Saat aku menulis ini, aku sedang kekenyangan oseng buncis kentang buatan ibuk. Senang rasanya dapat menyantap kembali masakan rumah. Setelah satu bulan lebih bergulat dengan kuliah, tugas dan proker yang menyenangkan. Menjadi menyenangkan karena aku jadi sibuk, hehe. Setidaknya walaupun jarang olah raga, tubuhku masih sering bergerak. Setelah uts pertengahan Maret kemarin, aku mendapat amanah menjadi panitia di sebuah acara internal organisasiku. Pada rapat pertama aku berhalangan hadir, karena sedang di Jogja, ceritanya bisa kamu baca disini. Seminggu setelahnya, diadakan rapat lagi, dan kenangan setelahnya yang akan aku ceritakan. Membekas di ingatan. Bahkan setiap detik hari itu rasanya melekat di memori otakku. Heran.
15 Maret 2019
Di luar mendung menggantung, aku tengah bersiap untuk rapat kepanitiaan. Tapi sepeda motorku sedang dibawa Fadhil -teman sau kosku-. Aku mengirim pesan kepadanya, untuk menanyakan sudah sampai mana. Aku bukan pengguna ojol, karena aku ada kendaraan sendiri. Jadi aku tidak punya aplikasi ojol di handphone. Fadhil menjemputku di kosan, dan mengantarku ke tempat rapat. Sedangkan motorku dia bawa lagi, karna dia ada keperluan lain sampai aku selesai rapat kira-kira. Aku minta jemput saja kalo rapatku sudah selesai.
Ini kepanitiaan pertamaku, saat first gath aku tidak hadir, jadi aku belum kenal kecuali satu anak yang pernah satu kelompok denganku saat diklat. Setelah rapat selesai aku minta Fadhil untuk menjemputku, tapi katanya urusannya belum selesai. Masih ada beberapa orang sebenarnya, tapi aku belum cukup kenal saat itu, jadi malu kalau mau minta nebeng. Akhirnya aku minta tolong Fadhil untuk memesankan ojol dari handphonenya. Saat itu aku hanya mengandalkan wifi kafe, karena paketanku habis. Fadhil bilang ojolnya sudah otw. Aku pamit ke temen-temen yang lain dan turun kebawah untuk menunggu ojol dibawah saja. Rasanya canggung banget, aku gak tau mau ngobrol apa kalo lama-lama.
Sampai bawah belum kelihatan juga ojolnya. Aku menelfon Fadhil biar ada teman ngobrol. Tiba-tiba gerimis turun, ojolku belum juga kelihatan. Kata Fadhil motor mio plat AG, sampai akhirnya koneksi terputus. Gara-gara tempatku berdiri lumayan jauh dari kafe. Tak lama kemudian motor mio berplat AG berhenti di sebrang jalan. Pengendaranya memakai jaket hitam hijau khas ojek online. Laki-laki bertubuh tinggi besar dan brewokan tipis. Ia turun dan menghampiriku di sebrang.
Suaranya bercampur diantara gerimis bertanya padaku "Atas nama mbak Fadhilah ya mbak?"
Aku jawab "iyaaa".
"Sini mbak berteduh dulu" katanya sambil memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Menyebrang dan berteduh di teras sebuah pos kampling.
Aku sedikit bingung, kenapa malah berteduh, bukannya langsung naik motor aja trus langsung jalan. Tapi mas ojol ini malah minta maaf padaku dan terlihat mengutak-atik handphonenya. Lalu ia cerita "maaf banget ya mbak, ini hari pertama saya ngojek dan mbak penumpang pertama saya. Saya masih bingung cara ngoprasikan aplikasinya, kalo mau jalan harus gimana yaaa" spontan aku yang mendengar ceritanya mengucapkan selamat, mas ojol bingung.
"Kok selamat mbak?" tanyanya.
"Selamat mas dapat pekerjaan baru"
"Haha, makasih mbak. Tapi ini saya belum bisa ngoprasikan aplikasinya, belum bisa jalan mbak. Kaya error gitu. Mbak tau gak gimana caranya"
"Aduh saya juga gak ngerti mas"
"Duhh, saya aja ga ngerti apalagi mbaknya yaa" aku ketawa aja melihat ekspresi paniknya.
"Tapi ini alamatnya bener bunga kumis kucing ya mbak?" tanyanya lagi, aku mengiyakan.
"Bentar ya mbak, saya coba lagi. Mbaknya gak buru-buru kan?" tanya mas ojol lagi terdengar sungkan. Aku jawab "Nggak kok mas, santuyy" padahal sebenarnya sudah ditunggu temanku yang lain untuk aku tebengin pulang ke Kediri. Tapi daripada mas ojol makin panik, dibikin kalem aja.
Tiba-tiba aku disodorkan layar handphonenya, memperlihatkan gps yang stuck. Mas ojol nunjukin sambil bertanya lagi, apa aku bisa bantu. Aku gak ngerti maksudnya gimana dan harus diapain. Lalu aku tiba-tiba hopeless. Kalo aplikasinya gak jalan dan mas ojolnya gak mau nganter aku, masa aku harus naik ke atas cafe lagi dan nanya tebengan, kan maluu, kan udah pamit bilangnya udah dijemput dibawah masa naik lagi.
Tapi beruntungnya aku gak harus naik lagi, mas ojol ini tetap berbaik hati mengantarku sampai kosan.
"Ya udah, jalan aja dulu ya mbak. Nanti aja saya benerin" aku langsung mengucap syukur dalam hati.
Motor berjalan beberapa meter dari tempat aku berdiri dan aku memberanikan diri membuka percakapan karena rasa ingin tahuku yang tinggi. Siapa tau kita satu kota.
"Mas, plat nya AG berarti bukan orang malang ya?" tanyaku.
"Bukan mbak, saya asli Blitar" ada sedikit kecewa, ternyata gak sekota. Tapi gak tau kenapa kecewa wkwk, aneh.
"Ohh, saya kira Kediri"
"Kediri AG juga mbak, Blitar, Tulungagung AG juga. Mbaknya orang Kediri?"
"Iyaaa"
"Wah tetanggaan kita. Dapet penumpang pertama, tetangga kota lagi"
"Hehe iyaa"
"Maaf banget tapi ya mbak, tadi agak lama. Ya soalnya itu tadi, saya bingung kok tiba-tiba error gitu aplikasinya" aku jadi agak sungkan mas ojolnya minta maaf terus.
"Gapapa mas, saya bangga jadi penumpang pertama" jawabku berharap menghilangkan sedikit perasaan bersalahnya mas ojol. Mas ojolnya ketawa kenceng banget.
"Mbak Fadhilah kuliahnya dimana?" ternyata dari tadi masih menganggapku Fadhilah.
"Sebenernya Fadhilah itu temen saya mas, saya tadi minta dipesenin. Saya kuliah di UB"
"Oalahh, lha mbaknya namanya siapa?"
"Putri"
"Di UB fakultas?"
"FIA, bisnis"
"Wahh keren, semester berapa?"
"Baru dua, saya maba hehe"
"Oalahh masih maba. Saya UB juga mbak, tapi udah semester tua hehe"
"Oh yaa? Fakultas apa mas? angkatan tahun berapa?"
"Yahh, ketauan tuanya nanti saya. FISIP mbak."
"Oh fisip, jurusan?"
"Ilmu politik" dalam hati aku mengagumi diam-diam. Lalu, hening.
Tiba-tiba ia menyimpulkan obrolan kita "Putri FIA 2018" aku bingung mau ngomong apa, cuma bisa diam.
Kita mengobrol sebenarnya banyak 'ha?' 'apa?' tapi tidak aku masukkan. Tau kan, bisingnya suara motor kadang menenggelamkan obrolan seru. Setelah belokan sardo, mas ojol bersuara lagi, "mumpung semester tua, saya nyambi ngojek mbak. Coba-coba aja. Buat nambahin uang saku. Padahal saya baru tadi siang loh mbak daftarnya, trus langsung disuruh narik. Seneng sih, tapi bingung juga."
"bagus dong mas, ojol kayaknya emang peluang yang bagus buat ngisi waktu luang"
"hahaha, iya. kalo mbak putri di FIA belajarnya apa aja?"
"belajarnya banyak tapi santai, kalo semester satu dua masih ngulang pelajaran SMA gitu. Semester depan mulai kayak manajemen, akuntansi yang lebih ribet, semester ini ada matkul yang menarik mas, kreativitas dan inovasi"
"Oh ya, belajar apa tuh mbak?"
"Disuruh mikir gila pokoknya, kayak dikasih kasus gitu. Kemarin dosen saya nyuruh mikir bikin bisnis di mars, kan gila"
"hahahaaa seru juga"
"masnya semester akhir, lagi skripsian dong sekarang?" tanyaku mengganti topik. Motor berhenti di lampu merah pertigaan dinoyo, hujan sudah tidak lagi turun. Entah kenapa obrolan ini mengalir. Sejujurnya aku bukan tipe orang yang mudah membuka topik obrolan dengan orang yang baru pertama kali aku kenal. Benar-benar pertama kali, belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi kali ini beda.
"Iya mbak, alhamdulillah. Saya kemarin agak bermasalah di magang. Jadi ngaret lulusnya."
"Oh gituu, semangat mas." aku cuma bisa menanggapi sekenanya.
"hehe makasih mbak" Lampu berganti hijau, motor melaju ke jalan mt haryono.
"Kalo ipol, katanya lulus pasti langsung terjun ke parpol mas, bener gak?" tanyaku lagi.
"Sebenernya mbak, lulusan ipol itu malah jarang yang terjun langsung ke politik. Kita sebagai dalang aja dibelakang"
"maksudnya?"
"Yaa, kita sebagai konsultan politik gitu. Kalo yang terjun langsung itu wayangnya aja, kita berperan dibelakang. Gak banyak orang tau. Pandangan orang awam pasti gitu, kayak mbak putri tadi. Padahal kenyataannya engga mbak" aku mangut-mangut baru tau fakta baru.
"Trus kemarin magangnya dimana mas?"
"Kemarin saya di perusahaan asuransi gitu, tapi kesalahan saya mbak gak kroscek lagi perusahaannya kayak gimana. Ehhh, pas saya magang perusahaan itu kena kasus korupsi. Yaaa saya cabut"
"Emang magang gitu dipilihin apa milih sendiri?"
"Tergantung fakultasnya sih mbak, kalo saya kemarin dipilihin. Trus gara-gara kena kasus korupsi itu ngurus pindahnya yang lama, akhirnya skripsi ikut ngaret."
Motor terus melaju di jalanan mt haryono yang basah bekas hujan. Sesekali tetesan air jatuh dari ranting dan daun diatas kita saat melewatinya. Sore itu kendaraan sedang ramai-ramainya, karena jam pulang kerja. Motor mio mas ojol jalan tidak terlalu kencang juga tidak terlalu pelan, pas. Setelah melewati jembatan suhat obrolan berlanjut.
"Kalo boleh tau, tadi acara apa mbak di kafe?" tanya mas ojol.
"rapat kepanitiaan mas"
"ohh ikut organisasi apa emang?"
"ukm sih mas, mw. mau ada event internal"
"wahhh, bagus loh itu. peminatnya selalu banyak. cocok yaa sama kuliahnya, bisnis juga."
"hehe iyaaa."
"dulu milih fia kenapa?" motor melewati putar balik yang pertama, jadi sedikit lebih jauh. Tapi aku gak masalah, obrolannya menyenangkan.
"soalnya orang tua saya ada bisnis gitu di rumah, saya jadi tertarik bisnis juga"
"saya dulu juga hampir ambil fia, hampir tapi"
"oh yaa, publik pasti"
"iyaaa, pilihan pertama saya fia, kedua ipol. lhakok rejekinya di pilihan kedua, alhamdulillah aja"
"alhamdulillah juga"
"hehe, sebenernya mbak, saya dulu pengennya jadi tentara"
"cocok dong, mas badannya tinggi"
"tapi belum rejeki. jadi saya lulus 2014, trus nyoba tes tentara gagal. Kan bisa gratis itu mbak, soalnya kedinasan. Orangtua saya bukan orang berada, sederhana banget. Jadi saya pengenlah bantu ngeringanin dengan sekolah gratis. Tapi yaa belum rejeki." mas ojol bercerita penuh antusias, akupun ikut antusias mendengarnya.
"Nah, baru 2015 saya nyoba masuk ptn. Lhakok rejekinya malah disini, di UB.Ya udah, jalanin aja." lanjutnya.
"Rejekinya di Malang mas hehe"
"Iyaa, ini puter balik sisni ya mbak" katanya, saat sampai di putar balik depan griya santa.
"Iyaa"
"trus ini lurus apa belok?"
"Belok bisa sih mas, belok aja" kataku dan motor melaju berbelok ke arah jalan bunga coklat. Sebenarnya akan lebih jauh lewat sini. Tapi aku tak masalah.
Gerimis turun lagi, tapi tidak deras. Jalanan macet. Motor berjalan lambat, sesekali berhenti menunggu giliran maju. Udara menjadi sejuk sekaligus dingin. Aku menyilangkan tangan, mengembunyikannya dibalik jaket. Setelahnya tidak banyak obrolan kami. Hanya mengomentari pengendara lain. Sedikit julid memang.
Setelah melewati jalan dewandaru, motor berbelok ke jalan bunga kumis kucing. Hampir sampai kosku. Aku mengeluarkan dompet, dan menyadari aku hanya membawa selembar dua puluh ribu. Sedangkan aku harus membayar sebelas ribu. Sedikit khawatir mas ojol tidak membawa kembalian, mengingat ini hari pertamanya. Takut repot cari tukeran dulu.
Aku memberi intruksi untuk turun di depan gang kosku. Motor menepi dan aku turun.
Mas ojol bertanya, "Berapa ya mbak di aplikasinya mbaknya tadi?"
"Kata temen saya sebelas ribu tadi mas" jawabku sesuai yang dikatakan Fadhil lewat telfon.
Aku memberikan selembar dua puluh ribu, dan benar, masnya gak punya kembalian.
"Waduh, yang pas aja mbak"
"Gak ada mas, buat mas aja deh kembaliannya. Penglaris" kataku.
"Wah jangan mbak, kita sama-sama butuh hidup disini. Mbaknya juga sekolah, saya juga. Ditukerin dulu aja mbak" katanya sambil melepas helm. Setelah diperhatikan, manis juga.
Beruntung di depan kosku ada sebuah toko minimarket kecil, "yudah saya cariin tukeran aja dulu ya mas" kataku berinisiatif.
Tapi mas ojol melarang, katanya "saya aja yang tukerin mbak" setelah menemukan minimarket kecil yang aku pandangi daritadi. "Mbaknya tunggu sini aja" katanya lagi sebelum menyebrang. Aku tersneyum kecil, dan menunggu sesuai perintah.
Tak lama ia kembali, membawa beberapa uang receh dan dua bungkus chocolatos. Ia memberikan kembalianku tidak kurang tidak lebih dan dua bungkus chocolatos itu. Aku mengernyit bingung.
"Ini kembaliannya dan ini hadiah dari saya buat penumpang pertama" aku menerima keduanya dan terkekeh kecil.
"Makasih" kataku.
"Sama-sama..." kalimatnya menggantung seperti sedang mengingat sesuatu, ".. Putri" lanjutnya.
"Mbak Putri, FIA" katanya lagi. Aku senang, dia mencoba mengingatku. Entah kenapa aku tak bisa bilang apa-apa lagi. Cuma bisa melihat dia memakai kembali helmnya yang menutupi rambut ikalnya. Ia kembali naik ke motor dan aku masih diam di tempat.
"Semoga lain waktu ketemu lagi yaaa" katanya lagi, dan aku amini dalam hati. Aku mengangguk mengiyakan.
Dia diam di atas motornya, aku memperhatikannya dan momen canggung terjadi. Sepertinya dia menungguku pergi, sedangkan aku juga menunggunya pergi. Aku kembali ke alam sadarku dan jadi salah tingakah sendiri. "Oh umm, makasih lagi ya mas cocholatosnya. Hati-hati di jalan" kataku dan melangkah pergi masuk gang. Terdengar samar ia juga membalas "hati-hati juga".
Sampai kos, aku baru sadar. Aku tidak tahu namanya. Aku tidak bertanya. Sebodoh itu aku saat itu. Aku mencari handphoneku dan minta Fadhil mengskrinsut riwayat orderannya. Baru mau mengirim pesan ada beberapa pesan dan telfon yang tidak aku balas dari Fadhil. Ternyata dia mengcancel orderan yang pertama, dan mengorder ojol baru untukku. Karena itu aplikasi mas ojol tadi stuck. Mas ojol tidak tahu. Setelah aku menceritakan yang terjadi, Fadhil mengirim riwayat orderannya. Dan sampai sekarang nama iu yang selalu aku sebut dalam setiap doa setelah kedua orangtua dan keluargaku.
Gerimis turun lagi, tapi tidak deras. Jalanan macet. Motor berjalan lambat, sesekali berhenti menunggu giliran maju. Udara menjadi sejuk sekaligus dingin. Aku menyilangkan tangan, mengembunyikannya dibalik jaket. Setelahnya tidak banyak obrolan kami. Hanya mengomentari pengendara lain. Sedikit julid memang.
Setelah melewati jalan dewandaru, motor berbelok ke jalan bunga kumis kucing. Hampir sampai kosku. Aku mengeluarkan dompet, dan menyadari aku hanya membawa selembar dua puluh ribu. Sedangkan aku harus membayar sebelas ribu. Sedikit khawatir mas ojol tidak membawa kembalian, mengingat ini hari pertamanya. Takut repot cari tukeran dulu.
Aku memberi intruksi untuk turun di depan gang kosku. Motor menepi dan aku turun.
Mas ojol bertanya, "Berapa ya mbak di aplikasinya mbaknya tadi?"
"Kata temen saya sebelas ribu tadi mas" jawabku sesuai yang dikatakan Fadhil lewat telfon.
Aku memberikan selembar dua puluh ribu, dan benar, masnya gak punya kembalian.
"Waduh, yang pas aja mbak"
"Gak ada mas, buat mas aja deh kembaliannya. Penglaris" kataku.
"Wah jangan mbak, kita sama-sama butuh hidup disini. Mbaknya juga sekolah, saya juga. Ditukerin dulu aja mbak" katanya sambil melepas helm. Setelah diperhatikan, manis juga.
Beruntung di depan kosku ada sebuah toko minimarket kecil, "yudah saya cariin tukeran aja dulu ya mas" kataku berinisiatif.
Tapi mas ojol melarang, katanya "saya aja yang tukerin mbak" setelah menemukan minimarket kecil yang aku pandangi daritadi. "Mbaknya tunggu sini aja" katanya lagi sebelum menyebrang. Aku tersneyum kecil, dan menunggu sesuai perintah.
Tak lama ia kembali, membawa beberapa uang receh dan dua bungkus chocolatos. Ia memberikan kembalianku tidak kurang tidak lebih dan dua bungkus chocolatos itu. Aku mengernyit bingung.
"Ini kembaliannya dan ini hadiah dari saya buat penumpang pertama" aku menerima keduanya dan terkekeh kecil.
"Makasih" kataku.
"Sama-sama..." kalimatnya menggantung seperti sedang mengingat sesuatu, ".. Putri" lanjutnya.
"Mbak Putri, FIA" katanya lagi. Aku senang, dia mencoba mengingatku. Entah kenapa aku tak bisa bilang apa-apa lagi. Cuma bisa melihat dia memakai kembali helmnya yang menutupi rambut ikalnya. Ia kembali naik ke motor dan aku masih diam di tempat.
"Semoga lain waktu ketemu lagi yaaa" katanya lagi, dan aku amini dalam hati. Aku mengangguk mengiyakan.
Dia diam di atas motornya, aku memperhatikannya dan momen canggung terjadi. Sepertinya dia menungguku pergi, sedangkan aku juga menunggunya pergi. Aku kembali ke alam sadarku dan jadi salah tingakah sendiri. "Oh umm, makasih lagi ya mas cocholatosnya. Hati-hati di jalan" kataku dan melangkah pergi masuk gang. Terdengar samar ia juga membalas "hati-hati juga".
Sampai kos, aku baru sadar. Aku tidak tahu namanya. Aku tidak bertanya. Sebodoh itu aku saat itu. Aku mencari handphoneku dan minta Fadhil mengskrinsut riwayat orderannya. Baru mau mengirim pesan ada beberapa pesan dan telfon yang tidak aku balas dari Fadhil. Ternyata dia mengcancel orderan yang pertama, dan mengorder ojol baru untukku. Karena itu aplikasi mas ojol tadi stuck. Mas ojol tidak tahu. Setelah aku menceritakan yang terjadi, Fadhil mengirim riwayat orderannya. Dan sampai sekarang nama iu yang selalu aku sebut dalam setiap doa setelah kedua orangtua dan keluargaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar