16 Mei 2015

Kita Beda

Dari tempatku berada sekarang aku masih bersyukur. Karna dari celah beberapa kepala di depanku ini aku masih bisa melihatmu. Padahal aku selalu ingin menjadi yang paling depan saat kamu tampil. Dapat melihat dengan jelas bagaimana caramu memukul benda bundar dari kulit hewan itu sambil bersenandung. Aku sangat ingin melihatmu melakukanya tepat di depanku.

Ingat tidak? awal pertama kali aku melihatmu. Saat aku yang tidak sengaja menginjak tali yang sedang kamu buat simpul. Kamu yang mengerjakanya sambil duduk sembarangan di atas lantai, dan aku tau itu pasti dingin, kamu tetap mengerjakanya dengan tekun disana. Sampai-sampai kamu tak sadar kalau tempat yang kamu duduki adalah jalan lalu lalang menuju atau keluar dari kelasku. Aku yang akan masuk bersama teman-temanku ke dalam kelas terlonjak kaget saat tiba-tiba kamu membentaku.

"Heh! jangan di injak dong" katamu dengan sensitif. Padahal aku tidak sengaja menginjaknya. Karna kamu menatapku dengan tatapan tak suka aku langsung menarik kakiku dari tali yang sedang kamu pegang ujungnya. Aku tidak tau apa yang membuatmu terlihat begitu sensitif. Tapi aku asal menyimpulkan saja dengan pikiran positif. Mungkin kamu memang sedang lelah dengan kegiatan pramukamu. Aku mencoba memaklumi. Setelah sekilas tersenyum tipis dan meminta maaf aku menunduk menyusul teman-temanku masuk ke dalam kelas.

Tapi disitulah percakapan pertama kita tercipta. Walaupun sedikit tidak mengenakan hati tapi aku tetap mengenangya. Biarkan saja aku mengenangnya, walaupun aku tau pasti hanya aku, kamu tidak. Tak apa.

Sanggar pramuka yang bersebelahan dengan kelasku membuatku sering melihatmu hilir mudik melewati kelasku. Dan diam-diam aku mencari semua hal tentangmu. Kamu yang ternyata bukan hanya aktif dalam kegiatan pramuka, ternyata kamu juga menyukai olah raga voli. Aku tau semua tentangmu. Aku mengikuti semua akun media sosialmu. Aku tau kamu yang selalu pintar dalam pelajaran fisika. Kamu yang sering duduk di bangku kedua dari depan di kelasmu. Kamu yang selalu exited saat ada kegitan jelajah di kegiatan pramukamu. Kamu yang selalu memakai jersey club bola favoritmu saat berlatih voli. Dan aku juga tau, kamu yang suka sekali pisang goreng buatan ibu kantin. Kamu selalu membeli itu saat istirahat. Aku memperhatikanmu saat itu. Dan aku sangat yakin, kamu tidak tau soal itu.

Aku ingat, aku ada di barisan paling depan saat menontonmu bermain voli di kegiatan tengah semester kemarin. Aku yang selalu menyemangati kelasmu. Memberi semangat dengan berteriak-teriak heboh sambil memukul-mukul dua botol air mineral bekas. Dan tidak sia-sia perjuanganku membuat tenggorokanku terasa gersang. Kamu dan teman-temanmu dapat mengalahkan lawan. Aku di buat terkejut dengan tindakanmu yang langsung bersujud di lapangan voli saat kemenanganmu di umumkan. Itukah caramu bersyukur dengan hasil yang telah kamu dapat. Aku baru mengerti.

Dan sekarang, kamu yang notabene anggota pramuka, kamu dan teman-temanmu sesama anggota pramuka  akan menampilan sebuah pertunjukan di acara sekolah. Memperingati hari besar agamamu. Aku tidak terlalu faham. Tapi aku sangat ingin melihat penampilanmu.

Aku yang tidak ikut merayakan hari besar ini, hanya bisa melihatmu dari luar aula. Aku sengaja mengintip diam-diam. Sebenarnya hari ini aku libur karna ada acara di hari besar agamamu ini. Tapi aku sengaja masuk hanya karna penasaran dengan penampilanmu. Aku yang biasanya selalu melihatmu di barisan depan, kini harus sedikit kecewa di acara besar agamamu. Karna aku memang harusnya tidak boleh ada disini.

Kamu yang sudah bersiap duduk bersila dengan benda bundar dari kulit hewan. Nampak terlihat senang. Sebagian temanmu yang tidak ku kenal juga membentuk barisan di samping kanan kirimu dan beberapa perempuan berjilbab di bagian depan. Perempuan-perempuan itu sudah siap dengan mic yang mereka pegang. Kamu mulai memukul benda bundar itu dan diikuti oleh alunan alat musik yang lain. Sedangkan yang perempuan mulai bernyanyi yang tidak terlalu aku fahami maknanya. Tapi aku bisa melihat senyum tipismu saat kamu sedang menutup mata. Senyumu seakan berkata kalau kamu sangat menikmatinya. Akupun ikut tersenyum saat melihat itu. Sesekali kamu ikut ambil suara untuk bersenandung. Dan aku bisa menangkap dengan jelas suara bass-mu itu. Seakan-akan suara yang lain menguap tak tersisa, yang ada hanya suaramu. Begitu merdu terdengar, menyanyikan puji-pujian untuk tuhanmu dan nabimu, menurutku.

Riuh tepuk tangan penonton melengkapi penampilanmu.

Aku tau kita tidak akan pernah bersatu. Aku tau aku tidak punya cukup nyali untuk sekedar menyapamu. Tapi aku tetap disini, untukmu. Karna ada sesuatu dalam hatiku yang menyerukan kepadaku agar aku tetap bersamamu. Walaupun aku tau kita memang tidak akan bersama. Karna kita beda.

Aku tersenyum kecut mendengar pengakuanku sendiri. Dan melangkah pergi dari area aula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...