27 Jun 2017

Nasehat Penting

Sabtu malam, saat terbaik dalam minggu-minggu seorang anak rantau. Saat dimana menyiapkan beberapa tas untuk di isi baju kotor dan beberapa tugas sekolah yang dibawa pulang untuk diselesaikan sebelum hari Senin.

Semua yang aku butuhkan di rumah sudah siap. Kebetulan hari ini bulan puasa dan masih dalam minggu-minggu ujian kenaikan kelas. Dan, inilah bawaanku, satu tas besar baju kotor, beberapa buku dan materi di tas sekolahku untuk aku pelajari di rumah.

Jadi, saking sibuknya aku menyiapkan rangkuman-rangkuman materi, aku tidak sempat mencuci gundukan baju kotor di lemari. Kalau mau laundry bisa sih, tapi sayang uangnya. Sekali laundry bisa buat makan sehari. Well, aku harus berhemat. Aku sudah sangat boros minggu ini untuk fotocopy kisi-kisi soal. Ditambah bulan ini, banyak sekali godaan untuk beli ini itu. Dari yang memang sangat aku butuhkan, sampai yang pengen aja karna lagi up-to-date. Godaan yang sangat berat.

Sabtu ini aku di jemput ibu dan kakak laki-lakiku (aku memanggilnya mas) jam tiga sore, karna mau mampir beli baju buat lebaran di mall terkenal di Kediri itu. Bapaku gak ikut, karna gak terlalu suka masuk mall. Beliau selalu gitu, gak terlalu suka suasana mall yang ramai katanya.

Setengah tiga aku sudah buru-buru mandi, sholat asar, bersiap-siap. Dan tepat jam 3 selesai. Saat aku whatsapps ibu dimana, baru mau jalan katanya. Dan saat itu aku sadar, sifat ngaretku menurun dari ibuku, rada kesel sih.

Sambil menunggu dan membunuh rasa kesalku, aku memainkan ponsel. Mengecek satu persatu sosial mediaku, dan menonton beberapa instagram story followingku.

Menurutku, menurutku aja nih ya 10% instagram story playing lagu yang mereka dengerin pake video dengan background hitam atau tembok, 10% repost sesuatu yang bermanfaat atau bisa juga menyindir, 20% promosi atau jualan dan sisanya untuk ajang pamer. Ya gak sih? kebanyakan orang snapgram kehidupan mereka yang mereka pikir yang paling asik sedunia. Dapet barang baru, snapgram. Di tempat gaul, snapgram, check in location. Aku akui, aku termasuk sih kadang-kadang.

Tapi, saat aku di posisi sedang di tengah-tengah ukk, banyak fikiran dan di suguhi hal-hal menyenangkan itu malah membuatku iri sebagai viewer. Dan itu semua malah membuatku makin kesel. Mungkin karna hormonku sedang gak karuan saat itu.

Jadi, aku putuskan untuk rebahan saja dan berfikir hal-hal positif lain. Misalnya, habis ini aku dapat baju baru, habis ini aku pulang ke rumah dan buka dengan masakan ibuku yang enak, ukk ku tinggal 2 mapel setelah itu aku bukber dengan teman-teman lamaku. Aku punya banyak hal bagus yang akan datang beberapa hari kedepan. Dan itu membuat mood ku sedikit membaik. Tak lama ponselku berdering, dan ibuku bilang dari sebrang sambungan "Ayo nduk, wes nde depan."

Sekitar pukul empat sore kita sampai di mall. Masku yang baru belajar menyetir mobil sempat membuat ibuku khawatir tidak bisa parkir dengan benar. Dan masku selalu bilang "Santai ae to buk, iso iso" untuk menenangkan ibuku.

Sekitar satu setengah jam kita mengelilingi mall, aku sih lebih tepatnya yang muter kesana sini. Sedangkan masku sudah gak tau kemana. Ibuku juga pergi melihat-lihat sendiri. Aku, juga sibuk memilih-milih baju yang keren. Setidaknya tidak jauh beda dengan baju-baju selebgram yang sengaja aku screenshot untuk aku jadikan patokan mencari baju model apa. Jadi gak kalap mata nanti.

Setelah dapat dengan ukuran dan harga yang pas aku mencari ibuku dan masku. Di mall yang cukup luas untuk ukuran anak 17 tahun, ternyata bisa menyesatkan. Aku sudah macam anak hilang, celingukan kesana-sini. Ternyata, ibu dan mas sudah di kasir aja. Yaudah sekalian bayar.

Habis itu kami langsung pulang, sekalian cari makanan buka di jalan. Ibu lagi pengen makan bakso. Mampirlah kita ke warung bakso langganan di sekitar daerah katang. Dan sholat maghrib juga di masjid sebrangnya.

Dalam perjalanan pulang, aku menceritakan kejadian-kejadian yang aku alami selama seminggu di kos dan sekolah, aku ngapain aja. Seperti sudah kebiasaan, kalau di mobil itu yang aku selalu aku ceritakan. Mulai dari kesulitanku di sekolah pas ujian, senangnya aku belajar bareng temen-temen satu kosan, sampai masalah-masalah yang mengganggu fikiranku. Ibuku tau semua.




Aku cerita tentang orang-orang di snapgram itu yang membuatku bt. Ibuku mendengakan dengan baik, aku sedang tidak mengajak ngorol masku. Tapi dia nyahut, dan kalimatnya langsung membuatku deg. Apa ya, masku itu jarang ngomong. Tapi sekalinya ngomong, ngena, kayak 'bener juga yang diomongin' gitu. Katanya "Ya jangan kesel dek samean iki, lak orang itu seneng ya ikut seneng. Mungkin maksute gak pamer, cuman mau berbagi kesenangan. Kan orange seneng dapet ini itu, bisa gini gitu. Kalo samean malah kesel liat orang seneng, namane samean iri."  Dengan nada menasihati seorang kakak.



Dan aku langsung nyaut, "enggak sopo sing iri. Kan ngono kuwi pamer namane."

"Teko endi samean ngerti? kuwi malah tambah suudzon"

"Enggak, aku gk suudzon. Samean wi sudzon mbe aku" kataku dengan nada kesal.

"Kok kesel, berarti iyo. Kan sosial media ancen tempat untuk berbagi. Lak gak seneng, gak usah internetan"

Ibuku yang mendengarkan pedebatan kami menimpali dengan kalimat penutup yang membuatku diam.

"Lak ada temene seneng, ya ikut seneng. Jangan marah. Kalo samean iri, inget ae samean wes entuk opo dino iki. Di syukuri, alhamdulillah"

Selanjutnya, kalimat-kalimat itu terus terngiang di otaku sampai besok, besoknya lagi dan besok besoknya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...