Di luar sedang gerimis. Jalanan basah oleh air. Indera penciumanku di suguhkan aroma pethricore sore hari. Aku menikmatinya dengan secangkir caramel mocchiato hangat dan alunan lagu Aprilnya Fiersa Besari dari sound cafe. Ponselku bergetar lagi. Dan aku mengabaikanya lagi. Entah sudah keberapa kali. Aku sedang muak dengan orang yang namanya tertera di ponselku. Bosan dengan ceritanya yang itu itu saja. Tentang dia, dia dan dia. Tidak pernah kah dia terbesit sedikit tentang aku? Menanyakan hariku bagaimana misalnya.
Aku jadi mempertanyakan sesuatu. Bagaimana dulu aku bisa jatuh cinta padanya?
Waktu memang penjahat. Merubah segala benci jadi cinta begitu sebaliknya, seiring berjalanya waktu. Jahat bukan?
Sekarang aku dalam situasi rumit. Ingin menyudahi tapi rasanya begitu berat. Seolah ada sebagian dariku yang masih di bawa olehnya, separuh diriku sudah aku serahkan padanya sejak pertama kali kita berkenalan. Ya, cinta. Bodohnya aku ini. Bukanya terlalu awal untuk bicara soal ini? Aku baru 17 tahun.
“Woy..!” Suara bariton dan satu hentakan kaki ke lantai berhasil membuyarkan lamunan dan fikiranku yang melayang-layang.
“Ngelamun aja lu” ledek Bhakti dengan wajah cengengesan.
“Berisik lo, orang lagi pusing”
“Gaya pusing, kayak punya masalah aja”
“Emang, banyak banget”
Bhakti ini temanku dari sd. Kita tetanggaan. Dan dia selalu ada buatku disaat aku butuh barengan ke sekolah, nganterin cari novel, temen ngopi di cafe sampai temen nonton drama korea.
“Jaman sekarang gak jaman banyak masalah. Jamanya tuh banyak followers” katanya setelah melepas jaket dan mengambil kursi duduk berhadapan denganku.
“Jayus lu. Pesen kopi gak?” tawarku.
“Boleh deh, ngantuk banget gue”
Waiter berjalan mengahampiri kami dan mencatat pesanan. Aku kembali melamun.
“Kenapa lagi si toge?” Bhakti bertanya setelah waiter pergi.
“Namanya Ryan bhak” kataku seperti biasa saat Bhakti mulai memanggil pacarku begitu.
“Emang dia itu toge dari kecil. Oke oke Ryan”
Aku hanya menggeleng sambil mengaduk-aduk minumanku. Tanpa aku beritahu, Bhakti pasti sudah tau sendiri masalah apa yang aku hadapi dan bagaimana perasaanku sekarang.
Di situasi seperti ini memang Bhakti yang selalu aku ajak pusing. Sorry ya. Cuma dia yang terbesit dalam fikiranku untuk aku telfon dan menyuruhnya datang hanya untuk kuajak mengobrol. Hanya begitu saja, aku sudah jauh lebih baik dan melupakan Ryan sesaat.
“Pril April, andai lo ini cowok”
“Kenapa emang kalo gue cowok?”
“Lo bisa gue ajak futsal sekarang dan gue jamin gak bakal kepikiran lagi sama cowok lu”
“Iya lah, kalo gue cowok gue mikirinya cewek gue haha” kataku sambil tertawa.
“Gue gak ada cewek buat dipikirin nih kalo lagi futsal. Mikirin lo boleh gak?” Bhakti memelas.
“Gak. Karna gue sekarang cowok.”
“Yaudah, kalo gitu lo jadi cowok gue mau ya?” seketika aku melemparinya dengan tisu tisu di sekitarku bekas kupakai.
“Hiii apaan sih lo Bhakti. Homo”
“Priilll jorok banget si, tisu di lempar-lempar.” Dan aku tertawa melihat wajah jengkelnya.
Obrolan tidak jelas kami berlanjut hingga sore menjemput petang, dan petang berganti malam. Jingga di balik gedung-gedung tinggi sudah hilang. Berganti gelap dan dihiasi cahaya lampu-lampu jalanan. Makin malam bukanya makin sepi, jalanan malah makin ramai. Oleh para pekerja lembur yang ingin segera pulang dan menyapa keluarga mereka.
“Balik yuk pril. Gue anter” tawar Bhakti dan aku mengiyakan.
Dan sekarang di sinilah aku. Di atas motor berteman angin malam dan obrolan dengan Bhakti yang masih berlanjut diantara deru suara kendaraan dan kemacetan.
Bhakti Angkasa Raya
Acara futsal bareng temen sekelas gue langsung gue batalin dan meluncur ke cafe setelah menerima telfon dari dia. Siapa lagi dia kalo bukan Atiera April Shaqilla. Sahabat gue dari kecil. Yang diam-diam gue kagumi.
Dia yang selalu gue nomor enamkan setelah pancasila. Gue orangnya cinta tanah air bro. Pancasila tetep 1-5 dulu baru gebetan. Gue berusaha buat selalu ada buat April kapanpun dia butuh gue. Bahkan tanpa dia minta gue akan selalu siap sedia untuk dia ajak ngobrol dan becandaain.
Karna gue tau, seorang April yang gue kagumi pasti bisa melewati apapun dalam hidupnya. Dia sosok yang pantang menyerah dan tangguh, karna itu gue kagum.
Dia hanya butuh teman mengobrol untuk sekedar melupakan sejenak apa yang mengganggu fikiranya. Supaya dia bisa mengambil keputusan terbaik untuk masalahnya. Dan itu adalah tugas gue. Meski kadang dia cuman bales candaan gue dengan senyum tipis tapi itu tandanya gue udah berhasil bikin dia ke mood yang baik.
April tidak butuh masukan. Dia malah marah kalo gue mencoba memberi saran. Katanya “Gue mau lupain masalah gue bhakti, jangan malah diomongin. Males gue.” Dan aku tidak pernah menyinggung apapun sebelum dia sendiri yang bercerita. Gue percaya, semua keputusan yang dia ambil adalah yang terbaik untuk dia. Itu juga yang gue harapkan.
Masalah yang saat ini tengah April hadapi sebenernya sepele. Tapi yaa begitulah perempuan. Lebih suka bermain perasaan. Sudah tau apapun yang melibatkan perasaan tidak akan berjalan biasa saja. Dasar.
April sudah terlanjur jatuh cinta pada Ryan sejak pertama kali mereka bertemu setahun lalu. Tepatnya di acara ulang tahun April. Gue yang mengajak Ryan kesana. Gue yang minta di temenin karna gue lagi deg-degan banget karna mau nembak April dan gak ada yang tau. Ryan adalah sepupu gue. Dia gak tau gue suka April. Dan dia jatuh cinta sejak pertama ketemu April. Dan gue, membiarkan mereka saling jatuh bersama.
Jangan dikira gue gak marah sama Ryan. Gue pernah sempet kesel sama Ryan. Gue marah-marah gak jelas ke dia. Tapi setelah tau April juga suka dengan Ryan, gue merasa gue gak berhak apapun atas dua manusia yang sedang jatuh cinta ini. Gue yang harusnya mundur, karna di dalam skenario gue, hanya gue yang mencintai. Itu tidak layak untuk diperjuangkan lebih.
Selama setahun terakhir gue selalu dibuat cemburu oleh dua orang yang saling mencintai ini. Gue yang harusnya ada di posisi Ryan. Gue yang harusnya April cari saat butuh sandaran. Gue yang harusnya nembak April saat dia ulang tahun bukan Ryan yang malah jatuh cinta dengan April.
Ah sudahlah, semua juga sudah terjadi. Apa gunanya menyesali.
Setidaknya saat April sedang butuh teman mengobrol, gue berusaha selalu ada buat dia. SELALU.
Dan sekarang, April benar-benar butuh orang yang mau meminjamkan telinga untuk mendengar keluh kesahnya dan ada disaat dia ajak mengobrol sambil minum kopi. Gue gak mau dia kecewa.
Sampai di Cafe, gue mencoba mengembalikan moodnya. Gue sangat berusaha membuatnya minimal senyum lagi. Tapi ternyata dia menanggapinya dengan tertawa. Syukur Alhamdulillah. Gue masih ada gunanya.
Kita mengobrol banyak hal gak penting. Yang penting membuat April senang dan melupakan sebentar masalahnya dengan si toge. Sampai akhrinya gue mengantarnya pulang sebelum cafe ini tutup dan kita di usir. Udah bikin rame ketawa mulu, mana gak pulang-pulang. Pasti waiter-waiternya pada gosip di belakang.
Gue hanya bisa membonceng April naik motor. Gak bisa kayak si Toge yang bawa mobil. Tapi kata April dia lebih suka naik motor, katanya lebih seru. Dan aku bersuyukur orangtuaku membelikanku motor bukan mobil.
Kita kembali mengobrol sepanjang jalan pulang. April sepertinya sudah benar-benar lupa dengan masalah si toge. Gue ikut seneng. Semoga keputusan yang lo ambil setelah ini bener-bener keputusan yang gak pernah lo sesali dan yang terbaik buat lo pril.
Gue salalu berdo’a yang terbaik buat lo pril.
***
Lanjut ke part 2 yaaa. Disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar