24 Jun 2015

Dongeng sebelum Tidur

Pandangan kami bertemu di kala sore. Tatapan pertama kami sebagai seorang teman. Satu hal yang aku sukai saat itu juga, mata birumu yang seperti laut. Membawaku hanyut, bahkan mungkin terlalu dalam. Sampai membuat sebuah organ dalam tubuhku tak henti bergejolak. Tapi aku segera berusaha menghilangkanya. Aku tidak pantas merasakanya. Aku hanya gadis kutu buku yang bermimpi akan bertemu seorang pangeran. Seperti dongeng klasik yang sering ibu ceritakan padaku. Tapi mustahil sekali itu terjadi. Atau bahkan dengan pemuda ini, seseorang yang baru aku temui dan sangat di idolakan di sekolah. Sangat amat mustahil.

Satu desiran kembali terasa, saat tak sengaja aku menabrakmu diikuti buku-bukuku yang berjatuhan. Kau membantu memungutnya. Satu buku tak kau kembalikan padaku. Malah kau bawa kabur ke kelasmu. Aku tak mengerti maksutnya, sehingga aku hanya mematung ditempat tak berani memanggilmu untuk memintanya.

Suatu hari kita bertemu kembali. Kamu sengaja datang kekelasku dengan salah satu bukuku di genggamanmu. Mungkin kamu sengaja mampir untuk mengembalikan. Namun satu hal ganjal, ada sebuah nomor di halaman depanya. Ini bukan nomorku, atau salah satu temanku. Nomor ini baru aku ketahui ada setelah kamu mengembalikan. Atau mungkin ini nomormu? Pikiranku mulai gila. Untuk apa kamu menilis nomormu di bukuku.

Aku pulang sore hari itu, karna sedikit tugas tambahan dari seorang guru membuatku tertahan. Aku ingin segera pulang dan memanjakan diriku di kamar kesayanganku. Namun sayang, mungkin keinginanku tidak akan segera terlaksana. Seseorang kembali menahanku untuk tetap tinggal. Kali ini bukan lagi seorang guru. Tapi pemuda yang mengembalikan bukuku tempo hari. Mau apa dia?

"Kenapa kamu tidak menghubungiku?" tanyamu.

Aku sangat ingin tapi, "untuk apa?"

"agar aku bisa berkenalan denganmu" katamu dengan senyum hangat. Kini desiran itu kembali terasa. Jantung ini terasa terpompa semakin cepat.

"Mau minum segelas dawet dulu denganku?" aku belum menjawab apapun, karna aku merasa ragu. Hari sudah mulai sore. Tapi pemuda ini tetap saja keukeh ingin mengajaku. Tanpa meminta izinku kamu menarik tanganku untuk mengikuti langkahmu.

Dawet depan sekolah yang sebenarnya sudah sering aku minum kali ini terasa berbeda. Rasa manisnya begitu terasa, bahkan serasa tak ingin hilang dari alat perasa. Apa karna ada seorang yang berbeda?

"Manis" gumam orang disebelahku dengan sangat jelas. Aku menengok, dan mendapatinya sedang menatapku aneh.

"Kenapa? gulanya kebanyakan?" tanyaku seadanya. Ia mengerjap beberapa kali sebeleum mengelak dan tiba-tiba tingkahnya menjadi aneh. Atau hanya perasaanku saja.Tapi jujur saja, tingkahnya benar-benar membuatku ingin tertawa. Namun, aku tahan.

"Sudah? ayo aku antar pulang" ajaknya. Aku menurut saja, karna memang sudah sore dan bisa saja tidak ada lagi angkutan umum yang lewat.

Aku menunggunya dipagi hari seperti biasa. Sudah beberapa hari ini laki-laki yang baru aku kenal mengajaku berangkat dan pulang bersama setiap hari. Aau senang, karna ternyata dia tidak secongkak yang aku kira. Kebanyakan anak-anak hits sekolah seperti itu. Tapi yang kali ini tidak. Dia sangat asik sekali. Dan ternyata dia juga pecinta sastra, sama sepertiku. Kita nyambung sekali saat membahas topik itu.

Pulang sekolah dia kembali mengantarku pulang. Tak lupa ia memberi senyum hangatnya seperti biasa. Dia menyuruhku cepat masuk karna udara memang agak dingin.

Hari terus berlanjut. Kami semakin akrab satu sama lain. Juga dengan perasaan ini. Semakin lama denganmu semakin dalam perasaanku padamu. Tapi aku harap kamu tak pernah tau, sampai kamu memberi tahhu lebih dulu perasaanmu padaku. Akan lebih dari kata kagum, atau hanya akan sebatas teman dan tak akan pernah bertambah menjadi yang lebih seperti yang kuinginkan.Aku ingin sekali memberitaumu lebih dulu. Tapi aku seorang wanita. Pantaskah? Aku ditakdirkan untuk menunggu, mungkin memang itu yang harus aku lakukan.

Kita sudah cukup lama bersama, dan aku belum juga mendapat kepastian darimu. Apakah aku ini spesial atau hanya sebatas teman ngobrolmu dikala senggang.

Aku kembali ke rutinitasku dulu. Sebelum aku mengenalmu. Berangkat dan pulang sekolah dengan angkutan umum. Karna sudah tiga hari ini kamu tidak melakukan rutinitasmu sebelumnya, mengajaku berangkat dan pulang bersama. Kabar burung disekolah yang katanya kamu sedang dekat dengan salah satu anggota paduan suara yang cantik itu. Membuatku semakin khawatir denganmu. Kita juga sudah jarang sekali mengobrol bersama, malahan hampir tak pernah. Kamu terlihat menghindariku saat kita bertemu di sudut sekolah. Saat aku coba mencarimu kamu sudah tidak ada lagi jejak. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu tiba-tiba menghindar? apa salahku?

Aku terkejut saat mendapatimu satu meja denganya. Gadis cantik anggota paduan suara. Kalian terlihat sangat serasi. Kamu yang notabene siswa berprestasi di bidang olahraga ditambah dengan parasmu yang rupawan sangat pantas bersanding denganya. Daripada denganku. Si kutu buku yang punya impian mempunyai kisah cinta yang indah seperti dongeng yang sering aku baca dan aku dengar. Jauh sekali. Kamu lebih pantas bersamanya. Kini aku tau jelas hubungan kita. Hanya sebatas teman ngobrol di kala senggang, tak lebih.

Tanpa aku sadari aku sedang melihatimu tanpa berkedip. Saat kamu tiba-tiba melihat kehadiaranku dengan wajah yang tampak terkejut aku sadar. Aku hanya membalas tatapanmu dengan senyuman pahit yang sangat dipaksakan. Aku ikut senang. Aku segera bergegas pergi meninggalkanmu yang memperlihatkan mimik menyesal. Atau hanya perasaanku saja? Aku tidak sempat berbalik untuk melihatnya lagi. Karna aku ingin segera bersembunyi dan menutupi sesuatu yang sudah tidak bisa lagi aku tahan.

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sepi. Ragaku ada tapi fikiranku mengudara. Melayang-layang mengingat lagi kenangan kita saat bersama. Saat kita berdua duduk di kantin sekolah atau kedai kopi yang sering kita kunjungi. Hanya untuk berbagi cerita dan membicarakan hal tak penting. Sesekali membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya. Kadang terlihtas juga ucapan konyolmu disela-sela obrolan kita. Haruskah aku menyimpan kenangan itu atau melupakanya.

Sebuah suara memanggil namaku. Membuatku terbangun dari lamunanku dan mencari asal suara itu. Tapi yang aku dapati lebih dulu adalah suara deru mobil yang semakin mendekat. Kakiku terasa kaku hanya untuk berlari menghindar. Bodohnya aku masih berdiri disana tanpa berusaha menghindar. Suara itu lagi memanggil namaku. Aku mengenali suara itu. Laki-laki yang baru saja aku fikirkan. Sebuah motor yang sangat aku kenali dengan pengendara diatas motornya datang dari arah belakangku. Dan berhenti tepat didepanku. Tangan orang itu meraih tubuhku dan merangkulku menghalangi pandanganku, orang itu berbisik tepat di telingaku "Aku mencintaimu Larasati" dan semuanya menjadi gelap.

Aku meringis kesakitan saat membuka mata. Sebuah lampu yang terang menyambutku. Di ruangan serba putih yang tadinya sepi tiba-tiba berubah ramai dengan suara derap kaki menghampiri ranjangku.

"Kamu sudah sadar nak" tanya wanita yang sangat aku cintai. Tapi ingatanku kembali ke kejadian kenapa aku bisa ada disini. Membuatku diserang pusing tiba-tiba. Aku memohon kepada kedua orang tuaku untuk membawaku menemuinya

Di depan kamarnya ramai dengan keluarga dan beberapa temanmu yang sebagian aku kenal. Dan ada dia juga. Gadis yang beberapa hari ini sering bersamamu. Mereka semua mengangis dan saling menenagkan satu sama lain. Apa yang sedang terjadi? Apa kamu belum sadar?

Aku mengintip dari jendela pintu. Tak memperdulikan tatapan tajam gadis yang sedang menangis di belakangku. Dan terlihat disana kamu yang sudah akan ditutupi kain putih. Aku mencoba masuk kedalam untuk memastikan benarkah mau itu. Dan ternyata aku tidak salah lihat. Kamu sudah terbaring disana dengan wajah pucat dan beberapa jahitan dikepalamu. Tangisku pecah ditempat. Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini. Kenapa kamu menyelamatkanku kalau harus kamu yang pergi? Harusnya kamu biarkan saja tadi aku.

Satu hal yang ingin aku lakukan sejak tadi. Membalas ungkapan perasaanmu. Membisikan tepat di telingamu. Ungkapan yang tulus dari dalam hatiku. "Aku mencintaimu Geovani" aku tersenyum lega karna berhasil mengungkapkanya. "Selamat tidur sayang" mengecup keningnya untuk yang terakhir kali.

6 Jun 2015

My Graduation🎉














So, some days ago i was finished my hard exam. And a week after that my school hold graduation, like farewel party. We wear traditional clothes like that. My friends wear too, and so colours full. I wear my favorit colour. And there is interesting story, i looked behind when it.

I woke up lately. Salon owner send me message last night. But i've read it after i woke up in the morning. She say, they be ready at 3 a.m. I panic when i read that massage. My mom woke at down. And she still in mosque. I waiting my mom moment and soon departed after that.

In the salon my other friends already in makeup and a bun. Even ready with a blouse. WhilemMe? just arrived. And finally I was the last person in makeup.

I'm lucky, i'm not arrived lately in the building. In front of building, ther is photoboth. My mom wanted to immortalize my garduation day. So we take a picture before enter the building.

My mom just attending an event a few moments. Becaus she must go to city. Take care of my high school registration. But i was enjoy with my friends until a event over. And take a picture together.

5 Jun 2015

Cinta dan Rahasia


By. Putri Rizki

Matanya yang teduh menerawang saat menatap langit. Entah apa yang dilihat, padahal bintang juga tidak nampak malam ini. Yang terasa angin malam yang sebenarnya tidak sehat. Suara klakson kendaraan yang hilir mudik di hadapan kamipun semakin terdengar riuh bersamaan dengan malam yang semakin larut. Sewajarnya sih, karna ini memang jamnya pulang kantor. Dentingan suara sendok yang bertabrakan dengan mangkok dari pedagang minuman hangat yang berjajar di sekitar trotoar juga terdengar, bercampur dengan suara riuh gemerlap kota malam ini.

Mangkuk kami yang tadinya penuh dengan campuran santan manis, roti dan kacang sudah kosong. Dia masih dalam posisi yang sama sejak sepuluh menit terakhir. Kepala menengadah kelangit tanpa menghiraukanku. Tapi aku bersyukur karna itu, aku bisa mencuri pandang kepadanya tanpa ketahuan. Aku menyukai saat menatap setiap titik di mata indahnya itu. Apalagi saat menatap langit. Matanya terlihat berbinar, mungkin karna senang. Tapi apa yang membuatnya senang. Langit malam ini gelap.

Sekedar iseng aku bertanya, "kamu kenapa menatap langit? malam ini gak ada bintang" ucapku memecah keheningan. Senyum tipisnya terpatri disana. Tanpa menoleh ke arahku dia menjawab "hanya sedang menyapa seseorang". Aku tidak bersuara lagi. Lebih memilih memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. Walaupun begitu, otaku masih mencoba mencerna ucapan Dafa tadi, teman kuliahku. Apa maksudnya menyapa seseorang?

Aku terkejut saat  tiba-tiba dia bertanya "kamu tidak mengerti ya?" membuatku menoleh cepat menatapnya bingung. Anggukan mantabku aku rasa sudah menjawab pertanyaanya. Ini senyumanya yang ketiga malam ini untuku. Aku sering menghitungnya, karna memang bisa dihitung dengan jari. Dafa jarang tersenyum dua bulan terakhir. Tepatnya saat kejadian itu. Tapi saat ia menatap langit, ia selalu tersenyum. Ya, seperti menyapa seseorang.

"Aku sedang menyapa Kania" oh ya, aku ingat, Kania. Sahabatku sejak SMP. Sebenarnya aku, Dafa dan Kania satu kampus. Ia kekasih Dafa. Namun Kania sudah lebih dulu meninggalkan kita. Ia meninggal dua bulan yang lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal. Tinggalah aku yang selalu bersama Dafa kemana-mana.

Aku tidak tau kalau ternyata Dafa tersenyum untuk Kania. Aku kira ia hanay suka menatap langit. Tapi ternyata ada orang lain yang selalu bisa membuatnya tersenyum bahagia seperti itu. Melebihi senyumanya yang menyapaku setiap hari. Dan ini sedikit membuatku gusar. Tapi cepat-cepat aku buang perasaan itu. Dia Dafa, milik Kania sahabatku dan akan tetap begitu.

Aku berfikir sejenak. Kenapa Dafa menyapa Kania saat menatap langit? Apa Kania ada di langit?

"Memang Kania sedang ada di Langit?" tanyaku setelahnya. Dafa menatapku lekat-lekat. Tanpa aku sadari nafasku tercekat, aku menahanya. Dia membuatku mematung.

"Aku selalu mengibaratkan dia adalah bintang. Kamu taukan Kania paling suka dengan bintang--" ya, dia suka bintang aku suka bulan. Kejadian beberapa tahun yang lalu melintas di otaku. Saat aku berdebat tentang lebih indah bintang atau bulan saat kami sedang menginap di rumahku. Membuatku tersenyum kecil.
"Bintang letaknya di langit dan aku akan selalu menyapanya. Dengan tersenyum menatap langit" lanjut Dafa tenang, tak lagi menatapku. Berganti memperhatikan kendaraan lalu lalang.

"Tapi malam ini gak ada bintang Dafa, yang ada bulan purnama" malam ini memang sedang malam purnama. Menurutku itu sebabnya udara terasa begitu dingin di banding malam lalu. Semangkuk minuman hangat juga terasa tidak cukup. Karena dinginya terasa sampai ke tulang-tulang.

Dafa tersenyum pahit, "Bintang selalu ada di langit. Hanya saja kadang tertutup mendung, awan, atau bahkan matahari. Cahaya bintang yang tidak sekuat matahari membuatnya terlihat redup saat pagi atau siang. Tapi sebenarnya bintang itu ada kapanpun, bahkan kala pagi atau siang" penjelasan Dafa menjawab semua pertanyaanku yang beberapa hari lalu selalu aku pikirkan. Kelakuan Dafa yang menurutku aneh, ia selalu tersenyum saat menatap langit entah itu pagi, siang, sore, apalagi malam. Jadi itu alasanya. Dia hanya bermaksud menyapa Kania, kekasihnya.

Aku kkembali terdiam beberapa saat. Atmosfer keheningan kembali tercipta diantara kami. Diluar bunyi kendaraan dan suara riuh pedagang kaki lima yang mengobrol dengan kencang. Aku dan Dafa sibuk dengan fikiaran kami masing-masing, atau hanya aku. Mencoba menarik kesimpulan dari penjelasan Dafa. Terlihat jelas bahwa Dafa sangat mencintai Kania. Sampai kapanpun itu. Dan aku sadar, aku tidak akan punya kesempatan.

Tubuhku menghanagt tiba-tiba, saat aku menoleh sebuah jaket kulit coklat sudah tergantung di kedua pundaku. Aku menoleh melihat Dafa. "Sudah semakin larut. Sebaiknya kita segera pulang. Ayo aku antar" katanya sembari tersenyum hangat. Membuatku dengan refleks membalasnya dengan senyuman terbaiku. Ini adalah senyuman keempatnya malam ini. Dan aku harap bukan senyuman terakhirnya untuku. Aku ingin dia tetap tersenyum begitu kepadaku, seperti ia tersenyum saat menyapa Kania dilangit. Bahagialah kamu Kania, ada orang yang sangat mencintaimu sampai kapanpun nanti.

-Gemuruh di dalam rongga tak kuhiraukan. Memaksa diri untuk tidak memperhatikan. Meskipun rasa sakit semakin memuara. Yang terpenting bukan hanya rasa, tapi sebuah rahasia-

Terinspirasi dari lagu Glenn Fredly-Cinta dan Rahasia

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...