10 Mei 2015

I'm with Rafa

Rafa semakin mengencangkan kepalan di tanganya. Wajahnya sudah memerah menahan emosi. Begitupun dengan rahangnya yang mengeras. Matanya terasa sangat perih menyaksikan apa yang sedang dilihatnya sekarang. Dari sudut cafe ini, tempatnya bersembunyi dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di lakukan kekasihnya dengan kekasihnya yang lain. Gadis yang telah membuatnya jatuh hati dan sekarang menjadi pacarnya itu sedang asik bergurau dan terlihat bahagia dengan seorang lelaki seumuran Rafa, tanpa menyadari sedikitpun kalau sedari tadi ada sepasang mata yang menatap mereka penuh amarah. Lelaki yang sedang duduk dengan gadis Rafa itu sesekali memberikan perlakuan manis nan romantis yang semakin membuat Rafa geram melihatnya. Sedangkan Rasti yang sedari tadi juga sibuk menenangkan Rafa dengan mengelus punggunya lembut dan sesekali melirik ikut melihat ke arah pandangan Rafa. Rasti tidak pernah tega melihat Rafa yang terus-terusan memendam amarahnya seperti ini. Ingin rasanya Rasti meneriaki Rafa sekarang juga kalau itu benar-benar tidak ada gunanya.

"udahlah raf, jangan diliatin terus. Yang ada malah makan ati" ucap Rasti masih terus mengelus punggung Rafa dengan telaten. Bukan Rasti tidak mau membela Rafa, tapi Rasti lebih memilih untuk menjadi tempat pelampiasan keluh kesah Rafa dan penenangnya saja dan tidak mau ikut campur lebih jauh.

"Harusnya dia hargain gue juga dong Ras. Katanya dia udah mau mutusin cowoknya itu dan bakal serius sama gue. Tapi nyatanya sampe sekarang belum juga di putus. Gue labrak juga lama-lama ah" geram Rafa dengan nada berapi-api.

"Inget posisi lo dimana. Lo cuman lelaki cadanganya doang, jangan terlalu berharap banyak. Sabar aja, dia kan udah janji sama lo. Janji adalah hutang, dan hutang harus di bayar"

"Apa dia bener-bener akan bayar hutang dia?" Rafa mengucapkanya dengan nada putus asa. Hati Rasti miris mendengarnya.

"Pasti" tutur Rasti dengan semangat dan senyum mengembang. Membuat Rafa mendapatkan kepercayaan dirinya lagi.

Rasti tau betul bagaimana Rafa sangat mencintai Cleo, yang sedang duduk dengan pacarnya itu, cinta pertama Rafa. Gadis manja, dengan paras yang nyaris sempurna dan sangat populer di sekolah karna dia putri tunggal pemilik sekolah. Sayang, tingkah polahnya tidak mencerminkan kalau dia anak orang berada.

Rafa selalu menceritakan semua tentang kebersamaanya dan Cleo kepada Rasti, yang tebilang langka karna Rafa adalah pacar simpananya Cleo. Tapi persetan dengan itu, Rafa tidak peduli yang dia pedulikan asal bisa bersama Cleo, itu sudah membuatnya bahagia. Rafa mencoba menikmati setiap rasa yang diberikan kepadanya saat berdekatan dengan Cleo. Setiap degupan detak jantungnya yang semakin lama semakin terasa adalah hal yang paling ia sukai. Hingga ia tidak peduli lagi dengan statusnya yang tidak kunjung jelas dan nyata.

Andai Rafa tau, disaat Rafa memamerkan kedekatanya dengan Cleo ada hati yang perlahan tergores karenanya.

***

"Cleo, mana janji kamu" tagih Rafa saat ia dan Cleo sedang bersantai di kedai kopi.

"Ya, kamu sabar dong Raf. Aku masih cari cara buat mutusin Yuan" ucap Cleo dengan nada sedikit tinggi, emosinya terpancing dengan perkataan Rafa.

"Lalu mau sampai kapan Cleo. Aku lebih mencintaimu dari pada Yuan. Kenapa aku yang kamu sembunyikan" Rafa mengungkapkan dengan nada menyedihkan.

"Kamu nembaknya keduluan Yuan. Udahlah, nikmatin aja" kata Cleo santai, tidak menganggap serius ungkapan hati Rafa. Apa yang sedang Rafa rasakan, seakan dia tidak perlu ambil pusing dengan itu.

Lama mereka terdiam. Alunan musik jazz yang mendominasi atmosfer kedai kopi ini. Rafa sibuk dengan fikiranya dan hatinya. Sedangkan Cleo terlihat lebih santai sambil bermain dengan gadgetnya.

Haruskan Rafa tetap menunggu? Kenapa Rafa telalu dibutakan oleh cinta dan membaginya percuma denagn gadi egois didepanya? Atau Rafa harus mundur.

"Kamu sendiri, masih deket dengan sahabat udikmu itu. Mana bisa aku yakin kalau cintamu seratus persen hanya untuku" ucap Cleo tiba-tiba membuat Rafa mmenoleh ke gadis di depanya. Tatapanya mengisyaratkan jaga-mulut-kamu kepada Cleo. Seakan Cleo mengerti dia malah melanjutkan makianya pada sahabat terbaik Rafa itu.

"Apa? aku salah mengejek sahabat udikmu itu. Raf, akupun tidak suka kamu dekat-dekat dengan gadis itu. Dan kamu terlihat begitu dekat denganya. Siapa tau kamu diam-diam menaruh hati padanya dan mencuri kesempatan untuk lebih dekat denganya saat tidak denganku"

"Dia sahabatku Cle. Lalu bagaimana denagnmu? memangnya cintamu sepenuhnya untuku. Kamu aja masih punya pacar tapi jadi pacar aku juga" kata Rafa memutar pertanyaan. Merasa dipermalukan dengan mata yang penuh denagn kekesalan dia pergi meninggalkan cafe setelah dia berkata "kalau kamu tidak mau menungguku, aku tidak masalah. Masih banyak lelaki sepertimu yang mengantri penjang untuk menjadi pacarku. Dan aku rasa Yuan juga lebih baik dari pada kamu. Dengan sikap kamu seperti ini, aku semakin mengurungkan niatku untuk memutuskan Yuan dan bersamamu Raf. Aku pulang" dan dengan angkuh gadis kesayangan Rafa itu pergi meninggalkanya. Namun nyali Rafa tidak menyusut begitu saja. Ia masih tetap keukeh untuk menunggu Cleo.

Rafa mengeluarkan ponsel lalu menekan beberapa digit nomor yang dia hafal diluar kepala. Nomor yang sering ia hubungi untuk sekedar menemaninya atau diajak berbagi cerita denganya.

***

"Dan lo tetep masih mau nunggu?! Astaga Rafa, gue bener-bener gak habis pikir ya sama jalan pikiran lo. Udah jelas-jelas dia gak nganggep lo, dia datang disaat dia butuh lo aja. Dengerin ya Rafa, dengan tampang lo yang diatas rata-rata dan gue yakin otak lo yang masih berfungsi dengan baik walaupun udah terkontaminasi sama bitchy gak jelas itu, lo masih bisa kok dapet cewek yang lebih dari itu nenek lampir" cerosos Rasti tanpa henti saat Rafa selesai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

Tanpa Rafa sadari, senyum Rafa terukir begitu saja mendengar ocehan sahabatnya itu. Membuat Rafa gemas dan mencubit pipi chuby Rasti.Yang dicubit mencoba sebisa mungkin menutupi rasa senangnya yang disimpan dihati dengan pura-pura ngambek.

"Lo jangan ngejek cinta pertama gue. Kayak lo udah paling oke aja" ejek Rafa.

"Seenggaknya gue lebih baik ya dari pada pacar norak lo itu. Cantik sih cantik, tapi kalo tingkahnya kayak gitu mah gak ada berguna juga punya tampang cantik" ucap Rasti dengan senyuman hangat.

Mendadak tubuh Rafa menegang melihat senyum Rasti itu. Senyum yang selalu ditunjukan Rasti kepada Rafa, masih dengan senyum yang sama tapi kali ini auranya berbeda. Entah apa, Rafapun juga tidak kunjung memahami.

"Ya deh. What ever you say" Rafa tidak bisa banyak membalas perkataan Rasti, yang mencaci pacarnya. Berbeda dengan saat dia dengan Cleo. Rasanya saat Cleo mengejek Rasti, hati Rafa benar-benar tidak terima dengan perkataan Cleo.

Dan Rafa masih belum menyadari sebenarnya kepada siapa hatinya berpihak.

***

Rasti yang sedang asik membaca novel favoritnya harus terganggu karna tiba-tiba Cleo menyeretnya dengan paksa. Novel yang Rasti pegang terhempas dari peganganya dan jatuh di lorong kelas. Cleo dan dua anak buahnya yang setia menemani kemanapun Cleo pergi masih terus berusaha menarik Rasti untuk mengikuti mereka.

Tapi jangan panggil Rasti kalau tidak bisa melawan. "Hey! lepasin gak. Di kira gue kambing di tarik-tarik" pekik Rasti mencoba melepaskan cengkraman gadis-gadis gemulai di depanya ini. Dan berhasil, Rasti berhasil melepaskan tanganya. Tapi malah di dorong dengan paksa oleh Cleo dari belakang.

"Jangan coba-coba kabur. Lo harus di kasih pelajaran" ancam Cleo dengan tatapan tajam yang tidak membuat Rasti takut sedikitpun.

"Pelajaran apa? ada masalah apa lo sama gue?" tanya Rasti dengan suara lantang. Namun Cleo menanggapinya dengan tersenyum sinis dan kembali menyeret paksa Rasti untuk mengikutinya.

Sampailah Rasti di toilet perempuan yang kebetulan sepi. Toilet ini cukup luas dan juga sangat bersih.

Cleo mendorong tubuh Rasti hingga menubruk dinding keramik kamar mandi. Rasti yang sudah tidak tahan lagi menahan emosinya akhirnya angkat bicara.

"Masalah lo apa sama gue? huh?" bentaknya dihadapan Cleo tanpa rasa takut sedikitpun. Alih-alih menjawab Cleo malah menyeringai tajam ke arah Rasti. Tanpa di ketahui tangan Cleo mengambil sebotol ramuan busuk di balik punggungnya, membuka tutupnya dan menuangnya begitu saja dari puncak kapala Rasti.

Rasti terkejut bukan main dengan perlakuan Cleo kepadanya. Bau dari ramuan itu sangatlah busuk. Anak buah Cleo meraciknya sedemikian rupa sudah seperti masternya. Karna berhasil membuat Rasti berbau busuk.

"Itu karna lo udah berani-beraninya suka sama Rafa, itu juga karna lo dengan terang-terangan berdekatan dengan Rafa dan yang terakhir, itu juga karna lo udah berani jatuh cinta dengan Rafa"

"Jangan asal ngomong ya lo nenek lampir" sergah Rasti cepat.

"Gue gak asal ngomong kok, emang itu adanya, lo cinta sama Rafa. Emang Rafanya aja yang pinter dia lebih milih gue, karna gue lebih segalanya dari pada lo. Tapi disisi lain harus gue akui, Rafa emang terlalu bego karna segitu gak pekanya sama lo. Kasihaann"seketika tubuh Rasti yang di tembok menegang mendengar ucapan demi ucapan Cleo yang benar adanya. Nyalinya menguap entah kemana.

BRAAAKK!!

***

Sudah cukup lama Rafa menunggu kedatangan Rasti di meja kantin yang sering mereka tempati berdua. Berkali-kali dia mengecek ponselnya yang tidak kunjung bergetar menandakan pesan masuk. Rafa masih setia menunggu Rasti disana untuk makan bersama. Namun semakin lama Rafa menunggu perasaan tak enak semakin menyelimutinya pula.

Tanpa ba bi bu Rafa beranjak dari kursinya dan melangkahkan kaki keluar kantin untuk mencari Rasti. Rafa mencari kesana-kesini tidak juga ia temukan Rasti. Di kelasnya pun juga sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Rafa kebingungan mencari Rasti dengan perasaan tidak enak yang semakin lama semakin kental menyelimutinya.

Tak sengaja saat Rafa berlari untuk ke mencari Rasti lagi, kaki Rafa terasa menendang sesuatu. Dilihat dan diambilnya benda itu. Tertulis nama sahabatnya itu di halaman depan novel. Cepat-cepat Rafa berlari mencari jejak Rasti. Sampai ia melihat Rasti yang di seret oleh Cleo dan bawahanya masuk ke toilet perempuan di ujung lorong ini. Rafa berlari menuju ujung lorong yang cukup panjang.

Rafa sudah akan membuka pintunya namun tanganya terasa melemas mendengar ucapan yang di lontarkan Cleo dalam. "Lo udah berani jatuh cinta sama Rafa"

Deg! 

Jantung Rafa terasa sudah tidak terkendali. Kalimat itu terus mengiang di kepala Rafa, membuatnya tiba-tiba di terjang pusing. Terdengar ucapan Rasti yang tidak terima dari dalam. Rafa mempertajam pendengaranya. Kali ini ejekan yang diucapkan Cleo dan tertuju padanya. Membuat Rafa tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia  menendang pintu toilet dengan kaki kananya.

BRAAAKK!!

Beberapa pasang mata gadis yang ada di dalam toilet melotot sempurna, saat melihat siapa yang mendobrak pintu dengan kasar. Rafa tidak memperdulikan tatapan itu. Matanya tertuju pada Rasti yang sudah sangat tidak karuan. Rambutnya yang dikuncir kuda basah dan terlihat lengket. Begitu juga dengan seragam yang di kenakanya.

"Rafa! ini toilet cewek. Ngapain kamu masuk kesini" cetus Cleo marah dengan kelakuan pacarnya yang menganggu rencana jahatnya.

Seakan tidak punya telinga, Rafa tidak menggubris ucapan Cleo. Rafa berjalan sambil melepas jaket yang dia kenakan dan memakaikanya pada Rasti segera. Rafa memegang pundak Rasti dan akan menuntunya keluar toilet.

"Rafa! mau lo bawa kemana dia? urusan dia belum selesai sama gue" tanya Cleo membentak dengan mata yang menyiratkan emosi yang ia tahan.

"Kita putus" ucap Rafa tegas dan penuh penekanan lalu berjalan meninggalkan Cleo yang menganga.

"Lo pacaran sama Rafa Cle? pacar lo Rafa atau Yuan sih" tanya salah satu gadis berambut keriting sebahu di sebelah kanan Cleo.

"Bukanya lo bilang cuma crush cle?" ucap gadis yang lain.

Cleo membentak keduanya "Diem lo semua" lalu bejalan keluar dengan emosi yang menggebu-gebu.

***

"Heh, jangan masuk dulu. Ada orang di dalem" sergah Rafa cepat dengan membentangkan kedua tanganya menghalangi jalan lelaki itu.

Lelaki itu mengernyitkan alis bingung "yaudah sih, toiletnya juga banyak. Gue udah kebelet nih" sahut lelaki yang dihadang Rafa sambil sesekali berjingkrak menahan sesuatu yang sepertinya sudah tidak bisa lagi ditahan untuk keluar. Dia berusaha menerobos masuk melewati tanagn Rafa. Namun dengan cepat Rafa kembali menyergah.

"Eits.. gak bisa gak bisa. Cari toilet lain sono" ucap Rafa sambil mendorong lelaki itu menjauh dari toilet cowok.

Rafa kembali menyenderkan badanya  ke tembok. Dengan tangan yang di masukanya ke kantong. Kini gayanya hampir mirip dengan model majalah masa kini. Kepala Rafa masih di penuhi dengan kalimat Cleo yang tidak sengaja di dengarnya. Begitu pula dengan indra pendengaranya. Bagai kaset rusak, kalimat itu terus saja berputar lagi dan lagi dan lagi. Rafa memejamkan matanya berusaha membuat fikiranya kembali rileks. Tapi bukan rileks yang dia dapatkan, malah degup jantung yang semakin kencang yang ia rasakan. Saat ia kembali memikirkan bagaimana perasaan Rasti sebenarnya kapada Rafa.

"Raf, udah nih. Ke kelas yuk" suara Rasti dari arah belakang Rafa membuatnya tersentak kaget dan menoleh ke asal suara. Disana berjalan Rasti keluar dari toilet cowok dengan baju olah raganya yang ia dapat dari loker sebagai ganti bajunya yang basah dan busuk

"Eh.. udah" ucap Rafa mencoba menutupi detakan jantungnya yang semakin menjadi. Semoga dia gak denger batin Rafa berdoa.

"Nih jaket lo. Makasih ya" tangan Rasti menyodorkan jaket Rafa yang di pakai menutupi bajunya yang basah tadi.

Rafa hanya melihatinya. "Lo cuci dulu dong. Udah di pinjemin juga" goda Rafa sambil tersenyum miring.

"Iya iya bawel" kata Rasti pasrah "lo tadi ngusir siapa deh?" tanya Rasti setelah itu, karna dia mendengar suara Rafa dan seseorang dari dalam.

"Bukan siapa-siapa" Rafa langsung menautkan tanganya ke sela-sela jemari Rasti lalu menggandengnya begitu saja.

Rafa menyadari ada sesuatu yang tidak wajar. Rasanya tanganya seperti ada yang menyetrum tiba-tiba. Padahal sebelumnya saat ia menyentuh Rasti tidak pernah ia rasakan hal seperti ini. Sedangkan Rasti diam-diam tersenyum bahagia melihat tanganya yang di gandeng Rafa. Begitupun hatinya yang terasa berbunga-bunga. Jantung Rasti pun seperti tidak bisa di atur detakanya. Begitu cepat. Rafa melirik sedikit ke arah gadis yang digandengnya. Lalu ia tersenyum disaat ia menemukan semburat merah di pipi gadis itu saat sedang memandangi tangan mereka yang terpaut. Kini Rafa yakin, kemana hatinya berpihak.

***

Angin di taman belakang sekolah terasa begitu sejuk. Menerpa dengan lembut kearah dua anak yang sedang duduk berdampingan di bangku putih. Sesekali anak rambut dari si gadis ikut terbang perlahan tertiup angin. Membuatnya memancarkan aura kecantikan yang sebenarnya, yang selalu ia tuttupi, yang hanya ingin ia perlihatkan untuk lelaki disampingnya saja. Sedangkan si lelaki, diam-diam mencuri pandang ke arah si gadis yang menghadap lurus kedepan. Melihatnya dari samping. Membuat si lelaki tak sadar kalau senyumnya
mengukir begitu saja.Mengapa baru ia sadari sekarang, kalau sebenarnya dirinya terlalu naif untuk mengakui perasaanya yang telah jatuh ke gadis ini. Bukan ke yang lain. Kenapa begitu bodohnya dia mencoba mencari pelarian untuk menghapus rasa yang tumbuh di hatinya. Mencoba menghilangkan rasa yang menurutnya tak boleh ia rasakan kepada gadis di sebelahnya. Karna ia takut dengan perubahan. Perubahan yang pasti akan terjadi saatia mengungkapkan isi hatinya. Perubahan yang mungkin saja membuatnya tidak bisa bersama lagi dengan gadis yang dicintainaya ini.

Mereka masih diam. Tidak ada perbincangan dari keduanya. Masih sibuk dengan pikiranya masing-masing. Rasti dengan kebahagianya yang belum juga berhenti ia rasakan sejak Rafa menggandeng tanganya. Yang membuat Rasti merasa bahwa Rafa telah melihatnya sekarang, tidak lagi sebagai boneka bernafas yang hanya di gunakan Rafa untuk mendengarkan ceritanya. Rasti begitu yakin. Begitupun dengan Rafa yang sibuk menata hatinya dan mengumpulkan nyalinya untuk mengungkapkan apa yang di rasakan hatinya selamana ini.

Rasti berkali-kali mempergoki Rafa yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Senyum konyol Rasti mengembang saat dilihatnya pipi Rafa memerah.

"Mau sampe kapan disini Raf, gue mau pulang. Masa suruh nemenin lo yang lagi ngeliatin gue terus" senyum jahil Rasti mengembang.

Rafa terlihat salah tingkah mendapati tatapan Rasti dan senyumnya itu "apaan sih, ge er lo. Udah ah disini aja dulu. Gue males di rumah gak ada orang"

"Trus ngapain coba disini. Kita juga gak ngobrol gak ngapa-ngapain. Mending juga di rumah bocan" Rafa tiba-tiba meraih tangan Rasti lembut. Rasti yang diperlakukan tiba-tiba oleh Rafa seperti itu seketika membeku di tempat.

Rafa kembali menarik nafas dan menghembuskanya perlahan, merilekskan jantungnya yang terus berdegup tanpa ritme yang jelas "bener yang di bilang Cleo tadi? Lo suka sama gue?" tanya Rafa dengan mimik serius tapi tetap memperlihatkan mata teduhnya. Membuat Rasti merileks perlahan.

Rasti sempat bingung harus menjawab apa, sampai akhirnya ia berkata "tapi gue tau gue gak pantes. Lo kan sukanya sama Cleo yang lebih segala-galanya dari pada gue. Gue cukup sadar diri kok. Lo gak perlu khawatir. Lagian gue juga gak mau persahabatn kita ancur cuma gara-gara keegoisan gue yang cinta sama lo" Rasti menghembuskan nafas lega saat ia menyelesaikan kata-katanya.

"Kalo gue sekarang cintanya sama lo. Lo masih mau gak sama gue?" tanya Rafa yang langsung membuat Rasti terkejut dan senang disaat yang bersamaan."Lo tutup mata dulu deh" ujar Rafa, Rasti mengernyit bingung.

"Udah tutup mata aja" Rasti menuruti kata-kata Rafa. Sekarang ini lidah Rasti terasa kelu untuk sekedar bilang 'buat apa' atau 'ya' atau 'ngapain'. Rasanya suaranya berhenti di tenggorokan tidak bisa ia keluarkan.

Rafa menghadap kedepan "Gue sebenernya juga udah suka sama lo dari dulu. Namun gue sadar kita gak pernah bisa bersatu melebihi sahabat. Gue takut disaat gue ungkapin perasaan gue, lo gak bisa nerima gue dan akhirnya lo menjauh dari gue. Gue gak mau itu terjadi. Gue gak mau kehilangan cinta dan sahabat sekaligus. Akhirnya gue memutuskan untuk mencari pelarian. Dengan bersama Cleo, gue kira disaat gue sama Cleo gue bisa lupain rasa gue ke elo tapi gue malah lebih sakit hati lagi sama Cleo. Maaf, jika selama ini gue bikin lo enek sama cerita-cerita gue dengan Cleo. Gue yakin, pasti lo sebenarnya sedih dengernya. Tapi sekarang gue udah yakin kalo lo juga punya rasa ke gue, dan itu membuat gue gak takut lagi buat kehilangan lo. Gue pengen lo selalu ada buat gue Ras, gue mau lo jadi milik gue lebih dari sahabat"

Tanpa Rafa ketahui air mata Rasti lolos melewati pipi chubynya. Air mata haru dari Rasti. Bibir Rastipun tidak berhenti tersenyum bahagia mendengar ucapan Rafa. Kini cintanya telah terbalas. Sesuatu yang lembut bersentuhan dengan punggung tanagnya yang masih di pegang Rafa sejak tadi. Membuat Rasti membuka matanya.

"Sekarang lo pacar gue" ujar Rafa dengan senyum hangatnya setelah mencium punggung tangan Rasti. Rasti yang sudah kelewat senang segera memeluk lelaki yang dicintainya diam-diam itu. Ia sangat bahagia mendengar pengakuan Rafa.

"I love you Raf" kata Rasti masih terus memeluk Rafa erat, seakan tidak mau kehilanganya.

"I love you more Rast"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...