8 Jan 2017

Teman Mengobrol di Kala Senggang #part2

Hari ini hari Sabtu, hari yang di janjikan Rendy. Entah kenapa kali ini aku merasa sedikit.. emm.. deg-degan. Merasa tidak siap dengan apa yang akan aku dengar dari Rendy. Tapi, apa yang harus aku cemaskan. Kita kan sekedar betemu karna dia baru balik dari kampung karna menjenguk adiknya yang sedang sakit. Tak ada yang perlu di cemaskan.

''Cantik banget mbak, mau kemana?'' tegur Sonya saat aku melewati ruang tivi.

''Ha? dandanan aku menor? berlebihan gak sih cuman buat malem mingguan?" aku sedikit merasa kurang pede dengan penampilanku malam ini. Padahal aku cuman pakai dress biru tua dan rambutku yang aku biarkan terurai. Sedikit make up sih buat nutupin beberapa jerawat menyebalkan. Duh.. kenapa tumben jadi gak pede gini sih Chia?

"Gak kok. Bagus. Cantik kayak biasanya. Emang mau malam mingguan sama siapa sih? Bang Reren ya? Udah, kamu pake baby doll di kuncir kuda juga bang Reren suka"

"Emang iya, yaudah ganti babydoll sama pake jaket aja deh kalo gitu" baru mau masuk lagi ke kamar tanganku di tarik oleh Sonya.

"Eh. . bukan gitu juga maksudnya. Udah cantik kok, gini aja. Buruan berangkat sana" aku melihat arlojiku yang menunjukan hampir pukul tujuh. Aku bergegas pergi setelah berpamitan pada Sonya.

Taman yang memamerkan atraksi air mancur tidak terlalu jauh dari kosku. Aku hanya perlu naik ojek 10 menit dan sampai. Aku mencari keberadaan Rendy sambil celingukan sana sini. Apa aku harus menelfonya?

Baru saja aku ingin memencet tombol panggil. Tiba-tiba saja punggungku seperti ada yang mencolek. Aku berbalik dan menemukan Rendy disana dengan senyum yang aku rindukan. Maaf, ralat, sangat aku rindukan.

"Udah dari tadi ya? Maaf ya telat." Bukanya menjawab pertanyaanku dia malah sibuk melihati penampilanku.

"Ren? Ada yang salah ya? Penampilan aku berlebihan ya? Tuh kan, harusnya aku tadi ganti baju aja"

"Cantik" aku mendengar ucapanya dengan sangat jelas, walaupun dia mengucapkanya terdengar seperti berbisik. Aku jadi bingung harus bereaksi apa.

"Eng.. maksud aku. Cantik kok kamu, kenapa mesti ganti baju?" Aku tidak bisa bilang apa-apa. Aku hanya diam. Kenapa tiba-tiba aku jadi seperti orang bisu.

Rendy tersenyum untuk kedua kalinya malam ini. Dan mengajaku berjalan di sekeliling taman. Atraksi air mancur yang aku tau sekitar pukul setengah delapan baru mulai. Jadi sambil menunggu Rendy mengajaku berkeliling sambil mengobrol.

Setelah beberapa lama diam, akhirnya aku berani bersuara lagi "Jadi, gimana adikmu? sudah sembuh?" tanyaku.

Rendy tampak bingung dengan apa yang aku tanyakan "ha? adiku?

"Iya, bukanya kamu pulang kampung buat jenguk adikmu yang sakit?"

"Oh, kamu pasti denger dari Raka ya. Enggak kok, aku asal ngomong aja sama dia. Karna kemarin aku pulangnya buru-buru, dia terus nanya kenapa aku pulang kampung"

"Bisa-bisanya kamu asal gomong bilang kalo adikmu sakit. Nanti kalo sakit beneran gimana?"

"Kan aku gak punya adik." Aku baru ingat kalo Rendy pernah cerita kalo dia cuman punya kakak laki-laki dan sekarang sudah menikah. Kenapa aku baru ingat.

"Trus kamu pulang kenapa?"

"Eh, mau jagung bakar gak. Atraksinya masih agak lama ini." Rendy seperti enggan menjawab pertanyaanku. Dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Kenapa dia? Aneh.

"Eng.. Gak usah, aku masih kenyang. Kita langsung aja ke tempat air mancurnya yuk." Ajaku tanpa mau memikirkan rasa ingin tauku. Yang penting malam ini aku bersama Rendy, aku sudah senang.

Aku dan Rendy memilih duduk di tribun paling atas. Jadi, setengah tempat atraksi air mancurnya itu di kelilingi oleh tribun untuk tempat duduk penonton. Letaknya di tengah are taman ini. Dan taman ini termasuk memiliki pencahayaan yang banyak, jadi tidak terlalu remang. Banyak sekali orang yang ingin menyaksikan pertunjukan atraksi air mancur ini bersama orang-orang yang mereka sayang. Ada yang bersama teman-temanya, kekasihnya, ada jga yang bawa satu keluarganya. Beruntung aku dan Rendy datang lebih awal, jadi bisa dapat tempat duduk yang paling atas. Lihat air mancurnya jadi lebih jelas gitu.

Pertunjukan di mulai. Gak aku sangka ternyata lebih keren dari yang aku bayangkan. Karna area pertunjukanya yang luas, air mancurnya juga sangat tinggi. Saat airnya memancar ke permukaan seperti ada lampu warna-warni yang membuatnya semakin terlihat keren. Diiringi juga dengan lagu yang membuat air mancur tersebut seolah menari bersama iringan lagu. Sangat cantik, dan aku senang.

"Bagus ya Ren" gumamku.

"Bagus kan, berarti aku harus sering-sering ajak kamu kesini"

"Kalo keseringan juga bosen kali" Tapi jujur saja, dengan atraksi air mancur yang aku akui sangat keren, tetap saja tidak bisa mengusir keingin tauanku tentang reaksi Rendy saat aku tanyai tadi. Aku masih memikirkanya sepanjang pertunjukan.

Saat pertunjukan selesai dan pengunjung lain sudah mulai pergi, aku dan Rendy masih bertahan di tempat duduk kami, menunggu yang lain turun lebih dulu. Dan saat itu aku mencoba bertanya lagi pada Rendy.

"Ren.."

"Iya"

"Kamu sebenarnya pulang kampung karna apa?"

Rendy tampak menghela nafas berat. Wajahnya berubah sedih, bingung dan terlihat cemas. Dia menunduk tidak mau memperlihatkan wajahnya.

"Ren, kamu mau cerita sesuatu?" aku menepuk-nepuk bahunya mencoba menenangkan. Dia terlihat sangat sedih. Kalo tau begini reaksinya, aku tidak akan mencoba bertanya lagi.

Tiba-tiba Rendy mengangkat kepalanya dan memandangku dengan tatapan yang tidak bisa aku jelaskan. "Maaf Chi, aku mau jujur sama kamu tapi kamu harus janji mau aku antar pulang setelah mendengar ini" aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Aku hanya bisa mengangguk dan masih bingung.

"Kenapa Ren?" tanyaku pelan penuh hati-hati. Rendy memegang tanganku lembut.

"Aku kemarin, tunangan dengan seseorang." mendengar kalimat itu rasanya tubuhku tiba-tiba lemas, aku tidak bisa bereaksi apapun. Jantungku seolah bisa aku dengar dengan telingaku. Seandainya aku sekarang berdiri, pasti aku sudah terduduk lemas di tanah. Benar-benar kalimat yang tak pernah aku sangka akan aku dengar dari Rendy malam ini.

Tanpa sadar tanganku sudah terlepas dari genggamanya, dan aku mengalihkan pandangan ke arah lain, kamanapun asal bukan kematanya. Karna aku takut dia melihat kekecewaan dimataku. Walaupun benar itu yang aku rasakan sekarang.

"Chi, aku mohon sama kamu. Kamu jangan marah sama aku, aku terpaksa ngelakuin itu. Aku gak tau lagi apa yang harus aku lakuin di posisiku saat itu dan.."

"Ren anterin aku pulang sekarang" aku memotong Rendy bicara karna aku gak mau dengar apapun lagi dari dia. Dan aku bicara begitu, karna memang aku sudah janji mau untuk diantar pulang.

Rendy tidak bicara apapun lagi. Sempat terlihat dari ekor mataku Rendy mengusap wajahnya kasar. Aku tidak mengerti apa yang Rendy fikirkan setelah menghabiskan sekian banyak waktu bersamaku tiba-tiba dia hilang, dan saat kembali dia sudah dalam keadaan terikat dengan orang lain. Apa saat dia melakukan itu dia tidak sedikitpun ingat tentang aku. Lalu kenapa aku sedikit melihat sorot mata menyesal di matanya. Kenapa dia menyesal, apa yang membuatnya terpaksa.

Dalam perjalanan menuju kos, otaku dipenuhi dengan pertanyaan yang tidak dapat aku jawab sendiri. Yang harusnya semua itu bisa di jawab oleh Rendy. Tapi aku sedang tidak ingin mendengar suaranya. Sepertinya dia mengerti, Dan kami hanya diam di mobil tanpa ada sepatah katapun.

Sampai di depan kosku, aku hanya mengucapkan terimakasih tanpa melihatnya. Aku turun dari mobil, dan memasuki halaman rumah dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Kamu pasti mengerti. Sangat bisa aku rasakan Rendy terus menatapku sejak aku turun. Aku berbalik badan, dan benar, dia menatapku dengan sorot mata menyesal. Tapi apa gunanya. Sudah terjadi.

"Hati hati" itu kata terakhirku sebelum kembali berjalan masuk.

***
To Be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...