Aku menyesal tidak membuka mulut lebih dulu. Aku menyesal hanya melihatimu hingga jauh. Aku menyesal tidak tersenyum di depanmu.
Di sebuah ujung lorong sekolah yang ramai, fikiranku terasa sepi. Aku terdiam di atas kursi panjang. Aku memikirkanmu.
Kamu nampak sibuk mondar mandir ke ujung sekolah paling belakang kembali lagi kedepan sebaliknya dan seterusnya. Yang aku tau kamu tak pernah suka dengan yang namanya kegiatan sekolah. Yang memaksamu melakukan ini itu. Dan yang katamu juga "alah gak penting". Tapi yang aku lihat sekarang kamu tengah melakukan hal yang kamu benci itu.
Sesekali melewati depan kelasku. Teman-temanku yang lain meneriakimu dan memberi semangat, namun terbungkus dengan ejekan. Kamu tak pernah membalas. Hanya tersenyum atau sesekali tertawa kecil dan memaklumi kelakuaan anak-anak sma.
Dan disaat yang sama, aku hanya berani melihatimu hingga jauh.
Suatu ketika. Hanya ada aku di depan kelas. Entah sengaja atau tidak kamu lewat bersama tasmu yang slalu kau gendong kemana mana. Aku tengah melamu, memikirkanmu. Aku tersentak dengan suara anak perempuan yang menjerit dari dalam kelas. Lamunanku hilang. Kembali aku mengangkat kepala dan mata kita bertemu. Kita hanya bertatapan hingga seorang temanmu mengajakmu berjalan lebih cepat.
Ironis. Aku hanya berani memandang. Tanpa berbincang. Betapa pengecutnya orang yang sedang jatuh hati padamu ini.
Aku menyesal tidak membuka mulut lebih dulu. Aku menyesal hanya melihatimu hingga jauh. Aku menyesal tidak tersenyum di depanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar