21 Jul 2016

Sesal.

Aku menyesal tidak membuka mulut lebih dulu. Aku menyesal hanya melihatimu hingga jauh. Aku menyesal tidak tersenyum di depanmu.
Di sebuah ujung lorong sekolah yang ramai, fikiranku terasa sepi. Aku terdiam di atas kursi panjang. Aku memikirkanmu.
Kamu nampak sibuk mondar mandir ke ujung sekolah paling belakang kembali lagi kedepan sebaliknya dan seterusnya. Yang aku tau kamu tak pernah suka dengan yang namanya kegiatan sekolah. Yang memaksamu melakukan ini itu. Dan yang katamu juga "alah gak penting". Tapi yang aku lihat sekarang kamu tengah melakukan hal yang kamu benci itu.
Sesekali melewati depan kelasku. Teman-temanku yang lain meneriakimu dan memberi semangat, namun terbungkus dengan ejekan. Kamu tak pernah membalas. Hanya tersenyum atau sesekali tertawa kecil dan memaklumi kelakuaan anak-anak sma.
Dan disaat yang sama, aku hanya berani melihatimu hingga jauh.
Suatu ketika. Hanya ada aku di depan kelas. Entah sengaja atau tidak kamu lewat bersama tasmu yang slalu kau gendong kemana mana. Aku tengah melamu, memikirkanmu. Aku tersentak dengan suara anak perempuan yang menjerit dari dalam kelas. Lamunanku hilang. Kembali aku mengangkat kepala dan mata kita bertemu. Kita hanya bertatapan hingga seorang temanmu mengajakmu berjalan lebih cepat.
Ironis. Aku hanya berani memandang. Tanpa berbincang. Betapa pengecutnya orang yang sedang jatuh hati padamu ini.
Aku menyesal tidak membuka mulut lebih dulu. Aku menyesal hanya melihatimu hingga jauh. Aku menyesal tidak tersenyum di depanmu.

20 Jul 2016

Meski Kita Sudah Berbagi Jarak

Kita berpapasan tanpa sapa. Bertemu pandang tanpa suara. Hanya hening dan rasa ingin temu. Ingin berseru. Ingin mengadu. Dan tak ingin berlalu.
Malamku tak seperti malam kemarin. Tak ada lagi chat darimu membuatku serba salah. Ingin tidur tapi penasaran. Ingin menunggu tapi percuma. Karna memang khayalku terlanjur mengudara. "Untuk apa?" hanya itu yang mereka katakan padaku. Dan aku hanya menjawab "untuk membuatku senang"
Ya. Aku senang dapat berpapasan denganmu. Aku senang dapat bertemu pandang olehmu. Aku senang saat kau memergokiku sedang menatapmu diam-diam. Karna mungkin saja di luar sana ada yang tak seberuntung aku. Aku bersyukur dapat melihatmu dengan kostum kuning bermain gesit di lapangan. Aku suka menatap wajahmu yang penuh peluh. Aku suka.
Aku memang tidak pandai menyembunyikan rasa. Aku suka kamu. Dan ingin tetap begitu. Walau sekarang kamu mulai berbagi jarak  denganku. Tak lagi sama seperti dulu. Tak ada lagi percakapan konyol sampai menjelang jam tidurku. Tak ada lagi ucapan selamat tidur darimu. Tak ada lagi lelucon jayus yang menurutku lucu jika kamu yang melontarkan. Aku suka. Aku tetap suka. Meski kita sudah berbagi jarak.

17 Jul 2016

Mari Berteman

Berlarian di bawah terik. Mengejar sesuatu yang dianggap menarik. Menomor duakan teriakan wanita membawa nasi. Hanya aku dan keingintauanku tentang hewan hijau kecil itu
"Maa.. Kenapa hewanya lompat lompat terus" aduku pada wanita yang terus mengejarku
"Kan kamu kejar ya dia lari. Coba kamu liat dari jauh. Perhatikan saja dari sini. Pasti hewanya diem anteng. Sini ak dulu.."
Mataku memperhatikan hewan pelompat itu sambil membuka mulutku lebar lebar lalu mengunyah nasi beserta telur. Hewan itu diam, aku memperhatikan. Ternyata cantik juga kalo di lihat saja. Kenapa aku harus mengejar susah payah kalau begini saja aku sudah puas.
Kepalaku berputar melihat mama sambil tanganku bergerak ingin coba memegang hewan hijau itu "maa.. Coba pegang bol-- awww!!"
Tiba-tiba tanganku terasa di remas seseorang. "Jangan nanti lompat lagi" kata anak laki-laki berbaju biru. Sepertinya dia seumuranku. Tinggi kita sama.
"Kalo mau pegang, sini aku ambilin" katanya lagi.
"Waahh.. Ada Ardi ternyata" teriak mama ku heboh. "Main sama Ardi dulu ya Kiara" ucap mama lalu kembali berbincang dengan tante yang tidak aku tau namanya.
Aku kembali menoleh memperhatikan anak laki-laki di depanku ini. Kami sama-sama berjongkok melingkari belalang yang asik duduk di atas daun.
Dengan satu kali tangkap hap! Anak laki-laki ini berhasil menangkapnya. Seketika aku berteriak "horree dapat!!" sambil melompat dan bertepuk tangan.
Dia menjepit belalang itu dengan dua jari. Dan mempersilahkanku untuk memegang.
"Umm.. Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Aku kiara" kataku pada anak laki-laki ini.
"Namaku Ardi. Kita tetanggaan lo. Rumah kamu itu kan?" jarinya menunjuk tumah bercat putih. Ya, rumahku.
"Rumahku sebelah rumahmu yang catnya merah" katanya lagi. Aku tersenyum. Karna sepertinya aku akan punya teman main baru.
"Aku baru pindah tiga hari kemarin. Dan aku belum punya teman disini. Umm kamu mau gak jadi umm.. teman main ku?" tanyaku malu malu.
"Tentu saja mauuu" jawab Ardi terlihat senang.
"Maaf ya Kaira. Sebenarnya aku sudah liat kamu dari kemarin. Aku pengen banget ngajak kamu main bareng"
Aku menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Tapi aku malu. Jadi aku cuma merhatiin kamu aja dari kemarin. Kamu suka makan es krim coklat kan? Warna kesukaan kamu pink bukan?" aku terkejut.
"Kok kamu tau?"
"Karna dari kemarin kamu pake baju warna pink terus. Pasti satu lemari baju kamu pink semua ya."
"Hahahahaaa enggak kok"
Aku tersenyum kemudian.
Ardi pov
Akhirnya kita bisa temenan.

12 Jul 2016

Paragraph

Debur ombak terdengar merdu. Aroma ikan dan terik mentari. Angin menyibak rambutnya lembut. Memperlihatkan rona merah di pipinya yang pucat. Bersama kaki telanjang dimanja pasir putih. Menikmati langit biru membentang di hiasi awan tipis. Hampir tidak ada garis batas antaranya dengan laut yang sama biru. Bibir tertarik mengulam senyum. Hal yang sangat amat kutunggu darinya.

"Sudah merasa lebih baik?" tanyaku yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan
"Hum.. Sangat baik. Terima kasih"

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...