"Aku tau aku bodoh sudah menyia-nyiakanmu. Aku akui aku salah"
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi kalau kamu minta aku untuk kembali bersamamu. Maaf, aku sudah menemukan penggantimu. Aku tidak bisa"
Gadis itu tertunduk. Tidak lagi berani menatap bola mata laki-laki dihapanya. Bukan apa-apa, ia hanya takut untuk melihat mata yang dulunya selalu memancarkan cinta dan keteduhan sekarang sudah tidak lagi.
Hanya terdengar suara barista yang mulai membesihkan gelas-gelas kosong. Diselingi dentingan dua gelas bertabrakan yang dibawa olehnya, menemani obrolan ungkapan hati dua sejoli yang sudah tak lagi dalam satu cerita.
Satu hati yang merasakan kekosongan selama 5 tahun terakhir. Bukan kosong, lebih tepatnya sunyi. Ada orang yang selalu disana. Tapi tidak berbuat apapun. Bukan karna mati. Hanya rasanya seperti sedang pergi dan pemilik hati berusaha mencari. Mencari sesuatu yang pergi. Dan saat ia menemukanya. Ternyata sudah tak lagi sama.
Sedang satu hati yang lain. Sudah di hiasi lagi oleh sosok baru, setelah sekian lama mati. Sosok yang berhasil menghidupkan hatinya lagi. Setelah dimatikan oleh masa lalu yang sangat ia cintai. Kalau boleh saja ia jujur. Ia lebih mencintai masa lalunya ketimbang sosok dihatinya. Tapi bagaimana bisa?
"Apa benar sudah tidak ada lagi cara? Apa aku sudah tidak lagi pantas untuk memperjuangkanmu?" tanya Kania sekali lagi masih dengan tertunduk.
Gilang hanya diam. Mulutnya terkunci, namun hatinya meronta. Seakan sedang menghakiminya. Logikanya berkata tidak. Hatinya berteriak kencang. Menyebut nama gadis di hadapanya.
Sisa malam itu hanya mereka habiskan dengan fikiranya masing-masing. Hening. ditemani gelas barista yang berdenting.
Gilang hanya diam. Mulutnya terkunci, namun hatinya meronta. Seakan sedang menghakiminya. Logikanya berkata tidak. Hatinya berteriak kencang. Menyebut nama gadis di hadapanya.
Sisa malam itu hanya mereka habiskan dengan fikiranya masing-masing. Hening. ditemani gelas barista yang berdenting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar