Karna itu, yang aku bisa hanya memandangmu dari jauh saat kau membasuh sebagian tubuhmu dengan air sambil diam-diam mengagumimu. Terkadang aku sangat ingin tersenyum saat melihatmu. Tapi aku berusaha untuk tidak memperlihatkanya, menyembunyikanya di balik ekspresi datarku. Dan hanya bisa bersorak dalam hati saat aku sadari ternyata kamu meliriku. Tapi tak lama kamu kembali bercengkrama dengan kawanmu yang juga populer.
Oh astaga, aku sanagt ingin berloncat-loncat sekarang. Betapa senangnya aku setelah sudah lewat sewindu ini akhirnya kamu meliriku. Tapi aku kembali sadar, kalau aku bukanlah siapa-siapa di matamu. Aku sanagt menyadarinya. Mungkin kamu tadi tidak sengaja meliriku, kamu tidak benar-benar berniat meliriku. Aku sangat tidak pantas untuk disandingkan denganmu.
Tapi aku akan tetap disini, mengagumimu dari jauh.
***
Sudah lewat beberapa bulan aku melakukan hobi baruku. Menunggumu keluar dari kelasmu, dilanjut dengan memandangimu saat sedang membasuh tangan, wajah, lengan sebagian rambutmu hingga kaki. Entah hanya perasaanku atau bukan, ketampananmu seakan bertambah beribu kali lipat setelah melakukan ritualmu sebelum beribadah tadi. Wajahmu tampak lebih segar dan berseri setelahnya.
Setelah melihatmu yang sudah berjalan masuk dengan kawan-kawanmu ke mushola, barulah aku melakukan hal yang sama denganmu.
Dan kadang aku langsung berlari mengambil shaf paling depan karna aku tau kebiasan bandel kamu yang lebih suka shaf paling belakang. Hanya untuk bisa lebih dekat denganmu. Mungkin ini agak bandel, tapi aku sangat ingin lebih dekat denganmu. Dan jujur saja, ini malah membuatku lebih khusyu' dalam setiap sujudku.
Ini sudah berjalan lebih dari lima bulan, dan aku tidak akan pernah bosan. Hanya ini satu-satunya kenangan yang sangat aku sukai di masa SMA ku. Mengagumimu dari jauh.
***
Haruskah aku menyatakanya sekarang? Ini sudah di akhir semester, dan sebentar lagi tamatlah masa SMA ku yang pasti akan sanagt aku rindukan. Masa-masa terindahku, karna aku dapat mengagumi dari jauh. Ini sudah di akhir semester, dan kamu juga belum sadar akan kehadiranku. Walaupun saat itu kamu sempat meliriku, apa kamu juga belum sadar kalau hadirku ini untukmu. Ini sudah akhir di akhir semester haruskah aku yang mengungkapkanya lebih dulu.
Kamu terlihat bahagia disana. Berkumpul dengan teman-teman satu kelasmu. Kamu terlihat semakin tampan dengan setelan kemeja putih yang sangat pas dengan badan atletismu dan dasi biru lautmu yang membuatku semakin gatal ingin mengucapkan "hey, gantengnya biasa aja dong" tepat di depanmu.
Kamu memotret banyak hal yang aku yakin ingin sekali kamu abadikan, dengan cameramu yang sering aku lihat kamu kalungkan di lehermu. Memotret kebersamaanmu dengan teman-teman sekelasmu yang pasti akan kamu rindukan. Bahkan memotret dirimu sendiri dengan seorang gadis yang kau rangkul pundaknya. Gadis yang dikabarkan dekat denganmu. Siratan dimatamu sangat menunjukan betapa bahagianya kamu. Aku ikut bahagia karenamu.
Walau kalau boleh jujur, sebenarnya tanpa kamu sadari perlahan kamu membuat hati ini semakin rapuh. Setiap kali melihatmu begitu bahagia dengan gadis pilihanmu. Aku tau diri, karna aku memang tak sebanding denganmu. Gadis itu yang lebih sebanding denganmu, terlihat begitu serasi berdampingan denganmu. Tapi aku masih tetap disini, mengagumimu dari jauh.
Aku akan sangat merindukanmu. Setiap lekukan wajahmu yang aku sukai saat terkena air wudhlu. Setiap senyuman hangatmu yang kau tujukan kepada setiap orang yang kau kenal. Setiap peluhmu yang selalu membuatku gatal ingin mengusapkanya untukmu saat kamu sedang asik bermain basket di sore hari. Setiap kekonyolanmu yang diam-diam aku mencuri dengar saat kau dan kawan-kawanmu berjalan di depanku menuju mushola.
Kalau boleh? izinkan aku merindukanmu di suatu hari nanti. Izinkan aku memendam perasaan suka yang telah berbuah menjadi cinta ini. Izinkan aku tetap memagumimu dari jauh.
Semoga saja surat yang aku titipkan pada temanmu, akan sampai kepadamu nanti. Aku pergi-
***
Make upku sudah hampir sempurna. Tinggal memoles sedikit bibir merahmudaku dengan lipstick. Dress yang akan aku kenakan juga sudah siap. Dress merahmuda selutut tanpa lengan dan aku padukan dengan heels putihku yang sangat aku sukai. Rambutku juga sudah aku tata sedemikian rupa agar terlihat lebih manis.
Hari ini hari pernikahan teman SMA ku dulu. Aku tidak kaget jika dia sudah memutuskan menikah di usianya yang masih terbilang muda. Dia memang sudah menyiapkan calonya sejak SMA. Yang aku kagetkan, kenapa mereka bisa begitu langgeng. Aku benar-benar takjub dengan hubungan mereka. Di jaman yang banyak hubungan yang putus-nyambung mereka malah terlihat sangat angteng saja. Harus aku beri selamat.
Sangat berbeda denganku. Sampai sekarang saja aku masih belum minat untuk menjalin hubungan dengan komitmen yang menurutku sangat susah untuk di jalani. Dan satu hal lagi yang membuatku masih menunda untuk itu, aku masih menunggu seseorang yang selalu aku impikan akan bersanding denganku nanti di pelaminan. Yang selalu aku ikuti kemana dia pergi saat SMA. Yang selalu aku kagumi karna kecerdasanya. Yang selalu aku tunggu di depan kelasku. Aku masih menunggunya, hingga kini.
Sahabatku Lili sangat terlihat cantik dengan kebaya putihnya dan rambutnya yang disanggul dan di beri beberapa polesan hitam di sekitarnya. Asal tau saja, kebaya yang dikenakan Lili sekarang adalah buatanku. Dia memesan di butiku. Bahkan sudah jauh-jauh hari dari tanggal pernikahanya. Dia memang sudah merencanakan dengan sanagt matang.
"Akhirnya lo dateng juga Vio" teriak Lili histeris saat melihat kedatanganku. Memang dasar Lili, tidak malu apa dengan Gio.
"Ya kali gue gak dateng di acara pernikahan sahabat gue sendiri" kataku lalu terkekeh pelan. Ku peluk tubuh mungil Lili dan memberinya selamat.
"Happy Wedding yaa.. makin langgeng sampe maut memisahkan" ucapku lembut di telinga Lili. Dia menjauhkan tubuhnya dariku.
"Duh.. jadi terharu gue. Makasii ya.." ucap Lili dengan mata berkaca-kaca.
"Ehem.. gue gak dikasih selamet nih. Gue kan juga pengantin di sini" sindir Gio yang kita cuekin dari tadi.
"Iya, iya selamet yaa.."
"Kapan nyusul?" celetuk Gio yang aku hadiahi pukulan di lengan kirinya.
"Heh, suami gue nih" protes Lili tak terima saat lelaki yang di cintainya kupukuli tidak santai.
"Ya.. abis nyeselin banget pertanyaanya" Gio malah cengengesan gak jelas.
"Gue incipin makanan cattering lo yaa" sahutku dan langsung meninggalkan panggung pengantin.
Aku melenggang menuju stand salad. Disana hanya tinggal satu piring salad yang tersisa. Pasti saladnya enak deh, buktinya sudah ludes tinggal satu. Aku hendak mengambilnya namun tanganku tiba-tiba di cekal oleh sebuah tangan yang cukup besar.
"Punya gue" ucap suara bass dengan nada datar.
"Eh, gabisa dong, gue dulua--n" suaraku mengecil di akhir kalimat saat aku mendongak dan melihat siapa yang mencengkram tanagn mungilku. Aku terkejut bukan main. Wajahnya masih sama saat terakhir kali kita bertemu. Saat dia masih sering aku perhatikan diam-diam dulu. Namun yang kali ini terlihat lebih dewasa dengan rahangnya yang terlihat tegas dan kumis tipisnya. Sorot matanya juga masih sama, dingin namun sangat aku sukai.
"Hai Vio" sapanya begitu ramah sambil tersenyum hangat. Oh astaga senyum hangatnya yang sangat aku rindukan, kali ini membuatku meleleh. Mendadak lidahku terasa kelu untuk membalas sapaanya. Sesuatu dibalik dadaku berdegup semakin kencang. Tanganku yang masih di pegangnya tiba-tiba terasa basah, dan tubuhku mendadak menggigil. Dia tau namakuuu..
"Ha..hai" balasku susah payah lalu tersenyum semanis mungkin.
"Kita bertemu lagi. Ternyata kamu masih sama ya. Tetap manis" kata-katanya berhasil membuat pipiku memanas. Tak sadar kalau sekarang aku sedang menahan nafas.
"Jangan lagi mengagumiku dari jauh. Mendekatlah, dan aku akan mempersilahkanmu tetap mengagumiku, dari dekat" sontak kalimat itu berhasil merubah hidupku. Tak lagi mengagumimu dari jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar