Ku ayunkan kakiku dan
kembali berputar. Melangkah diudara dengan sempurna. Meliuk liuk kesana kemari.
Manari dengan lengan membentuk lingkaran. Kembali melompat keudara lalu
mendarat dengan berjinjit. Mengapu udara dengan tanganku seperti sedang membuat
goresan di udara. Membentuk tarian lagi dengan gemulai, terduduk dengan lemah
lalu membungkuk sempurna seperti bayi dalam perut.
Kurasakn peluh mulai
membasahi. Aku berhenti sejenak menatap pantulan diriku di ruangan penuh cermin
ini. Tubuhku yang beranjak tinggi tak pernah kusadari. Pinggangku yang sudah
membentuk lekukan indah juga tak pernah kudari. Aku memang sudah berubah. Tak
lagi sama saat pertama kali aku masuk ruangan ini dengan tubuh seperti
buntalan. Aku terkekeh sendiri mengingatnya.
Langkah kakiku berhenti
di depan kursi panjang. Ku dudukan bokongku dengan mantap, meraih tasku yang
kugeletakan sembarangan di kursi ruang istirahat ini. Lagi-lagi kutemukan
secarik kertas dan minuman isotonik di sana.
"Tarianmu indah,
teruslah berlatih. Semangat! :)"
Kalimat itu masih sama
dengan kalimat yang kemarin dan kemarinya lagi dan kemarinya lagi hingga
seminggu yang lalu, saat pertama kali aku mendapatkan minuman isotonik dan
kertas tersebut.
Senyumku terukir setiap
kali membacannya. Entah kenapa aku merasa senang ada yang memperhatikanku.
Walaupun aku memang tak pernah tau itu siapa. Bukanya aku tidak berniat mencari
taunya, aku sangat ingin. Tapi dari mana. Inisialnya saja tidak tertera.
Hari berganti hari
hingga tiba saatnya aku menunjukan kerja kerasku dalam berlatih. Kupersembahkan
tarian terindahku, lekukan terindahku dan tarianku diudara untuk bunda yang
duduk di korsi roda disana. Wajah pucatnya terlihat berseri saat senyum
tulusnya menyapaku. Tak kusadari cairan bening diantara rasa haruku menetes
begitu saja.
Alunan khas ballet mulai
berbunyi. Sorot lampu panggung tinggal satu yang bercahaya, tapat di tempatku
berdiri. Diatas panggung ini ku kerahkan semua hasil latihan kerasku. Meliuk
liuk dengan gemulai di atas panggung. Hingga akhirnya tepuk tangan penonton
yang berdiri mendominasi ruangan ini. Aku terharu. Mereka semua sampai berdiri
untuk memberiku tepuk tangan. Kubungkukan sedikit tubuhku sebagai tanda terima
kasih. Dan tirai merah yang besar tertutup.
Aku berlari ke belakang
panggung untuk mengambil tas ranselku dan ingin bergegas pulang bersama bunda.
Namun lagi-lagi secarik kertas menempel diatas tasku. Kali ini kalimatnya
berbeda.
"Kamu gakpernah
jelek saat menari. Tarianmu selalu indah. Aku menyukaimu saat kau sedang
tersenyum dan menari dengan gemulai. Bisa kau ikuti kelopak mawar putih itu?
aku ingin berkenalan denganmu"
Aku mencari-cari kelopak
mawarr yang dimaksud, tapi aku tidak menemukanya. Aku putus asa, jangan-jangan
ini cuman orang iseng. Aku memang terlalu berharap dapat bertemu oarang itu.
Kusambar tasku dengan
malas lalu melangkah keluar ruang ganti. Tak kusangka, kelopak mawar putih
berserakan di lantai, tadi saat aku masuk belum ada kenapa sekarang ada?
Rasa ingin tauku kembali
muncul. Kuikuti arah kelopak mawar itu, hingga membawaku melewati tangga demi
tangga. Menuju kearah atap. Langkahku berhenti saat tak ada lagi kelopak mawar
yang tersisa. Aku celingukan sendiri. Tidak ada siapa-siapa.
Udara dingin di atas
atap ini tidak baik untuk kesehatanku. Iyalah, aku masih memakai baju ballet
yang minim. Baru aku berbalik hendak keluar tiba-tiba sudah ada jaket yang
menyelimutiku. Dan saat aku berbalik, sudah ada lelaki dengan gitar
digenggamanya tersenyum padaku.
Oh senyum itu, yang
selalu membuatku merona. Membuatku bersemangat untuk berangkat ke sekolah.
Membuatku merasakan detakan jantungku yang tak seperti biasanya. Senyuman yang
hanya bisa aku pandang dari jauh. Senyuman yang bisa membuatku merasa.. uh..
nyaman. Dan sekarang, dengan jelas bisa kulihat senyumnya di depanku.
"Jeyden?"
ucapku lirih.
Alih-alih menyapaku
balik dia malah mulai memetik gitarnya.
When your legs don’t
work like they used to before
And I can’t sweep you
off of your feet
Will your mouth still
remember the taste of my love
Wil your eyes still
smile from your cheeks
Darlin’ I will be lovin’
you till we’re seventy
Baby my heart could
still fall as hard At twenty three
I’m thinkin’ bout how
People fall in love in
mysterious ways
Maybe just the touch of
a hand
Me, I fall in love with
you every single day
I just wanna tell you I
am
So honey now
Take me into your lovin’
arms
Kiss me under the
light of a thousand stars
Place your head on my
beating heart
I’m thinking out loud
Maybe we found love
right where we are
Untuk kesekian kalinya
aku mengusap air mataku yang menetes setelah Jayden menyelesaikan nyanyianya.
"Jangan bilang lo
yang.."
"Gue yang ngirim
surat itu dan minumanya" ucapnya memotong kalimatku dan tentu saja
membuatku tak percaya.
"Dan.. itu tadi
nyanyian buat gue?" tanyaku ragu.
"Disisni siapa lagi
kalo bukan elo?" dia malah balik bertanya. Ish.. aku mengalihkan pandangan
darinya. Namun dia malah menarik daguku untuk menatapnya. Menatap tepat di mata
birunya. Ini sangat tidak baik untuk jantungku.
"Rose.. jadian yuk?"
whaaatttt thheeeeeee... Dia ngajak jadian? ini bukan mimpikan. Aku diam tak
bergeming.
Sampai ia melanjutkan
kalimatnya "Gue suka sama lo, bukan, gue sayang sama lo. Gue suka setiap
liat lo nari, gue suka senyum lo, gue suka rona merah di pipi lo waktu lo liat
gue, gue suka cara lo curi-curi pandang ke gue, gue suka semua yang di diri lo.
Gue gak tau harus mulai dari mana. Jujur gue sering liat lo latihan balet,
karna gue suka liat lo nari. Jadi? lo maukan jadi pacar gue"
Mata gue melotot
sempurna. Jayden menyatakan cintanya padaku. Dia sering liat aku berlatih, aku
tidak pernah melihatnya. Didalam hatiku berkata 'gue mau banget' tapi di
fikiranku bertanya "bukanya elo sama Celia?"
"Celia sahabat gue,
dia dan gue gak mungkin jadian. Lagian Celia udah punya pacar. Pacar Celia kan
sahabat gue. Gak mungkin kan gue jadian sama dia" katanya lalu
terkekeh. Oh, apa baru saja aku mengatakan apa yang sedang kufikirkan.
Bodohnya..
"Rose.."
panggilnya saat aku sibuk menatap langit.
"hem?"
"Lo belum jawab pertanyaan
gue"
"Gue mau,
gue.." juga sayang sama lo. Jayden terlihat menunggu terusan kalimatku.
Tapi entah kenapa lidahku terasa kaku.
Kututup mataku, dan
tarik nafas dalam-dalam "Gue juga sayang sama lo" kataku dengan cepat
dalam satu tarikan nafas. Dan saat aku membuka mata terlihat binar bahagia
terpancar di mata biru Jayden. Apa dia bahagia?
Ditariknya tubuh kecilku
ke dalam dekapanya. Aroma mint menyeruak kedalam indera penciumanku. Wangi
Jayden.
"Gue seneng Rose..
gue seneng banget." katanya masih terus memeluku dan mengusap lembut
rambutku dengan sayang. Aku tersenyum kecil mendengar ucapanya dan membalas
pelukan hangatnya itu.
---
Aku tersenyum kecut
mengingat kejadian itu. Disaat Jayden menyatakan cintanya di atap gedung.
Sekarang dia sudah tenang benar-benar tenang. Kutabur lagi kelopak mawar putih
yang sedaritadi ku genggam. Tak terasa satu tetes dari sudut mataku jatuh saat
aku menyentuh nisanya.
"Mama.. jangan
nangis lagi. Papa pasti udah tidur nyenyak di sini. Mama gak usah sedih kalo
mama gak punya temen buat tidur. Nanti Angel temenin kok" ucap gadis kecil
disampingku dengan senyum yang terukir dari bibir mungilnya.
"Iya sayang.."
hanya itu yang dapat aku katakan. Aku tak dapat membayangkan betapa beratnya
harus ditinggal seorang ayah disaat umurnya bari 7 tahun.
"Ma.. ayo anterin
Angel les balet, nanti keburu telat" celotehnya lagi sambil menarik-narik
ujung bajuku.
Aku beranjak setelah
mengecup nisan Jayden dan berkata "Gue sayang sama lo, baik-baik disana ya
sayang" lalu menggandeng putri kecil kami menuju mobil.
