Semua omong kosongmu. Semua janjimu. Semua impianmu untuk bersamaku, yang aku sadari hanyalah omong kosong. Yang baru aku sadari ternyata kamu mengucapkanya dengan begitu ringan. Kamu mengucapkanya bagai angin lalu. Yang setelah diucapkan tak lagi berharga untukmu. Tidak kamu tau? aku selalu menghargainya. Aku selalu menyukainya. Setiap kata yang kamu ucapkan. Aku selalu suka. Tapi aku tak tau. Apakah saat aku mengucapkan segala yang kurasakan, kamu juga menganggapnya berharga?
Tapi setelah melihatmu sekarang. Aku tak yakin, kamu benar-benar menghargainya, sama sepertiku. Setelah aku melihatmu sekarang, aku tak yakin kalimat yang kau ucapkan dari mulutmu yang terdengar manis itu benar-benar dari hatimu.
Aku ingin teriak di depan wajahmu sekarang juga. Aku ingin meneriakimu. Tapi aku bukan gadis tolol yang mau mempermalukan seseorang yang aku cintai di depan umum. Cintai? Iya, aku masih mencintaimu. Walaupun aku tau, kamu tak merasakan hal yang sama. Bahkan saat bersamakupun, mungkin kau juga tak merasakanya.
Aku berjalan cepat karah meja bundar di sudut cafe. Sudah cukup aku memperhatikan mereka dari jauh. Diamku bukan berarti aku tak peduli atau tak punya nyali, aku hanya mengumpulkan cukup energi untuk memarahimu nanti, hanya itu. Jangan berfikir aku sepengecut itu.
Lagi pula kalau difikir-fikir lebih pengecut mana? aku yang tidak berani menghampirimu, atau kamu yang diam-diam bersama wanita lain tanpa sepengatahuanku. Kalau kamu tak terima aku panggil pengecut harusnya kamu berani berselingkuh di depanku.
Aku menahan emosiku untuk tidak meledak sekarang. Tapi rasanya percuma. Kamu dan wanita itu tidak melihatiku yang sedang berapi-api. Aku pikir kamu akan menyeretku lalu memberi penjelasan. Tapi kamu malah terlihat acuh tak sadar kalau gadis yang sudah mencintaimu begitu tulus sedang berdiri disampingmu.
Tanpa ba bi bu, tanganku terasa ringan. Bergerak begitu saja, meraih segelas lemon tea yang kamu pesan sejam yang lalu, dan menumpahkanya dengan sengaja ke bajumu.
"Hey! dasar tidak tau malu. Beraninya kamu membasahi baju pacarku" teriak gadis dengan make up berlebihan itu.
"Hello! mirror please. Yang tidak tau malu siapa. Harusnya kamu yang malu. Mau maunya punya pacar tukang tipu kayak dia" teriaku berapi-api di depan muka gadis menor ini sambil menunjuk lelaki yang masih duduk menganga di kursinya.
"Makanya, kalo make up jangan tebel-tebel. Jadi susahkan liatnya, mana yang tulus dan mana yang muna. Udah kayak korban erupsi gitu bangga" caciku karna sudah sangat geram dengan gadis ini.
Aku berbalik menghadap lelaki yang masih saja dengan muka tololnya "nih, gue balikin cincin lo. Gue udah gak butuh cincin berlian murahan kayak gitu. Gue bisa beli sendiri yang asli se-truck nanti. MAKASIH" kataku menekan kata terimakasih di depan wajahnya.
Dia terlihat akan membuka mulutnya namun dengan cepat aku memotong "udah cukup jelas Vano. Lo gak perlu lagi ngomong apa-apa. Kita putus" dan meninggalkanya dengan berjalan cepat keluar cafe ini.
"Heh! balik lo cewek stress. Beraninya lo ngatain gue" samar-samar aku mendengar suara gadis menjijikan itu. Aku tidak menoleh sedikitpun. Masih terus berjalan cepat menuju mobilku yang terpakir diluar cafe. Jangan sampai bendungan di mataku jebol di depan umum.
***
Aku menyetir gila-gilaan di jalanan yang lengang. Sudah seperti kerasukan setan aku juga tidak peduli. Yang aku rasakan sekarang lebih penting untuk dipelampiaskan dari pada memikirkan bagaimana aku harusnya menyetir dengan benar.
Kuparkirkan mobilku dengan selamat didepan garasi rumahku. Lalu segera turun menuju halaman belakang rumah. Membuka pagar kecil yang ada di sana. Yang memisahkan antara rumahku dengan rumah seorang lelaki yang sedang duduk di atas ayunanya.
Aku berlari dengan mata berair. Tangisku pecah, berhambur ke pelukan lelaki itu.
"Dion..hiks" panggilku di tengah isakan. Tak kupedulikan lagi kaosnya yang basah karna ulahku.
"Lo putus lagi ya?" tanyanya dengan sabar mengelus punggungku lembut, mencoba menenangkan. Aku hanya mengangguk pertanda iya.
"Udah gue bilangin kan, Vano itu cowok berengsek. Gak baik buat lo. Dia gak bener-bener sayang sama lo. Lo aja yang terlalu buta gak bisa liat" cerocos Dion, sahabat kecilku yang sekarang sudah tumbuh besar -sebesar aku- yang kerjanya menasihatiku ini itu. Dia sangat peduli denganku.
"Itu karna gue sayang sama dia. Salahin dia dong yang bikin gue jatuh cinta sama dia--"
"Siapa suruh cintanya sama cowok berengsek"
"Diem! gue masih ngomong tau. Dia udah bikin gue jatuh cinta sama dia yon, dia bikin gue buta sama cintanya yang busuk itu, dia udah bikin gue selalu tersentuh dengan kata-kata manisnya itu yon dan dia juga yang udah nyakitin gue dengan selingkuhin gue. Gue gak trima di giniin yon. Lo harus lakuin sesuatu" rengeku pada sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri ini.
Dia hanya diam tak bersuara. Aku melerai pelukan kami. Dia menatapku dengan alis menyatu dan dahi berkerut.
"Kok lo diem aja sih?" tanyaku akhirnya.
"Tadi lo bilang suruh diem. Lagian percuma juga gue ngomong, lo mana mau denger terus turutin" katanya dengan tangan di depan dada dan tatapan mengintimidasi. Seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya.
"Dion.." lirihku takut-takut memanggil namanya.
"Udah saatnya lo gak usah pikirin pacaran dulu. Lo udah beberapa kali pacaran dan selalu berakhir mengenaskan kayak gini. Lagian kitakan udah kelas tiga, mau UN. pikirin UN aja dulu" ucapnya lagi yang sudah sangat pantas menjadi bapak-bapak muda. "Lagian kalo jodoh juga gak kemana" lanjutnya dengan senyuman miring dan tatapan aneh.
"Mata lo biasa aja dong. Oke, gue bisa lupain Vano. Cepat atau lambat gue yakin dia pasti bakalan nyesel udah selingkuhin gue"
Dion terlihat malas dengan kalimatku barusan. Dia selalu mendadak seperti ingin buang air setiap aku menceritakan seseorang yang sedang dekatku atau aku bahagia karna orang lain. Tapi mungkin Dion memang sudah malas atau capek. Ini kan juga sudah malam.
"Masuk gih. Angin malam gak baik buat kamu" kalimat yang sama yang dia ucapkan untuk membuatku segera tidur. Dan aku selalu tersenyum setiap dia mengingatkanku. Aku selalu merasa aku tidak akan pernah sendiri walau aku di putus atau di khianati berkali-kali oleh mantan-mantanku, karna aku punya Dion. Yang slalu ada untuku dan slalu memihaku.
"iya, gue masuk ya" pamitku padanya dan tersenyum semanis mungkin untuknya. Siapa tau bisa membuat mimpinya lebih indah nanti.
"Slamat malam Karina" gumamnya jelas yang masih bisa kudengar walau aku sudah berjalan menjauh.
"Slamat malam Dion"
***
"Apa? lo putus lagi" hebonya Gina saat aku memberi tau kejadian mengenaskan kemarin. Yang masih sangat membuatku kesal setengah mati dengan makhluk tukang tipu bernama Vano itu. Benar-benar menyebalkan. Memangnya apa kurangnya aku di banding gadis menor yang bersamanya di cafe. Dia mah jauh di bawah aku lagi.
"Yap!" jawapku semangat menganggukan kepala lalu melanjutkan aktivitas minum orange jusku.
"Ya ampun Karina, gue gak habis fikir. Selama 3 bulan lo udah di putus cowok 5 kali. Lo nyadar gak sih. Lo yang selalu di boongin sama cowok-cowok berengsek mantan lo itu" kata Gina tak santai.
"Gue sadar, sangat teramat sadar" kataku dengan enteng.
"Dan lo mau cari cowok lagi?" tanya Gina dengan tatapan menyelidik
"Gak. Kata Dion gue harus fokus UN"
"Tumben lo nurut kata Dion"
"Gue emang anak penurut ya, enak aja lo" protesku tak terima.
"Lagian ternyata lo emang kelewat bloonya ya, pantes aja mudah di kibulin"
"Maksud lo?"
"Masa lo gak sadar-sadar. Lo itu sekarang sebenernya lagi ada dalam lingkaran setan tau"
"Maksud lo lingkaran setan? Gue setanya dong"
"Tuh kan bloon"
"Jelasin yang bener Ginaaaa"
"Lo gak bisa rasain apa kalo Dion itu--" tiba-tiba kalimat Gina mengambang di udara karna terpotong dengan suara bass Dion yang menyapaku dan langsung menempati dudukan kosong di sampingku.
"Rin, ikut gue latihan basket yuk" katanya padaku namun matanya melihat ke arah Gina. Gina yang dilihati seperti itu malah kelihatan salting gitu. Jangan-jangan Dion suka sama Gina lagi atau sebaliknya?!
"Lo ngomong sama gue apa sama Gina?" tanyaku yang langsung membuat Dion menoleh ke arahku.
"Ya lo lah, mau ya. Ntar gue traktir es krim"
"Boleh tuh kalo ada imbalanya" kataku bersemangat. Aku melirik Gina yang bergumam tak jelas. Aku menyenggol lenganya yang membuatnya terlihat kaget.
"Ngapain lo komat-kamit gitu. Tadi lo bilang Dion kenapa? lanjutin dong, gantung" rengeku pada Gina. Gina malah melihati Dion seperti minta tolong. Aku melihat Dion yang seperti sedang memberi peringatan. Ini kenapa jada ngomong bahasa kalbu gini sih?
Aku yang tidak mengerti hanya bisa diam memperhatikan keanehan mereka sambil menikmati orange jusku sampai habis.
***
Ujian Nasional yang membuatku begadang semalaman akhirnya terlewati sudah. Aku sangat senang karna bisa melewatinya dengan lancar. Ini juga berkat kerja sama Dion yang bersedia menjadi guru privateku dengan suka rela a.k.a gratis, sehingga aku bisa menghafal rumus-rumus yang menurutku mengerikan sebelumnya. Aku memang tidak jago dalam masalah pelajaran seperti ini. Dion rajanya. Kalo aku jagonya split, meleokan tubuh, berjingkrak-jingkrak kesana kemari sambil memegang pom-pom, itu lah bidangku. Aku anggota cheers, dan beruntungnya aku juga captainya.
Aku melirik Dion yang sedang membaca novel favoritnya di depanku. Hot chocolate yang dia pesan sudah berpindah ke perutnya dan menyisakan cengkir tanpa bekas sedikitpun. Sedangkan aku memperhatikanya dengan bertopang dagu.
"Dion, lo ke promnight gandeng siapa?" tanyaku setelah menyesap sedikit milkshake coklatku.
"Emm.." dia tampak berpikir meletakan novelnya diatas meja, pasti dia belum dapat pasangan "gue gak ikut" lanjutnya yang sangat mengecewakan.
"Yah.. kok gitu sih" ucapku kecewa.
"Lo sendiri sama siapa?" tanyanya balik dengan alis terangkat.
"Gue sih di banyak yang ngajak gue. Tapi gue tertariknya satu, sama captain basket"
"Maksud lo, Varo?" katanya tampak terkejut gak santai.
"I.. iya" jawabku yang tiba-tiba jadi gugup karna tatapan tajamnya sekarang.
"Gak boleh. Cari yang lain" katanya dengan angkuh kembali membuka novelnya dan membacanya.
"Yah.. kok gitu sih, gue kan maunya sama Varo" karna dia yang paling mempesona diantara yang lain.
"Lo bilang banyak yang ngajak lo. Pilih salah satu asal bukan mantan lo baru boleh" dasar ini manusia satu. Nyeselin emang. Mentang-mentang orang tua gue nitipin gue sama dia, dia jadi belagu ngatur-ngatur gue. Tapi gue memang harus menuruti kata-katanya, kalo gak dia bisa aja laporin ke orang tua gue di Paris. Dasar comel emang.
"Lo pergi sama yang lain atau lo gak usah pergi ke promnight" katanya dengan tegas, tiba-tiba senyum jahil muncul di wajahnya. "nemenin gue" katanya.
Aku menoyor kepalanya yang ada muka gak banget disana. Kalo aku nemenin dia, yang ada aku disuruh-suruh ini itu "itu sih maunya elo"
***
Aku menurunkan satu kaki jenajngku dari taksi. Memperlihatkan sepatu heels bermerk ku keluaran bulan ini, yang sengaja di belikan mama dari Paris untuk pesta perpisahan anak kelas tiga ini. Aku memilih untuk pergi sendiri ke prom. Walaupun tidak dengan Varo karna Dion melarang aku akan tetap pergi. Karna ini pesta terakhir sebelum kita berjalan meraih cita-cita kita masing-masing nanti. Jadi tidak mungkin aku melewatkanya.
Gina terlihat melambai di tengah kerumunan anak-anak lain. Aku yang baru datang dari pintu masuk mencoba mendesak masuk diantara kerumunan anak yang sedang berdansa. Ternyata sudah sangat ramai saat aku datang. Memang undanganya jam 7 malam, aku datang jam 8 karna masih sedikit berdebat dengan Dion. Dioa tidak merelakanku pergi ke prom sendirian. Kenapa dia tidak ikut saja menemaniku. Itu kan lebih baik dari pada berdebat panjang memaksaku agar tidak datang, karna itu percuma karna aku akan tetap datang ke prom.
Gina datang dengan gelas anggur ditanganya. Gina minum?
"Karina, lo lama banget sih datengnya" katanya.
"Gina lo minum?" tanyaku terkejut
"Cuman dua gelas kecil. Gak masalah" jawabnya enteng.
Tiba-tiba lampu yang tadinya terang meredup. Dan hanya meninggalkan beberapa lampu sorot yang menyala. Alunan instrument romantis terdengar jelas. Alunan lagu untuk berdansa.
Teman-temanku yang membawa pasangan mereka terlihat mulai memasuki lantai dansa. Begitupun teman-temanku anggota cheers yang menyapaku sekilas saat melewatiku dengan pasangan mereka. Semua dengan tenang berdansa di lantai dansa dengan alunan yang sangat romantis. Ini sangat membuatku iri.
Aku tidak membawa pasangan. Ini menyebalkan. Harusnya aku menerima tawaran Varo untuk mengajaku sebagai pasanagnya. Dan mengabaikan ucapan Dion. Harusnya. Sayang terlambat, Varo ternyata sudah mempunyai pasanganya. Dia terlihat senagt lihai dalam berdanssa bersama Vivian pasanganya.
Yang aku lakukan sekarang hanya bisa termenung di sudut ruangan sambil menonton mereka yang terlihat sangat romantis. Lihatlah mantan-mantanku terlihat sangat romantis denagn pasangan-pasangan mereka.
Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh suara yang sangat aku kenal. Aku menoleh ke asal suara, melihat Dion yang berdiri disana dengan sebuket mawar putih. Jas hitam yang dikenakanya sangat pas denagn tubuhnya yang kekar itu. Dia terlihat sangat keren. Kenapa bisa gitu si Dion. Dan kenapa dia disini? bukanya dia bilang tidak mau datang.
"Karina, for you" katanya yang terdengar sangat lembut sambil tersenyum hangat. Aku menerima bunganya dengan mata berbinar. Ini bunga pertamaku dari seorang cowok.
Selama 17 tahun aku hidup baru kali ini aku dapat bunga. Dengan mantan-mantanku yang lain aku tidak pernah mendapatkan. Padahal aku sanagt menginginkanya. Mereka sang mantan-mantanku hanya sekejap berada di hatiku. Mereka selalu bisa membuatku jatuh hati tapi sayang, memang benar kata Gina. Aku yang terlalu bodoh bisa jatuh hati dengan mereka yang hanya memanfaatkanku agar populer. Dengan predikatku sebagai captain cheers tentu banyak yang ingin menjadi pacarku. Dan sepertinya hubungan asamaraku memang sangat menarik untuk di usik.Yang dalam hitungan jam saja bisa langsung booming satu sekolah. Jadi mereka memanfaatkanku saja. Aku juga baru akhir-akhir ini menyadarinya. Memang dasar aku ini gadis bodoh.
"Thank you Dion" kataku dengan mata berair. Entah kenapa, aku jadi terharu mendapat bunga pertamaku.
"Kenapa kamu menangis? kamu tidak senang dengan kejutanku" ucap Dion dengan mata yang terlihat sedih. Tanganya menghapus jejak air mataku. Aku menggeleng cepat dan tersenyum tulus.
"Tidak, aku hanya terharu" ucapku jujur, memang itu yang kurasakan.
Dion menggapai tanganku dan memegang keduanya erat. Matanya terlihat begitu teduh dan penuh cinta sekarang. Membuat sesuatu di balik dadatu tiba-tiba berdegup kencang. Ada apa ini? aku tidak pernah begini sebelumnya.
"Aku menyukaimu Karina, tidak, aku mencintaimu" katanya lembut. Aku terkejut mendengarnya. Dion menyukaiku, sejak kapan. Sejak kecil kita bersama, baru kali ini dia mengatakanya padaku. Aku menatap Dion tepat di manik matanya, dan aku menyerah. Aku memang tidak bisa melihat atau mencari kejujuran disaat menatap mata orang. Tapi hatiku merasakan, kalau Dion berkata jujur. Dion menyukaiku, tidak, Dion mencintaiku.
"Kenapa kamu baru mengatakanya" protesku padanya.
"Aku menunggu waktu yang tepat. Saat kamu benar-benar sudah tak ingin mencintai yang lain. Disaat itulah aku datang. Dan aku rasa, ini sudah saatnya. Sudah cukup aku bertahan di lingkaran setan ini, Friendzone yang sanagt aku benci. Sudah saatnya aku harus benar-benar menjadikanmu miliku Karin" Aku hanya diam mendengarkan ungkapan hatinya. Aku tidak pernah tau Dion menyukaiku. Kenapa aku tidak bisa melihat gelagatnya. Aku tidak pantas untukmu Dion, aku terlalu bodoh.
"aku sudah menyukaimu sejak kecil. Saat kamu bilang kamu ingin menikah denganku. Aku masih ingat betul, Karina kecil mengucapkanya dengan lucu. Aku menganggapnya serius. Aku ingin mewujudkan mimpimu. Menikah denganku" Oh astaga, itu kalimat yang diucapkan Karina kecil. Mana benar-benar dari hatinya. Tapi Dion ingin mewujudkanya. Astaga, aku tidak pernah berfikir begitu.
"I..itu cuman ucapan anak kecil. kamu percaya?" tanayaku pada Dion yang masih menatapku lembut. Membuat lidahku tiba-tiba kelu sejenak.
"Aku percaya. Karna aku melihat sebuah keinginan yang besar dimatamu saat itu. Aku ingin membahagiakan kamu Karin. Sungguh, jadi.. maukan kamu bersamaku, tetap disisiku, menemaniku--" Dion tak lagi melanjtkan kalimatnya. Karna sekarang aku sudah membekapnya dengan pelukanku. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya saat di tembak cowok. Biasanya aku langsung menerimanya dengan cuek. Tapi yang kali ini, aku benar-benar bahagia. Aku bahagia karna Dion yang menembaku.
"Aku mauuu" jawabku kegirangan tepat di telinga kirinya.
-Saat kamu sibuk mencari siapa yang sempurna untukmu, kadang membuatmu lupa untuk melihat kabelakang, siapa yang selalu ada untukmu-
Apik pu.. :)
BalasHapushihi.. thankyou {}. Play puisi khalil gibran zii, di jamin nyess
Hapus