14 Des 2016

Kriteria Nyaman(nya) Anak Kos

Liburan udah tinggal menghitung hari. Semester ganjil di kelas sebelas sudah terlewati. Alhamdulillah. Kalo dipikir-pikir masa putih abu-abuku tinggal tiga semester lagi. Cepet banget rasanya. Perasaan baru kemarin aku merasakan exited jadi anak baru Madrasah Aliyah. Waktu memang terasa cepat saat kita bersama orang-orang yang kita sayang.

Satu semester terakhir banyak banget yang aku lewati. Berasa kayak anak sekolah beneran (emang dulu nggak jadi anak sekolah beneran?). Merasakan banyak tugas ini itu. Mapel ini diminta membuat laporan, mapel lain minta observasi, sedangkan mapel satu lagi minta tugas persentasi. Belum lagi mapel yang keliatanya gak tugas-tugas tiba-tiba mengajak ulangan mendadak. Berasa banget keteganganya jadi anak sekolahan. Apalagi kebetulan semester ketiga ini aku mendapat predikat anak kosan. Iya, aku ngekos. Karna jarak rumahku dengan sekolah yang hampir 27 km. Mengharuskanku mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan sekolah kalo tidak mau dihukum menyapu halaman sekolah jika telat.

Beruntungnya aku mendapat kosan yang mencukupi fasilitasya untuk rata-rata seorang pelajar, seperti aku. Apalagi fasilitas nomor satu seorang pelajar saat mencari kosan kalo bukan. . tau kan. . Yup, WiFi. Bukan hanya itu sih. Kosan sebagai tempat kita melepas lelah setelah sekolah atau kerja seharian juga harus memenuhi kriteria nyaman kita. Setiap orang punya kriterianya masing-masing. Misal, "gue harus sekamar sendiri, karna gue kalo tidur banyak gaya" atau "sekamar berdua deh biar irit biaya, kan bisa patungan". "Gue mau yang ada acnya" atau "Gue mau kosan gue kamar mandi dalem biar gak perlu antri". Sebuah kenyamanan dalam berkos-kosan itu perlu.

Kadang aku mikir, "Nanti kalo mau kuliah gimana ya cari kosanya. Kalo gak cocok sama temen sekos, anaknya gak asik asik bikin gak betah gimana, atau salah pilih kos trus malah nambah pengeluaran orang tua kan juga sayang" (karna temen sekosanku sekarang rame-rame parah. Love you ARD kos)

Tapi, semua masalah itu gak perlu di khawatirin lagi. Tempo hari aku dapet info yang sangat berguna buat lagi cari kosan atau cari teman sekos. Dan pastinya bisa banget untuk di cocokin dengan kriteria nyamanya kita. Yaitu website Serumah.com.

Apa tuh Serumah.com?

Serumah.com adalah platform yang bisa menghubungkan kita sebagai pengguna untuk mencari teman sekamar atau berbagi kamar. Kamu yang merasa terbebani dengan harga kos tapi merasa kosan itu type kamu banget kamu bisa share kamarmu dengan orang lain. Bisa banget kan patungan. Tinggal iklanin aja di Serumah.com.
Bukan cuma kosan aja yang bisa kamu ikalanin. Bisa juga apartemen atau rumah sewa. Untuk harganya berapa, gak perlu khawatir. Tinggal disesuaikan aja dengan budget yang kita punya dan juga lokasi yang kita inginkan.


Kenapa harus Serumah.com?

Karna situs ini adalah jawaban yang mudah bagi pelajar, mahasiswa dan profesional muda yang merantau jauh dari kota asal mereka. Yang sedang mencari tempat tinggal atau mencari roomate, housemate berdasarkan preferensi masing-masing dengan sangat mudah. Tinggal buka situsnya di laptop atau pc. Daannn.. serumah.com ini sudah mobile-fiendly. Jadi kalian juga bisa banget akses lewat smartphone dimanapun dan kapanpun (asal punya paketan hihi).

Untuk mempermudah lagi mencari tempat tinggal yang sesuai selera, ada opsi tambahan yang disediakan. Seperti tanggal tersedia kamar, berbagi kamar atau tidak, membawa hewan peliharaan diperbolehkan, merokok tidak, ada kamar mandi dalam atau tidak, semua bisa ditambahkan sendiri di profile pengguna.


Setelah menemukan yang dirasa cocok, langsung aja kontak si penyewa, mudah kan.

Kalo mau mengiklankan tempat tinggal kamu, caranya juga gampang banget.


  • Pertama: Daftarkan kamar sewamu dengan memasukan informasi selengkap mungkin. Kalo bisa di tambahkan sedikit gambaran tentang kamar yang kamu tawarkan.
  • Kedua: Share ke social media kamu
  • Ketiga: Cek e-mail kamu dengan rajin. Semisal ada yang tertarik dengan kamar yang kamu iklankan.
  • Keempat: Dan kamu akan segera mendapat roomate yang kamu inginkan.
Gimana? tertarik dengan Serumah.com

11 Des 2016

Teman Mengobrol di Kala Senggang

Kemarin seseorang mengetuk pintu kosanku. Dia membawakan dua bungkus nasi dan dua kantung plastik es teh manis. Aku tersenyum melihat kehadiranya. Aku masuk dan kembali ke teras dengan membawa dua sendok dan piring.

Dengan ditemani lauk warteg depan gang dan sekantung es teh manis perbincangan sore itu terbungkus hangat. Kita membicarakan segala hal. Bertukar cerita. Mulai dari kegiatan kampus, mengeluh tugas yang semakin banyak sampai ceritamu tetang abang tukang bakso depan kos mu yang lucu.

Kamu bercerita sangat antusias, seakan semua yang kamu ceritakan adalah alasanmu terlihat bahagia sejak tadi datang. Aku pun sama. Aku bahagia. Karna kau sedang bercerita di hadapanku.

***

Malam menjemput sore. Langit biru gelap tampak lebih terang oleh kerlipan bintang. Aku sedang duduk manis di atas kursi plastik putih di teras kosan. Dari sore hingga pukul 7. Perutku belum terisi apapun sejak siang. Sengaja aku bergegas pulang setelah jam kuliah terakhirku selesai. Agar dapat bersantap nasi bungkus bersamamu sore ini.

Namun, tak seperti hari kemarin kali ini kamu tidak datang. Aku menyerah sudah hampir 4 jam aku menunggumu di teras. Karna tak ingin lenganku menjadi santapan lezat nyamuk ganas, aku masuk ke dalam dengan perasaan khawatir. Apa yang membuatmu tidak datang sore itu?

***

Dua hari berlalu, kamu tak ada kabar. Aku mencoba mencari alamat kos mu yang pernah kamu ceritakan waktu itu. Di gang veteran nomor 29. Seorang laki-laki seumuranku sedang mengelap motor hingga berwana mengkilap.

Baru aku ingin memanggil, namun sepertinya, dia sudah menyadari kehadiranku dan menoleh sambil tersenyum hangat. Aku segera bertanya untuk mengusir rasa penasaranku ''Mas kos disini juga? kenal yang namanya Rendy?" Laki-laki itu mengernyit dan memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi.

"Mbak e yang namanya Chia bukan?" dengan logat jawanya dia bertanya. Dan aku hanya mengangguk kikuk.

"Mas Rendynya lagi pulang kampung, udah ada tiga hari. Katanya adeknya kecelakaan gitu. Trus cepet cepet pulang" aku memotong kalimat laki-laki berambut klimis itu "Kok Rendy gak ngabarin saya ya mas"

"Nah itu, mungkin karna handphonenya rusak mbak. Kebetulan saya yang rusakin. Hehe.." dia jayus.
"Tapi tunggu sebentar Mas Rendy nitipi sesuatu buat mbak" Dia bergegas masuk ke dalam sambil berlari kecil. Sedangkan aku, mengikuti perintahnya. Menunggu. Sambil tak berhenti memikirkan kekhawatiranku. Kenapa dia tidak mengabariku. Pinjam handphone temanya kek atau apa kek.

Di saat aku memikirkan kekesalanku. Laki-laki berlogat jawa itu kembali dengan sepucuk surat. "Apa nih?" tayak bingung.

"Oh.. ya saya gak berani liat to mbak. Katanya Mas Rendy kalo ada cewek cantik namanya Chia dateng kesini nyariin dia, suruh ngasih itu." Aku mengucapkan terimakasih dan berpamitan.

Saat aku keluar dari gang aru aku lihat isi surat itu dan membacanya sampai habis. Kurang lebih seperti ini

Untuk: Chia
Maaf aku gak bisa hubungi kamu. Maaf kalo aku harus menghilang tiba-tiba kayak gini. Ada hal mendadak yang harus aku selesaikan. Aku akan cerita ke kamu semua. Tapi bukan lewat surat ini. Kita ketemu hari Sabtu jam 7 malam di atraksi air mancur. Kamu gak perlu khawatir, semuanya baik-baik aja.

-Rendy-

Kalimat terakhir surat itu sedikit melegakan aku. Sedikit. Masih lebih banyak cemasnya kalo boleh jujur. Hari sabtu pukul 7. Oke, itu hanya 4 hari lagi. Its oke. Tahan saja rindunya, nanti juga bertemu.

Aku kembali ke kos setelah mampir membeli nasi bungkus untuk malam ini. Seperti sebelum Rendy selalu datang sore-sore dengan nasi bungkus warteg, aku juga begini. Aku meletakan kembali sepatu ke rak dan begegas menju kamar. Tapi aku berhenti sebentar di ruang tv untuk menyapa teman-teman satu kosku yang sibuk bermain gadget dengan tivi menyala.

"Kasian tv nya suruh liat orang maen handphone" sindirku. Mereka giliran mencibir dan mulai lah berbalas cibiran satu sama lain. Sekitar ada 10 anak di kosan ini. Aku tak pernah merasa sepi, mereka selalu penuh candaan dan hal baru setiap harinya.

"Ngomong-ngomong lo dari mana deh, baru keliatan?" tanya seorang temanku Keke, anak jakarta tapi dia kos. Katanya biar ada temenya terus, aneh emang.

"Dari kampus, trus mampir beli makan" jawabku.

"Tumben beli sendiri. Si bang Reren gak kesini emang?" tanya Sonya, dengan panggilan sayangnya ke Rendy. Leih tepatnya panggilan sayang anak-anak kos sih. Saking seringnya Rendy ke sini, jadi di godain terus.

"Gak, katanya lagi pulang kampung. Tadi gue ke kosanya. Udah dua hari gak ada kabar, trus gue mampir ke kosanya tadi. Kata temen se-kosnya dia pulang kampung" curhatku.

"Statusnya udah jelas belum? kok minta kabar?" celetuk Keke. Entah dengan sadar atau gak. Tapi perkataanya membuatku sedikit berfikir. Ada benarny yang di katakan Keke. Memang aku siapanya Rendy? Kita kan cuma teman. Untuk apa juga Rendy melapor dimana dia sekarang atau sedang apa sekarang padaku jika aku bukan seseorang yang dianggap lebih dari sekedar teman. Aku juga jarang berkomunikasi dengan Rendy via telfon, entah itu chat atau sms. Aku lebih sering bertemu denganya secara langsung. Karna saat kita bertemu, kita sampai lupa waktu. Bercerita ini itu, tantang kampus, gosip baru, politik, segala hal. Sedangkan saat tidak saling bertemu, aku hanya bisa menyimpan rindu. Aku tidak berani meyapa lebih dulu. Tapi sekarang, baru dua hari aku tidak bertemu Rendy, aku sudah secemas ini, setakut ini. Sampai mencari tau ke kosanya. Apa yang salah dengan kepalamu Chia?

Aku beranjak dari sofa deng berjalan menuju kamarku. Aku tersentak dan baru menyadari kalau aku berjalan sambil melamun setelah Sonya berteriak "Gak usah di fikirin chi, omongnya Keke suka ngawur." Aku menoleh dan brkata "Iya, gue cuma mau istirahat."

Ku hempaskan tubuhku ke atas kasur setelah selesai mandi. Aku memandang langit-langit kamarku dan fikiran bodoh Rendy lagi ngapain ya.

"Ngapain sih lo mikirin Rendy Chiaa.. apa faedahnya"

Aku beranjak menuju meja belajarku dan membuka laptopku untuk mengecek tugas apa saja yang belum aku selesaikan. Sebenarna aku mencoba untuk mengalihkan fikiran. Supaya tidak memikirkan Rendy. Tapi ahhh.. kenapa masih kepikiran terus.

Aku menyerah. Seketika saat mataku menangkap miniatur pesawat di atas rak meja belajarku. Aku mengambilnya. Jadi teringat alasan lucu yang dia berikan saat memberiku miniatur ini. Kebetulan dia memberinya tepat setelah aku bercerita salah satu impianku untuk keliling duia, naik peawat. Karna aku belum pernah naik pesawat.

Tiba-tiba dia mengeluarkan miniatur pesawat berwarna silver dari dalam tasnya. Katanya untuku. Saat aku bertanya untuk apa, dia bilang unuk mengatarku keliling dunia. Benar-benar jawaban konyol. Dia menarik jari telunjuku dan di naikanya ke atas pesawat kecil itu. Jari telunjuknya diatas pesawat kecil itu dan sedikit mendorongnya sehingga roda kecil pesawat berputar dan miniatur pesawat itu berjalan pelan.

"Sekarang kamu udah naik pesawat" katanya sambil tersenyum. Aku hanya tertawa melihat dia memperlihatkan candaan recehnya. Tapi itu benar-benar membuatku senang. Sangat senang,

Tanpa sadar, aku tersenum sendiri mengingat kejadian itu.

Ren.. tidak bisakah kita perjelas hubungan kita ini? Supaya saat aku mengingat kenangan kita berdua aku tidak di hantui kalimat 'sebenarnya kita itu apa'.


***
To be Continue


Ps: lagi pengen bikin cerita bersambung lagi. Kira kira enaknya sad ending atau happy ending ya

2 Nov 2016

November

Hallo November. Menginjak bulan baru aku jadi tidak rela meninggalkan Oktoberku yang mengesankan. Dimana aku baru saja menginjak umur remaja remajanya para remaja. Tapi.. ah omong kosong. Menurutku ini bukan umurnya remajanya remaja. Tapi ini malah menjadi umur yang membuatku harus lebih belajar banyak hal. Lebih memikirkan kedepanya aku mau jadi apa. Memilih jadi wanita karir dengan gaji bulanan dan berpenampilan classy atau sekedar ibu rumah tangga yang pakai daster tiap pagi belanja sayuran buat makan satu hari. Semua sudah harus di tentukan dan di fikirkan lebih matang lagi saat ini.

Memang bukna dikatakan terlambat. Tapi memulai lebih jauh juga tidak salah.

Aku mulai sadar kalau minggu minggu ini memang banyak sekali yang aku lalui. Tentang hal baru. Dunia yang beru aku kenal. Aku benar-benar merasa menjadi anak sekolah yang sebenarnya. Di kejar deadline tugas, deadline proposal yang tak kunjung mendapat acc, belum lagi guru mapel lain mendadak mengajak ulangan dadakan. Tidak taukah mereka beban yang harus di tanggung sebagai predikat murid k13 sebanyak 20 mata pelajaran dengan materi yang sangat berbeda dan tugas yang berbeda pula. Tak kasihan kah mereka dengan kami?

Sudah pukul 22 lewat 2, aku ingin segera tidur dan bermimpi indah. Sayangnya setiap ingin memejamkan mata, serasa bayang-bayang tugas yang belum rampung gentayangan diatas langit-lagngit kamar kost ku.

Lebih baik aku selesaikan. Demi secoret tanda tanganmu bu, dan ilmu yang barokah. Insya'allah..

Sebelum itu, aku ingin menitip salam pada bintang malam, katakan padanya aku ingin melukis sinarmu di hatinya. Embun pagi katakan padanya biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya.

Sampai bertemu kamu dengan jas dan gelarmu, begitupun aku. Dengan segala yang aku perjuangkan sekarang dan berbuah manis nanti. Akan aku tunjukan padamu, aku bisa membeli apa yang aku mau dengan uangku sendiri. Dan akan aku hadiahkan untuk mu novel pertamaku. Semoga nanti kita tetap dapat bertukar cerita, walau sudah dengan status berbeda. Atau mungkin dengan satu ikatan yang lain. Amiinn

17 Okt 2016

Sabar Bersyukur Ikhlas

Hari ini hari Senin. Awal minggu yang selalu ingin di skip saja dari daftar nama hari dalam seminggu. Tepatnya pukul sembilan lewat empat puluh enam malam. Aku masih belum terlelap. Sebenarnya mataku sudah dari tadi merayu untuk dipejamkan. Namun, aku masih belum ingin tidur. Berbanding terbalik dengan saat di kelas mendengarkan guru menerangkan dengan suara begitu syahdu. Rasanya rindu pada kasur kosan tak dapat lagi di tahan

Suara gonggongan anjing kecil milik tetangga kos ku menemani malam ini. Mataku memandang keyboard, mengetik apa yang aku tulis, namun fikiranku melayang. Membayangkan apa saja yang mungkin terjadi di esok hari. Apakah akan sesulit seperti biasanya? Apakah akan terasa berat seperti hari ini dan kemarin? Atau mungkin akan berubah jadi lebih ringan dan menyenangkan? Sepertinya opsi terakhir tidak pantas untuk aku bayangkan. Aku sudah pernah merasakan betapa kecewanya aku di sore hari ketika hari ku tidak seperti apa yang aku banyangkan semalam.

Sebelum ini aku tidak pernah tau apa yang selalu membuat wajah anak SMA terlihat begitu letih. Saat aku masih di sekolah dasar, aku selalu memperhatikan raut muka kakak laki-lakiku yang selalu murung saat pulang sekolah. Dan raut wajah bosan di pagi hari saat sebelum berangkat sambil menghabiskan sarapan. Hampir tidak pernah ada senyum di wajahnya. Kecuali saat menonton kartun atau melihat kecerobohan kecilku.

Dan sekarang aku baru tau jawabanya saat tadi pagi aku bercermin.

Tak jauh beda dengan yang aku lihat di wajah kakakku delapan tahun lalu. Tak jauh beda.

Otak anak SMA lah yang tercermin di wajah mereka saat berangkat dan pulang sekolah. Itu menurutku. Soal masalah organisasi, tugas yang belum rampung, materi pelajaran yang tertinggal, tidak begitu memahami persamaan satu dan yang lain, belum lagi urusan hati yang membuat semuanya menjadi semakin ruwet.

Kenapa sih? Urusan hati harus bersamaan dengan usia kita yang menginjak remaja. Kenapa rasa suka pada lawan jenis bersamaan dengan kita yang juga harus berkenalan dengan persamaan parabola, integral, turunan atau gerak harmonik. Kenapa?

Kuncinya cuma sabar, bersyukur dan ikhlas.

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...