Rasanya seperti mimpi. Bisa sedekat ini denganmu. Melempar sapa. Berbalas senyum. Sambil membicarakan banyak hal. Kalau benar ini mimpi aku tak akan pernah ingin bangun. Tak akan pernah.
Tapi ini sungguh nyata. Bukan mimpi semata. Kamu ada di hadapanku. Asik mengoceh tentang adik laki-lakimu yang nakal. Kamu bercerita dengan sangat antusias dan terlihat sangat jengkel dengan adik mu itu. Dan aku hanya dapat merespon dengan tawa atau sesekali menimpal dengan lelucon lain.
Rasanya seperti mimpi. Aku dapat bercengkrama santai denganmu seperti ini. Melihat binar matamu. Mendengar suara tawa lepasmu. Setelah peristiwa yang sangat aku sesalkan kita lalui beberapa bulan terakhir.
Dimana kamu mendiamkanku tanpa sebab. Aku tidak pernah tau dimana letak kesalahanku. Apa yang membuatmu menghindariku. Aku tak pernah tau.
Mukamu berpaling saat kita berpapasan. Sapaanku tak pernah kamu balas. Pesanku hanya kamu baca tanpa ada niat untuk membalas. Kamu tau apa yang aku rasakan di hari-hari itu? Kosong. Seolah duniaku hilang. Semua berubah semu. Aku tak pernah tau dimana letak kesalahanku. Aku tak pernah tau apa yang membuatmu sebegitu marahnya padaku. Tak pernah terlewatkan satu malampun tanpa memikirkan hal itu. Sampai membuat hitam sebagian kantung mataku.
Memang salahku sejak awal. Tanpa sadar telah membiarkanmu masuk kedalam duniaku. Yang sebelumnya tak pernah aku mempersilahkan siapapun sebelum kamu. Memang salahku yang mengajakmu berbagi dunia. Hingga saat aku kau tinggal, rasanya separuh dari duniaku hilang. Hampa.
Ingat tidak malam itu. Saat kita untuk pertama kalinya jalan berdua. Rasanya sangatlah menyenangkan. Hanya aku dan kamu. Aku sangat bahagia. Sampai sampai bahagiaku membuatku lupa, kalau sebenarnya kita hanya sebatas teman. Kamu sebatas bersikap baik. Dan acara jalan jalan itu hanya kau anggap sebagai balasan darimu karna aku menolongmu mengajarkan materi yang tidak kamu mengerti tempo hari. Aku terlalu senang kamu ada di sampingku. Berjalan beriringan denganku. Bercanda. Mengobrol. Menertawakan hal lucu. Senangku berlebihan. Sampai tanpa sadar diam diam aku menaruh hati padamu.
Aku bukan seseorang yang pintar memendam rasa. Karna itu hanya akan berdampak buruk padaku. Memikirkanya sepanjang malam sampai lupa tidur. Atau memunculkan banyak jerawat di area keningku. Keduanya adalah mimpi buruk untuku. Sampai akhirnya aku tahu. Mimpi terburuku bukan hanya dua hal yang baru saja aku tulis. Mimpi yang lebih buruk dari itu adalah kehilanganmu.
Aku bukan seseorang yang pintar memendam rasa. Jika aku suka akan ku bilang suka. Jika tidak, ku bilang tidak. Dan sifat sialan itulah yang membuatmu menjauhiku. Iya kan? Aku pikir juga begitu.
Aku memang bukan seseorang yang pintar memendam rasa. Akan aku tunjukan jika benar aku suka. Dan terang terangan aku tolak saat aku bilang tidak suka. Sayangnya tuan, kamu lah yang berhasil mengubah hatiku. Berusaha sekeras mungkin aku untuk menolak dan berkata tidak. Namun, kau terus saja menggangguku dengan sejuta kata manismu itu. Wanita mana yang tidak akan luluh dengan hal itu. Namun, saat aku mulai membuka hati dan membiarkanmu masuk di duniaku, dan menunjukan apa yang aku rasa dan di sanalah letak kebodohanku.
Hari berganti bulan. Tak ada lagi pesan darimu. Setelah pesan terakhirmu yang sangat panjang berisi niatanmu untuk permisi. Pamit untuk pergi.
Aku pikir kamu marah, dengan apa yang telah aku lakukan untukmu. Aku pikir kamu tak nyaman dengan apa yang aku tunjukan padamu. Tentang rasa. Aku coba meminta maaf. Tapi hanya kamu baca. Setelah rasanya cukup untuku memperjuangkan. Dan yang bisa aku lakukan di hari hari itu hanya diam, menunggu dan berharap. Bukan karna menyerah, aku hanya tidak ingin kamu merasa tak nyaman dengan hadirku. Ya, aku tetap menyukaimu, meski kamu telah menghancurkan harapanku. Biarkan aku berharap. Dalam angan.
Hingga beberapa saat lalu sikapmu yang tiba-tiba menyapaku ramah di lorong kelas membuatku merinding. Namun, diam-diam melonjak girang dalam hati. Coba bayangkan, orang yang kamu suka setelah mendiamkanmu 3 bulan tiba-tiba menyapa dan melempar senyum lagi padamu. Dan ini nyata, bukan yang sering aku mimpikan setiap malam.
"Hai Mentari, umm.. Apa kabar?" dia berkata dengan terbata. Mungkin karna canggung.
Tiba-tiba keningku terasa habis di jitak sesuatu. Atau seseorang. "Aww.." aku mengaduh sembil mengelus keningku sayang.
"Lo ditanyain malah bengong" katanya lagi dan kali ini di ikuti kekehan. Mungkin karna senang melihatku kesakiti. Kenapa sedari tadi aku hanya mengira tidak bicara. Ini kesempatan langka. Oh ya tuhan, kenapa sifat bodohku muncul di keadaan seperti ini.
"Lo lagi gak sehat ya, sakit ya lo. Dari tadi di tanyain diem terus"
Dengan spontan aku menjawab "gue sehaattt" ucapku semangat. Dan tanpa sadar ternyata tubuhku sedang melakukan pemanasan olah raga sambil cengar cengir gak jelas. Sekali lagi, kamu mempermalukan dirimu lagi mentari.
"Hahahaa.. Bagus deh kalo gitu. Emang kelihatan sehat banget" katamu lagi.
"Umm.. Ada apa ya tang? Tumben lo panggil gue" tanyaku basa basi. Sebelum ge er ku keluar. Yang ku maksud ge er adalah dia mau minta maaf karna sudah mendiamkanku 3 bulan. Mungkin saja ada hal lain yang lebih penting. Ya, aku tau aku memang tidak terlalu penting.
Bintang menoleh ke kanan kiri. Memperhatikan lorong kelas yang memang sedang ramai murid-murid lain.
"Umm.. Gak enak ngomong di sini. Ikut gue yuk" dan tanpa ba bi bu lenganku sudah ditarik olehnya. Lagi-lagi perutku terasa ada sesuatu yang menggelitik. Rasanya.. Umm.. Harus ya aku jelaskan.
Langkah Bintang berhenti di depan pintu gor (gedung olah raga) tempatnya sering berlatih bulu tangkis. Sebelum kita menjadi orang asing. Aku sering menemaninya berlatih setelah pulang sekolah. Tapi, sudah tak lagi setelah kejadian itu.
Bintang menariku masuk, memintaku mengikuti langkahnya. Gor tidak terlalu ramai. Hanya ada tiga-empat anak yang sedang berlatih bulu tangkis. Bintang mengajaku duduk di salah satu podium penonton. Setelah itu hening. Tak ada yang mau memulai percakapan diantara kami. Hingga mungkin ada sampai sepuluh menit. Sampai akhirnya aku yang mengalah.
"Bintang"
"Ya"
"Ngapain lo ngajak gue kesini?"
"Cuman pengen"
"Cuman pengen?"
"Ya cuman pengen"
Huh, kau tau tidak. Aku terlanjur sudah berharap macam-macam. Aku pikir dia mengajaku dari tempat ramai ke tempat yang lebih tenang karna ada sesuatu serius untuk di bicarakan. Ternyata, lagi lagi dia mempermainkanku. Lagi lagi kebodohanku di salah gunakan.
"Gak penting banget sih lo. Sorry, gue banyak urusan" ucapku kesal sambil beranjak dari podium.
"Lo mau kemana?" tanya Bintang dengan polos.
"Bukan urusan lo" kataku kesal. Bisa-bisanya aku menunggu untuk orang kayak dia. Harusnya aku lebih berfikir.
Namun langkahku berhenti saat Bintang berkata "Temenin gue dulu lah tar. Masa gue harus bilang kalo gue kangen sama lo"
Deg. Jantungku terpacu lebih cepat. Aku berbalik badan menatap tajam ke arahnya. Melangkah lebih dekat.
"Lo bilang apa tadi?" kataku ketus.
"Gue bilang. Gue kangen sama lo" oh tuhan, rasanya ubun ubun ku sedang mendidih saat ini.
"Bisa-bisanya lo bilang lo kangen sama gue. Setelah beberapa bulan lo diemin gue tanpa sebab. Pamit buat pergi. Lo tuh jahat bintang" aku ungkapkan semua rasa kesalku padanya. Tangan kecilku tak berhenti memukul-mukul dada bidangnya.
Bintang hanya diam. Sampai akhirnya dia berbicara setelah membuang nafas berat.
"Maafin gue mentari. Gue terlalu cupu buat jujur sama lo. Bahkan jujur ke diri gue sendiri. Maaf kalo gue buat lo kecewa. Maaf udah buat lo bingung beberapa bulan terakhir. Gue pun juga di buat bingung dengan perasaan gue sendiri. Gue gak tau apa yang harus gue lakuin. Gue suka sama lo. Bukan, gue sayang sama lo. Tapi gue cuman gak yakin buat ngakuin itu. Gue bahkan gak bisa ngebuat percaya ke diri gue sendiri kalo gue sayang sama lo. Gue terlalu cupu buat nyatain itu ke lo. Maaf tar. Gue butuh waktu kemarin. Gue putusin buat jauhin lo dulu kemarin. Gue pikir dengan cara itu gue bisa hapus perasaan gue ke lo. Karna, gue ngerasa gak pantes buat lo. Tapi setelah itu gue sadar, kalo jauh dari lo malah ngebuat gue semakin gila. Gue sadar, kalo yang gue butuh itu cuma lo. Maaf kalo gue emang udah terlambat buat ngakuin perasaan gue" kepalanya tertunduk lesu. Aku tak pernah berfikir kalau ini alasan Bintang sebenarnya. Aku pikir dia memang tak pernah punya rasa padaku. Tapi ternyata. Dadaku mendadak sesak mendengar pernyataan Bintang. Kenapa dia tidak bilang sejak dulu?
"Gue cuma mau ngomong itu. Sekarang lo boleh pergi"
Sepertinya aku yang harus mengajarinya cara memperjuangkan sesuatu. Belum angkat senjata udah nyerah. Gimana sih. Katanya sayang. Masa aku mau di lepasin lagi.
"Lo gak mau berjuang sekali lagi buat gue?" tanyaku terus terang. Bintang menoleh cepat kearahku. Matanya berbinar. Apakah dia senang?
"Serius? Lo mau kasih gue kesempatan sekali lagi?" tanyanya sekali lagi sambil memegangi kedua lenganku. Aku tak dapat menahan senyumku melihatnya terlihat begitu bahagia.
Aku hanya mengangguk tak ingin berkata apa apa lagi. Tiba-tiba Bintang berteriak senang hingga suaranya menggema seantero gor.
Kami kembali duduk menikmati permainan anak anak bulu tangkis yang sedang berlatih.
Rasanya seperti mimpi. Bisa sedekat ini denganmu. Melempar sapa. Berbalas senyum. Sambil membicarakan banyak hal. Kalau benar ini mimpi aku tak akan pernah ingin bangun. Tak akan pernah.
Keren
BalasHapusThank youuu
Hapus