27 Apr 2015

Ballerina


Ku ayunkan kakiku dan kembali berputar. Melangkah diudara dengan sempurna. Meliuk liuk kesana kemari. Manari dengan lengan membentuk lingkaran. Kembali melompat keudara lalu mendarat dengan berjinjit. Mengapu udara dengan tanganku seperti sedang membuat goresan di udara. Membentuk tarian lagi dengan gemulai, terduduk dengan lemah lalu membungkuk sempurna seperti bayi dalam perut.

Kurasakn peluh mulai membasahi. Aku berhenti sejenak menatap pantulan diriku di ruangan penuh cermin ini. Tubuhku yang beranjak tinggi tak pernah kusadari. Pinggangku yang sudah membentuk lekukan indah juga tak pernah kudari. Aku memang sudah berubah. Tak lagi sama saat pertama kali aku masuk ruangan ini dengan tubuh seperti buntalan. Aku terkekeh sendiri mengingatnya.

Langkah kakiku berhenti di depan kursi panjang. Ku dudukan bokongku dengan mantap, meraih tasku yang kugeletakan sembarangan di kursi ruang istirahat ini. Lagi-lagi kutemukan secarik kertas dan minuman isotonik di sana.

"Tarianmu indah, teruslah berlatih. Semangat! :)"

Kalimat itu masih sama dengan kalimat yang kemarin dan kemarinya lagi dan kemarinya lagi hingga seminggu yang lalu, saat pertama kali aku mendapatkan minuman isotonik dan kertas tersebut.

Senyumku terukir setiap kali membacannya. Entah kenapa aku merasa senang ada yang memperhatikanku. Walaupun aku memang tak pernah tau itu siapa. Bukanya aku tidak berniat mencari taunya, aku sangat ingin. Tapi dari mana. Inisialnya saja tidak tertera.

Hari berganti hari hingga tiba saatnya aku menunjukan kerja kerasku dalam berlatih. Kupersembahkan tarian terindahku, lekukan terindahku dan tarianku diudara untuk bunda yang duduk di korsi roda disana. Wajah pucatnya terlihat berseri saat senyum tulusnya menyapaku. Tak kusadari cairan bening diantara rasa haruku menetes begitu saja.

Alunan khas ballet mulai berbunyi. Sorot lampu panggung tinggal satu yang bercahaya, tapat di tempatku berdiri. Diatas panggung ini ku kerahkan semua hasil latihan kerasku. Meliuk liuk dengan gemulai di atas panggung. Hingga akhirnya tepuk tangan penonton yang berdiri mendominasi ruangan ini. Aku terharu. Mereka semua sampai berdiri untuk memberiku tepuk tangan. Kubungkukan sedikit tubuhku sebagai tanda terima kasih. Dan tirai merah yang besar tertutup.

Aku berlari ke belakang panggung untuk mengambil tas ranselku dan ingin bergegas pulang bersama bunda. Namun lagi-lagi secarik kertas menempel diatas tasku. Kali ini kalimatnya berbeda.

"Kamu gakpernah jelek saat menari. Tarianmu selalu indah. Aku menyukaimu saat kau sedang tersenyum dan menari dengan gemulai. Bisa kau ikuti kelopak mawar putih itu? aku ingin berkenalan denganmu"

Aku mencari-cari kelopak mawarr yang dimaksud, tapi aku tidak menemukanya. Aku putus asa, jangan-jangan ini cuman orang iseng. Aku memang terlalu berharap dapat bertemu oarang itu.

Kusambar tasku dengan malas lalu melangkah keluar ruang ganti. Tak kusangka, kelopak mawar putih berserakan di lantai, tadi saat aku masuk belum ada kenapa sekarang ada?

Rasa ingin tauku kembali muncul. Kuikuti arah kelopak mawar itu, hingga membawaku melewati tangga demi tangga. Menuju kearah atap. Langkahku berhenti saat tak ada lagi kelopak mawar yang tersisa. Aku celingukan sendiri. Tidak ada siapa-siapa.

Udara dingin di atas atap ini tidak baik untuk kesehatanku. Iyalah, aku masih memakai baju ballet yang minim. Baru aku berbalik hendak keluar tiba-tiba sudah ada jaket yang menyelimutiku. Dan saat aku berbalik, sudah ada lelaki dengan gitar digenggamanya tersenyum padaku.

Oh senyum itu, yang selalu membuatku merona. Membuatku bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Membuatku merasakan detakan jantungku yang tak seperti biasanya. Senyuman yang hanya bisa aku pandang dari jauh. Senyuman yang bisa membuatku merasa.. uh.. nyaman. Dan sekarang, dengan jelas bisa kulihat senyumnya di depanku.

"Jeyden?" ucapku lirih.

Alih-alih menyapaku balik dia malah mulai memetik gitarnya.

When your legs don’t work like they used to before
And I can’t sweep you off of your  feet
Will your mouth still remember the taste of my love
Wil your eyes still smile from your cheeks

Darlin’ I will be lovin’ you till we’re seventy          
Baby my heart could still fall as hard At twenty three

I’m thinkin’ bout how
People fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand

Me, I fall in love with you every single day
I just wanna tell you I am

So honey now
Take me into your lovin’ arms
Kiss me under  the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I’m thinking out loud
Maybe we found love right where we are

Untuk kesekian kalinya aku mengusap air mataku yang menetes setelah Jayden menyelesaikan nyanyianya.

"Jangan bilang lo yang.."

"Gue yang ngirim surat itu dan minumanya" ucapnya memotong kalimatku dan tentu saja membuatku tak percaya.

"Dan.. itu tadi nyanyian buat gue?" tanyaku ragu.

"Disisni siapa lagi kalo bukan elo?" dia malah balik bertanya. Ish.. aku mengalihkan pandangan darinya. Namun dia malah menarik daguku untuk menatapnya. Menatap tepat di mata birunya. Ini sangat tidak baik untuk jantungku.

"Rose.. jadian yuk?" whaaatttt thheeeeeee... Dia ngajak jadian? ini bukan mimpikan. Aku diam tak bergeming.

Sampai ia melanjutkan kalimatnya "Gue suka sama lo, bukan, gue sayang sama lo. Gue suka setiap liat lo nari, gue suka senyum lo, gue suka rona merah di pipi lo waktu lo liat gue, gue suka cara lo curi-curi pandang ke gue, gue suka semua yang di diri lo. Gue gak tau harus mulai dari mana. Jujur gue sering liat lo latihan balet, karna gue suka liat lo nari. Jadi? lo maukan jadi pacar gue"

Mata gue melotot sempurna. Jayden menyatakan cintanya padaku. Dia sering liat aku berlatih, aku tidak pernah melihatnya. Didalam hatiku berkata 'gue mau banget' tapi di fikiranku bertanya "bukanya elo sama Celia?"

"Celia sahabat gue, dia dan gue gak mungkin jadian. Lagian Celia udah punya pacar. Pacar Celia kan sahabat gue. Gak mungkin kan gue  jadian sama dia" katanya lalu terkekeh. Oh, apa baru saja aku mengatakan apa yang sedang kufikirkan. Bodohnya..

"Rose.." panggilnya saat aku sibuk menatap langit.

"hem?"

"Lo belum jawab pertanyaan gue"

"Gue mau, gue.." juga sayang sama lo. Jayden terlihat menunggu terusan kalimatku. Tapi entah kenapa lidahku terasa kaku.

Kututup mataku, dan tarik nafas dalam-dalam "Gue juga sayang sama lo" kataku dengan cepat dalam satu tarikan nafas. Dan saat aku membuka mata terlihat binar bahagia terpancar di mata biru Jayden. Apa dia bahagia?

Ditariknya tubuh kecilku ke dalam dekapanya. Aroma mint menyeruak kedalam indera penciumanku. Wangi Jayden.

"Gue seneng Rose.. gue seneng banget." katanya masih terus memeluku dan mengusap lembut rambutku dengan sayang. Aku tersenyum kecil mendengar ucapanya dan membalas pelukan hangatnya itu.

---

Aku tersenyum kecut mengingat kejadian itu. Disaat Jayden menyatakan cintanya di atap gedung. Sekarang dia sudah tenang benar-benar tenang. Kutabur lagi kelopak mawar putih yang sedaritadi ku genggam. Tak terasa satu tetes dari sudut mataku jatuh saat aku menyentuh nisanya.

"Mama.. jangan nangis lagi. Papa pasti udah tidur nyenyak di sini. Mama gak usah sedih kalo mama gak punya temen buat tidur. Nanti Angel temenin kok" ucap gadis kecil disampingku dengan senyum yang terukir dari bibir mungilnya.

"Iya sayang.." hanya itu yang dapat aku katakan. Aku tak dapat membayangkan betapa beratnya harus ditinggal seorang ayah disaat umurnya bari 7 tahun.

"Ma.. ayo anterin Angel les balet, nanti keburu telat" celotehnya lagi sambil menarik-narik ujung bajuku.

Aku beranjak setelah mengecup nisan Jayden dan berkata "Gue sayang sama lo, baik-baik disana ya sayang" lalu menggandeng putri kecil kami menuju mobil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...