8 Jun 2016

Perempuan.

Awalnya ingin biasa saja. Awalnya hanya ingin dianggap sebagai guyonan khas anak sma. Pasti tau lah, yang di bilang cantik sekali oleh teman laki-laki satu kelas yang heboh. Kata ''ciee'' menggema seantero kelas. Apalagi kalau diperlakukan istimewa. Lebih dari yang lain. Lebih spesial. Rasa ge er-nya semakin menjadi jadi.
Belum lagi tau kalau hanya kamu yang diperlakukan seperti itu. Di tahun 2016, dimana baper booming di kalangan remaja. Dan sialnya aku terjebak di situasi ini.
Persetan dengan Baper, yang aku sayangkan kenapa harus pada orang yang diam-diam aku kagumi. Manusia 2016 mana yang tidak baper diperlakukan seperti itu. Terlebih orang yang sedang kamu kagumi diam-diam.
Yahh.. sayang seribu sayang. Anganku lebih dulu mebuat ekspektasi tinggi. Hingga membuatku lupa sedang dalam posisi apa saat ini. Dan saat tidak sesuai realita, yang aku bisa hanya memendam. Sayangnya aku bukan tipikal ceplas ceplos sana sini, umbar sedih umbar senang umbar sakit. Aku sulit untuk berkata. Aku sulit untuk mengungkap rasa. Aku hanya pandai bermain aksara.
Panggil aku si kaku. Karna kerjaku hanya menunggu. Seolah stuck pada kodrat.
Ya, kodrat perempuan sesungghnya bukan. Mununggu, Ah, susahnya jadi perempuan.

Laki-Laki.

Bukan seseorang yang pandai dalam menyampaikan rasa. Dalam tindakan saja masih kaku. Terlebih dengan kalimat yang harus aku sampaikan langsung. Yang ada celanaku sudah basah lebih dulu. Membalas pesanmu sekarang saja aku masih bingung seperti apa aku harus menjelaskan. Satu yang membuatku ragu. Reaksimu. Akankah senang atau sebaliknya. Ah, aku memang payah.
Salah kata salah pemahaman. Alah, memang susah jadi laki-laki.

Celah

Di balik tirai biru. Seperti sudah kutemukan yang baru. Rautnya sangat jelas. Matanya penuh binar. Kata katanya lebih manis ketimbang madu yang aku minum saat sakit. Hanya bedanya madu ini aku nikmati sebelum merasakan sakit. Memperburuk fungsi otak. Menimbulkan banyak anak jerawat. Sungguh, aku tidak ingin memikirkanya terlalu keras. Tapi kau buatku melakukanya. Sekali lagi.

Aku salut padamu. Sangat pandai mencari celah. Celah untuk datang, dan pergi.

27 Mei 2016

Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?

Kita diam
Kita tak bersuara
Kita penuh rahasia
Kita simpan rapat untuk kita sendiri

Mataku jatuh ke dalam sosok masa lalu mu
Mengaggumi begitu hebatnya dia
Terlihat begitu mewah
Seakan dia adalah mutiara sedangkan aku keong kali

Fikiranmu rumit
Tak dapat ku tebak
Alasan apa yang membuatmu lebih memilih keong kali ketimbang mutiara indah dalam cangkang?
Aku sempat bertanya, tapi seperti yang aku bilang
Fikiranmu rumit

Tapi kata katamu seolah membawaku semakin dekat
Dekat pada pusaran yang sangat aku takuti dan ku hindari
Takut antara benarkah itu miliku?
Atau sekedar bayangan fana

Kala itu senja
Aku mengagumi sosok masa lalumu
Yang membuatku terus bertanya
Benarkah kamu sudah melupakanya?

Kala itu senja
Di dalam bioskop remang remang
Aku tau kau tak pandai berkata
Namun mudah untuk ku baca
Dari sorot matamu menatapku penuh binar
Dan seolah berkata dan menegaskan

"Aku sudah melupakanya, sudah tak ada lagi rasa antara aku dengan dia. Kini saatnya kau singgah di hatiku. Namun, siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?'

KitaKita diam
Kita tak bersuara
Kita penuh rahasia
Kita simpan rapat untuk kita sendiri

23 Feb 2016

Datanglah Kembali

Aku harus mengutarakanya. Walau sakit memang sudah menjadi konsekuensi tersulit. Tapi aku harus mengatakanya.
Jalan kita sudah berbeda. Kamu bukan lagi yang aku harapkan. Kita sudah dalam skenario berbeda. Dua tokoh yang dulunya di setting akan berbahagia selamanya sudah lenyap. Takdir berkata lain. Bukan tentang rasa yang sudah hilang. Tapi prinsip yang membuatku berubah fikiran tentang hal yang ku kira akan menjadi akhir dan akan menjadi selamanya. Maaf. Kamu bisa bilang aku ini bodoh. Aku tidak memiliki pendirian tetap. Tapi lihat lah tuan. Tak ada seorangpun di dunia ini yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Bila memang ini rencana tuhan. Apa yang bisa aku tentang? Jika memang kamu adalah yang terbaik menurut pilihan tuhan. Takdir juga lah yang mempertemukan kita. Jangan khawatir tuan.  Perbaiki saja dirimu dan akupun begitu. Karna aku sudah terlanjur jatuh dan aku tak pernah tau lagi bagaimana carana berdiri.

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...