17 Okt 2016

Sabar Bersyukur Ikhlas

Hari ini hari Senin. Awal minggu yang selalu ingin di skip saja dari daftar nama hari dalam seminggu. Tepatnya pukul sembilan lewat empat puluh enam malam. Aku masih belum terlelap. Sebenarnya mataku sudah dari tadi merayu untuk dipejamkan. Namun, aku masih belum ingin tidur. Berbanding terbalik dengan saat di kelas mendengarkan guru menerangkan dengan suara begitu syahdu. Rasanya rindu pada kasur kosan tak dapat lagi di tahan

Suara gonggongan anjing kecil milik tetangga kos ku menemani malam ini. Mataku memandang keyboard, mengetik apa yang aku tulis, namun fikiranku melayang. Membayangkan apa saja yang mungkin terjadi di esok hari. Apakah akan sesulit seperti biasanya? Apakah akan terasa berat seperti hari ini dan kemarin? Atau mungkin akan berubah jadi lebih ringan dan menyenangkan? Sepertinya opsi terakhir tidak pantas untuk aku bayangkan. Aku sudah pernah merasakan betapa kecewanya aku di sore hari ketika hari ku tidak seperti apa yang aku banyangkan semalam.

Sebelum ini aku tidak pernah tau apa yang selalu membuat wajah anak SMA terlihat begitu letih. Saat aku masih di sekolah dasar, aku selalu memperhatikan raut muka kakak laki-lakiku yang selalu murung saat pulang sekolah. Dan raut wajah bosan di pagi hari saat sebelum berangkat sambil menghabiskan sarapan. Hampir tidak pernah ada senyum di wajahnya. Kecuali saat menonton kartun atau melihat kecerobohan kecilku.

Dan sekarang aku baru tau jawabanya saat tadi pagi aku bercermin.

Tak jauh beda dengan yang aku lihat di wajah kakakku delapan tahun lalu. Tak jauh beda.

Otak anak SMA lah yang tercermin di wajah mereka saat berangkat dan pulang sekolah. Itu menurutku. Soal masalah organisasi, tugas yang belum rampung, materi pelajaran yang tertinggal, tidak begitu memahami persamaan satu dan yang lain, belum lagi urusan hati yang membuat semuanya menjadi semakin ruwet.

Kenapa sih? Urusan hati harus bersamaan dengan usia kita yang menginjak remaja. Kenapa rasa suka pada lawan jenis bersamaan dengan kita yang juga harus berkenalan dengan persamaan parabola, integral, turunan atau gerak harmonik. Kenapa?

Kuncinya cuma sabar, bersyukur dan ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...