Selamat Malam Tuan
Malam ini dingin ya
Selimutku tidak cukup tebal untuk penghangat
Atau hanya perasaanku saja
Ah iya, itu memang cuma alasan
Yang sebenarnya
Aku sedang rindu pelukmu
28 Jul 2017
Dalam Hati yang Ikhlas
Aku tidak pernah menyangka. Bahwa cerita kita hanya sebuah kenangan. Aku kira semua cerita indah yang kita buat akan menjadi memori yang indah yang akan kita kenang bersama. Menceritakanya ke generasi kita selanjutnya. Bercengkrama betapa bahagianya kita saat bergandeng tangan dan membuat janji yang akan kita wujudkan bersama. Aku kira semua itu akan terlaksana seperti mimpi mimpi ku setiap malam.
Engkau yang telah berbahagia melanjutkan kehidupan mu aku ucapkan selamat. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Melanjutkan kehidupanku. Mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Aku pun berhak mendapatkanya bukan?
Apabila mungkin suatu hari kita bertemu dalam saat yang indah. Saat kita tidak pernah saling mencari tapi dipertemukan kembali. Aku akan sangat merasa bahagia. Karna do'a yang kupanjatkan setiap malam slalu di dengar dan dikabulkan. Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana rasanya saat namamu yang selalu kusebut dalam rentetatan do'a do'aku?
Engkau yang telah berbahagia melanjutkan kehidupan mu aku ucapkan selamat. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Melanjutkan kehidupanku. Mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Aku pun berhak mendapatkanya bukan?
Apabila mungkin suatu hari kita bertemu dalam saat yang indah. Saat kita tidak pernah saling mencari tapi dipertemukan kembali. Aku akan sangat merasa bahagia. Karna do'a yang kupanjatkan setiap malam slalu di dengar dan dikabulkan. Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana rasanya saat namamu yang selalu kusebut dalam rentetatan do'a do'aku?
Teruntukmu,
Pangeran yang slalu ku do'akan
Pangeran yang slalu ku do'akan
7 Jul 2017
April #4
Kalo belum baca sebelummya klik disini. Happy reading :)
Atiera April Shaqilla (25 tahun)
7 Juli 2017, 22:15
Hari ini banyak banget pasien yang harus aku chek sebelum pulang ke rumah. Aku masih berstatus dokter sementara sih di rumah sakit ini. Tapi udah banyak banget kerjaan yang aku lakukan. Nikmati saja prosesnya April, usaha tidak pernah menghianati hasil.
Sudah hampir jam sebelas malam. Aku segera merapikan berkas-berkas di mejaku dan menyambar tas tanganku beserta kunci mobil di atas meja. Aku ingin segera pulang, berendam air hangat dan memanjakan tubuhku.
Di perjalanan pulang menuju apartemen aku selalu melewati sekolah SMA ku dulu juga SMP ku dimana disana banyak kenangan. Tentang aku dan seseorang yang sampai sekarang selalu aku rindukan. Tiap pulang dari rumah sakit juga aku mampir ke cafe langgananku sejak SMA untuk membeli kopi favoritku dan aku minum di rumah sambil mengerjakan tugas lembur. Dipikir-pikir, sudah lama kami tidak mengobrol minum kopi. Kira-kira 5 tahun yang lalu. Pasti sudah taulah siapa yang sedang aku rindukan, yaa sahabatku Bhakti.
Aku menyelesaikan kuliahku di Jogja selama 6 tahun, lalu kembali ke kota kelahiranku untuk mencari kerja. Alhamdulillah aku diterima sebagai dokter sementara di rumah sakit umum ternama. Dan saat aku kembali kita hilang kontak. Aku sibuk mengerjakan tugas kuliahku sebagai anak kedokteran yang membuatku ansos dan jarang pulang demi hasil terbaik. Di tambah ternyata Bhakti dan keluarganya pindah ke Bandung 5 tahun lalu, karna ayah Bhakti dipindahkan tugas disana. Beberapa hari setelah itu aku mengalami musibah kecopetan di stasiun saat tiba di jogja tas yang berisi dompet, hp dan barang berharga lainya hilang. Aku tidak bisa menghubungi siapapun. Hanya telfon rumah yang aku ingat, sehingga kedua orangtuaku bisa menolong. Karna ponselku hilang, yaa aku kehilangan semua kontak Bhakti. Kita tidak saling menghubungi selama 5 tahun terakhir. Padahal sebelum itu kami masih sering ngopi bareng walaupun cuma saat libur kuliah. Lo tau gak Bhakti, gue kangen banget sama lo.
Ya aku sedang merindukan Bhakti. Segala hal tentang dia, guyonan dia yang kadang garing, di bonceng dia naik motor kemana yang aku mau, makan siomay bareng, ngopi, cerita ini itu sampe cafe tutup, perhatian dia ke aku yang melebihi seorang sahabat. Aku sama halnya dengan Bhakti, aku punya perasaan yang sama dengan Bhakti. Aku juga menyayanginya lebih dari sahabat. Aku tau aku terlambat menyadarinya. Di saat seperti ini lah, disaat tidak bersama Bhaktilah aku merasa aku punya perasaan itu. Perasaan dimana aku ingin bersama dia kapanpun. Perasaan aku kehilangan dia saat aku gak sama dia. Itukan yang dinamakan cinta? Bhakti, gue harap ini bukan waktu yang terlambat untuk aku gue itu.
Setelah membeli kopi, aku langsung menuju apartemen. Aku sudah tidak tinggal serumah dengan kedua orangtuaku. Setelah aku punya penghasilan sendiri, aku berusaha untuk hidup mandiri. Walaupun masih sederhana. Dengan tidak tinggal di rumah orang tuaku lagi contohnya. Walaupun baru 2 minggu juga sih disini.
Sebenarnya aku agak kurang nyaman dengan apartemenku ini. Karna air di apartemenku kadang tiba-tiba gak mau keluar. Aku sudah pernah complaint, dan aku pernah mengancam kalau tidak segera di betulkan aku ingin bertemu langsung dengan manejernya. Gak tau ya, kayak udah kesel banget. Berkali-kali air mati pas lagi di butuhin.
Kayak sekarang ini nih. Udah badan capek habis kerja, di jalan macet dan udah bayangin bakal langsung berendem di air anget. Ternyata airnya gak mau keluar. Kan kesel gua.
Dengan emosi yang menggebu-gebu aku turun menuju lobby menggunakan lift. Seorang laki-laki di lift bertanya padaku “kenapa mbak? Kok keliatanya kesel.” Pertanyaan yang membuatku rasanya ingin sekali menyemprot mulutnya pake air panas. Tapi aku tau itu bukan hal yang baik, jadi aku urungkan dan aku jawab dengan jutek “emang saya keliatan bahagia apa?” jawabku tanpa melihat wajahnya karna pintu lift sudah terbuka dan aku ingin cepat cepat complaint.
“Mbak, saya mau complaint lagi. Kenapa kamar saya airnya mati terus?” cerocosku tanpa permisi.
“Maaf bu, kamarnya nomor berapa?”
“409. Mbak, pokoknya saya gak mau tau, saya mau ketemu manejernya sekarang. Kamar saya udah berkali-kali ya kayak gini.” Ucapku sambil marah-marah. Bodoamat diliatin orang-orang. Gue cuma mau mandi dengan tenang.
“Maaf bu, tapi manejer kami hari ini sedang tidak bisa ditemui. Biar kami panggilkan petugas kami untuk memeriksa air di kamar ibu”
“Kenapa? Kalo mbak gak mau manggil manejernya, biar saya yang keruanganya. Dimana ruangan manejernya” kataku lebih tenang sedikit karna trrnyata makin banyak yang melihatiku, tapi tetap dengan nada memaksa. Tapi mbak-mbak yang sedang aku ajak bicara ini pandanganya bukanya ke arahku malah ke belakangku. Gak sopan banget.
“Mbak mana” bentaku membuatnya terkejut.
“I.. Iya bu. Saya panggilkan manejer kami. Sebentar ya bu, ibu bisa menunggu di sana sebentar” ucap mbak resepsionis itu gelagapan. Aku menatap tajam ke arahnya dengan isyarat ‘awas lu bohong’.
Aku menunggu dengan sabar si manejer itu, aku ingin complaint karna apartemen ini kurang bisa mengatur saluran airnya. Tidak lama dari arah belakangku datang suara khas laki-laki dewasa yang berkata “Oh mbak yang tadi keliatan kesel di lift yang mau ketemu saya” katanya.
Aku segera berdiri dan berbalik badan mendengar suara itu. Emosiku seakan menguap seperti asap diudara karna kau tau apa yang aku dapati? Seseorang berpakaian kaos putih dan celana jeans panjang dengan perawakan yang masih sama sejak 5 tahun lalu, hanya rahangnya saja yang berbeda, sekarang semakin tegas ditambah kumis yang menandakan dia memang sudah menjadi laki-laki dewasa.
Yaa, dia Bhakti.
“Hai pril, mau ngopi?”
“Jadi. . Apa kabar Bandung?” tanyaku gugup.
“Bandung? Yaa masih sama aja. Lo gak mau tanya kabar gue?” saking gugupnya aku sampai lupa.
“Yadeh, apa kabar lo?”
“Baik, sekarang jauh lebih baik” katanya sambil tersenyum yang membuatku ikut tersenyum.
“Soo. . Lo tadi mau complaint apa ke gue nyonya April?” tanya Bhakti tiba-tiba sok serius.
“Eng. . Ituu” aku bingung harus jawab apa, karna ternyata manejer apartement ini Bhakti sendiri.
“Hahaha. . Jangan gugup gitu dong. Kalo emang air di kamar lo bermasalah. Lo boleh pilih kamar yang lain yang lebih baik” aku tersenyum senang.
“Jadi kenapa lo tiba-tiba hilang? Lo gak mau kontak gue lagi?” tanya Bhakti lagi, sekarang sedikit serius.
Dan gue menceritakan kejadian yang aku tidak bisa mengontaknya. Dan dia terkejut habis itu tertawa.
“Kenapa lo gak search gitu di instagram atau twitter? Sekarang itu udah banyak cara untuk saling terhubung pril”
“Gue gak main begituan bhak” dan dia malah makin ketawa kenceng.
“Dasar si kutu buku April. Lo tuh jangan ansos banget, nanti deh gue ajarin”dan setelah itu kami mengobrol banyak hal sampai kopi kami sama-sama habis dan jam sudah menunjukan jam 1 dini hari.
Dan sebuah percakapan penting malam ini yang sangat gue ingat, Bhakti tiba-tiba bertanya “Pril, gue. . Gue. . Gue masih lo anggap sahabat?” aku menggeleng. Dia bingung.
“Gak, gue gak mau anggap lo sahabat lagi” kataku terus terang.
“Gue punya salah apa?”
“Karna gue udah anggep lo lebih dari sahabat , selama gue gak pernah kontak lo gue bener-bener merasa kehilangan”
“Kayak pas lo acuhin gue pas SMA?”
“Persis, tapi gue kan masih bisa liat lo dari jauh dulu. Sekarang?”
“Jadi lo punya perasaan yang sama kayak gue?” tanya Bhakti menyelidik.
“Mungkin iya” kataku menggoda.
“Yahh kok mungkin” aku tertawa melihatnya kesal.
“Ayolah pril serius gue. Diumur gue yang sekarang sih gue udah gak mau main main lagi” Bhakti terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam kaosnya. Yaitu kalung dengan liontin sebuah cincin disana.
“Bhakti lo serius?” tanyaku refleks karna mengerti kemana arah pembicaraan ini.
“Cincin ini udah gue beli saat kuliah. Gak tau kenapa saat liat cincin ini, gue kayak liat lo. Gue nabung buat belinya, emang murah sih. Cuma buat syarat aja gak papa ya, nanti gue beliin yang lebih bagus”
“Bhakti, gue. . Kenapa lo beli cincin ini disaat gue belum tentu ketemu lo lagi”
“Karna gue yakin lo pasti balik” tiba-tiba matakku terasa panas dan berair.
“Gue gak mau buang-buang waktu lebih lama lagi. Gue udah cukup gila kehilangan lo pril. Gue gak mau itu terjadi lagi. Jadi disaat gue dan lo udah punya perasaan yang sama, gue juga gak mau kehilangan kesempatan ini” Aku mencengkram celanaku erat. Dadaku terasa sesak, aku menangis bahagia. Sekarang aku tau, aku belum terlambat merasakan perasaan ini.
Bhakti melanjutkan kata-katanya “Altiera April Shaqilla, maukah kamu menghabiskan sisa hidup denganku Bhakti Angkasa Raya?”
Masih menghapus sisa air mataku aku tersenyum dan kalimat yang aku ucapkan adalah “jijik banget sih lo Bhakti” aku tau itu bukan kalimat romantis, tapi itu termasuk ungkapan bahagiaku.
“Jadi mau gak nih?” tanya Bhakti sekali lagi.
“Mauuu” kataku girang dan melompat ke pelukanya. Pelukanya tetap sama, hangat.
Gue sayang sama lo Bhak.
Tamatdisini
***
7 Juli 2017, 22:15
Hari ini banyak banget pasien yang harus aku chek sebelum pulang ke rumah. Aku masih berstatus dokter sementara sih di rumah sakit ini. Tapi udah banyak banget kerjaan yang aku lakukan. Nikmati saja prosesnya April, usaha tidak pernah menghianati hasil.
Sudah hampir jam sebelas malam. Aku segera merapikan berkas-berkas di mejaku dan menyambar tas tanganku beserta kunci mobil di atas meja. Aku ingin segera pulang, berendam air hangat dan memanjakan tubuhku.
Di perjalanan pulang menuju apartemen aku selalu melewati sekolah SMA ku dulu juga SMP ku dimana disana banyak kenangan. Tentang aku dan seseorang yang sampai sekarang selalu aku rindukan. Tiap pulang dari rumah sakit juga aku mampir ke cafe langgananku sejak SMA untuk membeli kopi favoritku dan aku minum di rumah sambil mengerjakan tugas lembur. Dipikir-pikir, sudah lama kami tidak mengobrol minum kopi. Kira-kira 5 tahun yang lalu. Pasti sudah taulah siapa yang sedang aku rindukan, yaa sahabatku Bhakti.
Aku menyelesaikan kuliahku di Jogja selama 6 tahun, lalu kembali ke kota kelahiranku untuk mencari kerja. Alhamdulillah aku diterima sebagai dokter sementara di rumah sakit umum ternama. Dan saat aku kembali kita hilang kontak. Aku sibuk mengerjakan tugas kuliahku sebagai anak kedokteran yang membuatku ansos dan jarang pulang demi hasil terbaik. Di tambah ternyata Bhakti dan keluarganya pindah ke Bandung 5 tahun lalu, karna ayah Bhakti dipindahkan tugas disana. Beberapa hari setelah itu aku mengalami musibah kecopetan di stasiun saat tiba di jogja tas yang berisi dompet, hp dan barang berharga lainya hilang. Aku tidak bisa menghubungi siapapun. Hanya telfon rumah yang aku ingat, sehingga kedua orangtuaku bisa menolong. Karna ponselku hilang, yaa aku kehilangan semua kontak Bhakti. Kita tidak saling menghubungi selama 5 tahun terakhir. Padahal sebelum itu kami masih sering ngopi bareng walaupun cuma saat libur kuliah. Lo tau gak Bhakti, gue kangen banget sama lo.
Ya aku sedang merindukan Bhakti. Segala hal tentang dia, guyonan dia yang kadang garing, di bonceng dia naik motor kemana yang aku mau, makan siomay bareng, ngopi, cerita ini itu sampe cafe tutup, perhatian dia ke aku yang melebihi seorang sahabat. Aku sama halnya dengan Bhakti, aku punya perasaan yang sama dengan Bhakti. Aku juga menyayanginya lebih dari sahabat. Aku tau aku terlambat menyadarinya. Di saat seperti ini lah, disaat tidak bersama Bhaktilah aku merasa aku punya perasaan itu. Perasaan dimana aku ingin bersama dia kapanpun. Perasaan aku kehilangan dia saat aku gak sama dia. Itukan yang dinamakan cinta? Bhakti, gue harap ini bukan waktu yang terlambat untuk aku gue itu.
Setelah membeli kopi, aku langsung menuju apartemen. Aku sudah tidak tinggal serumah dengan kedua orangtuaku. Setelah aku punya penghasilan sendiri, aku berusaha untuk hidup mandiri. Walaupun masih sederhana. Dengan tidak tinggal di rumah orang tuaku lagi contohnya. Walaupun baru 2 minggu juga sih disini.
Sebenarnya aku agak kurang nyaman dengan apartemenku ini. Karna air di apartemenku kadang tiba-tiba gak mau keluar. Aku sudah pernah complaint, dan aku pernah mengancam kalau tidak segera di betulkan aku ingin bertemu langsung dengan manejernya. Gak tau ya, kayak udah kesel banget. Berkali-kali air mati pas lagi di butuhin.
Kayak sekarang ini nih. Udah badan capek habis kerja, di jalan macet dan udah bayangin bakal langsung berendem di air anget. Ternyata airnya gak mau keluar. Kan kesel gua.
Dengan emosi yang menggebu-gebu aku turun menuju lobby menggunakan lift. Seorang laki-laki di lift bertanya padaku “kenapa mbak? Kok keliatanya kesel.” Pertanyaan yang membuatku rasanya ingin sekali menyemprot mulutnya pake air panas. Tapi aku tau itu bukan hal yang baik, jadi aku urungkan dan aku jawab dengan jutek “emang saya keliatan bahagia apa?” jawabku tanpa melihat wajahnya karna pintu lift sudah terbuka dan aku ingin cepat cepat complaint.
“Mbak, saya mau complaint lagi. Kenapa kamar saya airnya mati terus?” cerocosku tanpa permisi.
“Maaf bu, kamarnya nomor berapa?”
“409. Mbak, pokoknya saya gak mau tau, saya mau ketemu manejernya sekarang. Kamar saya udah berkali-kali ya kayak gini.” Ucapku sambil marah-marah. Bodoamat diliatin orang-orang. Gue cuma mau mandi dengan tenang.
“Maaf bu, tapi manejer kami hari ini sedang tidak bisa ditemui. Biar kami panggilkan petugas kami untuk memeriksa air di kamar ibu”
“Kenapa? Kalo mbak gak mau manggil manejernya, biar saya yang keruanganya. Dimana ruangan manejernya” kataku lebih tenang sedikit karna trrnyata makin banyak yang melihatiku, tapi tetap dengan nada memaksa. Tapi mbak-mbak yang sedang aku ajak bicara ini pandanganya bukanya ke arahku malah ke belakangku. Gak sopan banget.
“Mbak mana” bentaku membuatnya terkejut.
“I.. Iya bu. Saya panggilkan manejer kami. Sebentar ya bu, ibu bisa menunggu di sana sebentar” ucap mbak resepsionis itu gelagapan. Aku menatap tajam ke arahnya dengan isyarat ‘awas lu bohong’.
Aku menunggu dengan sabar si manejer itu, aku ingin complaint karna apartemen ini kurang bisa mengatur saluran airnya. Tidak lama dari arah belakangku datang suara khas laki-laki dewasa yang berkata “Oh mbak yang tadi keliatan kesel di lift yang mau ketemu saya” katanya.
Aku segera berdiri dan berbalik badan mendengar suara itu. Emosiku seakan menguap seperti asap diudara karna kau tau apa yang aku dapati? Seseorang berpakaian kaos putih dan celana jeans panjang dengan perawakan yang masih sama sejak 5 tahun lalu, hanya rahangnya saja yang berbeda, sekarang semakin tegas ditambah kumis yang menandakan dia memang sudah menjadi laki-laki dewasa.
Yaa, dia Bhakti.
“Hai pril, mau ngopi?”
***
“Bandung? Yaa masih sama aja. Lo gak mau tanya kabar gue?” saking gugupnya aku sampai lupa.
“Yadeh, apa kabar lo?”
“Baik, sekarang jauh lebih baik” katanya sambil tersenyum yang membuatku ikut tersenyum.
“Soo. . Lo tadi mau complaint apa ke gue nyonya April?” tanya Bhakti tiba-tiba sok serius.
“Eng. . Ituu” aku bingung harus jawab apa, karna ternyata manejer apartement ini Bhakti sendiri.
“Hahaha. . Jangan gugup gitu dong. Kalo emang air di kamar lo bermasalah. Lo boleh pilih kamar yang lain yang lebih baik” aku tersenyum senang.
“Jadi kenapa lo tiba-tiba hilang? Lo gak mau kontak gue lagi?” tanya Bhakti lagi, sekarang sedikit serius.
Dan gue menceritakan kejadian yang aku tidak bisa mengontaknya. Dan dia terkejut habis itu tertawa.
“Kenapa lo gak search gitu di instagram atau twitter? Sekarang itu udah banyak cara untuk saling terhubung pril”
“Gue gak main begituan bhak” dan dia malah makin ketawa kenceng.
“Dasar si kutu buku April. Lo tuh jangan ansos banget, nanti deh gue ajarin”dan setelah itu kami mengobrol banyak hal sampai kopi kami sama-sama habis dan jam sudah menunjukan jam 1 dini hari.
Dan sebuah percakapan penting malam ini yang sangat gue ingat, Bhakti tiba-tiba bertanya “Pril, gue. . Gue. . Gue masih lo anggap sahabat?” aku menggeleng. Dia bingung.
“Gak, gue gak mau anggap lo sahabat lagi” kataku terus terang.
“Gue punya salah apa?”
“Karna gue udah anggep lo lebih dari sahabat , selama gue gak pernah kontak lo gue bener-bener merasa kehilangan”
“Kayak pas lo acuhin gue pas SMA?”
“Persis, tapi gue kan masih bisa liat lo dari jauh dulu. Sekarang?”
“Jadi lo punya perasaan yang sama kayak gue?” tanya Bhakti menyelidik.
“Mungkin iya” kataku menggoda.
“Yahh kok mungkin” aku tertawa melihatnya kesal.
“Ayolah pril serius gue. Diumur gue yang sekarang sih gue udah gak mau main main lagi” Bhakti terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam kaosnya. Yaitu kalung dengan liontin sebuah cincin disana.
“Bhakti lo serius?” tanyaku refleks karna mengerti kemana arah pembicaraan ini.
“Cincin ini udah gue beli saat kuliah. Gak tau kenapa saat liat cincin ini, gue kayak liat lo. Gue nabung buat belinya, emang murah sih. Cuma buat syarat aja gak papa ya, nanti gue beliin yang lebih bagus”
“Bhakti, gue. . Kenapa lo beli cincin ini disaat gue belum tentu ketemu lo lagi”
“Karna gue yakin lo pasti balik” tiba-tiba matakku terasa panas dan berair.
“Gue gak mau buang-buang waktu lebih lama lagi. Gue udah cukup gila kehilangan lo pril. Gue gak mau itu terjadi lagi. Jadi disaat gue dan lo udah punya perasaan yang sama, gue juga gak mau kehilangan kesempatan ini” Aku mencengkram celanaku erat. Dadaku terasa sesak, aku menangis bahagia. Sekarang aku tau, aku belum terlambat merasakan perasaan ini.
Bhakti melanjutkan kata-katanya “Altiera April Shaqilla, maukah kamu menghabiskan sisa hidup denganku Bhakti Angkasa Raya?”
Masih menghapus sisa air mataku aku tersenyum dan kalimat yang aku ucapkan adalah “jijik banget sih lo Bhakti” aku tau itu bukan kalimat romantis, tapi itu termasuk ungkapan bahagiaku.
“Jadi mau gak nih?” tanya Bhakti sekali lagi.
“Mauuu” kataku girang dan melompat ke pelukanya. Pelukanya tetap sama, hangat.
Gue sayang sama lo Bhak.
Bhakti Angkasa Raya (26 tahun)
Gue sayang banget sama lo pril.
6 Jul 2017
April #3
Yang belum baca part sebelumnya, disini yaa.
Happy reading :)
Hari kelulusan, hari yang sangat gue tunggu-tunggu. Akhirnya, setelah selama 3 tahun gue SMA gue bisa lulus juga. Gue gak berharap bagus sih hasilnya, minimal gak jelek-jelek amat lah.
Sepuluh menit yang lalu hasil un di bacakan oleh kepala sekolah. Dan seluruh kelas 12 SMA 70 LULUS 100 %. Semua murid di lapangan bersorak senang merayakan kelulusan dan di tutup dengan sujud syukur bersama. Setelah itu ada yang teriak kesenengan, ada yang nangis haru karna setelah ini berpisah. Yaa, namanya juga SMA, masa yang pasti bakal lo kangenin kalo udah gak disini lagi.
Gue juga pasti bakal kangen banget setiap sudut sekolah gue, karna semua punya kenangan masing-masing. Pagar belakang sekolah buat bolos kalo gak ada pelajaran, kantin tempat nongkrong dan kabur saat pelajaranya gak asik, lapangan tempat kumpul bareng anak-anak kelas lain dan main futsal bareng, parkiran tempat yang agak gue hindari dan gak pengen gue inget. Karna yang ada di situ cuma kenangan pahit.
Ngomong-ngomong, sampai sekarang lulus gue belum sapa-sapaan lagi sama April. Dia bener-bener gak mau kenal gue. Di tambah sibuknya kegiatan di kelas 12, memaksa gue fokus ke diri gue biar bisa masuk ITB, kampus impian gue. Walaupun satu sekolah gue jarang liat dia juga, selain karna lorong kelas kita yang beda, dia ipa gue ips, gue tau dia selalu menghindar tiap mau papasan atau dalam situasi dimana ada gue di dalamnya. Kayak pas antri siomay, sama sama lagi di ruang guru, atau gak sengaja ketemu di uks. April selalu menghindar, pura-pura gak liat guelah, pura-pura asik ngobrol sama temenyalah, gue tau lo lagi pura-pura pril. Dikira gue kenal lo cuma sehari apa gak tau tindak tanduk lo, kita temenan dari sd. Dan gue sejauh ini belum tau siapa cowok yang lagi deket sama April.
Tapi, sedikit banyak gue denger dari anak-anak sebelum kelas 12 April sempet deket sama kakak kelas ipa 3. Gak tau juga sih gue. Tapi keliatanya berita itu bener, karna gue sering liat April pulang bareng.
Yahh.. Syukur kalo lo tetep masih punya temen buat sekedar dengerin cerita lo. Btw pril lo tau gak, gue kangen.
“Bhakti, buruan. Kamu ini siap-siap aja lama kayak cewek.” Teriak nyokap gue dari ruang tamu. Kebayangkan gimana kencengnya suara nyokap gue, sampe kedengeran di kamar gue lantai dua.
“Iyaa buu, bentar. Biar ganteng dulu lah anaknya, biar dapet cewek” teriaku sambil menutup pintu dan menuruni tangga.
Rencananya malam ini gue mau makan malam di restoran mahal nih sama keluarga, ceileh gaya. Sama nyokap, bokap, abang gue dan adik gue cewek satu. Acaranya merayakan kelulusan gue dan adik gue, gue lulus SMA si Naya lulusSMP. Dan juga perpisahan karna besok gue harus berangkat bandung buat mulai ospek. Alhamdulillah gue ketrima di kampus impian gue, dan gue ambil manajemen itb atas saran dari abang gue. Semoga ini pilihan yang baik.
Gue sekeluarga menuju restoran yang udah di resevasi terlebih dahulu oleh bokap. Sampai di sana semua berjalan lancar dan menyenangkan, sampai di tengah-tengah makan malam seorang ibu-ibu paruh baya menyapa kedua orang tua gue. Yang mana itu adalah ibunya April. Di susul April, ayah dan adiknya di belakang. Saat itu juga gue gak bisa berhenti liatin April dan jantung gue gak bisa gue kondisikan.
April menyadari keberadaan gue. Entah perasaan gue aja, atau emang dia sedang mengalihkan pandangan buat gak liat gue.
“Oh gitu, kebetulan kita rayakan bareng-bareng aja jeng. Ini juga lagi ngerayain kelulusan Bhakti sama Naya. Besok dia berangkat ke Bandung. Sini satu meja aja sekalian” ajak nyokap gue dengan ramah.
Mendengar ajakan itu, jantung gue makin gak karuan.
Pliss tante, cari meja lain aja sana. Pasti gak enak banget satu meja sama orang yang ngacuhin lo setahun terakhir.
“Terimakasih mbak Ratih, ini mas Fauzan udah reservasi sebelah sana kok” detik itu juga gue menghembuskan nafas lega.
“Iyaa, kami duluan ya Pak Haris. Silahkan dinikmati lagi makananya”
“Oh iyaa, mari mari” kata ayahku pada ayahnya April.
“Kok lo gak nyapa April sih dek” senggol abang gue. Keluarga gue gak ngerti aja masalahnya. Gue menaikan bahu tanda ‘bodoamat’.
“Wahh berantem ya lo” selidik abang gue rese.
Dan adik gue nyeletuk “Bang, Kak April cantik ya pake dress merah” tanpa gue sadari gue tersenyum dan mengiyakan dalam hati.
Selesai acara makan-makan gue sekeluarga berfoto bersama, gak sengaja saat itu juga keluarga April lewat. Ibu gue dengan sok akrabnya ngajak foto bareng. Duh, ibu gue ini banyak mau emang.
Ibu dan ayahnya April menerima permintaan nyokap gue. Gue mendadak salah tingkah di situasi awkward ini. Tiba-tiba saja abang gue mengajak April untuk fotonya di tengah-tengah gue dan abang gue. Emang sengaja itu orang.
Dan gak sengaja juga lengan gue menyenggol lengan April. Jantung gue udah kayak mau meledak. Gue sedikit mencuri pandang pada April. Benar kata si Naya, April cantik. Dia lagi senyum ke kamera dan gue memperhatikan ya dari samping, gak kerasa gue ikut senyum juga.
“Sudah pak, bagus bagus.” Kata mbak-mbak waiternya sembari mengenbalikan ponsel ayahku.
“Nanti dikirim ke saya ya mbak Ratih” kata tante Rosi pada nyokap gue. Mereka saling mengobrol-ngobrol. Ibu sesama ibu, ayah sesama ayah, adik gue main sama adiknya April, abang gue ngajak ngobrol April. Gue, celingukan sendiri sambil senyam senyum dengerin obrolan para ayah.
Abang gue menepuk pundak gue, gue menoleh dan dia berbisik di telinga gue “selesein dulu masalahnya, jangan di bawa ke Bandung. Nanti pusing” katanya sangat lirih tapi jelas.
Gue mengerjap saat melihat April tepat ada di hadapan gue. Lidah gue kaku, mau ngomong “hai” susah rasanya. Dan akhirnya April dulu yang angkat bicara.
“Hai Bhak” itu adalah sapaan pertama April setelah sekian lama kita gak saling ngobrol dan entah kenapa, beban gue rasanya hilang, legaaaa banget.
“Hai” kata gue agak kaku. Gue gak tau kenapa. Woy, santai aja Bhakti, ini kesempatan buat ngobrol lagi sama April. Jangan malu-maluin.
“Selamat ya, atas ketrimanya lo di ITB” ucap April dengan lancar.
Gue butuh beberapa detik untuk menangkap kalimatnya, kenapa gue tiba-tiba lemot.
“Oh itu, iya. Makasih” hening beberapa detik gue mencoba mencari topik.
“Btw, lo lanjut kemana pril?” April terkejut, terlihat dia mengangkat alisnya saat gue tanya.
“Gue.. Gue ke Jogja Bhak, ambil kedokteran” katanya.
“UGM?”
“Iyaa”
“Wow, selamat yaa. Moga betah di jogja, makananya enak enak kok disana” dan April tertawa dengan ucapanku. Wah, gue masih ada gunanya bisa bikin dia ketawa.
Tiba-tiba nyokap gue menghampiri dan bilang “Wah kalian kayak udah lama gak ketemu. Pasti masih banyak cerita lagi. Gimana kalo kalian jalan jalan aja dulu berdua, habis ini kan pada pisah, sibuk kuliah yaaa” iya sih, gue mikir.
Ibunya April ikut-ikutan nimbrung “Iya, kamu pulang bareng Bhakti aja ya pril. Mama juga mau mampir belanja ke supermarket, nanti lama kamu capek nungguin.” Gue diem aja, sedangkan April sedikit menolak.
“Maa, gak papa April nungguin mama belanja”
“Duh jangan, udah nanti pulang bareng Bhakti aja. Ya Bhakti, kamu jagain April yaa.” Gue refleks mengangguk dan spontan bilang “Iya tan” itu beneran dari alam bawah sadar gue. Gue gak tau apa-apa.
Abang gue di belakang nyokap seperti sedang memberi tatapan dengan kode ‘udah beres semuanya, jalan aja sana lo berdua’. Setelah itu semua orang masuk mobil masing-masing dan pulang.
Tinggalah gue dan April berdua. Gue bingung mau ngapain dan akhirnya gue cuma bilang “Pril, mau ngopi?” tawarku yang langsung di iyakan oleh April dengan tersenyum maniiissss bangeettt. Ibarat madu ditambah gula pasir di siram pake sirup marjan.
Koper gue udah siap, segala yang gue butuhin sebagai seorang anak kos udah disiapkan oleh nyokap gue. Gue udah bilang gak usah bawa banyak-banyak nanti berat. Tapi nyokap ngeyel, katanya “ini juga penting bhakti, ini juga. Kalo gak ada ini kamu gak bisa ini itu. Anak kos itu harus hemat, kalo bisa sendiri gak usah beli beli” dan gue cuma bisa liatin dan nurut.
Hari ini gue berangkat ke Bandung dianter abang gue aja. Karna banyak banget barang yang harus gue bawa, sedangkan mobilnya sempit. Semua barang udah di masukin ke mobil, tinggal gue aja yang belum. Gue masih tiduran di kamar gue, sambil liatin foto semalem bareng keluarganya April. Ternyata di semua foto gue lagi liatin April, gak ada yang liat kamera. Gak sadar banget gue. Jadi senyum-senyum sendiri liatnya.
Kemarin tau kalau hari ini mau ke Bandung rasanya santai-santai aja, biasa aja gitu. Gak tau kenapa hari ini kerasa berat banget. Mungkin karna semalem gue baru aja ngelepas rindu sama April, masa hari ini kita gak ketemu lagi. Mungkin sih.
Oh iya, semalem gue ngobrol banyak banget sama April. Sampe gak kerasa tiba-tiba udah tengah malem banget. Setelah saling minum kopi masing-masing rasanya ngobrol ngalir gitu aja, udah gak ada rasa canggung. Udah kayak dulu lagi. Gue seneng banget.
Gue juga sempet nanyain ke April kenapa dia acuhin gue, dan gue terkejut denger jawabnya “Sorry banget Bhak, gue beneran keget pas denger omongan Ryan waktu. Gue nyesel, kenapa gue bego banget gak bisa rasain perasaan lo ke gue. Temen-temen gue bisa rasain lo suka sama gue, Ryan juga tau, temen-temen lo juga, sedangkan gue. Gue. . Gue sebenernya marah sama diri gue sendiri. Gue cuma butuh waktu buat mikir” gue mendengarkan semua yang April ucapin tanpa memotong sedikitpun, tanpa memprotes apapun.
“Gue gak bermaksud menghindar dari lo, gue cuma butuh waktu buat sendiri. Tapi, gue merasa gak punya temen tau bhak lo gu cuekin. Pas gue bingung gue nelfon lo buat gue ajak ngobrol, sedangkam saat gue bingung gara-gara lo gue bingung juga mau ngajak ngobrol siapa” ucap April ketawa miris.
“Si kakak kelas ipa 3 ?” tanyaku refleks.
“Siapa? Galih? Dia bukan pendengar yang baik. Sama aja kayak Ryan” Oh, namanya Galih.
“Lo sendiri?”
“Gue?” gue menunjuk diri gue sendiri.
“Iya, lo udah ada cewek?” yang pengen gue jadiin cewek aja ngacuhin gue setahun terakhir.
“Haha, belum kepikiran” setelah itu hening.
“Bhak, gue masih sahabat lo kan?” pertanyaan itu membuat gue terkejut.
“Gue sih yang harusnya nanya sama lo setelah ngacuhin gue” kata-kata gue membuat April tertunduk. Dan tiba-tiba aja dia nangis.
“Bhak, gue minta maaf. Gue gak bisa jujur sama perasaan gue sendiri” katanya sesegukan dan ngebuat gue gak tega. Gue bener-bener gak tega.
“Pril, jangan nangis. Iyaa lo masih tetep April sahabat kecil gue” gue bingung harus ngapain. Gue mencoba menenangkan dengan memeluknya dan tiba-tiba dia ngajak pulang. Gue langsung mengiyakan dengan memesan taksi untuk kami pulang. Di perjalanan kita gak saling ngomong, sampai di rumah April langsung keluar taksi dan jalan gitu aja masuk ke dalem rumah tanpa ngomong apapun lagi ke gue.
Memori semalem masih sangat gue inget setiap detiknya. Setiap obrolan hangat kita ngobrolin masa depan, sampai obrolan antar perasaan dan di tutup dengan tangisan lo pril. Gue nyesel ngomong itu semalem.
“Bhakti, buruan lo. Berangkat kagak.” Teriak abang gue dari bawah yang membuat gue terperanjat dan segera menyambar ponsel berlari menuruni tangga.
Gue berpamitan dengan ibu dan Naya, adik gue. Ayah gue lagi kerja, gue udah pamitan lebih dulu tadi pagi sama beliau.
“Buu, Bhakti pamit cari ilmu ya buu. Do’ain ilmunya barokah” kataku sambil ketawa.
Giliran adik gue “Nay, abang kuliah dulu ya. Kamu di SMA 70 belajar yang pinter jangan malu-maluin abang sebagai adik seorang Bhakti” kataku.
Naya malah bilang “Paling juga abang yang malu-maluin Naya sebagai adiknya abang.”
“Abang kamu ini pinter yaa, enak aja”
Setelah berpamitan gue beranjak masuk ke mobil. Tapi, langkah gue berhenti saat mendengar teriakan khas April dari arah rumahnya. Benar April, dia lari ke arah gue dan memeluk gue erat banget.
“Gue bakal kangen lo Bhakti, jangan lupain gue ya. Gue sayang sama lo.” Gue membalas pelukan April sama eratnya. Menghirup dalam-dalam harum rambutnya yang bakal gue kangenin. Mengacak rambutnya, ngobrol sama dia, ngopi bareng. Wow, gue lebih sayang sama lo pril.
Pelukan kami terlepas, dan April bilang “Besok giliran gue berangkat ke Jogja. Kita bakal jarang ketemu. Lo baik-baik ya di Bandung” gue mengangguk sambil menghapus air matanya yang ngalir kenceng banget.
“Lo juga ya, jangan banyak-banyak minum kopi. Makin item lo ntar” dan dia memukuli lenganku tanpa ampun. Gue cuma ketawa.
“Bodoamat” katanya.
“Pril, gue serius. Gue sayang banget sama lo. Tunggu gue yaa” kata gue dengan teramat tulus. Dan dihadiahi pelukan lagi oleh April.
Pelukan kami terlepas, gue beranjak masuk ke mobil. Ibu menghampiri April dan menenangkan dia yang menangis. Gue bener-bener gak tega.
“Udah siap?” tanya abang gue di kursi kemudi.
“Udah, yuk berangkat” kataku mantab. Tanpa gue sadari, mata gue panas dan basah.
Happy reading :)
***
Sepuluh menit yang lalu hasil un di bacakan oleh kepala sekolah. Dan seluruh kelas 12 SMA 70 LULUS 100 %. Semua murid di lapangan bersorak senang merayakan kelulusan dan di tutup dengan sujud syukur bersama. Setelah itu ada yang teriak kesenengan, ada yang nangis haru karna setelah ini berpisah. Yaa, namanya juga SMA, masa yang pasti bakal lo kangenin kalo udah gak disini lagi.
Gue juga pasti bakal kangen banget setiap sudut sekolah gue, karna semua punya kenangan masing-masing. Pagar belakang sekolah buat bolos kalo gak ada pelajaran, kantin tempat nongkrong dan kabur saat pelajaranya gak asik, lapangan tempat kumpul bareng anak-anak kelas lain dan main futsal bareng, parkiran tempat yang agak gue hindari dan gak pengen gue inget. Karna yang ada di situ cuma kenangan pahit.
Ngomong-ngomong, sampai sekarang lulus gue belum sapa-sapaan lagi sama April. Dia bener-bener gak mau kenal gue. Di tambah sibuknya kegiatan di kelas 12, memaksa gue fokus ke diri gue biar bisa masuk ITB, kampus impian gue. Walaupun satu sekolah gue jarang liat dia juga, selain karna lorong kelas kita yang beda, dia ipa gue ips, gue tau dia selalu menghindar tiap mau papasan atau dalam situasi dimana ada gue di dalamnya. Kayak pas antri siomay, sama sama lagi di ruang guru, atau gak sengaja ketemu di uks. April selalu menghindar, pura-pura gak liat guelah, pura-pura asik ngobrol sama temenyalah, gue tau lo lagi pura-pura pril. Dikira gue kenal lo cuma sehari apa gak tau tindak tanduk lo, kita temenan dari sd. Dan gue sejauh ini belum tau siapa cowok yang lagi deket sama April.
Tapi, sedikit banyak gue denger dari anak-anak sebelum kelas 12 April sempet deket sama kakak kelas ipa 3. Gak tau juga sih gue. Tapi keliatanya berita itu bener, karna gue sering liat April pulang bareng.
Yahh.. Syukur kalo lo tetep masih punya temen buat sekedar dengerin cerita lo. Btw pril lo tau gak, gue kangen.
***
“Bhakti, buruan. Kamu ini siap-siap aja lama kayak cewek.” Teriak nyokap gue dari ruang tamu. Kebayangkan gimana kencengnya suara nyokap gue, sampe kedengeran di kamar gue lantai dua.
“Iyaa buu, bentar. Biar ganteng dulu lah anaknya, biar dapet cewek” teriaku sambil menutup pintu dan menuruni tangga.
Rencananya malam ini gue mau makan malam di restoran mahal nih sama keluarga, ceileh gaya. Sama nyokap, bokap, abang gue dan adik gue cewek satu. Acaranya merayakan kelulusan gue dan adik gue, gue lulus SMA si Naya lulusSMP. Dan juga perpisahan karna besok gue harus berangkat bandung buat mulai ospek. Alhamdulillah gue ketrima di kampus impian gue, dan gue ambil manajemen itb atas saran dari abang gue. Semoga ini pilihan yang baik.
Gue sekeluarga menuju restoran yang udah di resevasi terlebih dahulu oleh bokap. Sampai di sana semua berjalan lancar dan menyenangkan, sampai di tengah-tengah makan malam seorang ibu-ibu paruh baya menyapa kedua orang tua gue. Yang mana itu adalah ibunya April. Di susul April, ayah dan adiknya di belakang. Saat itu juga gue gak bisa berhenti liatin April dan jantung gue gak bisa gue kondisikan.
April menyadari keberadaan gue. Entah perasaan gue aja, atau emang dia sedang mengalihkan pandangan buat gak liat gue.
“Oh gitu, kebetulan kita rayakan bareng-bareng aja jeng. Ini juga lagi ngerayain kelulusan Bhakti sama Naya. Besok dia berangkat ke Bandung. Sini satu meja aja sekalian” ajak nyokap gue dengan ramah.
Mendengar ajakan itu, jantung gue makin gak karuan.
Pliss tante, cari meja lain aja sana. Pasti gak enak banget satu meja sama orang yang ngacuhin lo setahun terakhir.
“Terimakasih mbak Ratih, ini mas Fauzan udah reservasi sebelah sana kok” detik itu juga gue menghembuskan nafas lega.
“Iyaa, kami duluan ya Pak Haris. Silahkan dinikmati lagi makananya”
“Oh iyaa, mari mari” kata ayahku pada ayahnya April.
“Kok lo gak nyapa April sih dek” senggol abang gue. Keluarga gue gak ngerti aja masalahnya. Gue menaikan bahu tanda ‘bodoamat’.
“Wahh berantem ya lo” selidik abang gue rese.
Dan adik gue nyeletuk “Bang, Kak April cantik ya pake dress merah” tanpa gue sadari gue tersenyum dan mengiyakan dalam hati.
Selesai acara makan-makan gue sekeluarga berfoto bersama, gak sengaja saat itu juga keluarga April lewat. Ibu gue dengan sok akrabnya ngajak foto bareng. Duh, ibu gue ini banyak mau emang.
Ibu dan ayahnya April menerima permintaan nyokap gue. Gue mendadak salah tingkah di situasi awkward ini. Tiba-tiba saja abang gue mengajak April untuk fotonya di tengah-tengah gue dan abang gue. Emang sengaja itu orang.
Dan gak sengaja juga lengan gue menyenggol lengan April. Jantung gue udah kayak mau meledak. Gue sedikit mencuri pandang pada April. Benar kata si Naya, April cantik. Dia lagi senyum ke kamera dan gue memperhatikan ya dari samping, gak kerasa gue ikut senyum juga.
“Sudah pak, bagus bagus.” Kata mbak-mbak waiternya sembari mengenbalikan ponsel ayahku.
“Nanti dikirim ke saya ya mbak Ratih” kata tante Rosi pada nyokap gue. Mereka saling mengobrol-ngobrol. Ibu sesama ibu, ayah sesama ayah, adik gue main sama adiknya April, abang gue ngajak ngobrol April. Gue, celingukan sendiri sambil senyam senyum dengerin obrolan para ayah.
Abang gue menepuk pundak gue, gue menoleh dan dia berbisik di telinga gue “selesein dulu masalahnya, jangan di bawa ke Bandung. Nanti pusing” katanya sangat lirih tapi jelas.
Gue mengerjap saat melihat April tepat ada di hadapan gue. Lidah gue kaku, mau ngomong “hai” susah rasanya. Dan akhirnya April dulu yang angkat bicara.
“Hai Bhak” itu adalah sapaan pertama April setelah sekian lama kita gak saling ngobrol dan entah kenapa, beban gue rasanya hilang, legaaaa banget.
“Hai” kata gue agak kaku. Gue gak tau kenapa. Woy, santai aja Bhakti, ini kesempatan buat ngobrol lagi sama April. Jangan malu-maluin.
“Selamat ya, atas ketrimanya lo di ITB” ucap April dengan lancar.
Gue butuh beberapa detik untuk menangkap kalimatnya, kenapa gue tiba-tiba lemot.
“Oh itu, iya. Makasih” hening beberapa detik gue mencoba mencari topik.
“Btw, lo lanjut kemana pril?” April terkejut, terlihat dia mengangkat alisnya saat gue tanya.
“Gue.. Gue ke Jogja Bhak, ambil kedokteran” katanya.
“UGM?”
“Iyaa”
“Wow, selamat yaa. Moga betah di jogja, makananya enak enak kok disana” dan April tertawa dengan ucapanku. Wah, gue masih ada gunanya bisa bikin dia ketawa.
Tiba-tiba nyokap gue menghampiri dan bilang “Wah kalian kayak udah lama gak ketemu. Pasti masih banyak cerita lagi. Gimana kalo kalian jalan jalan aja dulu berdua, habis ini kan pada pisah, sibuk kuliah yaaa” iya sih, gue mikir.
Ibunya April ikut-ikutan nimbrung “Iya, kamu pulang bareng Bhakti aja ya pril. Mama juga mau mampir belanja ke supermarket, nanti lama kamu capek nungguin.” Gue diem aja, sedangkan April sedikit menolak.
“Maa, gak papa April nungguin mama belanja”
“Duh jangan, udah nanti pulang bareng Bhakti aja. Ya Bhakti, kamu jagain April yaa.” Gue refleks mengangguk dan spontan bilang “Iya tan” itu beneran dari alam bawah sadar gue. Gue gak tau apa-apa.
Abang gue di belakang nyokap seperti sedang memberi tatapan dengan kode ‘udah beres semuanya, jalan aja sana lo berdua’. Setelah itu semua orang masuk mobil masing-masing dan pulang.
Tinggalah gue dan April berdua. Gue bingung mau ngapain dan akhirnya gue cuma bilang “Pril, mau ngopi?” tawarku yang langsung di iyakan oleh April dengan tersenyum maniiissss bangeettt. Ibarat madu ditambah gula pasir di siram pake sirup marjan.
***
Koper gue udah siap, segala yang gue butuhin sebagai seorang anak kos udah disiapkan oleh nyokap gue. Gue udah bilang gak usah bawa banyak-banyak nanti berat. Tapi nyokap ngeyel, katanya “ini juga penting bhakti, ini juga. Kalo gak ada ini kamu gak bisa ini itu. Anak kos itu harus hemat, kalo bisa sendiri gak usah beli beli” dan gue cuma bisa liatin dan nurut.
Hari ini gue berangkat ke Bandung dianter abang gue aja. Karna banyak banget barang yang harus gue bawa, sedangkan mobilnya sempit. Semua barang udah di masukin ke mobil, tinggal gue aja yang belum. Gue masih tiduran di kamar gue, sambil liatin foto semalem bareng keluarganya April. Ternyata di semua foto gue lagi liatin April, gak ada yang liat kamera. Gak sadar banget gue. Jadi senyum-senyum sendiri liatnya.
Kemarin tau kalau hari ini mau ke Bandung rasanya santai-santai aja, biasa aja gitu. Gak tau kenapa hari ini kerasa berat banget. Mungkin karna semalem gue baru aja ngelepas rindu sama April, masa hari ini kita gak ketemu lagi. Mungkin sih.
Oh iya, semalem gue ngobrol banyak banget sama April. Sampe gak kerasa tiba-tiba udah tengah malem banget. Setelah saling minum kopi masing-masing rasanya ngobrol ngalir gitu aja, udah gak ada rasa canggung. Udah kayak dulu lagi. Gue seneng banget.
Gue juga sempet nanyain ke April kenapa dia acuhin gue, dan gue terkejut denger jawabnya “Sorry banget Bhak, gue beneran keget pas denger omongan Ryan waktu. Gue nyesel, kenapa gue bego banget gak bisa rasain perasaan lo ke gue. Temen-temen gue bisa rasain lo suka sama gue, Ryan juga tau, temen-temen lo juga, sedangkan gue. Gue. . Gue sebenernya marah sama diri gue sendiri. Gue cuma butuh waktu buat mikir” gue mendengarkan semua yang April ucapin tanpa memotong sedikitpun, tanpa memprotes apapun.
“Gue gak bermaksud menghindar dari lo, gue cuma butuh waktu buat sendiri. Tapi, gue merasa gak punya temen tau bhak lo gu cuekin. Pas gue bingung gue nelfon lo buat gue ajak ngobrol, sedangkam saat gue bingung gara-gara lo gue bingung juga mau ngajak ngobrol siapa” ucap April ketawa miris.
“Si kakak kelas ipa 3 ?” tanyaku refleks.
“Siapa? Galih? Dia bukan pendengar yang baik. Sama aja kayak Ryan” Oh, namanya Galih.
“Lo sendiri?”
“Gue?” gue menunjuk diri gue sendiri.
“Iya, lo udah ada cewek?” yang pengen gue jadiin cewek aja ngacuhin gue setahun terakhir.
“Haha, belum kepikiran” setelah itu hening.
“Bhak, gue masih sahabat lo kan?” pertanyaan itu membuat gue terkejut.
“Gue sih yang harusnya nanya sama lo setelah ngacuhin gue” kata-kata gue membuat April tertunduk. Dan tiba-tiba aja dia nangis.
“Bhak, gue minta maaf. Gue gak bisa jujur sama perasaan gue sendiri” katanya sesegukan dan ngebuat gue gak tega. Gue bener-bener gak tega.
“Pril, jangan nangis. Iyaa lo masih tetep April sahabat kecil gue” gue bingung harus ngapain. Gue mencoba menenangkan dengan memeluknya dan tiba-tiba dia ngajak pulang. Gue langsung mengiyakan dengan memesan taksi untuk kami pulang. Di perjalanan kita gak saling ngomong, sampai di rumah April langsung keluar taksi dan jalan gitu aja masuk ke dalem rumah tanpa ngomong apapun lagi ke gue.
Memori semalem masih sangat gue inget setiap detiknya. Setiap obrolan hangat kita ngobrolin masa depan, sampai obrolan antar perasaan dan di tutup dengan tangisan lo pril. Gue nyesel ngomong itu semalem.
“Bhakti, buruan lo. Berangkat kagak.” Teriak abang gue dari bawah yang membuat gue terperanjat dan segera menyambar ponsel berlari menuruni tangga.
Gue berpamitan dengan ibu dan Naya, adik gue. Ayah gue lagi kerja, gue udah pamitan lebih dulu tadi pagi sama beliau.
“Buu, Bhakti pamit cari ilmu ya buu. Do’ain ilmunya barokah” kataku sambil ketawa.
Giliran adik gue “Nay, abang kuliah dulu ya. Kamu di SMA 70 belajar yang pinter jangan malu-maluin abang sebagai adik seorang Bhakti” kataku.
Naya malah bilang “Paling juga abang yang malu-maluin Naya sebagai adiknya abang.”
“Abang kamu ini pinter yaa, enak aja”
Setelah berpamitan gue beranjak masuk ke mobil. Tapi, langkah gue berhenti saat mendengar teriakan khas April dari arah rumahnya. Benar April, dia lari ke arah gue dan memeluk gue erat banget.
“Gue bakal kangen lo Bhakti, jangan lupain gue ya. Gue sayang sama lo.” Gue membalas pelukan April sama eratnya. Menghirup dalam-dalam harum rambutnya yang bakal gue kangenin. Mengacak rambutnya, ngobrol sama dia, ngopi bareng. Wow, gue lebih sayang sama lo pril.
Pelukan kami terlepas, dan April bilang “Besok giliran gue berangkat ke Jogja. Kita bakal jarang ketemu. Lo baik-baik ya di Bandung” gue mengangguk sambil menghapus air matanya yang ngalir kenceng banget.
“Lo juga ya, jangan banyak-banyak minum kopi. Makin item lo ntar” dan dia memukuli lenganku tanpa ampun. Gue cuma ketawa.
“Bodoamat” katanya.
“Pril, gue serius. Gue sayang banget sama lo. Tunggu gue yaa” kata gue dengan teramat tulus. Dan dihadiahi pelukan lagi oleh April.
Pelukan kami terlepas, gue beranjak masuk ke mobil. Ibu menghampiri April dan menenangkan dia yang menangis. Gue bener-bener gak tega.
“Udah siap?” tanya abang gue di kursi kemudi.
“Udah, yuk berangkat” kataku mantab. Tanpa gue sadari, mata gue panas dan basah.
***
Lanjut ke part 4 yaaa, disini.
April #2
Yang belum baca chapter 1 bisa baca disini. Happy reading :)
Karna selama berpacaran dengan Ryan, Ryanlah yang mengantar-jemput April. Dia nyerobot posisi gue, padahal gue duluan yang selalu jadi ojek pribadi April. Lagian gue yang satu sekolah sama April di SMA 70, Ryan di sekolah swasta international gitu yang jaraknya kalo dari sekolah gue ada 3 km. Yaaa, namanya juga cinta.
Dan tiba-tiba pagi ini April udah nongol di depan pintu rumah gue dan ngajak berangkat bareng. Rejeki anak soleh gak kemana. Yang tadinya lagi kesel karna bangun kesiangan dan diomelin nyokap, mendadak bersemangat liat April ada di depan rumah.
“Ayoo buruan bhakti, malah bengong. Keburu telat kita” rengek April mengajaku buru-buru.
Gue dengan semangat 45 melajukan motorku menerobos kemacetan. Pengenya sih kalem-kalem karna lagi boncengin April. Tapi si cantik nenek lampir di belakang gue ini ngomel mulu minta buru-buru. Jadi kayak ada reaksi refleks dari tubuh gue buat melakukan perintahnya. Yaa, namanya juga cinta.
Jarak rumah gue ke sekolah ada 5 km, dan gue tempuh dengan waktu 7 menit. Lets say wow. Gak usah deng, lebay.
Sampai di sekolah gue langsung menuju parkiran. Setelah itu April buru-buru turun dan mau langsung kabur aja ke kelas. Tapi, gue langsung nahan dia buat nganterin gue dulu ke kopsis beli pulpen. Sebenernya alasan aja sih, biar agak lama sama April.
Tapi dia bilang “duh Bhakti, gue ada ulangan kimia jam pertama. Ada materi yang belum gue pelajari. Udah, lo ke kopsis sendiri aja. Masa gak berani, cemen banget”
“Gue udah ulangan kemarin, mau gue kasih tau apa aja yang keluar” tawarku untuk menahanya.
“Gak, gue gak percaya. Lo ips mana ada kimia bego”
“Oh iya, lupa. Yaudah, ke kopsis aja dulu pril. Ayo”
“Pergi sendiri sana deh. Udah dulu yaa. Byeeee” dan dia berlari di persimpangan koridor menuju kelas ipa 2.
Gue berbalik badan untuk menuju kelasku
ips 3. Tapi gue berbalik lagi saat mendengar teriakan april dari lorong yang menggema.
“Bhakti, nanti balik bareng yaaaa” katanya sambil tersenyum dan kembali lari menuju kelasnya.
Gue senyum dan berlari menuju kelas gue sambil teriak-teriak seneng gak jelas. “Wohooooo. Dia minta balik bareng gue lagiiikk” teriaku tepat di depan muka salah satu murid berkacamata. Dan dia hanya menanggapi dengan mlongo kebingungan liat gue seneng gak karuan.
April kecil gue masih sama.
“Parah lo kemarin main cabut aja mau futsal juga.” Protes Baim teman sekelasku. Sekarang sudah bel pulang sekolah, tapi April katanya masih ada tugas kelompok sama temen sekelasnya di kelas. Gue tunggu aja dia di lapangan sambil tidak berhenti melihati pintu kelasnya dari jauh.
Gak taunya disini juga ada anak-anak kelas gue lagi pada nongkrong sambil main bola.
“Sorry bro, kemaren ada emergency banget”
“Emergency apaan?”
“Kucing gue lupa belom potong kuku” gue cekikan sendiri, sedangkan si Baim cuman bisa memaklumi.
“Terserah lo dah. Lo gak pulang cepet kan? Futsal dulu yok, gue panggil anak-anak.” Tawar Baim.
“Gak sih cuma lagi nunggu orang” kataku lirih hampir seperti berbisik.
“Ha? Apa?”
“Eng.. Enggak, iya. Yaudah main” kataku gelagapan.
Baim memanggil anak-anak lain buat ikutan main. Mata gue masih fokus memperhatikan pintu kelas ipa 2.
“Bhak, suit dulu. Lo grup mana?”
Gue menoleh “Apaan?”
“Suit” Baim mengulangi.
Baru mau berdiri gue liat April baru aja keluar kelas sama temen-temenya. Gue langsung menyambar tas gue yang tergeletak dan berlari menghampiri April.
“Bhak Bhaktii, kemana lo”
“Gue gak jadi ikut, besok aja yaaa” teriak gue sambil berlari keluar lapangan.
“Aprriilll” teriak gue menggelegar seantero lorong kelas ipa. April menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
Gue mengerem kaki sampai berhenti tepat di depan April. “Woyy. . Santai santai. Ngapain lari lari sih” kata April. Gue cuma cengengesan.
“Eng. . Jadi pulang bareng kan?” tanyaku. April mengangguk sambil senyum.
“Yaudah yuk” kataku sambil menggandeng tangan April menuju parkiran.
Sampai di parkiran gue memberikan helm pada April dan saat gue mau pake helm gue, tiba-tiba satu pukulan keras mendarat di pipi gue sampai gue tersungkur ke tanah. Kenapa gak nunggu gue pake helm dulu kek, biar gak sakit sakit banget.
“Ryaaannn lo apa apan sih” teriak April lalu berjongkok membantuku. Oh, Ryan.
“Jadi karna ini kamu mutusin aku semalem. Karna Bhakti?” bentak Ryan. Gue masih gak ngerti apa yang mereka omongin. Ryan menarik paksa April untuk berdiri agar tidak membantuku.
“Ih.. Lo apaan sih. Denger ya Ryan, gue putusin lo karna gue udah gak kuat sama sifat lo ke gue. Lo tuh egois, cuma diri lo sendiri yang lo pikirin.” Bentak April tepat di depan wajah Ryan.
Gue berusaha berdiri dan ikut membela April.
“Gak usah kasar juga ge, dia ini cewek” kataku tenang dan melepas cengkraman keras Ryan di tangan April.
Ryan malah membalas senyum sinis ke gue. Lah, salah gue apa.
“Yakin perasaan kalian berdua gak pernah lebih dari sahabat?” Ryan melihati gue dan April bergantian.
Tiba-tiba April menjawab dengan lantang “Ya” membuat gue menoleh ke arahnya. “Seenggaknya Bhakti bukan cowok egois kayak lo”
Ryan terkejut mendengar kata-kata April. “Pril, gue gak mau kita putus” kata Ryan terdengar tulus. Lalu dia beralih menatapku dengan tatapan marah.
“Lo gak mau bilang juga sekalian. Biar April juga tau” katanya.
“Ngomong apa sih lo toge. Pulang aja sana April biar pulang sama gu..”
“Semua orang juga tau, lo suka juga kan sama April.” Aku mencoba menahan amarahku saat Ryan mulai membongkar rahasiaku.
“Bilang sekarang bhak, lo selama ini cinta sama April.”Bentak Ryan ke gue.
“Mulai sekarang lo gak usah deh ngarepin April lagi. Dia cuma nganggep elo gak pernah lebih dari sa ha bat” tanganku refleks menghadiahi pipi Ryan dengan bogeman keras.
“Comel mulut lo kayak cewek” teriak gue saat menonjok Ryan sampai dia tersungkur ke tanah. Tadinya gue gak mau marah saat dia nonjok gue, karna gue pikir wajar kalau dia cemburu sama gue. Tapi setelah dia membongkar perasaan gue ke April yang seharusnya gue sendiri yang bilang nanti di waktu yang tepat, gue berubah pikiran.
“Bhakti. . Loo..” ucap April terkejut mendengar ucapan Ryan yang semuanya berdasarkan fakta. Tatapan April berubah kesal, tak percaya dan ahhh.. Gue sampe gak bisa jelasinya. Sedangkan gue yang bisa melihatnya dengan tatapan bersalah dan menyesal.
Mulut gue berusaha bergerak untuk bilang maaf, tapi terlambat. April sudah melangkah pergi dengan tatapan benci sebenci-bencinya ke gue. Meninggalkan gue sama si kunyuk toge yang tersenyum senang melihat gue. Dan si toge ikut pergi menyusul April. Gue. . Gak tau lagi mau ngapain.
Gue berjalan balik lagi ke lapangan. Hasrat untuk segera pulang cepat hilang. Rasanya malah ingin di sekolah aja.
“Broo, ikut main” teriaku dari jauh kepada anak-anak yang sedang futsal.
Baikm menoleh sambil berkacak pinggang.
“Tadi mau buru-buru pulang, sekarang balik lagi” gue senyum tipis, melempar tasku ke pinggir lapangan dan berlari menuju tengah.
“Paling di rumah ntar juga sepi. Yok, ikut mana nih gue” alibiku.
“Terserah. Eh, kenapa muka lo bonyok gitu” tanya Guntur di sebelah gue.
“Kesandung tadi. Udah gak papa. Yuk main”
Gue sedang mencari cara untuk melupakan sebentar April. Melupakan kata-kata Ryan. Dan menenangkan jiwa dan fikiranku.
Baim bergumam dengan keras “Gara-gara cewek ini pasti” aku tidak menanggapinya. Mencoba fokus menggiring bola.
Tapi sial, seperti kataku kemarin. Saat sedang futsalpun April yang aku fikirkan. Bohong kalo gue bilang pas futsal bisa ngelupain cewek gue. Nyatanya, tetep April yang gue fikirin.
Bego banget sih lo Bhakti. Kenapa pake suka sama sahabat lo sendiri. Kan ribet urusanya.
Hari beranjak sore. Anak-anak yang lain udah pada pulang habis sholat ashar. Sedangkan gue masih terduduk sendiri di pinggir lapangan. Gue gak ngerti apa yang harus gue lakuin sekarang. Haruskah gue ngejar April dan meminta maaf karna udah melewati batas persahabatan? Atau gue mending diem aja sampai dia ngambil keputusan buat gue? Gue bingung. Apa yang harus gue lakukan.
Hari sudah semakin petang. Habis ini maghrib. Lebih baik gue pulang aja deh, dan lanjut mikir di rumah habis mandi, pake kepala dingin. Semoga gue gak ketemu April di jalan. Gue belum siap buat liat tatapanya kalo masih kayak tadi terakhir dia liat gue.
Gue sedang asik mengobrol bareng temen-temen gue di kantin. Ngobrol haha hihi sambil menghabiskan sepiring siomay. Dan disaat itu juga April bersama gerombolan teman sekelasnya lewat di depan meja gue. Refleks gue noleh ke dia dan mata gue gak bisa berhenti lihat dia sampai dia duduk.
Sedangkan April, tidak sedikitpun melihat ke arah gue. Mungkin buat dia sekarang gue cuma benda mati yang gak perlu di perhatikan.
Ini sudah seminggu setelah kejadian adu tonjok sama Ryan. Dan April tidak kunjung memberitau keputusan apa yang dia ambil. Jangan di kira seminggu ini gue diem aja, gue berusaha minta maaf sama dia. Mulai lewat chat yang gak pernah dia read sampai gue bilang langsung meski lewat perantara temen sekelasnya atau orangtuanya saat di rumah. Dan hasilnya, April gak mau ketemu gue.
Tapi mungkin sekarang gue bisa paham, apa yang dia pilih. Mengacuhkan gue. Gak lagi anggap gue ada. Dan gak pernah mau kenal gue lagi. Hal yang sangat gue takuti kalau gue menyatakan perasaan gue ke dia sudah terjadi sekarang. Dan gue gak tau harus ngapain lagi.
Guntur tiba-tiba menepuk pundak gue tapi mata gue masih fokus pada April “udah, kalo emang suka ngomong aja langsung.” Saran Guntur yang gak bisa gue iyakan.
“Masalahnya gak sesepele itu” kata gue kehilangan selera makan dan hanya mengaduk sisa siomay.
“Kalo emang gak baik buat lo emang di jauhin bro sama Allah” sekarang giliran si paling alim Alif yang angkat bicara.
“Nanti kalo jodoh juga di deketin lagi.” Katanya.
“Kayak gue pernah baca di timeline mana gituu. Wah nyontek kata-kata lo” teriak Baim. Gue tertawa dan mengiyakan dalam hati ucapan Alif barusan. Gue berharap bisa deket lagi sama lo pril, gue gak berharap kita berjodoh. Gue berharap lo bahagia dengan keputusan yang lo ambil dalam hidup lo. Gue berharap lo bahagia. Gue berharap tanpa gue, lo masih punya banyak orang untuk di pinjami bahu tuk bersandar, raga tuk berlindung dan telinga tuk denger masalah-masalah lo, juga tangan yang gak akan melepas lo lagi kayak gue. Gue berharap orang itu gak memberi saran ke lo, karna percuma, pasti lo tolak mentah-mentah. Gue masih SELALU ada buat lo pril. Karna gue yakin, lo pasti bakal balik
***
Hari ini secara perdana gue kembali lagi menjadi ojek khusus untuk April. Tanpa log in aplikasi, tanpa dibayar. Gue bersedia.Karna selama berpacaran dengan Ryan, Ryanlah yang mengantar-jemput April. Dia nyerobot posisi gue, padahal gue duluan yang selalu jadi ojek pribadi April. Lagian gue yang satu sekolah sama April di SMA 70, Ryan di sekolah swasta international gitu yang jaraknya kalo dari sekolah gue ada 3 km. Yaaa, namanya juga cinta.
Dan tiba-tiba pagi ini April udah nongol di depan pintu rumah gue dan ngajak berangkat bareng. Rejeki anak soleh gak kemana. Yang tadinya lagi kesel karna bangun kesiangan dan diomelin nyokap, mendadak bersemangat liat April ada di depan rumah.
“Ayoo buruan bhakti, malah bengong. Keburu telat kita” rengek April mengajaku buru-buru.
Gue dengan semangat 45 melajukan motorku menerobos kemacetan. Pengenya sih kalem-kalem karna lagi boncengin April. Tapi si cantik nenek lampir di belakang gue ini ngomel mulu minta buru-buru. Jadi kayak ada reaksi refleks dari tubuh gue buat melakukan perintahnya. Yaa, namanya juga cinta.
Jarak rumah gue ke sekolah ada 5 km, dan gue tempuh dengan waktu 7 menit. Lets say wow. Gak usah deng, lebay.
Sampai di sekolah gue langsung menuju parkiran. Setelah itu April buru-buru turun dan mau langsung kabur aja ke kelas. Tapi, gue langsung nahan dia buat nganterin gue dulu ke kopsis beli pulpen. Sebenernya alasan aja sih, biar agak lama sama April.
Tapi dia bilang “duh Bhakti, gue ada ulangan kimia jam pertama. Ada materi yang belum gue pelajari. Udah, lo ke kopsis sendiri aja. Masa gak berani, cemen banget”
“Gue udah ulangan kemarin, mau gue kasih tau apa aja yang keluar” tawarku untuk menahanya.
“Gak, gue gak percaya. Lo ips mana ada kimia bego”
“Oh iya, lupa. Yaudah, ke kopsis aja dulu pril. Ayo”
“Pergi sendiri sana deh. Udah dulu yaa. Byeeee” dan dia berlari di persimpangan koridor menuju kelas ipa 2.
Gue berbalik badan untuk menuju kelasku
ips 3. Tapi gue berbalik lagi saat mendengar teriakan april dari lorong yang menggema.
“Bhakti, nanti balik bareng yaaaa” katanya sambil tersenyum dan kembali lari menuju kelasnya.
Gue senyum dan berlari menuju kelas gue sambil teriak-teriak seneng gak jelas. “Wohooooo. Dia minta balik bareng gue lagiiikk” teriaku tepat di depan muka salah satu murid berkacamata. Dan dia hanya menanggapi dengan mlongo kebingungan liat gue seneng gak karuan.
April kecil gue masih sama.
***
“Parah lo kemarin main cabut aja mau futsal juga.” Protes Baim teman sekelasku. Sekarang sudah bel pulang sekolah, tapi April katanya masih ada tugas kelompok sama temen sekelasnya di kelas. Gue tunggu aja dia di lapangan sambil tidak berhenti melihati pintu kelasnya dari jauh.
Gak taunya disini juga ada anak-anak kelas gue lagi pada nongkrong sambil main bola.
“Sorry bro, kemaren ada emergency banget”
“Emergency apaan?”
“Kucing gue lupa belom potong kuku” gue cekikan sendiri, sedangkan si Baim cuman bisa memaklumi.
“Terserah lo dah. Lo gak pulang cepet kan? Futsal dulu yok, gue panggil anak-anak.” Tawar Baim.
“Gak sih cuma lagi nunggu orang” kataku lirih hampir seperti berbisik.
“Ha? Apa?”
“Eng.. Enggak, iya. Yaudah main” kataku gelagapan.
Baim memanggil anak-anak lain buat ikutan main. Mata gue masih fokus memperhatikan pintu kelas ipa 2.
“Bhak, suit dulu. Lo grup mana?”
Gue menoleh “Apaan?”
“Suit” Baim mengulangi.
Baru mau berdiri gue liat April baru aja keluar kelas sama temen-temenya. Gue langsung menyambar tas gue yang tergeletak dan berlari menghampiri April.
“Bhak Bhaktii, kemana lo”
“Gue gak jadi ikut, besok aja yaaa” teriak gue sambil berlari keluar lapangan.
“Aprriilll” teriak gue menggelegar seantero lorong kelas ipa. April menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
Gue mengerem kaki sampai berhenti tepat di depan April. “Woyy. . Santai santai. Ngapain lari lari sih” kata April. Gue cuma cengengesan.
“Eng. . Jadi pulang bareng kan?” tanyaku. April mengangguk sambil senyum.
“Yaudah yuk” kataku sambil menggandeng tangan April menuju parkiran.
Sampai di parkiran gue memberikan helm pada April dan saat gue mau pake helm gue, tiba-tiba satu pukulan keras mendarat di pipi gue sampai gue tersungkur ke tanah. Kenapa gak nunggu gue pake helm dulu kek, biar gak sakit sakit banget.
“Ryaaannn lo apa apan sih” teriak April lalu berjongkok membantuku. Oh, Ryan.
“Jadi karna ini kamu mutusin aku semalem. Karna Bhakti?” bentak Ryan. Gue masih gak ngerti apa yang mereka omongin. Ryan menarik paksa April untuk berdiri agar tidak membantuku.
“Ih.. Lo apaan sih. Denger ya Ryan, gue putusin lo karna gue udah gak kuat sama sifat lo ke gue. Lo tuh egois, cuma diri lo sendiri yang lo pikirin.” Bentak April tepat di depan wajah Ryan.
Gue berusaha berdiri dan ikut membela April.
“Gak usah kasar juga ge, dia ini cewek” kataku tenang dan melepas cengkraman keras Ryan di tangan April.
Ryan malah membalas senyum sinis ke gue. Lah, salah gue apa.
“Yakin perasaan kalian berdua gak pernah lebih dari sahabat?” Ryan melihati gue dan April bergantian.
Tiba-tiba April menjawab dengan lantang “Ya” membuat gue menoleh ke arahnya. “Seenggaknya Bhakti bukan cowok egois kayak lo”
Ryan terkejut mendengar kata-kata April. “Pril, gue gak mau kita putus” kata Ryan terdengar tulus. Lalu dia beralih menatapku dengan tatapan marah.
“Lo gak mau bilang juga sekalian. Biar April juga tau” katanya.
“Ngomong apa sih lo toge. Pulang aja sana April biar pulang sama gu..”
“Semua orang juga tau, lo suka juga kan sama April.” Aku mencoba menahan amarahku saat Ryan mulai membongkar rahasiaku.
“Bilang sekarang bhak, lo selama ini cinta sama April.”Bentak Ryan ke gue.
“Mulai sekarang lo gak usah deh ngarepin April lagi. Dia cuma nganggep elo gak pernah lebih dari sa ha bat” tanganku refleks menghadiahi pipi Ryan dengan bogeman keras.
“Comel mulut lo kayak cewek” teriak gue saat menonjok Ryan sampai dia tersungkur ke tanah. Tadinya gue gak mau marah saat dia nonjok gue, karna gue pikir wajar kalau dia cemburu sama gue. Tapi setelah dia membongkar perasaan gue ke April yang seharusnya gue sendiri yang bilang nanti di waktu yang tepat, gue berubah pikiran.
“Bhakti. . Loo..” ucap April terkejut mendengar ucapan Ryan yang semuanya berdasarkan fakta. Tatapan April berubah kesal, tak percaya dan ahhh.. Gue sampe gak bisa jelasinya. Sedangkan gue yang bisa melihatnya dengan tatapan bersalah dan menyesal.
Mulut gue berusaha bergerak untuk bilang maaf, tapi terlambat. April sudah melangkah pergi dengan tatapan benci sebenci-bencinya ke gue. Meninggalkan gue sama si kunyuk toge yang tersenyum senang melihat gue. Dan si toge ikut pergi menyusul April. Gue. . Gak tau lagi mau ngapain.
Gue berjalan balik lagi ke lapangan. Hasrat untuk segera pulang cepat hilang. Rasanya malah ingin di sekolah aja.
“Broo, ikut main” teriaku dari jauh kepada anak-anak yang sedang futsal.
Baikm menoleh sambil berkacak pinggang.
“Tadi mau buru-buru pulang, sekarang balik lagi” gue senyum tipis, melempar tasku ke pinggir lapangan dan berlari menuju tengah.
“Paling di rumah ntar juga sepi. Yok, ikut mana nih gue” alibiku.
“Terserah. Eh, kenapa muka lo bonyok gitu” tanya Guntur di sebelah gue.
“Kesandung tadi. Udah gak papa. Yuk main”
Gue sedang mencari cara untuk melupakan sebentar April. Melupakan kata-kata Ryan. Dan menenangkan jiwa dan fikiranku.
Baim bergumam dengan keras “Gara-gara cewek ini pasti” aku tidak menanggapinya. Mencoba fokus menggiring bola.
Tapi sial, seperti kataku kemarin. Saat sedang futsalpun April yang aku fikirkan. Bohong kalo gue bilang pas futsal bisa ngelupain cewek gue. Nyatanya, tetep April yang gue fikirin.
Bego banget sih lo Bhakti. Kenapa pake suka sama sahabat lo sendiri. Kan ribet urusanya.
Hari beranjak sore. Anak-anak yang lain udah pada pulang habis sholat ashar. Sedangkan gue masih terduduk sendiri di pinggir lapangan. Gue gak ngerti apa yang harus gue lakuin sekarang. Haruskah gue ngejar April dan meminta maaf karna udah melewati batas persahabatan? Atau gue mending diem aja sampai dia ngambil keputusan buat gue? Gue bingung. Apa yang harus gue lakukan.
Hari sudah semakin petang. Habis ini maghrib. Lebih baik gue pulang aja deh, dan lanjut mikir di rumah habis mandi, pake kepala dingin. Semoga gue gak ketemu April di jalan. Gue belum siap buat liat tatapanya kalo masih kayak tadi terakhir dia liat gue.
***
Gue sedang asik mengobrol bareng temen-temen gue di kantin. Ngobrol haha hihi sambil menghabiskan sepiring siomay. Dan disaat itu juga April bersama gerombolan teman sekelasnya lewat di depan meja gue. Refleks gue noleh ke dia dan mata gue gak bisa berhenti lihat dia sampai dia duduk.
Sedangkan April, tidak sedikitpun melihat ke arah gue. Mungkin buat dia sekarang gue cuma benda mati yang gak perlu di perhatikan.
Ini sudah seminggu setelah kejadian adu tonjok sama Ryan. Dan April tidak kunjung memberitau keputusan apa yang dia ambil. Jangan di kira seminggu ini gue diem aja, gue berusaha minta maaf sama dia. Mulai lewat chat yang gak pernah dia read sampai gue bilang langsung meski lewat perantara temen sekelasnya atau orangtuanya saat di rumah. Dan hasilnya, April gak mau ketemu gue.
Tapi mungkin sekarang gue bisa paham, apa yang dia pilih. Mengacuhkan gue. Gak lagi anggap gue ada. Dan gak pernah mau kenal gue lagi. Hal yang sangat gue takuti kalau gue menyatakan perasaan gue ke dia sudah terjadi sekarang. Dan gue gak tau harus ngapain lagi.
Guntur tiba-tiba menepuk pundak gue tapi mata gue masih fokus pada April “udah, kalo emang suka ngomong aja langsung.” Saran Guntur yang gak bisa gue iyakan.
“Masalahnya gak sesepele itu” kata gue kehilangan selera makan dan hanya mengaduk sisa siomay.
“Kalo emang gak baik buat lo emang di jauhin bro sama Allah” sekarang giliran si paling alim Alif yang angkat bicara.
“Nanti kalo jodoh juga di deketin lagi.” Katanya.
“Kayak gue pernah baca di timeline mana gituu. Wah nyontek kata-kata lo” teriak Baim. Gue tertawa dan mengiyakan dalam hati ucapan Alif barusan. Gue berharap bisa deket lagi sama lo pril, gue gak berharap kita berjodoh. Gue berharap lo bahagia dengan keputusan yang lo ambil dalam hidup lo. Gue berharap lo bahagia. Gue berharap tanpa gue, lo masih punya banyak orang untuk di pinjami bahu tuk bersandar, raga tuk berlindung dan telinga tuk denger masalah-masalah lo, juga tangan yang gak akan melepas lo lagi kayak gue. Gue berharap orang itu gak memberi saran ke lo, karna percuma, pasti lo tolak mentah-mentah. Gue masih SELALU ada buat lo pril. Karna gue yakin, lo pasti bakal balik
***
Lanjut ke part 3 yaa disini.
April #1
Di luar sedang gerimis. Jalanan basah oleh air. Indera penciumanku di suguhkan aroma pethricore sore hari. Aku menikmatinya dengan secangkir caramel mocchiato hangat dan alunan lagu Aprilnya Fiersa Besari dari sound cafe. Ponselku bergetar lagi. Dan aku mengabaikanya lagi. Entah sudah keberapa kali. Aku sedang muak dengan orang yang namanya tertera di ponselku. Bosan dengan ceritanya yang itu itu saja. Tentang dia, dia dan dia. Tidak pernah kah dia terbesit sedikit tentang aku? Menanyakan hariku bagaimana misalnya.
Aku jadi mempertanyakan sesuatu. Bagaimana dulu aku bisa jatuh cinta padanya?
Waktu memang penjahat. Merubah segala benci jadi cinta begitu sebaliknya, seiring berjalanya waktu. Jahat bukan?
Sekarang aku dalam situasi rumit. Ingin menyudahi tapi rasanya begitu berat. Seolah ada sebagian dariku yang masih di bawa olehnya, separuh diriku sudah aku serahkan padanya sejak pertama kali kita berkenalan. Ya, cinta. Bodohnya aku ini. Bukanya terlalu awal untuk bicara soal ini? Aku baru 17 tahun.
“Woy..!” Suara bariton dan satu hentakan kaki ke lantai berhasil membuyarkan lamunan dan fikiranku yang melayang-layang.
“Ngelamun aja lu” ledek Bhakti dengan wajah cengengesan.
“Berisik lo, orang lagi pusing”
“Gaya pusing, kayak punya masalah aja”
“Emang, banyak banget”
Bhakti ini temanku dari sd. Kita tetanggaan. Dan dia selalu ada buatku disaat aku butuh barengan ke sekolah, nganterin cari novel, temen ngopi di cafe sampai temen nonton drama korea.
“Jaman sekarang gak jaman banyak masalah. Jamanya tuh banyak followers” katanya setelah melepas jaket dan mengambil kursi duduk berhadapan denganku.
“Jayus lu. Pesen kopi gak?” tawarku.
“Boleh deh, ngantuk banget gue”
Waiter berjalan mengahampiri kami dan mencatat pesanan. Aku kembali melamun.
“Kenapa lagi si toge?” Bhakti bertanya setelah waiter pergi.
“Namanya Ryan bhak” kataku seperti biasa saat Bhakti mulai memanggil pacarku begitu.
“Emang dia itu toge dari kecil. Oke oke Ryan”
Aku hanya menggeleng sambil mengaduk-aduk minumanku. Tanpa aku beritahu, Bhakti pasti sudah tau sendiri masalah apa yang aku hadapi dan bagaimana perasaanku sekarang.
Di situasi seperti ini memang Bhakti yang selalu aku ajak pusing. Sorry ya. Cuma dia yang terbesit dalam fikiranku untuk aku telfon dan menyuruhnya datang hanya untuk kuajak mengobrol. Hanya begitu saja, aku sudah jauh lebih baik dan melupakan Ryan sesaat.
“Pril April, andai lo ini cowok”
“Kenapa emang kalo gue cowok?”
“Lo bisa gue ajak futsal sekarang dan gue jamin gak bakal kepikiran lagi sama cowok lu”
“Iya lah, kalo gue cowok gue mikirinya cewek gue haha” kataku sambil tertawa.
“Gue gak ada cewek buat dipikirin nih kalo lagi futsal. Mikirin lo boleh gak?” Bhakti memelas.
“Gak. Karna gue sekarang cowok.”
“Yaudah, kalo gitu lo jadi cowok gue mau ya?” seketika aku melemparinya dengan tisu tisu di sekitarku bekas kupakai.
“Hiii apaan sih lo Bhakti. Homo”
“Priilll jorok banget si, tisu di lempar-lempar.” Dan aku tertawa melihat wajah jengkelnya.
Obrolan tidak jelas kami berlanjut hingga sore menjemput petang, dan petang berganti malam. Jingga di balik gedung-gedung tinggi sudah hilang. Berganti gelap dan dihiasi cahaya lampu-lampu jalanan. Makin malam bukanya makin sepi, jalanan malah makin ramai. Oleh para pekerja lembur yang ingin segera pulang dan menyapa keluarga mereka.
“Balik yuk pril. Gue anter” tawar Bhakti dan aku mengiyakan.
Dan sekarang di sinilah aku. Di atas motor berteman angin malam dan obrolan dengan Bhakti yang masih berlanjut diantara deru suara kendaraan dan kemacetan.
Bhakti Angkasa Raya
Acara futsal bareng temen sekelas gue langsung gue batalin dan meluncur ke cafe setelah menerima telfon dari dia. Siapa lagi dia kalo bukan Atiera April Shaqilla. Sahabat gue dari kecil. Yang diam-diam gue kagumi.
Dia yang selalu gue nomor enamkan setelah pancasila. Gue orangnya cinta tanah air bro. Pancasila tetep 1-5 dulu baru gebetan. Gue berusaha buat selalu ada buat April kapanpun dia butuh gue. Bahkan tanpa dia minta gue akan selalu siap sedia untuk dia ajak ngobrol dan becandaain.
Karna gue tau, seorang April yang gue kagumi pasti bisa melewati apapun dalam hidupnya. Dia sosok yang pantang menyerah dan tangguh, karna itu gue kagum.
Dia hanya butuh teman mengobrol untuk sekedar melupakan sejenak apa yang mengganggu fikiranya. Supaya dia bisa mengambil keputusan terbaik untuk masalahnya. Dan itu adalah tugas gue. Meski kadang dia cuman bales candaan gue dengan senyum tipis tapi itu tandanya gue udah berhasil bikin dia ke mood yang baik.
April tidak butuh masukan. Dia malah marah kalo gue mencoba memberi saran. Katanya “Gue mau lupain masalah gue bhakti, jangan malah diomongin. Males gue.” Dan aku tidak pernah menyinggung apapun sebelum dia sendiri yang bercerita. Gue percaya, semua keputusan yang dia ambil adalah yang terbaik untuk dia. Itu juga yang gue harapkan.
Masalah yang saat ini tengah April hadapi sebenernya sepele. Tapi yaa begitulah perempuan. Lebih suka bermain perasaan. Sudah tau apapun yang melibatkan perasaan tidak akan berjalan biasa saja. Dasar.
April sudah terlanjur jatuh cinta pada Ryan sejak pertama kali mereka bertemu setahun lalu. Tepatnya di acara ulang tahun April. Gue yang mengajak Ryan kesana. Gue yang minta di temenin karna gue lagi deg-degan banget karna mau nembak April dan gak ada yang tau. Ryan adalah sepupu gue. Dia gak tau gue suka April. Dan dia jatuh cinta sejak pertama ketemu April. Dan gue, membiarkan mereka saling jatuh bersama.
Jangan dikira gue gak marah sama Ryan. Gue pernah sempet kesel sama Ryan. Gue marah-marah gak jelas ke dia. Tapi setelah tau April juga suka dengan Ryan, gue merasa gue gak berhak apapun atas dua manusia yang sedang jatuh cinta ini. Gue yang harusnya mundur, karna di dalam skenario gue, hanya gue yang mencintai. Itu tidak layak untuk diperjuangkan lebih.
Selama setahun terakhir gue selalu dibuat cemburu oleh dua orang yang saling mencintai ini. Gue yang harusnya ada di posisi Ryan. Gue yang harusnya April cari saat butuh sandaran. Gue yang harusnya nembak April saat dia ulang tahun bukan Ryan yang malah jatuh cinta dengan April.
Ah sudahlah, semua juga sudah terjadi. Apa gunanya menyesali.
Setidaknya saat April sedang butuh teman mengobrol, gue berusaha selalu ada buat dia. SELALU.
Dan sekarang, April benar-benar butuh orang yang mau meminjamkan telinga untuk mendengar keluh kesahnya dan ada disaat dia ajak mengobrol sambil minum kopi. Gue gak mau dia kecewa.
Sampai di Cafe, gue mencoba mengembalikan moodnya. Gue sangat berusaha membuatnya minimal senyum lagi. Tapi ternyata dia menanggapinya dengan tertawa. Syukur Alhamdulillah. Gue masih ada gunanya.
Kita mengobrol banyak hal gak penting. Yang penting membuat April senang dan melupakan sebentar masalahnya dengan si toge. Sampai akhrinya gue mengantarnya pulang sebelum cafe ini tutup dan kita di usir. Udah bikin rame ketawa mulu, mana gak pulang-pulang. Pasti waiter-waiternya pada gosip di belakang.
Gue hanya bisa membonceng April naik motor. Gak bisa kayak si Toge yang bawa mobil. Tapi kata April dia lebih suka naik motor, katanya lebih seru. Dan aku bersuyukur orangtuaku membelikanku motor bukan mobil.
Kita kembali mengobrol sepanjang jalan pulang. April sepertinya sudah benar-benar lupa dengan masalah si toge. Gue ikut seneng. Semoga keputusan yang lo ambil setelah ini bener-bener keputusan yang gak pernah lo sesali dan yang terbaik buat lo pril.
Gue salalu berdo’a yang terbaik buat lo pril.
***
Lanjut ke part 2 yaaa. Disini
Langganan:
Komentar (Atom)
Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan
Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...
-
Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...
-
Udah lama banget ya dari terakhir kali aku update di blog ini. Kalo boleh jujur, sebenarnya banyak sekali cerita yang ingin aku bagikan sepa...
-
Hari ini seseorang berulang tahun Umurnya berkurang, ia tak tenang Tadi pagi satusnya sedang bersedih Ingin mengucapkan, takut pesanku...