5 Jun 2015
Cinta dan Rahasia
By. Putri Rizki
Matanya yang teduh menerawang saat menatap langit. Entah apa yang dilihat, padahal bintang juga tidak nampak malam ini. Yang terasa angin malam yang sebenarnya tidak sehat. Suara klakson kendaraan yang hilir mudik di hadapan kamipun semakin terdengar riuh bersamaan dengan malam yang semakin larut. Sewajarnya sih, karna ini memang jamnya pulang kantor. Dentingan suara sendok yang bertabrakan dengan mangkok dari pedagang minuman hangat yang berjajar di sekitar trotoar juga terdengar, bercampur dengan suara riuh gemerlap kota malam ini.
Mangkuk kami yang tadinya penuh dengan campuran santan manis, roti dan kacang sudah kosong. Dia masih dalam posisi yang sama sejak sepuluh menit terakhir. Kepala menengadah kelangit tanpa menghiraukanku. Tapi aku bersyukur karna itu, aku bisa mencuri pandang kepadanya tanpa ketahuan. Aku menyukai saat menatap setiap titik di mata indahnya itu. Apalagi saat menatap langit. Matanya terlihat berbinar, mungkin karna senang. Tapi apa yang membuatnya senang. Langit malam ini gelap.
Sekedar iseng aku bertanya, "kamu kenapa menatap langit? malam ini gak ada bintang" ucapku memecah keheningan. Senyum tipisnya terpatri disana. Tanpa menoleh ke arahku dia menjawab "hanya sedang menyapa seseorang". Aku tidak bersuara lagi. Lebih memilih memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. Walaupun begitu, otaku masih mencoba mencerna ucapan Dafa tadi, teman kuliahku. Apa maksudnya menyapa seseorang?
Aku terkejut saat tiba-tiba dia bertanya "kamu tidak mengerti ya?" membuatku menoleh cepat menatapnya bingung. Anggukan mantabku aku rasa sudah menjawab pertanyaanya. Ini senyumanya yang ketiga malam ini untuku. Aku sering menghitungnya, karna memang bisa dihitung dengan jari. Dafa jarang tersenyum dua bulan terakhir. Tepatnya saat kejadian itu. Tapi saat ia menatap langit, ia selalu tersenyum. Ya, seperti menyapa seseorang.
"Aku sedang menyapa Kania" oh ya, aku ingat, Kania. Sahabatku sejak SMP. Sebenarnya aku, Dafa dan Kania satu kampus. Ia kekasih Dafa. Namun Kania sudah lebih dulu meninggalkan kita. Ia meninggal dua bulan yang lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal. Tinggalah aku yang selalu bersama Dafa kemana-mana.
Aku tidak tau kalau ternyata Dafa tersenyum untuk Kania. Aku kira ia hanay suka menatap langit. Tapi ternyata ada orang lain yang selalu bisa membuatnya tersenyum bahagia seperti itu. Melebihi senyumanya yang menyapaku setiap hari. Dan ini sedikit membuatku gusar. Tapi cepat-cepat aku buang perasaan itu. Dia Dafa, milik Kania sahabatku dan akan tetap begitu.
Aku berfikir sejenak. Kenapa Dafa menyapa Kania saat menatap langit? Apa Kania ada di langit?
"Memang Kania sedang ada di Langit?" tanyaku setelahnya. Dafa menatapku lekat-lekat. Tanpa aku sadari nafasku tercekat, aku menahanya. Dia membuatku mematung.
"Aku selalu mengibaratkan dia adalah bintang. Kamu taukan Kania paling suka dengan bintang--" ya, dia suka bintang aku suka bulan. Kejadian beberapa tahun yang lalu melintas di otaku. Saat aku berdebat tentang lebih indah bintang atau bulan saat kami sedang menginap di rumahku. Membuatku tersenyum kecil.
"Bintang letaknya di langit dan aku akan selalu menyapanya. Dengan tersenyum menatap langit" lanjut Dafa tenang, tak lagi menatapku. Berganti memperhatikan kendaraan lalu lalang.
"Tapi malam ini gak ada bintang Dafa, yang ada bulan purnama" malam ini memang sedang malam purnama. Menurutku itu sebabnya udara terasa begitu dingin di banding malam lalu. Semangkuk minuman hangat juga terasa tidak cukup. Karena dinginya terasa sampai ke tulang-tulang.
Dafa tersenyum pahit, "Bintang selalu ada di langit. Hanya saja kadang tertutup mendung, awan, atau bahkan matahari. Cahaya bintang yang tidak sekuat matahari membuatnya terlihat redup saat pagi atau siang. Tapi sebenarnya bintang itu ada kapanpun, bahkan kala pagi atau siang" penjelasan Dafa menjawab semua pertanyaanku yang beberapa hari lalu selalu aku pikirkan. Kelakuan Dafa yang menurutku aneh, ia selalu tersenyum saat menatap langit entah itu pagi, siang, sore, apalagi malam. Jadi itu alasanya. Dia hanya bermaksud menyapa Kania, kekasihnya.
Aku kkembali terdiam beberapa saat. Atmosfer keheningan kembali tercipta diantara kami. Diluar bunyi kendaraan dan suara riuh pedagang kaki lima yang mengobrol dengan kencang. Aku dan Dafa sibuk dengan fikiaran kami masing-masing, atau hanya aku. Mencoba menarik kesimpulan dari penjelasan Dafa. Terlihat jelas bahwa Dafa sangat mencintai Kania. Sampai kapanpun itu. Dan aku sadar, aku tidak akan punya kesempatan.
Tubuhku menghanagt tiba-tiba, saat aku menoleh sebuah jaket kulit coklat sudah tergantung di kedua pundaku. Aku menoleh melihat Dafa. "Sudah semakin larut. Sebaiknya kita segera pulang. Ayo aku antar" katanya sembari tersenyum hangat. Membuatku dengan refleks membalasnya dengan senyuman terbaiku. Ini adalah senyuman keempatnya malam ini. Dan aku harap bukan senyuman terakhirnya untuku. Aku ingin dia tetap tersenyum begitu kepadaku, seperti ia tersenyum saat menyapa Kania dilangit. Bahagialah kamu Kania, ada orang yang sangat mencintaimu sampai kapanpun nanti.
-Gemuruh di dalam rongga tak kuhiraukan. Memaksa diri untuk tidak memperhatikan. Meskipun rasa sakit semakin memuara. Yang terpenting bukan hanya rasa, tapi sebuah rahasia-
Terinspirasi dari lagu Glenn Fredly-Cinta dan Rahasia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan
Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...
-
Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...
-
Udah lama banget ya dari terakhir kali aku update di blog ini. Kalo boleh jujur, sebenarnya banyak sekali cerita yang ingin aku bagikan sepa...
-
Hari ini seseorang berulang tahun Umurnya berkurang, ia tak tenang Tadi pagi satusnya sedang bersedih Ingin mengucapkan, takut pesanku...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar