Mata coklatnya memandang lurus
kearah dinding bercat abu-abu. Dimana ia menggantung semua piagam dan mendali
yang begitu berharga baginya. Karna hanya untuk mendapatkan kertas dengan
coretan dan kalung dengan mandel besar itu dibutuhkan keuletan dan perjuangan
yang tidak mudah.
Fokusnya beralih ke titik pigura
kosong. Yang sengaja sudah ia persiapkan untuk piagam yang sangat ia inginkan
sejak kecil. Piagam kejuaraan nasional. Yang membuatnya semangat menjadi
seorang perenang. Mengenang almarhum ayahnya sebagai atlit renang nasional.
Berharap ia dapat memajang piagam tersebut sebagai hadiah untuk ulang tahun
minggu depan.
Sayangnya impian dan harapan manusia
terkadang tidak sejalan dengan realita. Bimo harus menelan pahit saat mendapati
cidera. Membuatnya mustahil ikut kejuaraan itu. Bisa-bisa dia membawa pulang
cidera yang lebih parah bukanya sebuah piagam atau mendali. Setidaknya masih
ada kesempatan tahun depan.
Bimo membawa tubuhnya duduk santai
di balkon kamar. Tanganya merogoh saku mencari ponsel disana. Saat dia
mendapatkanya matanya berubah teduh menatap gambar seseorang di lock screen.
Gadis manis berkulit pucat dengan rambut panjang kecoklatan tengah menunjukan
wajah imutnya. Bimo tersenyum menatap tanpa henti. Seolah matanya sedang menyampaikan
rindu yang teramat dalam.
Bimo terlonjak kaget saat tiba-tiba
ponselnya berdering. Nama yang tertera disana adalah ‘Gilang’. Alisnya berkerut
memikirkan apa yang mebuat sahabatnya itu menelfon di hari menjelang maghrib begini.
“Halo? Ada apa lang?”
***
Lelaki dengan rambut ikal keclokatan
itu berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Sambil terus mengecek nomor
yang tertera di setiap pintu. Langkahnya semakin cepat, sepertinya dia segera
mendapati nomor yang dituju. Nafasnya yang terengah-engah, keringatnya yang sebesar
biji jagung sudah tak dihiraukan.Yang ia fikirkan saat ini hanya harus
menemukan Bintang dan mendapati ia baik-baik saja barulah ia bisa tenang.
Namun, setelah apa yang dia dengar tentang Bintang dari
Gilang, ia tidak yakin
kalau Bintang sedang baik-baik saja.
Bimo menghentikan langkahnya saat
menemukan Gilang duduk tertunduk di sebuah kursi panjang.
Bimo menghembuskan
nafas berat sebelum ia berlari menuju Gilang.
Gilang berdiri menyadari kedatangan
Bimo.
“Mana Bintang? Dia di dalem? Huh?”
Dengan panik Bimo melangkah mendekati pintu hendak masuk. Namun segera lenganya
di tahan oleh Gilang. Gilang menarik Bimo hingga terduduk. Rasanya kaki Bimo
lemas. Seluruh ototnya lelah. Hingga ia menurut saja saat Gilang menariknya
duduk.
Gilang menepuk pundak Bimo beberapa
kali. Tanda penyemangat dari seorang sahabat.
“Bintang..” Bimo menoleh dengan alis
berkerut, menunggu Gilang menyelesaikan kalimatnya.
“Bintang koma bim, dan dia belum
bisa di jenguk” lanjut Gilang yang langsung membuat tubuh Bimo lemas seketika.
Bimo menyandarkan tubuh atletisnya pada sandaran kursi. Besi kursi yang dingin
menyentuh kulit lehernya mebuatnya merasa beku sesaat. Matanya terpejam mencoba
mencerna peristiwa yang baru saja menimpanya. Rasanya seperti sial sangat suka
membututinya dan membuat hidupnya menjadi kacau.
Sudah cukup Bimo dibuat pusing
dengan kejadian yang belakangan ini terjadi menimpanya. Mulai dari cidera yang
ia dapat saat latihan renang yang membuatnya tidak dapat mengikuti kejuaraan.
Dan kesalahfahaman yang terjadi diatara Bimo dan Bintang. Hingga Bimo membuat Bintang
benar-benar kesal lalu meminta putus tanpa pikir panjang. Orang yang di
harapkan Bimo selalu berada di sisinya disaat ia sedang down malah memilih
mundur dan pergi.
Bimo sempat ingin meluruskan
kesalahfahaman yang terjadi saat itu juga, namun Bintang tidak pernah mau
mendengarkanya. Mungkin saat itu Bintang memang sedang dalam emosi yang
memuncak. Sehingga Bimo mencoba memberi waktu agar Bintang sedikit redam, dan
mudah untuk diajak bicara.
Namun, satu hari.. dua hari..
Bintang tak pernah muncul dihadapanya. Sekali bepapasan Bintang menghindar
dengan muka merah. Entah karna marah atau malu atau bukan keduanya. Bimo
berusaha mengejar namun selalu di hadang oleh sahabat Bintang.
Hingga setelah berlalu satu minggu,
Bimo menemukanya dalam keadaan koma. Penyesalan mendalam meggelayut dalam benak
Bimo. Seaakan senang dengan penderitaan yang di alaminya.
“gue gak tau kejadian sebenernya
gimana. Bintang cuma pamit buat pulang setelah rapat osis. Ternyata dia pulang
bareng Roy. Dan..” Bimo bangkit dari posisinya dan menatap Gilang dengan
pandangan lanjutin-ceritanya.
Gilang menyadari tatapan Bimo.
Membuatnya menghela nafas dan kembali berbicara “Dan gue gak tau lanjutanya.
Untung gue ada di cafe sekitar situ tadi. Dari kejauhan sih gue lihat mobil roy
ugal-ugalan kaya kesetanan gitu. Trus nabrak pohon, gak lama setelah Roy dan
Bintang di selametin mobil Roy kebakar”
Rahang Bimo mengeras, tanganya
terkepal disisi tubuhnya dan wajahnya merah menahan marah. “Dimana Roy
sekarang?” tanya Bimo ketus.
“Dia juga koma Bim, mereka berdua
dalam keadaan kritis” tanpa disadarinya Bimo menonjok dinding putih rumah sakit
dengan sangat keras. Kakinya berjalan kesana kemari berulang-ulang. Sambil
terus mengusap kasar rambutnya hingga berantakan. Sesekali ia mengintip ke arah
jendela kecil di pintu bernomor 27 dengan perasaan kacau.
Tanpa pikir panjang Bimo segera
membuka knop pintu dan masuk kedalam. Ia berjalan cepat menuju ranjang Bintang
sebelum di cegah oleh Gilang.
Bimo menatap pilu orang yang sangat
ia cintai. Beberapa selang menempel di tubuh Bintang dan perban yang menutupi
luka di bagian kepala Bintang. Mata teduh yang sangat Bimo sukai sedang
tertutup rapat dan Bimo tidak tau sampai kapan ia bisa menatap mata itu lagi.
Melihat keadaan Bintang yang begitu
menyedihkan membuat Bimo ingin sekali berteriak memaki di depan orang yang
mencelakakan Bintang dan menonjoknya hingga tersungkur.
Derapan beberapa kaki terdengar
mendekat, “lo harusnya gak masuk” tegas Gilang dengan suara pelan yang tidak di
gubris oleh Bimo.
“Bintang..” suara Anne dan Tere yang
terdengar lesu melihat kondisi sahabatnya.
Rahang Bimo kembali mengeras. Ia tak
mau hanya diam saja setelah melihat apa yang terjadi pada Bintang. “dimana
ruangan Roy?” tanya Bimo.
Gilang hanya menatap Bimo dengan
dengan tatapan lo-gak-akan-ngelakuin-hal-gila-kan. “gue gak yakin buat
ngasih tau lo” jawab Gilang.
Setelah dipikir bertanya pada Gilang
tidak berguna da hanya mebuang waktu, Bimo berjalan keluar ruangan dengan
langkah cepat. Masih dengan emosi yang memuncak dan kepalan yang semakin
mengerat Bimo menanyakan kamar Roy kepada beberapa suster. Ia beruntung karna
sang suster tidak bersekongkol dengan Gilang sehinga ia dapat menemukan kamar
Roy dengan cepat.
Saat Bimo menemukan ruangan Roy, ia
hanya diam di depan pintu. Mempehatikan sekeliling. Jika suasana di ruangan
Bintang terlihat ramai dengan sahabat dan orang tuanya yang sempat ia lihat
saat keluar tadi, berbeda dengan ruangan Roy. Disini sangat sepi. Tak ada
seorangpun yang yang duduk menunggu dengan raut khawatir. Perasaan bersalah
kembali menyusup dalam diri Bimo.
Bimo mengintip dari jendela kecil.
Dan ia menangkap sosok lemah yang lain terbujur di atas ranjang dengan perban
yang lebih banyak. Tanpa sadar Bimo membuka pintu dan melangkah masuk kedalam.
Hatinya yang menyuruhnya berlaku spontan. Karna dalam hatinya ia masih sangat
peduli pada Roy, sahabat lamanya.
Bimo berdiri tak jauh dari ranjang
Roy. Menatap Roy pilu. Seakan amarahnya yang menggebu-gebu tadi hilang seperti
asap rokok.
“Harusnya lo mati” ucap Bimo pelan
namun tegas kepada Roy yang tidak sadarkan diri “lo hidup juga gak berguna. Lo
nyelakain orang yang gue sayang. Dan lo udah nyiya-nyiain gue, satu-satunya
orang yang peduli sama lo” suara Bimo tiba-tiba serak di akhir kalimatnya.
Membuatnya harus menelan ludah untuk membasahi tenggorokanya.
Bimo yang sudah sejak smp bersahabat
denga Roy mengetahui segalanya tentang Roy. Sifat luar dalam, kenakalan,
kehidupan Roy dan keluarganya, Bimo tau semua. Karna mereka sangat dekat, dulu.
“coba liat sekarang. Lo sekarat juga
gak ada yang peduli. Cuma gue yang ada disini” Bimo tertawa sinis sebelum
melanjutkan kata-katanya “andai aja lo lebih ngeliat keberadaan gue dan gak
nyia-nyiain gue dulu. Gue pasti jadi orang pertama yang khawatir saat lo kayak
gini” Bimo tersenyum miring. Namun segera berubah datar saat melihat jari-jari
Roy bergerak.
Melihat itu Bimo tak mau lagi
melanjutkan kata-katanya. Sebelum penyesalan masa lalu kembali menghantuinya
Bimo memilih berbalik dan berjalan keluar. Namun tanpa Bimo sadari, Roy
mendengar semua yang Bimo katakan. Semua.
***
Bimo berjalan cepat ke arah kamar
bernomor 27 dengan bunga lili favorit Bintang. Setelah berada di dalam, Bimo
segera mengganti bunga lili yang mulai layu degan yang berada di genggamanya.
Ia tersenyum memandangnya.
Tak lama matanya beralih fokus pada
gadis berwajah pucat yang masih belum mau memperlihatkan mata teduhnya setelah
4 hari berlalu. Lengkungan garis tipis terbentuk menghiasi wajah lelah Bimo
setelah seharian sekolah dan dilanjut berlatih renang. Rasa lelahnya terasa
terbayar saat melihat gadis yang dicintainya.
Bimo menarik kursi terdekat dan
mendudukinya. Tanganya meraih tangan Bintang yang tertempel selang infus. Bimo
menggenggamnya lembut sambil menatap setiap lekukan wajah Bintang. Dia tetap
terlihat cantik batin Bimo sambil tak henti-hentinya tersenyum.
“Bintang. . kamu masih marah yaa.
Udahan dong marahnya. Kamu marahnya sama aku tapi semua orang ikut khawatir”
sejenak Bimo berfikir, merasa malu mangatakan hal menjijikan seperti itu. Pasti
jika Bintang sadar Bimo sudah dipukuli tanpa ampun. Bintang memang aneh, tidak
pernah mempan dengan rayuan gombal.
Bimo memainkan jari-jari Bintang sambil
terus melanjutkan kalimatnya“Tang aku mau lurusin masalah yang kemaren. Sebelum
aku makin gila kepikiran ini trus setiap malam. Sebenernya aku sama Luna itu
gak ada apa apa. Luna cuma minta bantuan aku biar dia bisa deket sama Gilang.
Luna sukanya sama Gilang bukan sama aku” Bimo menghela nafas lega.
“Harusnya aku bilang sejak awal.
Maaf Bintang. Kamu bangun dong tang” berfikir bahwa usahanya juga akan percuma
Bimo kembali diam dan memerhatikan raut wajah Bintang yang pucat.
Bimo membanting tubuhnya pada
sandaran kursi “Kapan sih lo bangun tang? Gue kangen ngobrol sama lo” mata Bimo
melirik gitar disamping kursinya. Dia meraihnya dan mulai bermain. Lagu favorit
Bintang.
“Gue kasih lagu ini, biar lo gak
ngerasa kesepian”
Breath deep breath clear
Know that i’m here, know that i’m
here waiting
Stay strong stay gold
You don’t have to fear, you don’t
have to fear waitng
I’ll see you soon i’ll see you soon
How could i heart like yours, ever
love a heart like mine
How could i live before, how could i
have been so blind
You opened up
my eyes, you opened up my eyes
Suara Bimo
menghilang di bagain akhir Berubah serak yang tak dapat ditutupi. Hatinya perih
melihat kondisi Bintang.
“Bintang lo
pasti bakal bagunkan? Please.. lo harus bangun buat orang-orang yang sayang
sama lo. Karna gue sayang sama lo” Bimo tertnduk lesu. Membiarkan pikiranya
terbang. Namun, saat tiba-tiba tanganya terasa disentuh seseorang pikiranya
kembali pada tempat semula.
Bimo terkejut
dengan senyum mengembang. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Mata teduh yang
ia tunggu menatapnya lagi. Dengan binar yang sangat indah tercetak disana.
Garis tipis terbentuk dari bibir pucatnya. Dan senyum Bimo semakin mengembang
saat Bintang memanggil namanya.
“Bimoo..”
***
“Nih, aku
buatin spesial buat kamu” ucap Bintang setelah mengambil tempat di samping Bimo
yang sedang memainkan kakinya di dalam air.
“Sandwich lagi?”
celetuk Bimo dengan nada protes. Membuat Bintang mengerucutkan bibirnya. Dan
Bimo malah tertawa kecil melihat kelakuan Bintang.
“Emang baru
bisanya bikin sandwich. Nanti kalo aku udah bisa bikin rendang, kamu aku buatin
setiap hari deh” kata Bintang jutek.
“Kalo kamu yang
buatin, singkong rebus pake garam tiap hari juga aku makan kok” dan Bimo
menyesali ucapanya saat itu juga karna mendapatkan pukulan maut dari Bintang.
“Gak usah
gombal deh lo. Udah makan aja bekalnya gak usah bawel”
“Iya nyonyaa”
goda Bimo.
Tak ada lagi
percakapan setelah itu. Keduanya menikmati sore di pinggiran kolam renang
tempat Bimo berlatih. Bintang tersenyum memandang Bimo yang sangat lahap
memakan bekal darinya. Bintang tak habis fikir, meski mereka berdua sudah
berkali-kali putus nyambung gara-gara hal sepele, tapi akhirnya mereka tetap
akan bersama di akhir cerita. Sifat Bimo yang keras kepala dan keukeh dengan
keinginanya selalu dapat membuat Bintang kembali jatuh hati. Dengan segala yang
Bimo perjuangkan untuknya. Bintang hargai itu. Dengan membalas perasaan Bimo.
“Bimo”
“Hmm..”
“Terus buat gue jatuh cinta sama lo yaa”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar