setelah kejadian pemberian ucapan terimakasih kala itu. Dan tidak lagi ada yang spesial seperti minggu lalu.

Dimana dia selalu menghadangku saat aku hendak pulang melewati area parkir. Aku tidak tau darimana dia tau motorku. Tiba-tiba saja dia sudah dalam posisi siap diatas motorku. Dan dia bilang akan mengantarku pulang. Padahal kita tidak sejalur. Sudah berulang kali aku minta untuk turun, tapi dia lebih keras kepala.

Saat sampai di depan rumahku, barulah laki-laki ini mau turun dan tersenyum padaku. Senyum kesepuluh yang aku dapat darinya. Aku suka menghitung senyumnya. Entah kenapa.

Dia berdiri sambil memperhatikan rumahku. "Mau mampir?" tawarku tapi ia menolak.

"Jadi ini istana tuan putri" dan aku anggap itu sebagai pujian. Aku hanya bisa tersenyum malu sambil menenggelamkan kepala.

Terdengar kekehan kecil darinya yang dapat kutangkap dengan jelas. "Gue pulang dulu ya" segera aku mendongak setelah dia bilag begitu.

"rumah lo mana sih? lo mau pulang naik apa? disini jarang ada angkot lewat apalagi taxi" dia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Senyumnya yang ke sebelas. Lalu berlari sambil melambai ke arahku.

"buruan masuk. esok jangan kesiangan. kita berangkat bareng" hanya itu yang bisa ku tangkap. Karna dia berteriak sambil terus menjauh.

Dan saat itu hatiku bergetar. Perasaan yang aku tunggu-tunggu edatanganya. Di kolog langit senja. Kau buatku jauh cinta.

***

Hari hari selanjutnya aku lalui bersamanya. Kita sering menghabiskan waktu pulang sekolah bersama. Dan saat-saat seperti itu yang sangat aku rindukan.

Aku selalu ada untuknya. Tidak, aku selalu berusaha untuk selalu ada untuknya. Meski tu sulit, aku tetap slalu mengusahakanya. Walaupun hanya dibalas dengan kata-kata manis yang selalu berhasil membuatku melayang. Atau susu botol favoritku sebagai selingan. Aku tak mengapa. Karna aku senang melakukanya untukmu.

Apa aku benar-benar hanya sebagai persinggahanmu? Sebagai alat dan kaki tanganmu? Yang selalu kamu mintai sesuka hati lal kamu tinggal pergi? Apa kamu benar-benar tak mau tanggung jawab saat aku telah menaruh hati padamu? Apa gunanya kamu memberiku angan setinggi awan jika akhirnya kamu tinggalkan?

Aku masih menyimpan sejuta tanya padamu. Dan aku harap dapat mengutarakanya padamu. Jika suatu hari kau kembali padaku. Aku percaya. Kau akan kembali.

Untuk kamu, sang pencuri hati

7 Agu 2015

Bunga Terakhir


Bunga yang tadinya segar dan indah, semakin hari semakin layu. Makin hari makin menghitam. Makin hari makin mengering. Vas itu tadinya penuh dengan air es. Entah kemana sekarang. Bisa saja mengering atau diminum oleh serangga khayalku. Tepatnya di atas meja dekat jendela. Titik fokusku selalu jatuh disana setiap sore. Bukan pada jendela atau pemandangan sore di sana. Tapi pada bunga kering di dalam vas. Mawar kering tersorot sinar jingga sore hari dari langit barat. Tetap terlihat indah bagiku. Mawar pertamaku. Bahkan terakhir.

1 Jul 2015

Cerita Pasi

Gemuruh hati terasa pasi. Tak lagi sama dengan pertemuan kita pertama kali. Semua fantasi hanya sebuah ekspektasi. Susah untuk terealisasi. Sebuah benteng kasat mata menghalangi. Begitu kokoh meski tak terlihat. Tapi begitu terasa. Merayap menggapai jiwa.Takmau runtuh meski berkali-kali kita dobrak.
Aku sudah melepaskanmu.Membiarkanmu pergi mencari hal baru yang lebih menyenangkan. Jangan hiraukan aku disini. Aku bahagia dengan keputusanku. Melihatmu bahagia, walau sudah tidak dalam skenario yang sama. Denganku.

24 Jun 2015

Dongeng sebelum Tidur

Pandangan kami bertemu di kala sore. Tatapan pertama kami sebagai seorang teman. Satu hal yang aku sukai saat itu juga, mata birumu yang seperti laut. Membawaku hanyut, bahkan mungkin terlalu dalam. Sampai membuat sebuah organ dalam tubuhku tak henti bergejolak. Tapi aku segera berusaha menghilangkanya. Aku tidak pantas merasakanya. Aku hanya gadis kutu buku yang bermimpi akan bertemu seorang pangeran. Seperti dongeng klasik yang sering ibu ceritakan padaku. Tapi mustahil sekali itu terjadi. Atau bahkan dengan pemuda ini, seseorang yang baru aku temui dan sangat di idolakan di sekolah. Sangat amat mustahil.

Satu desiran kembali terasa, saat tak sengaja aku menabrakmu diikuti buku-bukuku yang berjatuhan. Kau membantu memungutnya. Satu buku tak kau kembalikan padaku. Malah kau bawa kabur ke kelasmu. Aku tak mengerti maksutnya, sehingga aku hanya mematung ditempat tak berani memanggilmu untuk memintanya.

Suatu hari kita bertemu kembali. Kamu sengaja datang kekelasku dengan salah satu bukuku di genggamanmu. Mungkin kamu sengaja mampir untuk mengembalikan. Namun satu hal ganjal, ada sebuah nomor di halaman depanya. Ini bukan nomorku, atau salah satu temanku. Nomor ini baru aku ketahui ada setelah kamu mengembalikan. Atau mungkin ini nomormu? Pikiranku mulai gila. Untuk apa kamu menilis nomormu di bukuku.

Aku pulang sore hari itu, karna sedikit tugas tambahan dari seorang guru membuatku tertahan. Aku ingin segera pulang dan memanjakan diriku di kamar kesayanganku. Namun sayang, mungkin keinginanku tidak akan segera terlaksana. Seseorang kembali menahanku untuk tetap tinggal. Kali ini bukan lagi seorang guru. Tapi pemuda yang mengembalikan bukuku tempo hari. Mau apa dia?

"Kenapa kamu tidak menghubungiku?" tanyamu.

Aku sangat ingin tapi, "untuk apa?"

"agar aku bisa berkenalan denganmu" katamu dengan senyum hangat. Kini desiran itu kembali terasa. Jantung ini terasa terpompa semakin cepat.

"Mau minum segelas dawet dulu denganku?" aku belum menjawab apapun, karna aku merasa ragu. Hari sudah mulai sore. Tapi pemuda ini tetap saja keukeh ingin mengajaku. Tanpa meminta izinku kamu menarik tanganku untuk mengikuti langkahmu.

Dawet depan sekolah yang sebenarnya sudah sering aku minum kali ini terasa berbeda. Rasa manisnya begitu terasa, bahkan serasa tak ingin hilang dari alat perasa. Apa karna ada seorang yang berbeda?

"Manis" gumam orang disebelahku dengan sangat jelas. Aku menengok, dan mendapatinya sedang menatapku aneh.

"Kenapa? gulanya kebanyakan?" tanyaku seadanya. Ia mengerjap beberapa kali sebeleum mengelak dan tiba-tiba tingkahnya menjadi aneh. Atau hanya perasaanku saja.Tapi jujur saja, tingkahnya benar-benar membuatku ingin tertawa. Namun, aku tahan.

"Sudah? ayo aku antar pulang" ajaknya. Aku menurut saja, karna memang sudah sore dan bisa saja tidak ada lagi angkutan umum yang lewat.

Aku menunggunya dipagi hari seperti biasa. Sudah beberapa hari ini laki-laki yang baru aku kenal mengajaku berangkat dan pulang bersama setiap hari. Aau senang, karna ternyata dia tidak secongkak yang aku kira. Kebanyakan anak-anak hits sekolah seperti itu. Tapi yang kali ini tidak. Dia sangat asik sekali. Dan ternyata dia juga pecinta sastra, sama sepertiku. Kita nyambung sekali saat membahas topik itu.

Pulang sekolah dia kembali mengantarku pulang. Tak lupa ia memberi senyum hangatnya seperti biasa. Dia menyuruhku cepat masuk karna udara memang agak dingin.

Hari terus berlanjut. Kami semakin akrab satu sama lain. Juga dengan perasaan ini. Semakin lama denganmu semakin dalam perasaanku padamu. Tapi aku harap kamu tak pernah tau, sampai kamu memberi tahhu lebih dulu perasaanmu padaku. Akan lebih dari kata kagum, atau hanya akan sebatas teman dan tak akan pernah bertambah menjadi yang lebih seperti yang kuinginkan.Aku ingin sekali memberitaumu lebih dulu. Tapi aku seorang wanita. Pantaskah? Aku ditakdirkan untuk menunggu, mungkin memang itu yang harus aku lakukan.

Kita sudah cukup lama bersama, dan aku belum juga mendapat kepastian darimu. Apakah aku ini spesial atau hanya sebatas teman ngobrolmu dikala senggang.

Aku kembali ke rutinitasku dulu. Sebelum aku mengenalmu. Berangkat dan pulang sekolah dengan angkutan umum. Karna sudah tiga hari ini kamu tidak melakukan rutinitasmu sebelumnya, mengajaku berangkat dan pulang bersama. Kabar burung disekolah yang katanya kamu sedang dekat dengan salah satu anggota paduan suara yang cantik itu. Membuatku semakin khawatir denganmu. Kita juga sudah jarang sekali mengobrol bersama, malahan hampir tak pernah. Kamu terlihat menghindariku saat kita bertemu di sudut sekolah. Saat aku coba mencarimu kamu sudah tidak ada lagi jejak. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu tiba-tiba menghindar? apa salahku?

Aku terkejut saat mendapatimu satu meja denganya. Gadis cantik anggota paduan suara. Kalian terlihat sangat serasi. Kamu yang notabene siswa berprestasi di bidang olahraga ditambah dengan parasmu yang rupawan sangat pantas bersanding denganya. Daripada denganku. Si kutu buku yang punya impian mempunyai kisah cinta yang indah seperti dongeng yang sering aku baca dan aku dengar. Jauh sekali. Kamu lebih pantas bersamanya. Kini aku tau jelas hubungan kita. Hanya sebatas teman ngobrol di kala senggang, tak lebih.

Tanpa aku sadari aku sedang melihatimu tanpa berkedip. Saat kamu tiba-tiba melihat kehadiaranku dengan wajah yang tampak terkejut aku sadar. Aku hanya membalas tatapanmu dengan senyuman pahit yang sangat dipaksakan. Aku ikut senang. Aku segera bergegas pergi meninggalkanmu yang memperlihatkan mimik menyesal. Atau hanya perasaanku saja? Aku tidak sempat berbalik untuk melihatnya lagi. Karna aku ingin segera bersembunyi dan menutupi sesuatu yang sudah tidak bisa lagi aku tahan.

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sepi. Ragaku ada tapi fikiranku mengudara. Melayang-layang mengingat lagi kenangan kita saat bersama. Saat kita berdua duduk di kantin sekolah atau kedai kopi yang sering kita kunjungi. Hanya untuk berbagi cerita dan membicarakan hal tak penting. Sesekali membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya. Kadang terlihtas juga ucapan konyolmu disela-sela obrolan kita. Haruskah aku menyimpan kenangan itu atau melupakanya.

Sebuah suara memanggil namaku. Membuatku terbangun dari lamunanku dan mencari asal suara itu. Tapi yang aku dapati lebih dulu adalah suara deru mobil yang semakin mendekat. Kakiku terasa kaku hanya untuk berlari menghindar. Bodohnya aku masih berdiri disana tanpa berusaha menghindar. Suara itu lagi memanggil namaku. Aku mengenali suara itu. Laki-laki yang baru saja aku fikirkan. Sebuah motor yang sangat aku kenali dengan pengendara diatas motornya datang dari arah belakangku. Dan berhenti tepat didepanku. Tangan orang itu meraih tubuhku dan merangkulku menghalangi pandanganku, orang itu berbisik tepat di telingaku "Aku mencintaimu Larasati" dan semuanya menjadi gelap.

Aku meringis kesakitan saat membuka mata. Sebuah lampu yang terang menyambutku. Di ruangan serba putih yang tadinya sepi tiba-tiba berubah ramai dengan suara derap kaki menghampiri ranjangku.

"Kamu sudah sadar nak" tanya wanita yang sangat aku cintai. Tapi ingatanku kembali ke kejadian kenapa aku bisa ada disini. Membuatku diserang pusing tiba-tiba. Aku memohon kepada kedua orang tuaku untuk membawaku menemuinya

Di depan kamarnya ramai dengan keluarga dan beberapa temanmu yang sebagian aku kenal. Dan ada dia juga. Gadis yang beberapa hari ini sering bersamamu. Mereka semua mengangis dan saling menenagkan satu sama lain. Apa yang sedang terjadi? Apa kamu belum sadar?

Aku mengintip dari jendela pintu. Tak memperdulikan tatapan tajam gadis yang sedang menangis di belakangku. Dan terlihat disana kamu yang sudah akan ditutupi kain putih. Aku mencoba masuk kedalam untuk memastikan benarkah mau itu. Dan ternyata aku tidak salah lihat. Kamu sudah terbaring disana dengan wajah pucat dan beberapa jahitan dikepalamu. Tangisku pecah ditempat. Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini. Kenapa kamu menyelamatkanku kalau harus kamu yang pergi? Harusnya kamu biarkan saja tadi aku.

Satu hal yang ingin aku lakukan sejak tadi. Membalas ungkapan perasaanmu. Membisikan tepat di telingamu. Ungkapan yang tulus dari dalam hatiku. "Aku mencintaimu Geovani" aku tersenyum lega karna berhasil mengungkapkanya. "Selamat tidur sayang" mengecup keningnya untuk yang terakhir kali.

6 Jun 2015

My Graduation🎉














So, some days ago i was finished my hard exam. And a week after that my school hold graduation, like farewel party. We wear traditional clothes like that. My friends wear too, and so colours full. I wear my favorit colour. And there is interesting story, i looked behind when it.

I woke up lately. Salon owner send me message last night. But i've read it after i woke up in the morning. She say, they be ready at 3 a.m. I panic when i read that massage. My mom woke at down. And she still in mosque. I waiting my mom moment and soon departed after that.

In the salon my other friends already in makeup and a bun. Even ready with a blouse. WhilemMe? just arrived. And finally I was the last person in makeup.

I'm lucky, i'm not arrived lately in the building. In front of building, ther is photoboth. My mom wanted to immortalize my garduation day. So we take a picture before enter the building.

My mom just attending an event a few moments. Becaus she must go to city. Take care of my high school registration. But i was enjoy with my friends until a event over. And take a picture together.

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...