***
7 Juli 2017, 22:15
Hari ini banyak banget pasien yang harus aku chek sebelum pulang ke rumah. Aku masih berstatus dokter sementara sih di rumah sakit ini. Tapi udah banyak banget kerjaan yang aku lakukan. Nikmati saja prosesnya April, usaha tidak pernah menghianati hasil.
Sudah hampir jam sebelas malam. Aku segera merapikan berkas-berkas di mejaku dan menyambar tas tanganku beserta kunci mobil di atas meja. Aku ingin segera pulang, berendam air hangat dan memanjakan tubuhku.
Di perjalanan pulang menuju apartemen aku selalu melewati sekolah SMA ku dulu juga SMP ku dimana disana banyak kenangan. Tentang aku dan seseorang yang sampai sekarang selalu aku rindukan. Tiap pulang dari rumah sakit juga aku mampir ke cafe langgananku sejak SMA untuk membeli kopi favoritku dan aku minum di rumah sambil mengerjakan tugas lembur. Dipikir-pikir, sudah lama kami tidak mengobrol minum kopi. Kira-kira 5 tahun yang lalu. Pasti sudah taulah siapa yang sedang aku rindukan, yaa sahabatku Bhakti.
Aku menyelesaikan kuliahku di Jogja selama 6 tahun, lalu kembali ke kota kelahiranku untuk mencari kerja. Alhamdulillah aku diterima sebagai dokter sementara di rumah sakit umum ternama. Dan saat aku kembali kita hilang kontak. Aku sibuk mengerjakan tugas kuliahku sebagai anak kedokteran yang membuatku ansos dan jarang pulang demi hasil terbaik. Di tambah ternyata Bhakti dan keluarganya pindah ke Bandung 5 tahun lalu, karna ayah Bhakti dipindahkan tugas disana. Beberapa hari setelah itu aku mengalami musibah kecopetan di stasiun saat tiba di jogja tas yang berisi dompet, hp dan barang berharga lainya hilang. Aku tidak bisa menghubungi siapapun. Hanya telfon rumah yang aku ingat, sehingga kedua orangtuaku bisa menolong. Karna ponselku hilang, yaa aku kehilangan semua kontak Bhakti. Kita tidak saling menghubungi selama 5 tahun terakhir. Padahal sebelum itu kami masih sering ngopi bareng walaupun cuma saat libur kuliah. Lo tau gak Bhakti, gue kangen banget sama lo.
Ya aku sedang merindukan Bhakti. Segala hal tentang dia, guyonan dia yang kadang garing, di bonceng dia naik motor kemana yang aku mau, makan siomay bareng, ngopi, cerita ini itu sampe cafe tutup, perhatian dia ke aku yang melebihi seorang sahabat. Aku sama halnya dengan Bhakti, aku punya perasaan yang sama dengan Bhakti. Aku juga menyayanginya lebih dari sahabat. Aku tau aku terlambat menyadarinya. Di saat seperti ini lah, disaat tidak bersama Bhaktilah aku merasa aku punya perasaan itu. Perasaan dimana aku ingin bersama dia kapanpun. Perasaan aku kehilangan dia saat aku gak sama dia. Itukan yang dinamakan cinta? Bhakti, gue harap ini bukan waktu yang terlambat untuk aku gue itu.
Setelah membeli kopi, aku langsung menuju apartemen. Aku sudah tidak tinggal serumah dengan kedua orangtuaku. Setelah aku punya penghasilan sendiri, aku berusaha untuk hidup mandiri. Walaupun masih sederhana. Dengan tidak tinggal di rumah orang tuaku lagi contohnya. Walaupun baru 2 minggu juga sih disini.
Sebenarnya aku agak kurang nyaman dengan apartemenku ini. Karna air di apartemenku kadang tiba-tiba gak mau keluar. Aku sudah pernah complaint, dan aku pernah mengancam kalau tidak segera di betulkan aku ingin bertemu langsung dengan manejernya. Gak tau ya, kayak udah kesel banget. Berkali-kali air mati pas lagi di butuhin.
Kayak sekarang ini nih. Udah badan capek habis kerja, di jalan macet dan udah bayangin bakal langsung berendem di air anget. Ternyata airnya gak mau keluar. Kan kesel gua.
Dengan emosi yang menggebu-gebu aku turun menuju lobby menggunakan lift. Seorang laki-laki di lift bertanya padaku “kenapa mbak? Kok keliatanya kesel.” Pertanyaan yang membuatku rasanya ingin sekali menyemprot mulutnya pake air panas. Tapi aku tau itu bukan hal yang baik, jadi aku urungkan dan aku jawab dengan jutek “emang saya keliatan bahagia apa?” jawabku tanpa melihat wajahnya karna pintu lift sudah terbuka dan aku ingin cepat cepat complaint.
“Mbak, saya mau complaint lagi. Kenapa kamar saya airnya mati terus?” cerocosku tanpa permisi.
“Maaf bu, kamarnya nomor berapa?”
“409. Mbak, pokoknya saya gak mau tau, saya mau ketemu manejernya sekarang. Kamar saya udah berkali-kali ya kayak gini.” Ucapku sambil marah-marah. Bodoamat diliatin orang-orang. Gue cuma mau mandi dengan tenang.
“Maaf bu, tapi manejer kami hari ini sedang tidak bisa ditemui. Biar kami panggilkan petugas kami untuk memeriksa air di kamar ibu”
“Kenapa? Kalo mbak gak mau manggil manejernya, biar saya yang keruanganya. Dimana ruangan manejernya” kataku lebih tenang sedikit karna trrnyata makin banyak yang melihatiku, tapi tetap dengan nada memaksa. Tapi mbak-mbak yang sedang aku ajak bicara ini pandanganya bukanya ke arahku malah ke belakangku. Gak sopan banget.
“Mbak mana” bentaku membuatnya terkejut.
“I.. Iya bu. Saya panggilkan manejer kami. Sebentar ya bu, ibu bisa menunggu di sana sebentar” ucap mbak resepsionis itu gelagapan. Aku menatap tajam ke arahnya dengan isyarat ‘awas lu bohong’.
Aku menunggu dengan sabar si manejer itu, aku ingin complaint karna apartemen ini kurang bisa mengatur saluran airnya. Tidak lama dari arah belakangku datang suara khas laki-laki dewasa yang berkata “Oh mbak yang tadi keliatan kesel di lift yang mau ketemu saya” katanya.
Aku segera berdiri dan berbalik badan mendengar suara itu. Emosiku seakan menguap seperti asap diudara karna kau tau apa yang aku dapati? Seseorang berpakaian kaos putih dan celana jeans panjang dengan perawakan yang masih sama sejak 5 tahun lalu, hanya rahangnya saja yang berbeda, sekarang semakin tegas ditambah kumis yang menandakan dia memang sudah menjadi laki-laki dewasa.
Yaa, dia Bhakti.
“Hai pril, mau ngopi?”
***
“Bandung? Yaa masih sama aja. Lo gak mau tanya kabar gue?” saking gugupnya aku sampai lupa.
“Yadeh, apa kabar lo?”
“Baik, sekarang jauh lebih baik” katanya sambil tersenyum yang membuatku ikut tersenyum.
“Soo. . Lo tadi mau complaint apa ke gue nyonya April?” tanya Bhakti tiba-tiba sok serius.
“Eng. . Ituu” aku bingung harus jawab apa, karna ternyata manejer apartement ini Bhakti sendiri.
“Hahaha. . Jangan gugup gitu dong. Kalo emang air di kamar lo bermasalah. Lo boleh pilih kamar yang lain yang lebih baik” aku tersenyum senang.
“Jadi kenapa lo tiba-tiba hilang? Lo gak mau kontak gue lagi?” tanya Bhakti lagi, sekarang sedikit serius.
Dan gue menceritakan kejadian yang aku tidak bisa mengontaknya. Dan dia terkejut habis itu tertawa.
“Kenapa lo gak search gitu di instagram atau twitter? Sekarang itu udah banyak cara untuk saling terhubung pril”
“Gue gak main begituan bhak” dan dia malah makin ketawa kenceng.
“Dasar si kutu buku April. Lo tuh jangan ansos banget, nanti deh gue ajarin”dan setelah itu kami mengobrol banyak hal sampai kopi kami sama-sama habis dan jam sudah menunjukan jam 1 dini hari.
Dan sebuah percakapan penting malam ini yang sangat gue ingat, Bhakti tiba-tiba bertanya “Pril, gue. . Gue. . Gue masih lo anggap sahabat?” aku menggeleng. Dia bingung.
“Gak, gue gak mau anggap lo sahabat lagi” kataku terus terang.
“Gue punya salah apa?”
“Karna gue udah anggep lo lebih dari sahabat , selama gue gak pernah kontak lo gue bener-bener merasa kehilangan”
“Kayak pas lo acuhin gue pas SMA?”
“Persis, tapi gue kan masih bisa liat lo dari jauh dulu. Sekarang?”
“Jadi lo punya perasaan yang sama kayak gue?” tanya Bhakti menyelidik.
“Mungkin iya” kataku menggoda.
“Yahh kok mungkin” aku tertawa melihatnya kesal.
“Ayolah pril serius gue. Diumur gue yang sekarang sih gue udah gak mau main main lagi” Bhakti terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam kaosnya. Yaitu kalung dengan liontin sebuah cincin disana.
“Bhakti lo serius?” tanyaku refleks karna mengerti kemana arah pembicaraan ini.
“Cincin ini udah gue beli saat kuliah. Gak tau kenapa saat liat cincin ini, gue kayak liat lo. Gue nabung buat belinya, emang murah sih. Cuma buat syarat aja gak papa ya, nanti gue beliin yang lebih bagus”
“Bhakti, gue. . Kenapa lo beli cincin ini disaat gue belum tentu ketemu lo lagi”
“Karna gue yakin lo pasti balik” tiba-tiba matakku terasa panas dan berair.
“Gue gak mau buang-buang waktu lebih lama lagi. Gue udah cukup gila kehilangan lo pril. Gue gak mau itu terjadi lagi. Jadi disaat gue dan lo udah punya perasaan yang sama, gue juga gak mau kehilangan kesempatan ini” Aku mencengkram celanaku erat. Dadaku terasa sesak, aku menangis bahagia. Sekarang aku tau, aku belum terlambat merasakan perasaan ini.
Bhakti melanjutkan kata-katanya “Altiera April Shaqilla, maukah kamu menghabiskan sisa hidup denganku Bhakti Angkasa Raya?”
Masih menghapus sisa air mataku aku tersenyum dan kalimat yang aku ucapkan adalah “jijik banget sih lo Bhakti” aku tau itu bukan kalimat romantis, tapi itu termasuk ungkapan bahagiaku.
“Jadi mau gak nih?” tanya Bhakti sekali lagi.
“Mauuu” kataku girang dan melompat ke pelukanya. Pelukanya tetap sama, hangat.
Gue sayang sama lo Bhak.
Bhakti Angkasa Raya (26 tahun)
Gue sayang banget sama lo pril.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar