1 Jan 2016

Get Me Wrong

Mata coklatnya memandang lurus kearah dinding bercat abu-abu. Dimana ia menggantung semua piagam dan mendali yang begitu berharga baginya. Karna hanya untuk mendapatkan kertas dengan coretan dan kalung dengan mandel besar itu dibutuhkan keuletan dan perjuangan yang tidak mudah.

Fokusnya beralih ke titik pigura kosong. Yang sengaja sudah ia persiapkan untuk piagam yang sangat ia inginkan sejak kecil. Piagam kejuaraan nasional. Yang membuatnya semangat menjadi seorang perenang. Mengenang almarhum ayahnya sebagai atlit renang nasional. Berharap ia dapat memajang piagam tersebut sebagai hadiah untuk ulang tahun minggu depan.

Sayangnya impian dan harapan manusia terkadang tidak sejalan dengan realita. Bimo harus menelan pahit saat mendapati cidera. Membuatnya mustahil ikut kejuaraan itu. Bisa-bisa dia membawa pulang cidera yang lebih parah bukanya sebuah piagam atau mendali. Setidaknya masih ada kesempatan tahun depan.

Bimo membawa tubuhnya duduk santai di balkon kamar. Tanganya merogoh saku mencari ponsel disana. Saat dia mendapatkanya matanya berubah teduh menatap gambar seseorang di lock screen. Gadis manis berkulit pucat dengan rambut panjang kecoklatan tengah menunjukan wajah imutnya. Bimo tersenyum menatap tanpa henti. Seolah matanya sedang menyampaikan rindu yang teramat dalam.

Bimo terlonjak kaget saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang tertera disana adalah ‘Gilang’. Alisnya berkerut memikirkan apa yang mebuat sahabatnya itu menelfon di hari menjelang maghrib begini.

“Halo? Ada apa lang?”

***

Lelaki dengan rambut ikal keclokatan itu berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Sambil terus mengecek nomor yang tertera di setiap pintu. Langkahnya semakin cepat, sepertinya dia segera mendapati nomor yang dituju. Nafasnya yang terengah-engah, keringatnya yang sebesar biji jagung sudah tak dihiraukan.Yang ia fikirkan saat ini hanya harus menemukan Bintang dan mendapati ia baik-baik saja barulah ia bisa tenang. Namun, setelah apa yang dia dengar tentang Bintang dari 
Gilang, ia tidak yakin kalau Bintang sedang baik-baik saja.

Bimo menghentikan langkahnya saat menemukan Gilang duduk tertunduk di sebuah kursi panjang. 
Bimo menghembuskan nafas berat sebelum ia berlari menuju Gilang.

Gilang berdiri menyadari kedatangan Bimo.

“Mana Bintang? Dia di dalem? Huh?” Dengan panik Bimo melangkah mendekati pintu hendak masuk. Namun segera lenganya di tahan oleh Gilang. Gilang menarik Bimo hingga terduduk. Rasanya kaki Bimo lemas. Seluruh ototnya lelah. Hingga ia menurut saja saat Gilang menariknya duduk.

Gilang menepuk pundak Bimo beberapa kali. Tanda penyemangat dari seorang sahabat.

“Bintang..” Bimo menoleh dengan alis berkerut, menunggu Gilang menyelesaikan kalimatnya.

“Bintang koma bim, dan dia belum bisa di jenguk” lanjut Gilang yang langsung membuat tubuh Bimo lemas seketika. Bimo menyandarkan tubuh atletisnya pada sandaran kursi. Besi kursi yang dingin menyentuh kulit lehernya mebuatnya merasa beku sesaat. Matanya terpejam mencoba mencerna peristiwa yang baru saja menimpanya. Rasanya seperti sial sangat suka membututinya dan membuat hidupnya menjadi kacau.

Sudah cukup Bimo dibuat pusing dengan kejadian yang belakangan ini terjadi menimpanya. Mulai dari cidera yang ia dapat saat latihan renang yang membuatnya tidak dapat mengikuti kejuaraan. Dan kesalahfahaman yang terjadi diatara Bimo dan Bintang. Hingga Bimo membuat Bintang benar-benar kesal lalu meminta putus tanpa pikir panjang. Orang yang di harapkan Bimo selalu berada di sisinya disaat ia sedang down malah memilih mundur dan pergi.

Bimo sempat ingin meluruskan kesalahfahaman yang terjadi saat itu juga, namun Bintang tidak pernah mau mendengarkanya. Mungkin saat itu Bintang memang sedang dalam emosi yang memuncak. Sehingga Bimo mencoba memberi waktu agar Bintang sedikit redam, dan mudah untuk diajak bicara.

Namun, satu hari.. dua hari.. Bintang tak pernah muncul dihadapanya. Sekali bepapasan Bintang menghindar dengan muka merah. Entah karna marah atau malu atau bukan keduanya. Bimo berusaha mengejar namun selalu di hadang oleh sahabat Bintang.

Hingga setelah berlalu satu minggu, Bimo menemukanya dalam keadaan koma. Penyesalan mendalam meggelayut dalam benak Bimo. Seaakan senang dengan penderitaan yang di alaminya.

“gue gak tau kejadian sebenernya gimana. Bintang cuma pamit buat pulang setelah rapat osis. Ternyata dia pulang bareng Roy. Dan..” Bimo bangkit dari posisinya dan menatap Gilang dengan pandangan lanjutin-ceritanya.

Gilang menyadari tatapan Bimo. Membuatnya menghela nafas dan kembali berbicara “Dan gue gak tau lanjutanya. Untung gue ada di cafe sekitar situ tadi. Dari kejauhan sih gue lihat mobil roy ugal-ugalan kaya kesetanan gitu. Trus nabrak pohon, gak lama setelah Roy dan Bintang di selametin mobil Roy kebakar”

Rahang Bimo mengeras, tanganya terkepal disisi tubuhnya dan wajahnya merah menahan marah. “Dimana Roy sekarang?” tanya Bimo ketus.

“Dia juga koma Bim, mereka berdua dalam keadaan kritis” tanpa disadarinya Bimo menonjok dinding putih rumah sakit dengan sangat keras. Kakinya berjalan kesana kemari berulang-ulang. Sambil terus mengusap kasar rambutnya hingga berantakan. Sesekali ia mengintip ke arah jendela kecil di pintu bernomor 27 dengan perasaan kacau.

Tanpa pikir panjang Bimo segera membuka knop pintu dan masuk kedalam. Ia berjalan cepat menuju ranjang Bintang sebelum di cegah oleh Gilang.

Bimo menatap pilu orang yang sangat ia cintai. Beberapa selang menempel di tubuh Bintang dan perban yang menutupi luka di bagian kepala Bintang. Mata teduh yang sangat Bimo sukai sedang tertutup rapat dan Bimo tidak tau sampai kapan ia bisa menatap mata itu lagi.

Melihat keadaan Bintang yang begitu menyedihkan membuat Bimo ingin sekali berteriak memaki di depan orang yang mencelakakan Bintang dan menonjoknya hingga tersungkur.

Derapan beberapa kaki terdengar mendekat, “lo harusnya gak masuk” tegas Gilang dengan suara pelan yang tidak di gubris oleh Bimo.

“Bintang..” suara Anne dan Tere yang terdengar lesu melihat kondisi sahabatnya.

Rahang Bimo kembali mengeras. Ia tak mau hanya diam saja setelah melihat apa yang terjadi pada Bintang. “dimana ruangan Roy?” tanya Bimo.

Gilang hanya menatap Bimo dengan dengan tatapan lo-gak-akan-ngelakuin-hal-gila-kan. “gue gak yakin buat ngasih tau lo” jawab Gilang.

Setelah dipikir bertanya pada Gilang tidak berguna da hanya mebuang waktu, Bimo berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat. Masih dengan emosi yang memuncak dan kepalan yang semakin mengerat Bimo menanyakan kamar Roy kepada beberapa suster. Ia beruntung karna sang suster tidak bersekongkol dengan Gilang sehinga ia dapat menemukan kamar Roy dengan cepat.

Saat Bimo menemukan ruangan Roy, ia hanya diam di depan pintu. Mempehatikan sekeliling. Jika suasana di ruangan Bintang terlihat ramai dengan sahabat dan orang tuanya yang sempat ia lihat saat keluar tadi, berbeda dengan ruangan Roy. Disini sangat sepi. Tak ada seorangpun yang yang duduk menunggu dengan raut khawatir. Perasaan bersalah kembali menyusup dalam diri Bimo.

Bimo mengintip dari jendela kecil. Dan ia menangkap sosok lemah yang lain terbujur di atas ranjang dengan perban yang lebih banyak. Tanpa sadar Bimo membuka pintu dan melangkah masuk kedalam. Hatinya yang menyuruhnya berlaku spontan. Karna dalam hatinya ia masih sangat peduli pada Roy, sahabat lamanya.

Bimo berdiri tak jauh dari ranjang Roy. Menatap Roy pilu. Seakan amarahnya yang menggebu-gebu tadi hilang seperti asap rokok.

“Harusnya lo mati” ucap Bimo pelan namun tegas kepada Roy yang tidak sadarkan diri “lo hidup juga gak berguna. Lo nyelakain orang yang gue sayang. Dan lo udah nyiya-nyiain gue, satu-satunya orang yang peduli sama lo” suara Bimo tiba-tiba serak di akhir kalimatnya. Membuatnya harus menelan ludah untuk membasahi tenggorokanya.

Bimo yang sudah sejak smp bersahabat denga Roy mengetahui segalanya tentang Roy. Sifat luar dalam, kenakalan, kehidupan Roy dan keluarganya, Bimo tau semua. Karna mereka sangat dekat, dulu.

“coba liat sekarang. Lo sekarat juga gak ada yang peduli. Cuma gue yang ada disini” Bimo tertawa sinis sebelum melanjutkan kata-katanya “andai aja lo lebih ngeliat keberadaan gue dan gak nyia-nyiain gue dulu. Gue pasti jadi orang pertama yang khawatir saat lo kayak gini” Bimo tersenyum miring. Namun segera berubah datar saat melihat jari-jari Roy bergerak.

Melihat itu Bimo tak mau lagi melanjutkan kata-katanya. Sebelum penyesalan masa lalu kembali menghantuinya Bimo memilih berbalik dan berjalan keluar. Namun tanpa Bimo sadari, Roy mendengar semua yang Bimo katakan. Semua.

***

Bimo berjalan cepat ke arah kamar bernomor 27 dengan bunga lili favorit Bintang. Setelah berada di dalam, Bimo segera mengganti bunga lili yang mulai layu degan yang berada di genggamanya. Ia tersenyum memandangnya.

Tak lama matanya beralih fokus pada gadis berwajah pucat yang masih belum mau memperlihatkan mata teduhnya setelah 4 hari berlalu. Lengkungan garis tipis terbentuk menghiasi wajah lelah Bimo setelah seharian sekolah dan dilanjut berlatih renang. Rasa lelahnya terasa terbayar saat melihat gadis yang dicintainya.

Bimo menarik kursi terdekat dan mendudukinya. Tanganya meraih tangan Bintang yang tertempel selang infus. Bimo menggenggamnya lembut sambil menatap setiap lekukan wajah Bintang. Dia tetap terlihat cantik batin Bimo sambil tak henti-hentinya tersenyum.

“Bintang. . kamu masih marah yaa. Udahan dong marahnya. Kamu marahnya sama aku tapi semua orang ikut khawatir” sejenak Bimo berfikir, merasa malu mangatakan hal menjijikan seperti itu. Pasti jika Bintang sadar Bimo sudah dipukuli tanpa ampun. Bintang memang aneh, tidak pernah mempan dengan rayuan gombal.

Bimo memainkan jari-jari Bintang sambil terus melanjutkan kalimatnya“Tang aku mau lurusin masalah yang kemaren. Sebelum aku makin gila kepikiran ini trus setiap malam. Sebenernya aku sama Luna itu gak ada apa apa. Luna cuma minta bantuan aku biar dia bisa deket sama Gilang. Luna sukanya sama Gilang bukan sama aku” Bimo menghela nafas lega.

“Harusnya aku bilang sejak awal. Maaf Bintang. Kamu bangun dong tang” berfikir bahwa usahanya juga akan percuma Bimo kembali diam dan memerhatikan raut wajah Bintang yang pucat.

Bimo membanting tubuhnya pada sandaran kursi “Kapan sih lo bangun tang? Gue kangen ngobrol sama lo” mata Bimo melirik gitar disamping kursinya. Dia meraihnya dan mulai bermain. Lagu favorit Bintang.

“Gue kasih lagu ini, biar lo gak ngerasa kesepian”

Breath deep breath clear

Know that i’m here, know that i’m here waiting

Stay strong stay gold

You don’t have to fear, you don’t have to fear waitng

I’ll see you soon i’ll see you soon

How could i heart like yours, ever love a heart like mine

How could i live before, how could i have been so blind

You opened up my eyes, you opened up my eyes

Suara Bimo menghilang di bagain akhir Berubah serak yang tak dapat ditutupi. Hatinya perih melihat kondisi Bintang.

“Bintang lo pasti bakal bagunkan? Please.. lo harus bangun buat orang-orang yang sayang sama lo. Karna gue sayang sama lo” Bimo tertnduk lesu. Membiarkan pikiranya terbang. Namun, saat tiba-tiba tanganya terasa disentuh seseorang pikiranya kembali pada tempat semula.

Bimo terkejut dengan senyum mengembang. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Mata teduh yang ia tunggu menatapnya lagi. Dengan binar yang sangat indah tercetak disana. Garis tipis terbentuk dari bibir pucatnya. Dan senyum Bimo semakin mengembang saat Bintang memanggil namanya.

“Bimoo..”

***

“Nih, aku buatin spesial buat kamu” ucap Bintang setelah mengambil tempat di samping Bimo yang sedang memainkan kakinya di dalam air.

“Sandwich lagi?” celetuk Bimo dengan nada protes. Membuat Bintang mengerucutkan bibirnya. Dan Bimo malah tertawa kecil melihat kelakuan Bintang.

“Emang baru bisanya bikin sandwich. Nanti kalo aku udah bisa bikin rendang, kamu aku buatin setiap hari deh” kata Bintang jutek.

“Kalo kamu yang buatin, singkong rebus pake garam tiap hari juga aku makan kok” dan Bimo menyesali ucapanya saat itu juga karna mendapatkan pukulan maut dari Bintang.

“Gak usah gombal deh lo. Udah makan aja bekalnya gak usah bawel”

“Iya nyonyaa” goda Bimo.

Tak ada lagi percakapan setelah itu. Keduanya menikmati sore di pinggiran kolam renang tempat Bimo berlatih. Bintang tersenyum memandang Bimo yang sangat lahap memakan bekal darinya. Bintang tak habis fikir, meski mereka berdua sudah berkali-kali putus nyambung gara-gara hal sepele, tapi akhirnya mereka tetap akan bersama di akhir cerita. Sifat Bimo yang keras kepala dan keukeh dengan keinginanya selalu dapat membuat Bintang kembali jatuh hati. Dengan segala yang Bimo perjuangkan untuknya. Bintang hargai itu. Dengan membalas perasaan Bimo.

“Bimo”

“Hmm..”


“Terus buat gue jatuh cinta sama lo yaa”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...