1 Jan 2016

Get Me Wrong

Mata coklatnya memandang lurus kearah dinding bercat abu-abu. Dimana ia menggantung semua piagam dan mendali yang begitu berharga baginya. Karna hanya untuk mendapatkan kertas dengan coretan dan kalung dengan mandel besar itu dibutuhkan keuletan dan perjuangan yang tidak mudah.

Fokusnya beralih ke titik pigura kosong. Yang sengaja sudah ia persiapkan untuk piagam yang sangat ia inginkan sejak kecil. Piagam kejuaraan nasional. Yang membuatnya semangat menjadi seorang perenang. Mengenang almarhum ayahnya sebagai atlit renang nasional. Berharap ia dapat memajang piagam tersebut sebagai hadiah untuk ulang tahun minggu depan.

Sayangnya impian dan harapan manusia terkadang tidak sejalan dengan realita. Bimo harus menelan pahit saat mendapati cidera. Membuatnya mustahil ikut kejuaraan itu. Bisa-bisa dia membawa pulang cidera yang lebih parah bukanya sebuah piagam atau mendali. Setidaknya masih ada kesempatan tahun depan.

Bimo membawa tubuhnya duduk santai di balkon kamar. Tanganya merogoh saku mencari ponsel disana. Saat dia mendapatkanya matanya berubah teduh menatap gambar seseorang di lock screen. Gadis manis berkulit pucat dengan rambut panjang kecoklatan tengah menunjukan wajah imutnya. Bimo tersenyum menatap tanpa henti. Seolah matanya sedang menyampaikan rindu yang teramat dalam.

Bimo terlonjak kaget saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang tertera disana adalah ‘Gilang’. Alisnya berkerut memikirkan apa yang mebuat sahabatnya itu menelfon di hari menjelang maghrib begini.

“Halo? Ada apa lang?”

***

Lelaki dengan rambut ikal keclokatan itu berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Sambil terus mengecek nomor yang tertera di setiap pintu. Langkahnya semakin cepat, sepertinya dia segera mendapati nomor yang dituju. Nafasnya yang terengah-engah, keringatnya yang sebesar biji jagung sudah tak dihiraukan.Yang ia fikirkan saat ini hanya harus menemukan Bintang dan mendapati ia baik-baik saja barulah ia bisa tenang. Namun, setelah apa yang dia dengar tentang Bintang dari 
Gilang, ia tidak yakin kalau Bintang sedang baik-baik saja.

Bimo menghentikan langkahnya saat menemukan Gilang duduk tertunduk di sebuah kursi panjang. 
Bimo menghembuskan nafas berat sebelum ia berlari menuju Gilang.

Gilang berdiri menyadari kedatangan Bimo.

“Mana Bintang? Dia di dalem? Huh?” Dengan panik Bimo melangkah mendekati pintu hendak masuk. Namun segera lenganya di tahan oleh Gilang. Gilang menarik Bimo hingga terduduk. Rasanya kaki Bimo lemas. Seluruh ototnya lelah. Hingga ia menurut saja saat Gilang menariknya duduk.

Gilang menepuk pundak Bimo beberapa kali. Tanda penyemangat dari seorang sahabat.

“Bintang..” Bimo menoleh dengan alis berkerut, menunggu Gilang menyelesaikan kalimatnya.

“Bintang koma bim, dan dia belum bisa di jenguk” lanjut Gilang yang langsung membuat tubuh Bimo lemas seketika. Bimo menyandarkan tubuh atletisnya pada sandaran kursi. Besi kursi yang dingin menyentuh kulit lehernya mebuatnya merasa beku sesaat. Matanya terpejam mencoba mencerna peristiwa yang baru saja menimpanya. Rasanya seperti sial sangat suka membututinya dan membuat hidupnya menjadi kacau.

Sudah cukup Bimo dibuat pusing dengan kejadian yang belakangan ini terjadi menimpanya. Mulai dari cidera yang ia dapat saat latihan renang yang membuatnya tidak dapat mengikuti kejuaraan. Dan kesalahfahaman yang terjadi diatara Bimo dan Bintang. Hingga Bimo membuat Bintang benar-benar kesal lalu meminta putus tanpa pikir panjang. Orang yang di harapkan Bimo selalu berada di sisinya disaat ia sedang down malah memilih mundur dan pergi.

Bimo sempat ingin meluruskan kesalahfahaman yang terjadi saat itu juga, namun Bintang tidak pernah mau mendengarkanya. Mungkin saat itu Bintang memang sedang dalam emosi yang memuncak. Sehingga Bimo mencoba memberi waktu agar Bintang sedikit redam, dan mudah untuk diajak bicara.

Namun, satu hari.. dua hari.. Bintang tak pernah muncul dihadapanya. Sekali bepapasan Bintang menghindar dengan muka merah. Entah karna marah atau malu atau bukan keduanya. Bimo berusaha mengejar namun selalu di hadang oleh sahabat Bintang.

Hingga setelah berlalu satu minggu, Bimo menemukanya dalam keadaan koma. Penyesalan mendalam meggelayut dalam benak Bimo. Seaakan senang dengan penderitaan yang di alaminya.

“gue gak tau kejadian sebenernya gimana. Bintang cuma pamit buat pulang setelah rapat osis. Ternyata dia pulang bareng Roy. Dan..” Bimo bangkit dari posisinya dan menatap Gilang dengan pandangan lanjutin-ceritanya.

Gilang menyadari tatapan Bimo. Membuatnya menghela nafas dan kembali berbicara “Dan gue gak tau lanjutanya. Untung gue ada di cafe sekitar situ tadi. Dari kejauhan sih gue lihat mobil roy ugal-ugalan kaya kesetanan gitu. Trus nabrak pohon, gak lama setelah Roy dan Bintang di selametin mobil Roy kebakar”

Rahang Bimo mengeras, tanganya terkepal disisi tubuhnya dan wajahnya merah menahan marah. “Dimana Roy sekarang?” tanya Bimo ketus.

“Dia juga koma Bim, mereka berdua dalam keadaan kritis” tanpa disadarinya Bimo menonjok dinding putih rumah sakit dengan sangat keras. Kakinya berjalan kesana kemari berulang-ulang. Sambil terus mengusap kasar rambutnya hingga berantakan. Sesekali ia mengintip ke arah jendela kecil di pintu bernomor 27 dengan perasaan kacau.

Tanpa pikir panjang Bimo segera membuka knop pintu dan masuk kedalam. Ia berjalan cepat menuju ranjang Bintang sebelum di cegah oleh Gilang.

Bimo menatap pilu orang yang sangat ia cintai. Beberapa selang menempel di tubuh Bintang dan perban yang menutupi luka di bagian kepala Bintang. Mata teduh yang sangat Bimo sukai sedang tertutup rapat dan Bimo tidak tau sampai kapan ia bisa menatap mata itu lagi.

Melihat keadaan Bintang yang begitu menyedihkan membuat Bimo ingin sekali berteriak memaki di depan orang yang mencelakakan Bintang dan menonjoknya hingga tersungkur.

Derapan beberapa kaki terdengar mendekat, “lo harusnya gak masuk” tegas Gilang dengan suara pelan yang tidak di gubris oleh Bimo.

“Bintang..” suara Anne dan Tere yang terdengar lesu melihat kondisi sahabatnya.

Rahang Bimo kembali mengeras. Ia tak mau hanya diam saja setelah melihat apa yang terjadi pada Bintang. “dimana ruangan Roy?” tanya Bimo.

Gilang hanya menatap Bimo dengan dengan tatapan lo-gak-akan-ngelakuin-hal-gila-kan. “gue gak yakin buat ngasih tau lo” jawab Gilang.

Setelah dipikir bertanya pada Gilang tidak berguna da hanya mebuang waktu, Bimo berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat. Masih dengan emosi yang memuncak dan kepalan yang semakin mengerat Bimo menanyakan kamar Roy kepada beberapa suster. Ia beruntung karna sang suster tidak bersekongkol dengan Gilang sehinga ia dapat menemukan kamar Roy dengan cepat.

Saat Bimo menemukan ruangan Roy, ia hanya diam di depan pintu. Mempehatikan sekeliling. Jika suasana di ruangan Bintang terlihat ramai dengan sahabat dan orang tuanya yang sempat ia lihat saat keluar tadi, berbeda dengan ruangan Roy. Disini sangat sepi. Tak ada seorangpun yang yang duduk menunggu dengan raut khawatir. Perasaan bersalah kembali menyusup dalam diri Bimo.

Bimo mengintip dari jendela kecil. Dan ia menangkap sosok lemah yang lain terbujur di atas ranjang dengan perban yang lebih banyak. Tanpa sadar Bimo membuka pintu dan melangkah masuk kedalam. Hatinya yang menyuruhnya berlaku spontan. Karna dalam hatinya ia masih sangat peduli pada Roy, sahabat lamanya.

Bimo berdiri tak jauh dari ranjang Roy. Menatap Roy pilu. Seakan amarahnya yang menggebu-gebu tadi hilang seperti asap rokok.

“Harusnya lo mati” ucap Bimo pelan namun tegas kepada Roy yang tidak sadarkan diri “lo hidup juga gak berguna. Lo nyelakain orang yang gue sayang. Dan lo udah nyiya-nyiain gue, satu-satunya orang yang peduli sama lo” suara Bimo tiba-tiba serak di akhir kalimatnya. Membuatnya harus menelan ludah untuk membasahi tenggorokanya.

Bimo yang sudah sejak smp bersahabat denga Roy mengetahui segalanya tentang Roy. Sifat luar dalam, kenakalan, kehidupan Roy dan keluarganya, Bimo tau semua. Karna mereka sangat dekat, dulu.

“coba liat sekarang. Lo sekarat juga gak ada yang peduli. Cuma gue yang ada disini” Bimo tertawa sinis sebelum melanjutkan kata-katanya “andai aja lo lebih ngeliat keberadaan gue dan gak nyia-nyiain gue dulu. Gue pasti jadi orang pertama yang khawatir saat lo kayak gini” Bimo tersenyum miring. Namun segera berubah datar saat melihat jari-jari Roy bergerak.

Melihat itu Bimo tak mau lagi melanjutkan kata-katanya. Sebelum penyesalan masa lalu kembali menghantuinya Bimo memilih berbalik dan berjalan keluar. Namun tanpa Bimo sadari, Roy mendengar semua yang Bimo katakan. Semua.

***

Bimo berjalan cepat ke arah kamar bernomor 27 dengan bunga lili favorit Bintang. Setelah berada di dalam, Bimo segera mengganti bunga lili yang mulai layu degan yang berada di genggamanya. Ia tersenyum memandangnya.

Tak lama matanya beralih fokus pada gadis berwajah pucat yang masih belum mau memperlihatkan mata teduhnya setelah 4 hari berlalu. Lengkungan garis tipis terbentuk menghiasi wajah lelah Bimo setelah seharian sekolah dan dilanjut berlatih renang. Rasa lelahnya terasa terbayar saat melihat gadis yang dicintainya.

Bimo menarik kursi terdekat dan mendudukinya. Tanganya meraih tangan Bintang yang tertempel selang infus. Bimo menggenggamnya lembut sambil menatap setiap lekukan wajah Bintang. Dia tetap terlihat cantik batin Bimo sambil tak henti-hentinya tersenyum.

“Bintang. . kamu masih marah yaa. Udahan dong marahnya. Kamu marahnya sama aku tapi semua orang ikut khawatir” sejenak Bimo berfikir, merasa malu mangatakan hal menjijikan seperti itu. Pasti jika Bintang sadar Bimo sudah dipukuli tanpa ampun. Bintang memang aneh, tidak pernah mempan dengan rayuan gombal.

Bimo memainkan jari-jari Bintang sambil terus melanjutkan kalimatnya“Tang aku mau lurusin masalah yang kemaren. Sebelum aku makin gila kepikiran ini trus setiap malam. Sebenernya aku sama Luna itu gak ada apa apa. Luna cuma minta bantuan aku biar dia bisa deket sama Gilang. Luna sukanya sama Gilang bukan sama aku” Bimo menghela nafas lega.

“Harusnya aku bilang sejak awal. Maaf Bintang. Kamu bangun dong tang” berfikir bahwa usahanya juga akan percuma Bimo kembali diam dan memerhatikan raut wajah Bintang yang pucat.

Bimo membanting tubuhnya pada sandaran kursi “Kapan sih lo bangun tang? Gue kangen ngobrol sama lo” mata Bimo melirik gitar disamping kursinya. Dia meraihnya dan mulai bermain. Lagu favorit Bintang.

“Gue kasih lagu ini, biar lo gak ngerasa kesepian”

Breath deep breath clear

Know that i’m here, know that i’m here waiting

Stay strong stay gold

You don’t have to fear, you don’t have to fear waitng

I’ll see you soon i’ll see you soon

How could i heart like yours, ever love a heart like mine

How could i live before, how could i have been so blind

You opened up my eyes, you opened up my eyes

Suara Bimo menghilang di bagain akhir Berubah serak yang tak dapat ditutupi. Hatinya perih melihat kondisi Bintang.

“Bintang lo pasti bakal bagunkan? Please.. lo harus bangun buat orang-orang yang sayang sama lo. Karna gue sayang sama lo” Bimo tertnduk lesu. Membiarkan pikiranya terbang. Namun, saat tiba-tiba tanganya terasa disentuh seseorang pikiranya kembali pada tempat semula.

Bimo terkejut dengan senyum mengembang. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Mata teduh yang ia tunggu menatapnya lagi. Dengan binar yang sangat indah tercetak disana. Garis tipis terbentuk dari bibir pucatnya. Dan senyum Bimo semakin mengembang saat Bintang memanggil namanya.

“Bimoo..”

***

“Nih, aku buatin spesial buat kamu” ucap Bintang setelah mengambil tempat di samping Bimo yang sedang memainkan kakinya di dalam air.

“Sandwich lagi?” celetuk Bimo dengan nada protes. Membuat Bintang mengerucutkan bibirnya. Dan Bimo malah tertawa kecil melihat kelakuan Bintang.

“Emang baru bisanya bikin sandwich. Nanti kalo aku udah bisa bikin rendang, kamu aku buatin setiap hari deh” kata Bintang jutek.

“Kalo kamu yang buatin, singkong rebus pake garam tiap hari juga aku makan kok” dan Bimo menyesali ucapanya saat itu juga karna mendapatkan pukulan maut dari Bintang.

“Gak usah gombal deh lo. Udah makan aja bekalnya gak usah bawel”

“Iya nyonyaa” goda Bimo.

Tak ada lagi percakapan setelah itu. Keduanya menikmati sore di pinggiran kolam renang tempat Bimo berlatih. Bintang tersenyum memandang Bimo yang sangat lahap memakan bekal darinya. Bintang tak habis fikir, meski mereka berdua sudah berkali-kali putus nyambung gara-gara hal sepele, tapi akhirnya mereka tetap akan bersama di akhir cerita. Sifat Bimo yang keras kepala dan keukeh dengan keinginanya selalu dapat membuat Bintang kembali jatuh hati. Dengan segala yang Bimo perjuangkan untuknya. Bintang hargai itu. Dengan membalas perasaan Bimo.

“Bimo”

“Hmm..”


“Terus buat gue jatuh cinta sama lo yaa”

7 Des 2015

Maling Ati

Harus aku menanti kepastian yang semu? Aku mengejarmu tanpa mengerti kata lelah. Meski kamu terus berjalan menjauh tanpa menoleh barang sedetik. Haruskah aku menanti kepastian yang semu? Kamu mengajaku melayang bersama kata kata indah. Kamu mengajar kan ku apa arti ketulusan. Haruskah kini aku yang berjuang sendiri?
***
Aku mendudukan tubuhku di deretan bangku panjang yang tertata di depan kelas. Dengan di temani sebotol susu kemasan favoritku. Memperhatikan gerbang yang terbuka dengan siswa siswi yang lalu lalang dan helm di genggaman mereka. Aku masih setia memperhatikan gerbang arah parkiran dengan seksama. Meneliti wajah wajah mereka yang baru datang. Sesekali membalas sapa kepada teman temanku sebaya. Tapi bukan mereka yang aku cari.

Bel tanda masuk berbunyi. Aku masih setia menanti janji. Yang telah kita bahas berjam jam semalam. Salah seorang temanku mengajak masuk kelas karna sudah saatnya tadarus bersama. Tapi aku diam mematung. Harapanku masih tinggi tentangnya.

"Udah gak usah ditungguin. Nanti juga nyamperin. Masuk yuk" ajak temanku entah sudah yang keberapa kali.

Saat aku berdiri dan hendak melangkah masuk. Sebuah suara bass memanggil namaku.

"Amala" aku menoleh ke sumber suara.

Tanganya yang langsung mendekap mulut karna tau suaranya membuat gaduh membuatku tidak dapat menahan tawa. Dia berlari kecil menghampiriku. Dengan sebotol susu kemasan yang sama rasanya dengan yang baru aku habiskan.

Tanganya menjulur memberikan susu itu. Aku hanya menatap tanpa berkata apapun. Aku memang menunggunya berkata sesuatu.

"Ini ambil. Balesan karna lo udah minjemin catetan fisika plus nerangin buat gue kemaren. Lo tau kan anak ips kurang faham sama begituan. Jadi thanks a lot" ucapnya beruntutan.

Aku tersenyum mendengar kalimat terakhir. Sambil mengangguk pelan.

"Kok lo cuman ngangguk? Lo gak mau ngomong apa gitu. Biasanya cerewet"

Aku menggeleng seadanya. Entah kenapa, lidahku terasa kaku untuk di gerakan. Tidak seperti biasanya.

Dia terkekeh pelan "yaudah, masuk gih. Tadarus dulu" ucapnya sebelum berlalu pergi. Dan setelah kepergian ya aku merasa baru saja menjadi orang terbodoh.

"Kenapa gue gak bisa buka mulut sama sekali tadi? Hih! Nyebelin banget itu cowok bisa bikin lidah gue kaku. Dia pake sulap apa yaa" cerocosku pada angin.

***
Hariku terus berlanjut. Dan tidak ada yang spesial setelah kejadian pemberian ucapan terimakasih kala itu. Dan tidak lagi ada yang spesial seperti minggu lalu.

Dimana dia selalu menghadangku saat aku hendak pulang melewati area parkir. Aku tidak tau darimana dia tau motorku. Tiba-tiba saja dia sudah dalam posisi siap diatas motorku. Dan dia bilang akan mengantarku pulang. Padahal kita tidak sejalur. Sudah berulang kali aku minta untuk turun, tapi dia lebih keras kepala.

Saat sampai di depan rumahku, barulah laki-laki ini mau turun dan tersenyum padaku. Senyum kesepuluh yang aku dapat darinya. Aku suka menghitung senyumnya. Entah kenapa.

Dia berdiri sambil memperhatikan rumahku. "Mau mampir?" tawarku tapi ia menolak.

"Jadi ini istana tuan putri" dan aku anggap itu sebagai pujian. Aku hanya bisa tersenyum malu sambil menenggelamkan kepala.

Terdengar kekehan kecil darinya yang dapat kutangkap dengan jelas. "Gue pulang dulu ya" segera aku mendongak setelah dia bilag begitu.

"rumah lo mana sih? lo mau pulang naik apa? disini jarang ada angkot lewat apalagi taxi" dia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Senyumnya yang ke sebelas. Lalu berlari sambil melambai ke arahku.

"buruan masuk. esok jangan kesiangan. kita berangkat bareng" hanya itu yang bisa ku tangkap. Karna dia berteriak sambil terus menjauh.

Dan saat itu hatiku bergetar. Perasaan yang aku tunggu-tunggu edatanganya. Di kolog langit senja. Kau buatku jauh cinta.

***

Hari hari selanjutnya aku lalui bersamanya. Kita sering menghabiskan waktu pulang sekolah bersama. Dan saat-saat seperti itu yang sangat aku rindukan.

Aku selalu ada untuknya. Tidak, aku selalu berusaha untuk selalu ada untuknya. Meski tu sulit, aku tetap slalu mengusahakanya. Walaupun hanya dibalas dengan kata-kata manis yang selalu berhasil membuatku melayang. Atau susu botol favoritku sebagai selingan. Aku tak mengapa. Karna aku senang melakukanya untukmu.

Apa aku benar-benar hanya sebagai persinggahanmu? Sebagai alat dan kaki tanganmu? Yang selalu kamu mintai sesuka hati lal kamu tinggal pergi? Apa kamu benar-benar tak mau tanggung jawab saat aku telah menaruh hati padamu? Apa gunanya kamu memberiku angan setinggi awan jika akhirnya kamu tinggalkan?

Aku masih menyimpan sejuta tanya padamu. Dan aku harap dapat mengutarakanya padamu. Jika suatu hari kau kembali padaku. Aku percaya. Kau akan kembali.

Untuk kamu, sang pencuri hati

7 Agu 2015

Bunga Terakhir


Bunga yang tadinya segar dan indah, semakin hari semakin layu. Makin hari makin menghitam. Makin hari makin mengering. Vas itu tadinya penuh dengan air es. Entah kemana sekarang. Bisa saja mengering atau diminum oleh serangga khayalku. Tepatnya di atas meja dekat jendela. Titik fokusku selalu jatuh disana setiap sore. Bukan pada jendela atau pemandangan sore di sana. Tapi pada bunga kering di dalam vas. Mawar kering tersorot sinar jingga sore hari dari langit barat. Tetap terlihat indah bagiku. Mawar pertamaku. Bahkan terakhir.

1 Jul 2015

Cerita Pasi

Gemuruh hati terasa pasi. Tak lagi sama dengan pertemuan kita pertama kali. Semua fantasi hanya sebuah ekspektasi. Susah untuk terealisasi. Sebuah benteng kasat mata menghalangi. Begitu kokoh meski tak terlihat. Tapi begitu terasa. Merayap menggapai jiwa.Takmau runtuh meski berkali-kali kita dobrak.
Aku sudah melepaskanmu.Membiarkanmu pergi mencari hal baru yang lebih menyenangkan. Jangan hiraukan aku disini. Aku bahagia dengan keputusanku. Melihatmu bahagia, walau sudah tidak dalam skenario yang sama. Denganku.

24 Jun 2015

Dongeng sebelum Tidur

Pandangan kami bertemu di kala sore. Tatapan pertama kami sebagai seorang teman. Satu hal yang aku sukai saat itu juga, mata birumu yang seperti laut. Membawaku hanyut, bahkan mungkin terlalu dalam. Sampai membuat sebuah organ dalam tubuhku tak henti bergejolak. Tapi aku segera berusaha menghilangkanya. Aku tidak pantas merasakanya. Aku hanya gadis kutu buku yang bermimpi akan bertemu seorang pangeran. Seperti dongeng klasik yang sering ibu ceritakan padaku. Tapi mustahil sekali itu terjadi. Atau bahkan dengan pemuda ini, seseorang yang baru aku temui dan sangat di idolakan di sekolah. Sangat amat mustahil.

Satu desiran kembali terasa, saat tak sengaja aku menabrakmu diikuti buku-bukuku yang berjatuhan. Kau membantu memungutnya. Satu buku tak kau kembalikan padaku. Malah kau bawa kabur ke kelasmu. Aku tak mengerti maksutnya, sehingga aku hanya mematung ditempat tak berani memanggilmu untuk memintanya.

Suatu hari kita bertemu kembali. Kamu sengaja datang kekelasku dengan salah satu bukuku di genggamanmu. Mungkin kamu sengaja mampir untuk mengembalikan. Namun satu hal ganjal, ada sebuah nomor di halaman depanya. Ini bukan nomorku, atau salah satu temanku. Nomor ini baru aku ketahui ada setelah kamu mengembalikan. Atau mungkin ini nomormu? Pikiranku mulai gila. Untuk apa kamu menilis nomormu di bukuku.

Aku pulang sore hari itu, karna sedikit tugas tambahan dari seorang guru membuatku tertahan. Aku ingin segera pulang dan memanjakan diriku di kamar kesayanganku. Namun sayang, mungkin keinginanku tidak akan segera terlaksana. Seseorang kembali menahanku untuk tetap tinggal. Kali ini bukan lagi seorang guru. Tapi pemuda yang mengembalikan bukuku tempo hari. Mau apa dia?

"Kenapa kamu tidak menghubungiku?" tanyamu.

Aku sangat ingin tapi, "untuk apa?"

"agar aku bisa berkenalan denganmu" katamu dengan senyum hangat. Kini desiran itu kembali terasa. Jantung ini terasa terpompa semakin cepat.

"Mau minum segelas dawet dulu denganku?" aku belum menjawab apapun, karna aku merasa ragu. Hari sudah mulai sore. Tapi pemuda ini tetap saja keukeh ingin mengajaku. Tanpa meminta izinku kamu menarik tanganku untuk mengikuti langkahmu.

Dawet depan sekolah yang sebenarnya sudah sering aku minum kali ini terasa berbeda. Rasa manisnya begitu terasa, bahkan serasa tak ingin hilang dari alat perasa. Apa karna ada seorang yang berbeda?

"Manis" gumam orang disebelahku dengan sangat jelas. Aku menengok, dan mendapatinya sedang menatapku aneh.

"Kenapa? gulanya kebanyakan?" tanyaku seadanya. Ia mengerjap beberapa kali sebeleum mengelak dan tiba-tiba tingkahnya menjadi aneh. Atau hanya perasaanku saja.Tapi jujur saja, tingkahnya benar-benar membuatku ingin tertawa. Namun, aku tahan.

"Sudah? ayo aku antar pulang" ajaknya. Aku menurut saja, karna memang sudah sore dan bisa saja tidak ada lagi angkutan umum yang lewat.

Aku menunggunya dipagi hari seperti biasa. Sudah beberapa hari ini laki-laki yang baru aku kenal mengajaku berangkat dan pulang bersama setiap hari. Aau senang, karna ternyata dia tidak secongkak yang aku kira. Kebanyakan anak-anak hits sekolah seperti itu. Tapi yang kali ini tidak. Dia sangat asik sekali. Dan ternyata dia juga pecinta sastra, sama sepertiku. Kita nyambung sekali saat membahas topik itu.

Pulang sekolah dia kembali mengantarku pulang. Tak lupa ia memberi senyum hangatnya seperti biasa. Dia menyuruhku cepat masuk karna udara memang agak dingin.

Hari terus berlanjut. Kami semakin akrab satu sama lain. Juga dengan perasaan ini. Semakin lama denganmu semakin dalam perasaanku padamu. Tapi aku harap kamu tak pernah tau, sampai kamu memberi tahhu lebih dulu perasaanmu padaku. Akan lebih dari kata kagum, atau hanya akan sebatas teman dan tak akan pernah bertambah menjadi yang lebih seperti yang kuinginkan.Aku ingin sekali memberitaumu lebih dulu. Tapi aku seorang wanita. Pantaskah? Aku ditakdirkan untuk menunggu, mungkin memang itu yang harus aku lakukan.

Kita sudah cukup lama bersama, dan aku belum juga mendapat kepastian darimu. Apakah aku ini spesial atau hanya sebatas teman ngobrolmu dikala senggang.

Aku kembali ke rutinitasku dulu. Sebelum aku mengenalmu. Berangkat dan pulang sekolah dengan angkutan umum. Karna sudah tiga hari ini kamu tidak melakukan rutinitasmu sebelumnya, mengajaku berangkat dan pulang bersama. Kabar burung disekolah yang katanya kamu sedang dekat dengan salah satu anggota paduan suara yang cantik itu. Membuatku semakin khawatir denganmu. Kita juga sudah jarang sekali mengobrol bersama, malahan hampir tak pernah. Kamu terlihat menghindariku saat kita bertemu di sudut sekolah. Saat aku coba mencarimu kamu sudah tidak ada lagi jejak. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu tiba-tiba menghindar? apa salahku?

Aku terkejut saat mendapatimu satu meja denganya. Gadis cantik anggota paduan suara. Kalian terlihat sangat serasi. Kamu yang notabene siswa berprestasi di bidang olahraga ditambah dengan parasmu yang rupawan sangat pantas bersanding denganya. Daripada denganku. Si kutu buku yang punya impian mempunyai kisah cinta yang indah seperti dongeng yang sering aku baca dan aku dengar. Jauh sekali. Kamu lebih pantas bersamanya. Kini aku tau jelas hubungan kita. Hanya sebatas teman ngobrol di kala senggang, tak lebih.

Tanpa aku sadari aku sedang melihatimu tanpa berkedip. Saat kamu tiba-tiba melihat kehadiaranku dengan wajah yang tampak terkejut aku sadar. Aku hanya membalas tatapanmu dengan senyuman pahit yang sangat dipaksakan. Aku ikut senang. Aku segera bergegas pergi meninggalkanmu yang memperlihatkan mimik menyesal. Atau hanya perasaanku saja? Aku tidak sempat berbalik untuk melihatnya lagi. Karna aku ingin segera bersembunyi dan menutupi sesuatu yang sudah tidak bisa lagi aku tahan.

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sepi. Ragaku ada tapi fikiranku mengudara. Melayang-layang mengingat lagi kenangan kita saat bersama. Saat kita berdua duduk di kantin sekolah atau kedai kopi yang sering kita kunjungi. Hanya untuk berbagi cerita dan membicarakan hal tak penting. Sesekali membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya. Kadang terlihtas juga ucapan konyolmu disela-sela obrolan kita. Haruskah aku menyimpan kenangan itu atau melupakanya.

Sebuah suara memanggil namaku. Membuatku terbangun dari lamunanku dan mencari asal suara itu. Tapi yang aku dapati lebih dulu adalah suara deru mobil yang semakin mendekat. Kakiku terasa kaku hanya untuk berlari menghindar. Bodohnya aku masih berdiri disana tanpa berusaha menghindar. Suara itu lagi memanggil namaku. Aku mengenali suara itu. Laki-laki yang baru saja aku fikirkan. Sebuah motor yang sangat aku kenali dengan pengendara diatas motornya datang dari arah belakangku. Dan berhenti tepat didepanku. Tangan orang itu meraih tubuhku dan merangkulku menghalangi pandanganku, orang itu berbisik tepat di telingaku "Aku mencintaimu Larasati" dan semuanya menjadi gelap.

Aku meringis kesakitan saat membuka mata. Sebuah lampu yang terang menyambutku. Di ruangan serba putih yang tadinya sepi tiba-tiba berubah ramai dengan suara derap kaki menghampiri ranjangku.

"Kamu sudah sadar nak" tanya wanita yang sangat aku cintai. Tapi ingatanku kembali ke kejadian kenapa aku bisa ada disini. Membuatku diserang pusing tiba-tiba. Aku memohon kepada kedua orang tuaku untuk membawaku menemuinya

Di depan kamarnya ramai dengan keluarga dan beberapa temanmu yang sebagian aku kenal. Dan ada dia juga. Gadis yang beberapa hari ini sering bersamamu. Mereka semua mengangis dan saling menenagkan satu sama lain. Apa yang sedang terjadi? Apa kamu belum sadar?

Aku mengintip dari jendela pintu. Tak memperdulikan tatapan tajam gadis yang sedang menangis di belakangku. Dan terlihat disana kamu yang sudah akan ditutupi kain putih. Aku mencoba masuk kedalam untuk memastikan benarkah mau itu. Dan ternyata aku tidak salah lihat. Kamu sudah terbaring disana dengan wajah pucat dan beberapa jahitan dikepalamu. Tangisku pecah ditempat. Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini. Kenapa kamu menyelamatkanku kalau harus kamu yang pergi? Harusnya kamu biarkan saja tadi aku.

Satu hal yang ingin aku lakukan sejak tadi. Membalas ungkapan perasaanmu. Membisikan tepat di telingamu. Ungkapan yang tulus dari dalam hatiku. "Aku mencintaimu Geovani" aku tersenyum lega karna berhasil mengungkapkanya. "Selamat tidur sayang" mengecup keningnya untuk yang terakhir kali.

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...