7 Des 2015

Maling Ati

Harus aku menanti kepastian yang semu? Aku mengejarmu tanpa mengerti kata lelah. Meski kamu terus berjalan menjauh tanpa menoleh barang sedetik. Haruskah aku menanti kepastian yang semu? Kamu mengajaku melayang bersama kata kata indah. Kamu mengajar kan ku apa arti ketulusan. Haruskah kini aku yang berjuang sendiri?
***
Aku mendudukan tubuhku di deretan bangku panjang yang tertata di depan kelas. Dengan di temani sebotol susu kemasan favoritku. Memperhatikan gerbang yang terbuka dengan siswa siswi yang lalu lalang dan helm di genggaman mereka. Aku masih setia memperhatikan gerbang arah parkiran dengan seksama. Meneliti wajah wajah mereka yang baru datang. Sesekali membalas sapa kepada teman temanku sebaya. Tapi bukan mereka yang aku cari.

Bel tanda masuk berbunyi. Aku masih setia menanti janji. Yang telah kita bahas berjam jam semalam. Salah seorang temanku mengajak masuk kelas karna sudah saatnya tadarus bersama. Tapi aku diam mematung. Harapanku masih tinggi tentangnya.

"Udah gak usah ditungguin. Nanti juga nyamperin. Masuk yuk" ajak temanku entah sudah yang keberapa kali.

Saat aku berdiri dan hendak melangkah masuk. Sebuah suara bass memanggil namaku.

"Amala" aku menoleh ke sumber suara.

Tanganya yang langsung mendekap mulut karna tau suaranya membuat gaduh membuatku tidak dapat menahan tawa. Dia berlari kecil menghampiriku. Dengan sebotol susu kemasan yang sama rasanya dengan yang baru aku habiskan.

Tanganya menjulur memberikan susu itu. Aku hanya menatap tanpa berkata apapun. Aku memang menunggunya berkata sesuatu.

"Ini ambil. Balesan karna lo udah minjemin catetan fisika plus nerangin buat gue kemaren. Lo tau kan anak ips kurang faham sama begituan. Jadi thanks a lot" ucapnya beruntutan.

Aku tersenyum mendengar kalimat terakhir. Sambil mengangguk pelan.

"Kok lo cuman ngangguk? Lo gak mau ngomong apa gitu. Biasanya cerewet"

Aku menggeleng seadanya. Entah kenapa, lidahku terasa kaku untuk di gerakan. Tidak seperti biasanya.

Dia terkekeh pelan "yaudah, masuk gih. Tadarus dulu" ucapnya sebelum berlalu pergi. Dan setelah kepergian ya aku merasa baru saja menjadi orang terbodoh.

"Kenapa gue gak bisa buka mulut sama sekali tadi? Hih! Nyebelin banget itu cowok bisa bikin lidah gue kaku. Dia pake sulap apa yaa" cerocosku pada angin.

***
Hariku terus berlanjut. Dan tidak ada yang spesial setelah kejadian pemberian ucapan terimakasih kala itu. Dan tidak lagi ada yang spesial seperti minggu lalu.

Dimana dia selalu menghadangku saat aku hendak pulang melewati area parkir. Aku tidak tau darimana dia tau motorku. Tiba-tiba saja dia sudah dalam posisi siap diatas motorku. Dan dia bilang akan mengantarku pulang. Padahal kita tidak sejalur. Sudah berulang kali aku minta untuk turun, tapi dia lebih keras kepala.

Saat sampai di depan rumahku, barulah laki-laki ini mau turun dan tersenyum padaku. Senyum kesepuluh yang aku dapat darinya. Aku suka menghitung senyumnya. Entah kenapa.

Dia berdiri sambil memperhatikan rumahku. "Mau mampir?" tawarku tapi ia menolak.

"Jadi ini istana tuan putri" dan aku anggap itu sebagai pujian. Aku hanya bisa tersenyum malu sambil menenggelamkan kepala.

Terdengar kekehan kecil darinya yang dapat kutangkap dengan jelas. "Gue pulang dulu ya" segera aku mendongak setelah dia bilag begitu.

"rumah lo mana sih? lo mau pulang naik apa? disini jarang ada angkot lewat apalagi taxi" dia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Senyumnya yang ke sebelas. Lalu berlari sambil melambai ke arahku.

"buruan masuk. esok jangan kesiangan. kita berangkat bareng" hanya itu yang bisa ku tangkap. Karna dia berteriak sambil terus menjauh.

Dan saat itu hatiku bergetar. Perasaan yang aku tunggu-tunggu edatanganya. Di kolog langit senja. Kau buatku jauh cinta.

***

Hari hari selanjutnya aku lalui bersamanya. Kita sering menghabiskan waktu pulang sekolah bersama. Dan saat-saat seperti itu yang sangat aku rindukan.

Aku selalu ada untuknya. Tidak, aku selalu berusaha untuk selalu ada untuknya. Meski tu sulit, aku tetap slalu mengusahakanya. Walaupun hanya dibalas dengan kata-kata manis yang selalu berhasil membuatku melayang. Atau susu botol favoritku sebagai selingan. Aku tak mengapa. Karna aku senang melakukanya untukmu.

Apa aku benar-benar hanya sebagai persinggahanmu? Sebagai alat dan kaki tanganmu? Yang selalu kamu mintai sesuka hati lal kamu tinggal pergi? Apa kamu benar-benar tak mau tanggung jawab saat aku telah menaruh hati padamu? Apa gunanya kamu memberiku angan setinggi awan jika akhirnya kamu tinggalkan?

Aku masih menyimpan sejuta tanya padamu. Dan aku harap dapat mengutarakanya padamu. Jika suatu hari kau kembali padaku. Aku percaya. Kau akan kembali.

Untuk kamu, sang pencuri hati

7 Agu 2015

Bunga Terakhir


Bunga yang tadinya segar dan indah, semakin hari semakin layu. Makin hari makin menghitam. Makin hari makin mengering. Vas itu tadinya penuh dengan air es. Entah kemana sekarang. Bisa saja mengering atau diminum oleh serangga khayalku. Tepatnya di atas meja dekat jendela. Titik fokusku selalu jatuh disana setiap sore. Bukan pada jendela atau pemandangan sore di sana. Tapi pada bunga kering di dalam vas. Mawar kering tersorot sinar jingga sore hari dari langit barat. Tetap terlihat indah bagiku. Mawar pertamaku. Bahkan terakhir.

1 Jul 2015

Cerita Pasi

Gemuruh hati terasa pasi. Tak lagi sama dengan pertemuan kita pertama kali. Semua fantasi hanya sebuah ekspektasi. Susah untuk terealisasi. Sebuah benteng kasat mata menghalangi. Begitu kokoh meski tak terlihat. Tapi begitu terasa. Merayap menggapai jiwa.Takmau runtuh meski berkali-kali kita dobrak.
Aku sudah melepaskanmu.Membiarkanmu pergi mencari hal baru yang lebih menyenangkan. Jangan hiraukan aku disini. Aku bahagia dengan keputusanku. Melihatmu bahagia, walau sudah tidak dalam skenario yang sama. Denganku.

24 Jun 2015

Dongeng sebelum Tidur

Pandangan kami bertemu di kala sore. Tatapan pertama kami sebagai seorang teman. Satu hal yang aku sukai saat itu juga, mata birumu yang seperti laut. Membawaku hanyut, bahkan mungkin terlalu dalam. Sampai membuat sebuah organ dalam tubuhku tak henti bergejolak. Tapi aku segera berusaha menghilangkanya. Aku tidak pantas merasakanya. Aku hanya gadis kutu buku yang bermimpi akan bertemu seorang pangeran. Seperti dongeng klasik yang sering ibu ceritakan padaku. Tapi mustahil sekali itu terjadi. Atau bahkan dengan pemuda ini, seseorang yang baru aku temui dan sangat di idolakan di sekolah. Sangat amat mustahil.

Satu desiran kembali terasa, saat tak sengaja aku menabrakmu diikuti buku-bukuku yang berjatuhan. Kau membantu memungutnya. Satu buku tak kau kembalikan padaku. Malah kau bawa kabur ke kelasmu. Aku tak mengerti maksutnya, sehingga aku hanya mematung ditempat tak berani memanggilmu untuk memintanya.

Suatu hari kita bertemu kembali. Kamu sengaja datang kekelasku dengan salah satu bukuku di genggamanmu. Mungkin kamu sengaja mampir untuk mengembalikan. Namun satu hal ganjal, ada sebuah nomor di halaman depanya. Ini bukan nomorku, atau salah satu temanku. Nomor ini baru aku ketahui ada setelah kamu mengembalikan. Atau mungkin ini nomormu? Pikiranku mulai gila. Untuk apa kamu menilis nomormu di bukuku.

Aku pulang sore hari itu, karna sedikit tugas tambahan dari seorang guru membuatku tertahan. Aku ingin segera pulang dan memanjakan diriku di kamar kesayanganku. Namun sayang, mungkin keinginanku tidak akan segera terlaksana. Seseorang kembali menahanku untuk tetap tinggal. Kali ini bukan lagi seorang guru. Tapi pemuda yang mengembalikan bukuku tempo hari. Mau apa dia?

"Kenapa kamu tidak menghubungiku?" tanyamu.

Aku sangat ingin tapi, "untuk apa?"

"agar aku bisa berkenalan denganmu" katamu dengan senyum hangat. Kini desiran itu kembali terasa. Jantung ini terasa terpompa semakin cepat.

"Mau minum segelas dawet dulu denganku?" aku belum menjawab apapun, karna aku merasa ragu. Hari sudah mulai sore. Tapi pemuda ini tetap saja keukeh ingin mengajaku. Tanpa meminta izinku kamu menarik tanganku untuk mengikuti langkahmu.

Dawet depan sekolah yang sebenarnya sudah sering aku minum kali ini terasa berbeda. Rasa manisnya begitu terasa, bahkan serasa tak ingin hilang dari alat perasa. Apa karna ada seorang yang berbeda?

"Manis" gumam orang disebelahku dengan sangat jelas. Aku menengok, dan mendapatinya sedang menatapku aneh.

"Kenapa? gulanya kebanyakan?" tanyaku seadanya. Ia mengerjap beberapa kali sebeleum mengelak dan tiba-tiba tingkahnya menjadi aneh. Atau hanya perasaanku saja.Tapi jujur saja, tingkahnya benar-benar membuatku ingin tertawa. Namun, aku tahan.

"Sudah? ayo aku antar pulang" ajaknya. Aku menurut saja, karna memang sudah sore dan bisa saja tidak ada lagi angkutan umum yang lewat.

Aku menunggunya dipagi hari seperti biasa. Sudah beberapa hari ini laki-laki yang baru aku kenal mengajaku berangkat dan pulang bersama setiap hari. Aau senang, karna ternyata dia tidak secongkak yang aku kira. Kebanyakan anak-anak hits sekolah seperti itu. Tapi yang kali ini tidak. Dia sangat asik sekali. Dan ternyata dia juga pecinta sastra, sama sepertiku. Kita nyambung sekali saat membahas topik itu.

Pulang sekolah dia kembali mengantarku pulang. Tak lupa ia memberi senyum hangatnya seperti biasa. Dia menyuruhku cepat masuk karna udara memang agak dingin.

Hari terus berlanjut. Kami semakin akrab satu sama lain. Juga dengan perasaan ini. Semakin lama denganmu semakin dalam perasaanku padamu. Tapi aku harap kamu tak pernah tau, sampai kamu memberi tahhu lebih dulu perasaanmu padaku. Akan lebih dari kata kagum, atau hanya akan sebatas teman dan tak akan pernah bertambah menjadi yang lebih seperti yang kuinginkan.Aku ingin sekali memberitaumu lebih dulu. Tapi aku seorang wanita. Pantaskah? Aku ditakdirkan untuk menunggu, mungkin memang itu yang harus aku lakukan.

Kita sudah cukup lama bersama, dan aku belum juga mendapat kepastian darimu. Apakah aku ini spesial atau hanya sebatas teman ngobrolmu dikala senggang.

Aku kembali ke rutinitasku dulu. Sebelum aku mengenalmu. Berangkat dan pulang sekolah dengan angkutan umum. Karna sudah tiga hari ini kamu tidak melakukan rutinitasmu sebelumnya, mengajaku berangkat dan pulang bersama. Kabar burung disekolah yang katanya kamu sedang dekat dengan salah satu anggota paduan suara yang cantik itu. Membuatku semakin khawatir denganmu. Kita juga sudah jarang sekali mengobrol bersama, malahan hampir tak pernah. Kamu terlihat menghindariku saat kita bertemu di sudut sekolah. Saat aku coba mencarimu kamu sudah tidak ada lagi jejak. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu tiba-tiba menghindar? apa salahku?

Aku terkejut saat mendapatimu satu meja denganya. Gadis cantik anggota paduan suara. Kalian terlihat sangat serasi. Kamu yang notabene siswa berprestasi di bidang olahraga ditambah dengan parasmu yang rupawan sangat pantas bersanding denganya. Daripada denganku. Si kutu buku yang punya impian mempunyai kisah cinta yang indah seperti dongeng yang sering aku baca dan aku dengar. Jauh sekali. Kamu lebih pantas bersamanya. Kini aku tau jelas hubungan kita. Hanya sebatas teman ngobrol di kala senggang, tak lebih.

Tanpa aku sadari aku sedang melihatimu tanpa berkedip. Saat kamu tiba-tiba melihat kehadiaranku dengan wajah yang tampak terkejut aku sadar. Aku hanya membalas tatapanmu dengan senyuman pahit yang sangat dipaksakan. Aku ikut senang. Aku segera bergegas pergi meninggalkanmu yang memperlihatkan mimik menyesal. Atau hanya perasaanku saja? Aku tidak sempat berbalik untuk melihatnya lagi. Karna aku ingin segera bersembunyi dan menutupi sesuatu yang sudah tidak bisa lagi aku tahan.

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sepi. Ragaku ada tapi fikiranku mengudara. Melayang-layang mengingat lagi kenangan kita saat bersama. Saat kita berdua duduk di kantin sekolah atau kedai kopi yang sering kita kunjungi. Hanya untuk berbagi cerita dan membicarakan hal tak penting. Sesekali membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya. Kadang terlihtas juga ucapan konyolmu disela-sela obrolan kita. Haruskah aku menyimpan kenangan itu atau melupakanya.

Sebuah suara memanggil namaku. Membuatku terbangun dari lamunanku dan mencari asal suara itu. Tapi yang aku dapati lebih dulu adalah suara deru mobil yang semakin mendekat. Kakiku terasa kaku hanya untuk berlari menghindar. Bodohnya aku masih berdiri disana tanpa berusaha menghindar. Suara itu lagi memanggil namaku. Aku mengenali suara itu. Laki-laki yang baru saja aku fikirkan. Sebuah motor yang sangat aku kenali dengan pengendara diatas motornya datang dari arah belakangku. Dan berhenti tepat didepanku. Tangan orang itu meraih tubuhku dan merangkulku menghalangi pandanganku, orang itu berbisik tepat di telingaku "Aku mencintaimu Larasati" dan semuanya menjadi gelap.

Aku meringis kesakitan saat membuka mata. Sebuah lampu yang terang menyambutku. Di ruangan serba putih yang tadinya sepi tiba-tiba berubah ramai dengan suara derap kaki menghampiri ranjangku.

"Kamu sudah sadar nak" tanya wanita yang sangat aku cintai. Tapi ingatanku kembali ke kejadian kenapa aku bisa ada disini. Membuatku diserang pusing tiba-tiba. Aku memohon kepada kedua orang tuaku untuk membawaku menemuinya

Di depan kamarnya ramai dengan keluarga dan beberapa temanmu yang sebagian aku kenal. Dan ada dia juga. Gadis yang beberapa hari ini sering bersamamu. Mereka semua mengangis dan saling menenagkan satu sama lain. Apa yang sedang terjadi? Apa kamu belum sadar?

Aku mengintip dari jendela pintu. Tak memperdulikan tatapan tajam gadis yang sedang menangis di belakangku. Dan terlihat disana kamu yang sudah akan ditutupi kain putih. Aku mencoba masuk kedalam untuk memastikan benarkah mau itu. Dan ternyata aku tidak salah lihat. Kamu sudah terbaring disana dengan wajah pucat dan beberapa jahitan dikepalamu. Tangisku pecah ditempat. Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini. Kenapa kamu menyelamatkanku kalau harus kamu yang pergi? Harusnya kamu biarkan saja tadi aku.

Satu hal yang ingin aku lakukan sejak tadi. Membalas ungkapan perasaanmu. Membisikan tepat di telingamu. Ungkapan yang tulus dari dalam hatiku. "Aku mencintaimu Geovani" aku tersenyum lega karna berhasil mengungkapkanya. "Selamat tidur sayang" mengecup keningnya untuk yang terakhir kali.

6 Jun 2015

My Graduation🎉














So, some days ago i was finished my hard exam. And a week after that my school hold graduation, like farewel party. We wear traditional clothes like that. My friends wear too, and so colours full. I wear my favorit colour. And there is interesting story, i looked behind when it.

I woke up lately. Salon owner send me message last night. But i've read it after i woke up in the morning. She say, they be ready at 3 a.m. I panic when i read that massage. My mom woke at down. And she still in mosque. I waiting my mom moment and soon departed after that.

In the salon my other friends already in makeup and a bun. Even ready with a blouse. WhilemMe? just arrived. And finally I was the last person in makeup.

I'm lucky, i'm not arrived lately in the building. In front of building, ther is photoboth. My mom wanted to immortalize my garduation day. So we take a picture before enter the building.

My mom just attending an event a few moments. Becaus she must go to city. Take care of my high school registration. But i was enjoy with my friends until a event over. And take a picture together.

5 Jun 2015

Cinta dan Rahasia


By. Putri Rizki

Matanya yang teduh menerawang saat menatap langit. Entah apa yang dilihat, padahal bintang juga tidak nampak malam ini. Yang terasa angin malam yang sebenarnya tidak sehat. Suara klakson kendaraan yang hilir mudik di hadapan kamipun semakin terdengar riuh bersamaan dengan malam yang semakin larut. Sewajarnya sih, karna ini memang jamnya pulang kantor. Dentingan suara sendok yang bertabrakan dengan mangkok dari pedagang minuman hangat yang berjajar di sekitar trotoar juga terdengar, bercampur dengan suara riuh gemerlap kota malam ini.

Mangkuk kami yang tadinya penuh dengan campuran santan manis, roti dan kacang sudah kosong. Dia masih dalam posisi yang sama sejak sepuluh menit terakhir. Kepala menengadah kelangit tanpa menghiraukanku. Tapi aku bersyukur karna itu, aku bisa mencuri pandang kepadanya tanpa ketahuan. Aku menyukai saat menatap setiap titik di mata indahnya itu. Apalagi saat menatap langit. Matanya terlihat berbinar, mungkin karna senang. Tapi apa yang membuatnya senang. Langit malam ini gelap.

Sekedar iseng aku bertanya, "kamu kenapa menatap langit? malam ini gak ada bintang" ucapku memecah keheningan. Senyum tipisnya terpatri disana. Tanpa menoleh ke arahku dia menjawab "hanya sedang menyapa seseorang". Aku tidak bersuara lagi. Lebih memilih memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. Walaupun begitu, otaku masih mencoba mencerna ucapan Dafa tadi, teman kuliahku. Apa maksudnya menyapa seseorang?

Aku terkejut saat  tiba-tiba dia bertanya "kamu tidak mengerti ya?" membuatku menoleh cepat menatapnya bingung. Anggukan mantabku aku rasa sudah menjawab pertanyaanya. Ini senyumanya yang ketiga malam ini untuku. Aku sering menghitungnya, karna memang bisa dihitung dengan jari. Dafa jarang tersenyum dua bulan terakhir. Tepatnya saat kejadian itu. Tapi saat ia menatap langit, ia selalu tersenyum. Ya, seperti menyapa seseorang.

"Aku sedang menyapa Kania" oh ya, aku ingat, Kania. Sahabatku sejak SMP. Sebenarnya aku, Dafa dan Kania satu kampus. Ia kekasih Dafa. Namun Kania sudah lebih dulu meninggalkan kita. Ia meninggal dua bulan yang lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal. Tinggalah aku yang selalu bersama Dafa kemana-mana.

Aku tidak tau kalau ternyata Dafa tersenyum untuk Kania. Aku kira ia hanay suka menatap langit. Tapi ternyata ada orang lain yang selalu bisa membuatnya tersenyum bahagia seperti itu. Melebihi senyumanya yang menyapaku setiap hari. Dan ini sedikit membuatku gusar. Tapi cepat-cepat aku buang perasaan itu. Dia Dafa, milik Kania sahabatku dan akan tetap begitu.

Aku berfikir sejenak. Kenapa Dafa menyapa Kania saat menatap langit? Apa Kania ada di langit?

"Memang Kania sedang ada di Langit?" tanyaku setelahnya. Dafa menatapku lekat-lekat. Tanpa aku sadari nafasku tercekat, aku menahanya. Dia membuatku mematung.

"Aku selalu mengibaratkan dia adalah bintang. Kamu taukan Kania paling suka dengan bintang--" ya, dia suka bintang aku suka bulan. Kejadian beberapa tahun yang lalu melintas di otaku. Saat aku berdebat tentang lebih indah bintang atau bulan saat kami sedang menginap di rumahku. Membuatku tersenyum kecil.
"Bintang letaknya di langit dan aku akan selalu menyapanya. Dengan tersenyum menatap langit" lanjut Dafa tenang, tak lagi menatapku. Berganti memperhatikan kendaraan lalu lalang.

"Tapi malam ini gak ada bintang Dafa, yang ada bulan purnama" malam ini memang sedang malam purnama. Menurutku itu sebabnya udara terasa begitu dingin di banding malam lalu. Semangkuk minuman hangat juga terasa tidak cukup. Karena dinginya terasa sampai ke tulang-tulang.

Dafa tersenyum pahit, "Bintang selalu ada di langit. Hanya saja kadang tertutup mendung, awan, atau bahkan matahari. Cahaya bintang yang tidak sekuat matahari membuatnya terlihat redup saat pagi atau siang. Tapi sebenarnya bintang itu ada kapanpun, bahkan kala pagi atau siang" penjelasan Dafa menjawab semua pertanyaanku yang beberapa hari lalu selalu aku pikirkan. Kelakuan Dafa yang menurutku aneh, ia selalu tersenyum saat menatap langit entah itu pagi, siang, sore, apalagi malam. Jadi itu alasanya. Dia hanya bermaksud menyapa Kania, kekasihnya.

Aku kkembali terdiam beberapa saat. Atmosfer keheningan kembali tercipta diantara kami. Diluar bunyi kendaraan dan suara riuh pedagang kaki lima yang mengobrol dengan kencang. Aku dan Dafa sibuk dengan fikiaran kami masing-masing, atau hanya aku. Mencoba menarik kesimpulan dari penjelasan Dafa. Terlihat jelas bahwa Dafa sangat mencintai Kania. Sampai kapanpun itu. Dan aku sadar, aku tidak akan punya kesempatan.

Tubuhku menghanagt tiba-tiba, saat aku menoleh sebuah jaket kulit coklat sudah tergantung di kedua pundaku. Aku menoleh melihat Dafa. "Sudah semakin larut. Sebaiknya kita segera pulang. Ayo aku antar" katanya sembari tersenyum hangat. Membuatku dengan refleks membalasnya dengan senyuman terbaiku. Ini adalah senyuman keempatnya malam ini. Dan aku harap bukan senyuman terakhirnya untuku. Aku ingin dia tetap tersenyum begitu kepadaku, seperti ia tersenyum saat menyapa Kania dilangit. Bahagialah kamu Kania, ada orang yang sangat mencintaimu sampai kapanpun nanti.

-Gemuruh di dalam rongga tak kuhiraukan. Memaksa diri untuk tidak memperhatikan. Meskipun rasa sakit semakin memuara. Yang terpenting bukan hanya rasa, tapi sebuah rahasia-

Terinspirasi dari lagu Glenn Fredly-Cinta dan Rahasia

18 Mei 2015

My little sister, My little crush

"aw.. Kael liat-liat dong kalo jalan. Jadi kecoret kan gambaran aku" seru gadis berkuncir kuda dengan kesal karna gambaran komiknya tercoret. Menyebabkan gambar anime perempuan cantik mempunyai kumis di bawah hidungnya.

Kael yang tadi sengaja menyenggol lengan gadis itu berjalan menghampiri. Merebut kertas yang sudah ada beberapa gambar dan balon-balon percakapan di sana. Kael menarik ujung bibirnya, membuat senyuman miring. Kael mendengus dan berkata "dasar anak kecil, kerjaanya gambar mulu, gak jelas lagi gambarnya. Sini" Kael mengambil pensil yang ada di tangan Sasi "gue ajarin bikin yang bagus" lanjut Kael. Sasi hanya diam dan memperhatikan.

Kael memulai lagi aksinya mengerjai Sasi. Ia menggambar sesuatu di kertas itu. Kini gambaran anime Sasi berubah menjadi botak di semua tokoh. Kael tertawa puas lalu memberikanya pada Sasi. Sasi melotot menyadari perubahan yang terjadi pada gambaranya.

"Kaela Devano Collins" teriak Sasi geram. Sedangkan yang di teriaki sudah menghilang entah kemana.

***

"Kael.. oper sini" seru lelaki berhidung mancung dengan tanganya melambai meminta bola. Lelaki lain yang sedang mendrible segera melempar bola oranye itu ke arah temanya yang meminta. Tetapi sayang meleset. Bola itu malah terlempar jauh hingga berhenti di kepala seseorang.

"Aww.." ringis gadis berkuncir kuda yang tadinya sedang membaca komik di pinggir lapangan. Bola oranye itu berhenti memantul di sebelah kakinya.

"Wah.. gue disini Kael. kenapa lo ngopernya kesana" Kael tidak memperdulikan ucapan temanya itu. Dia berlari menghampiri gadis yang tidak sengaja terkena bola lemparanya. Rasa bersalah menyelimuti hati Kael saat melihat gadis itu meringis kesakitan.

"Sas gak papa?" tanyanya camas. Sasi mendongak dan terlihatlah disana wajah seseorang yang selalu senang mengerjainya. Wajahnya Sasi memerah menahan emosi. Sasi berdiri dari duduknya, "Kael, kamu sengaja ya. Gak bisa apa sehari aja kamu gak ganggu aku" ucapnya dengan nada kesal sambil terus mengusap sayang keningnya yang terkena bola. Kael tersenyum tipis.

"Ya sorry sas, gue gak sengaja. Mana yang sakit?" kata Kael penuh penyesalan, tanpa ba bi bu Kael ikut mengusap kening Sasi yang terlihat benjol dan merah. Sasi sudah biasa melihat Kael yang seperti ini. Kadang dia bisa sangat menyebalkan karna suka sekali mengerjainya. Tapi sesaat kemudian dia menyesal jika itu melukai bagian tubuh Sasi. Tapi kalau membuat Sasi gemas dan kesal itu sudah menjadi kesukaan Kael. Kael belum puas mengerjai Sasi kalau belum melihat wajah kesalnya. Karna menurut Kael, Sasi sangat lucu saat seperti itu. Dan itu juga yang membuatnya menyukai Sasi.

Sasi yang selalu terlihat imut dan manis karna mempunyai lesung pipi. Walaupun kadang kekanak-kanakan telah membuat Kael jatuh hati padanya. Kael sudah menykainya sejak mereka pertama kali bertemu.

Saat itu Sasi kecil yang sedang menangis sendiri di tengah taman dengan komik di tanganya. Saat itu ada acara kantor Papa Sasi. Kael juga berada disana bersama Mamanya. Kael yang juga seumuran dengan Sasi menghampiri dan bertanya "dasar cengeng" ejek Kael saat sudah berada di depan Sasi.

Sasi mendongak melihat siapa yang mengajaknya bicara."komik aku rusak" ujar Sasi dan menyodorkan komik itu pada Kael. Dengan mata merah dan pipi sembab Sasi kecil terlihat seperti meminta bantuan pada Kael.

Kael menerimanya dan melihat bagian kertas yang robek "ini cuma robek. bisa di benerin"

"Coba deh benerin. Kalo bisa nanti kamu jadi temen aku" celetuk Sasi semangat. Kael mengeluarkan lem dari sakunya. Kael mulai mengelem bagian yang robek lalu merekatkanya hati-hati. Kael tersenyum puas saat sudah selesai. Sasi yang memperhatikan dari tadi ikut senang ternyata komiknya sudah tidak rusak. Sasi mengambil komiknya sambil tersenyum sendiri.

"Udah gak rusak kan. Jangan nangis lagi" ujar Kael kecil. Sasi yang kegirangan berhambur memluk Kael dan berterimakasih. "Sekarang kamu jadi temen aku" bisik Sasi dalam pelukan.

Sejak saat itulah Kael menyukai Sasi yang lucu, spontan, dan wajah kesalnya. Yang selalu membuat Kael tersenyum sendiri saat mengingat wajah kesal Sasi. Sasi terlihat cantik saat kesal. Tapi jauh lebih cantik bekali lipat saat iya tersenyum dan memamerkan lesung pipinya. Hingga kini mereka sama-sama duduk di bangku SMA perasaan Kael tidak pernah berubah.

Namun sayang. Sebesar apapun Kael mencintai dan menyayangi Sasi. Mereka tidak akan bisa bersama.

"Nanti di kasih salep ya. Biar benjolnya ilang" ucap Kael kemudian melepaskan tanganya dari kening Sasi setelah mengetuknya beberapa kali. Sebelum jantungnya semakin berdetak lebih kencang dan bisa keluar tiba-tiba. Sasi masih dengan wajah kesalnya mengangguk. Kael tidak bisa menahan rasa senangnya melihat raut wajah Sasi yang menggemaskan. Kael tersenyum lebar.

Sasi tidak peduli dengan senyuman Kael. Masih dengan perasaan kesal Sasi menyambar komiknya dan berjalan menggebu-gebu menuju kelas. Kakinya yang dihentak-hentakan membuat kucir kudanya ikut bergoyang kesana kesini. Kael hanya bisa tersenyum melihat tingkah adik tirinya itu.

***

"Kamu makan yang banyak ya Sasi. Biar cepet gede" cibir wanita cantik paruh baya yang sangat sasi sayangi di depanya. Sasi melihatinya kesal lalu mendengus "Mama, Sasi udah gede tau" protes Sasi. Sasi melirik tajam kesampingnya saat ia mendengar bunyi kekehan.

"Kael diem!" Sasi memperingati, tapi Kael masih tetap terkekeh, malah semakin keras hingga tertawa geli.

"Udah, anak kecil makan aja. Biar cepet gede" ujar Kael setelah berheti tertawa.

"Kening kamu kenapa benjol gitu sayang" tanya Linda mengerutkan dahi memperhatikan kening anak perempuanya.

"Dilempar bola sama Kael"

"Kael, kamu usil banget sama adeknya" kini suara berat seorang lelaki diujung meja makan yang bersuara membela Sasi.

"Gak sengaja pa. Siapa suruh dia duduk di pinggir lapangan. Ya wajar kalo kena bola. Dasar anak kecil" Kael membela diri.

"Kalo pemain basket beneran gak bakal salah oper. Kael aja yang amatiran. Makanya jangan sok sok an main basket. Main bekel aja sana" Sasi masih bisa menjawab kalimat Kael.

"Gue jago ya. Enak aja lo ngomong. Daripada lo kerjaanya gambar tuyul. Gak penting banget"

"Itu anime namanya. Itu gambar cowok ganteng. Kael yang ngerubah semuanya jadi botak. Ma, pokoknya besok Sasi gak mau sekelas sama Kael lagi. Kalo gak sekalian Sasi pindah sekolah aja. Sasi udah gak kuat maa.. di gangguin mulu sama manusia ini. Di rumah di rusuhin di sekolah juga gak berenti. Sasi capek ma" keluh Sasi dengan nada kekanak-kanakan sambil melambai-lambai.

Kael mendengus, "dasar sinetron"

"Pindah sekolah itu butuh duit, mama gak punya duit"

"Yah.. Mama gak seru"

"Kael punya adek itu di jagain jangan di kerjain" 

"Denger tuh kata Papa"

"Hemm"

"Eh, udah makan cepet. Dimeja makan juga masih aja ribut. Kalo masih ribut, besok gak dapet jatah makan malam" ucap Linda, Sasi terkejut dan cepat-cepat menyelesaikan makanya.

***

Kael mengintip ke pintu depan kamarnya yang sedikit terbuka. Didalam sana berada Sasi yang sedang bermain ponselnya di atas kasur. Kael beberapa di buat tersenyum saat Sasi menggerutu sendiri kepada ponselnya. Entah apa yang membuatnya kesal, tapi itu selalu bisa membuat Kael tersenyum.

"Andai gue nembak lo dari dulu sas. Pasti sekarang kita udah pacaran dan lo jadi milik gue seutuhnya. Sayang, Mama gue udah jatuh cinta lebih dulu sama Papa lo. Dan mereka udah bahagia sekarang. Kebahagiaan Mama gue lebih penting dari apapun di dunia ini" Kael tersenyum kecut mendengar gumamanya sendiri. Kael mengeluarkan benda persegi panjang dari kantongnya. Diam-diam Kael memotret Sasi yang sedang memegang ponsel sambol tersenyum. Ia menghembuskan nafas berat kemudian berbalik menuju kamarnya setelah menutup rapat pintu kamar Sasi.

Terasa tanganya di cekal seseorang, Kael berhenti dan berbalik. Dilihatnya wajah Linda dan matanya yang berair. "Kamu jatuh cinta dengan Sasi?" tanya Linda dengan suara bergetar.

Serasa di jatuhi gondam dada Kael terasa sesak. Rahasia yang di tutupinya 7 tahun terakhir di ketahui Mamanya. Kael yang tidak ingin mamanya menangis dan mengkhawatirkan perasaanya memeluk wanita kesayanganya dan mengusap punggungnya lembut.

"Maafin Mama, Kael. Mama terlalu egois dengan cinta Mama. Harusnya mama tau tentang perasaanmu pada Sasi sejak dulu. Jadi kamu bisa berbahagia denganya sekarang" ucap Linda susah payah sambil terisak.

"Gak papa Ma.. gak usah pikirin Kael. Kael bahagia kok kalo Mama bahagia. Kael bahagia banget sekarang punya Papa yang bisa jadi panutan Kael dan juga punya Sasi jadi adek Kael yang bisa Kael godain. Apalagi punya keluarga bahagia kayak gini. Ini sudah lebih dari cukup kok maa" ucap Kael mencoba menenangkan hati Linda. Tapi memang Kael sudah bahagia sekarang karna mempunyai seorang Papa yang sangat ia inginkan. Papa kandung Kael pergi menghilang saat Mama Kael melahirkanya. Kael tidak tau kenapa. Tapi Kael mencoba untuk tidak mengingatnya karna sekarang ia sudah mempunyai Papa yang jauh lebih baik.

"Mama jangan cengeng dong" cibir Kael saat Linda belum juga mau berhenti menangis.

Linda mendorong tubuh Kael menjauh. Linda memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap anak laki-lakinya. Kael memperhatikan Mamanya,dan menunggu apa yang akan dikatakan Linda. Jantung Kael berdegup kencang seketika. Perasaan senang, lega terasa saat Linda mengucapkanya.

"Kamu harus kejar cinta kamu. Kamu harus dapetin Sasi. Buat dia menjadi milikmu"

***

Sasi membantingkan tubuhnya ke kasur kamarnya. Dia merasa sangat kelelahan karna harus naik angkutan umum untuk pulang. Kael tadi tidak mau mengantarnya, karna katanya dia ada urusan mendadak. Dasar sok sibuk cibir Sasi dalam hati. Sasi sangat lelah sekarang.

Di intipnya jam dinding yang berdetak di atas ranjangnya. Jarum sudah menunjukan pukul 4 sore. Sasa segera bergegas mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket bagai di baluti madu sana sini. Setelah ia selesai membersihkan dirinya perutnya minta segera diisi. Sasi membuka knop pintu kamarnya hendak ke dapur. Tapi langkahnya berhenti saat kakinya terasa menginjak sesuatu. Dilihatnya sudah ada kelopak mawar putih bertebaran di depan kamarnya.

Sasi mengikuti arah mawar-mawar itu dan ternyata habis di depan kamar Kael. Terdapat notes menempel di pintu coklat kamar Kael. Sasi mengambilnya dan membaca isi notes tersebut. Tertulis di sana "sebuah peti dengan dua pintu putih, dan terasa dingin. Walaupun dingin semua tersedia disana" Ini sebuah teka-teki. Sasi pernah melihatnya di sebuah film yang di tontonya bersama Kael.

Sasi berfikir keras memecahkan maksud dari kalimat ini. Dia menjentikan jari saat ia mengetahui jawabanya. Ia segera berlari menuruni tangga menuju dapur. Dilihatnya lagi kelopak mawar putih bertebaran di depan lemari es. Membuatnya semakin yakin kalau ini jawabanya. Sasi mencari-cari clue selanjutnya. Matanya menangkap notes di antara magnet-magnet kulkas "Mama sama Papa kencan dulu. Kamu yang akur ya sama Kael -mama-" ini bukan notes yang ia cari. Sasi membuangnya sembarangan. Kembali ia mencari-cari diantara magnet kulkas. Dia tidak juga menemukanya.

Sasi menghela nafas panjang karna tidak kunjung ia menemukan clue selanjutnya. Padahal ia pikir ini akan seru. Tapi ini pasti hanya akal-akalan Kael untuk mengerjainya lagi. Sasi membuka pintu kulkas dan mengambil satu kaleng softdrink. Tanganya terasa menyentuh sesuatu dibalik kalengnya. Disana terdapat notes yang ia cari-cari. Cepat-cepat Sasi membacanya "jantungmu terasa begitu berdebar saat melakukanya. Keringatmu berkucuran saat mengerjakanya". Lagi-lagi ini sulit untuk di pecahkan. Pa yang sperti ini. Sasi mencoba mengingatnya.

Ia berlari menuju ruang gym yang ada di sekitar kolam renang. Ruangan ini, ruangan terbuka. Di buat seperti itu, karena agar dapat melihat pemandangan pegunungan sambil berolah raga. Ini tempat favorit Kael dan tempat paling di benci Sasi. Sasi tidak suka olah raga. Karna itu dapat membuat jantungnya berdebar hebat, terlebih setelah berlari dan juga membuatnya berkeringat. Sasi tidak suka membuat tubuhnya lengket.

Benar dugaan Sasi. Di sekitar ruang gym bertebar kelopak mawar putih. Sasi mendekat mencari-cari clue selanjutnya. Dan tak perlu waktu lama, ia langsung menemukanya di kaca ruang gym. Sasi membacanya dengan cepat "kesukaanmu yang sangat aku ketahui. hingga berak-rak. Tempat favoritmu saat memandang bintang dan bulan" Sasi tersenyum membacanya. Tanpa lama-lama ia segera berlari memutari kolam menuju rumah pohon yang ada di pojok halaman belakangnya.

Rumah pohon ini di buatnya bersama Kael saat mereka akan SMA. Ini sebagai hadiah dari Papa karna Sasi dan Kael lulus dengan nilai memuaskan. Di rumah pohon itu ada beberapa rak buku untuk Sasi menyimpan komik-komiknya. Ada juga beberapa barang Kael. Tapi lebih banyak barang-barang Sasi.

Di sekitar rumah pohon tersebut sudah ada kelopak bunga yang bertebaran disana sini. Sasi menaiki satu persatu anak tangga yang terbuat dari kayu. Ia terkejut saat melihat isi rumah pohonya itu. Clue selanjutnya ditulis Kael di tembok kayu rumah pohon itu dengan spidol. Tidak terlalu besar, tapi itu membuat Sasi marah karena Kael mengotori tempat favoritnya. Tertulis disana "Mereka akan abadi bersama satu sama lain". Sasi ingat betul dengan kalimat itu. Itu salah satu kutipan dari komik yang pernah ia baca.

Sasi mencari-cari komik tersebut di rak bukunya. Saat ia temukan komiknya, ia tidak menemukan clue selanjutnya. Sasi berfikir keras mengingat-mengingat kalimat itu tentang apa. Sasi hampir menyerah, ia terduduk di dekat jendela rumah pohonya.

Sasi menghembuskan nafas beratnya sambil memandang langit. Kebiasaanya sejak dulu. Ia suka memandang langit. Entah untuk melihat awan di siang hari, atau melihat bintang dan bulan di malam hari. Itu hal yang paling ia senangi. Sasi berfikir sejenak tentang perasaanya pada Kael. Ia kesal dengan permainan Kael ini. Kael pasti sedang mempermainkanya sekarang.

Sasi bergumam, "Permainanya ribet banget sih. Kalo aku jatuh cinta nanti, aku gak mau jatuh cinta sama orang kayak Kael. Udah nyebelin ribet pula. Argghh" Sasi memejamkan matanya sejenak. Mencoba merilekskan fikiranya untuk berfikir. Membiarkan angin sore menabrak wajahnya secara halus. Sasi menikmatinya.

Tiba-tiba seperti teringat sesuatu. Sasi kembali membuka matanya dan beejalan cepat ke arah aquarium pojok rumah pohon ini. Disana tempat Sasi meletakan kura-kuranya dan kura-kura Kael. Sasi pikir mereka berjodoh. Karna mereka terlihat serasi. Sasi tidak sengaja mengucapkan kelimat dari kutipan novel tersebut saat sedang bermain dengan kura-kuranya dan Kael.

Benar saja, terdapat sebuah notes di kaca aquarium itu. Sasi mengambilnya dan membacanya. "Tempat keramat yang tidak boleh ada yang memasukinya" Tak butuh waktu lama Sasi langsung bisa menangkap maksud kata-kata tersebut.

Ia berlari lagi masuk ke rumah. Menaiki tangga menuju lantai dua. Dilihatnya kelopak mawar putih lagi di depan kamar Kael. Sasi berfikir kembali. Ia harus masuk atau tidak. Kael selalu melarang siapapun memasuki kamarnya. Termasuk Mama dan Papa. Sasipun termasuk. Tidak ada yang boleh masuk ke kamar Kael. Pernah sekali Sasi ingin mengintip seperti apa kamar kakaknya itu. Baru Sasi memegang knopnya saja sudah di marahi habis-habisan oleh Kael.

Sasi mengurungkan niatnya untuk melanjutkan permainan ini. Ia hendak kembali ke kamarnya. Saat Sasi memegang knop pintunya, ia memandang nanar ke arah pintu di belakanganya. Tapi Sasi berbalik hendak membuak knop pintu kamarnya. Tapi sesuatu dalam dirinya membujuknya untuk masuk ke kamar itu.

Sasi menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Seperti sedang mengumpulkan energi. Sudah dirasa cukup, Sasi berbalik dengan cepat dan membuka pintu kamar Kael dengan cepat pula. Aroma tubuh Kael manyambut Sasi. Gini toh suasana kamar Kael  batin Sasi sambil tersenyum sendiri. Sasi melangkahkan kakinya lebih jauh masuk ke kamar. Ia terkejut bukan main dengan hiasan yang menempel di dinding kamar Kael. Tertulis seperti sebuah mading "My little sister, My little crush"

Dilihatnya satu persatu foto yang ada di dinding tersebut. Ada disana saat Sasi masih kecil sedang membaca komik sambil tengkurap. Ada juga foto Sasi umur 10 tahun memakai dress putih saat pesta pernikahan orang tua mereka. Sasi saat SMP sedang menyiram tanaman di bawah kamar Kael. Ada juga foto Sasi yang sedang berenang dengan mamanya. Foto Sasi yang memalu papan untuk rumah pohon. Foto mereka berdua sedang berangkulan dan tersenyum bahagia dengan Kael bersetelan jas dan Sasi bergaun putih di acara pernikahan orang tua mereka. Semua ada disana lengkap dengan tanggalnya. Dan yang terakhir, yang menurut Sasi adalah foto baru. Dia yang sedang memegang ponsel sambil tersneyum sendiri. Tertera tanggal kemarin disana.

Sasi menyeka cairan bening yang ternyata sudah lolos melewati pipinya. Tapi Sasi begitu terharu sekarang. Ternyata kakaknya sendiri menykukainya. Isakanya tak bisa lagi ia tahan. Ia menangis haru sambil menundukan kepalanya. Isakanya begitu terdengar keras. Selalu seperti itu Sasi menangis.

Dari arah pintu kamar tersebut berdiri lelaki dengan badan tegap dan wajah diatas rata-rata. Nafasnya terengah-enagh entah karna apa. Pleuh membasahi kaos birunya. Sasi menyadari kehadiranya. Kael mendekati Sasi yang masih bergetar punggungnya. Kael menatap Sasi dengan matanya yang teduh dan penuh cinta. Tidak ada lagi pandangan mengejek, menyebalkan seperti biasanya. Yang ada hanyalah pandangan yang membuat Sasi merasa tenang.

Kael menunduk melihat wajah sembab adiknya. Kael tersenyum hangat lalu jemarinya bergerak menghapus jejak air mata Sasi. Sasi tersenyum kecut. Lalu berhambur begitu saja kedalam pelukan Kael, mendekap erat tubuh Kael. Kael mengusap lembut punggung Sasi menenangkan. Sasi merasa rileks seketika.

Kael mendorong tubu Sasi menjauh. Ia mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi ia pegang dibalik punggungnya. Sebuket mawar putih. "Will you be mine?" tanya Kael tanpa basa basi.

Sasi hanya menatap Kael kes. Tanganya sudah bergerak memukul-mukul Kael tanpa ampun "Bisa-bisanya kamu suka sama aku, dan aku gak tau. Gimana sih. Harusnya kamu bilang dari dulu Kael" Kael hanya tersenyum. Sasi menghentikan pukulanya.

"Ngapain senyum-senyum?" tanay Sasi.

"Kamu tau gak arti semua clue tadi?" Sasi menggeleng lemah.

"Itu semua isi hati aku" Sasi mengernyit bingung mendengar jawaban Kael.

"maksudnya?"

"Dimulai dari kulka. Walaupun kadang aku cuek, nyebelin, dan kamu bilang gak punya perasaan, sebenernya aku sayang sama kamu. Aku salalu ada buat kamu. Lalu ruang gym yang paling kamu benci. Karna kamu gak suka olah raga karna takut senasaninya. Aku malah merasakan semau sensasi itu tanpa berolah raga. Itu karna kamu" Sasi berfikir sejenak sensasi yang di maksud Kael. Pasti jantung yang berdebar dan peluh yang membuat lengket  batin Sasi.

Kael tersenyum melihat Sasi berfikir lalu melanjutkan kalimatnya "Lalu rumah pohon, kalimat disana adalah impian aku. Impian aku bersama kamu. Aku ingin selalu sama kamu. Terus aquariumnya. Itu salah satu kenangan kita berdua bukan. Kita bareng-bareng belinya. Dan aku pengen punya lebih banyak kenangan sama kamu. Dan terakhir kamar ini. Aku larang keras kamu kesini karna ini semua adalah isi hati aku. Tentang kamu. Aku takut kamu tau isi hati aku yang sebenarnya sebelum aku benar-benar siap" Kael menyelesaikan kalimatnya sambil bernafas lega.

Sasi mengusap lagi air matanya. Lagi-lagi pertahananya jebol. Sasi terisak kembali. Dadanya terasa sesak, jantungnya begitu berdebar tak jelas, sesuatu berdesir hebat di darahnya saat tangan Kael kembali menyentuhnya.

"Aku gak tau Kael. Apa aku juga cinta sama kamu. Kalo misalnya gak gimana" tanya Sasi di tengah isakan.

"Cinta adalah saat kamu merasakan ada sesuatu yang bergetar saat merasakan sentuhanya. Saat kamu merasa nyaman dan berdebar disaat bersamaan saat di dekatnya. Saat kamu merasa bahagia hanya sekedar melihatnya, atau mendengar suaranya. Hanya kamu yang bisa rasaain sendiri"

Sasi mengerjap beberapa kali. Ia tidak menyangka selama ini yang ia rasakan yang dinamakan cinta. Sasi selalu nyaman dan terlindungi berada di dekat Kael. Jantung Sasi terasa sedang berjoget saat berhadapan dengan Kael. Sasi merasa sesutu yang sesak saat Kael jauh darinya. Sasi merasakan semuanya. Sasi juga mencintai Kael.

Sasi kembali meloncat kepelukan Kael. Memeluknya erat. Meluapkan rasa senangnya saat ini. Perutnya terasa geli. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan disana.

"Sasi?" panggil Kael yang mematung saat Sasi memeluknya.

"You'll be mine Kaela Devano Collins" teriak Sasi kegirangan. Kaelpun membalas pelukan Sasi. Dia begitu merasa lega saat ini. Akhirnyaa..

***

Sinar matahari menyapa. Melewati celah-celah jendela kamar Kael. Memberi sedikit penerangan di gelapnya kamar Kael.

Senyum Kael merekah bersamaan dengan ia membuka mata. Ini sudah menjadi rutinitasnya di pagi hari selama satu bulan terakhir. Kael segera bangkit dari tempat tidurnya. Kini ia menjadi lebih semangat dari biasanya saat pagi hari. Ia tidak mau berlama-lama di tempat tidur karna tau seseorang di sebrang kamarnya sudah menunggunya untuk di bangunkan.

Kael berjalan cepat-dari tempat tidurnya. Rasa kantuknya terasa menguap seketika membayangkan wajah kekasihnya yang menggerutu sebal. Dan itu yang sangat ia nantikan saat pagi menjelang. Saat sampai di depan pintu coklat di depan kamarnya, Kael langsung masuk tanpa permisi. Hal pertama yang di lakukanya adalah membuka gorden berwarna cerah itu. Membiarkkan sinar matahari melewati jendela kaca besar agar seseorang yang masih bergelut di selimutnya itu segera bangun. Usaha pertama, dia tetap tidak bergerak di dalam selimutnya. Kael mendesah sabar. Ia beranjak naik ke atas ranjang. Menyibakan selimut itu dan menampakan seseorang yang tidur melingkar bak janin di dalam perut. Sasi hanya menggeliat sambil bergumam tak jelas. Senyum tipis Kael mengembang melihatnya. Kael menggoyang-goyangkan tubuh kecil Sasi. Sasi bergeming dan kembali bergumam tak jelas.

Dasar kebo batin Kael dalam hati. Ini cara terakhir, dan Kael yakin paling ampuh. Kael mendekatkan wajahnya pada Sasi. Mengecup lembut kening Sasi. Seketika Sasi terbangun dengan mata membundar. Itu hal yang selalu ia tunjukan saat kejadian yang sama berulang sebulan terakhir. "Bangun my little crush" lirih Kael. 

Sasi segera mendudukan diri di kepala ranjang. Ia menatap sengit laki-laki yang sangat di sayanginya. Kakaknya sekaligus kekasihnya. "Udah sasi bilang. Jangan bangunin Sasi kayak gitu" gerutu Sasi.

"Salah sendiri kebo. Sana mandi. Kalo gak cepet, gue tinggal" ucap Kael sambil berjalan keluar kamar Sasi dengan wajah berseri dan senyum mengembang di sana. Senyum penuh kemenangan. Sedangkan Sasi menatap punggung orang yang di cintainya sambil tersenyum geli sendiri.

-Semoga gak aneh ^^-

16 Mei 2015

Kita Beda

Dari tempatku berada sekarang aku masih bersyukur. Karna dari celah beberapa kepala di depanku ini aku masih bisa melihatmu. Padahal aku selalu ingin menjadi yang paling depan saat kamu tampil. Dapat melihat dengan jelas bagaimana caramu memukul benda bundar dari kulit hewan itu sambil bersenandung. Aku sangat ingin melihatmu melakukanya tepat di depanku.

Ingat tidak? awal pertama kali aku melihatmu. Saat aku yang tidak sengaja menginjak tali yang sedang kamu buat simpul. Kamu yang mengerjakanya sambil duduk sembarangan di atas lantai, dan aku tau itu pasti dingin, kamu tetap mengerjakanya dengan tekun disana. Sampai-sampai kamu tak sadar kalau tempat yang kamu duduki adalah jalan lalu lalang menuju atau keluar dari kelasku. Aku yang akan masuk bersama teman-temanku ke dalam kelas terlonjak kaget saat tiba-tiba kamu membentaku.

"Heh! jangan di injak dong" katamu dengan sensitif. Padahal aku tidak sengaja menginjaknya. Karna kamu menatapku dengan tatapan tak suka aku langsung menarik kakiku dari tali yang sedang kamu pegang ujungnya. Aku tidak tau apa yang membuatmu terlihat begitu sensitif. Tapi aku asal menyimpulkan saja dengan pikiran positif. Mungkin kamu memang sedang lelah dengan kegiatan pramukamu. Aku mencoba memaklumi. Setelah sekilas tersenyum tipis dan meminta maaf aku menunduk menyusul teman-temanku masuk ke dalam kelas.

Tapi disitulah percakapan pertama kita tercipta. Walaupun sedikit tidak mengenakan hati tapi aku tetap mengenangya. Biarkan saja aku mengenangnya, walaupun aku tau pasti hanya aku, kamu tidak. Tak apa.

Sanggar pramuka yang bersebelahan dengan kelasku membuatku sering melihatmu hilir mudik melewati kelasku. Dan diam-diam aku mencari semua hal tentangmu. Kamu yang ternyata bukan hanya aktif dalam kegiatan pramuka, ternyata kamu juga menyukai olah raga voli. Aku tau semua tentangmu. Aku mengikuti semua akun media sosialmu. Aku tau kamu yang selalu pintar dalam pelajaran fisika. Kamu yang sering duduk di bangku kedua dari depan di kelasmu. Kamu yang selalu exited saat ada kegitan jelajah di kegiatan pramukamu. Kamu yang selalu memakai jersey club bola favoritmu saat berlatih voli. Dan aku juga tau, kamu yang suka sekali pisang goreng buatan ibu kantin. Kamu selalu membeli itu saat istirahat. Aku memperhatikanmu saat itu. Dan aku sangat yakin, kamu tidak tau soal itu.

Aku ingat, aku ada di barisan paling depan saat menontonmu bermain voli di kegiatan tengah semester kemarin. Aku yang selalu menyemangati kelasmu. Memberi semangat dengan berteriak-teriak heboh sambil memukul-mukul dua botol air mineral bekas. Dan tidak sia-sia perjuanganku membuat tenggorokanku terasa gersang. Kamu dan teman-temanmu dapat mengalahkan lawan. Aku di buat terkejut dengan tindakanmu yang langsung bersujud di lapangan voli saat kemenanganmu di umumkan. Itukah caramu bersyukur dengan hasil yang telah kamu dapat. Aku baru mengerti.

Dan sekarang, kamu yang notabene anggota pramuka, kamu dan teman-temanmu sesama anggota pramuka  akan menampilan sebuah pertunjukan di acara sekolah. Memperingati hari besar agamamu. Aku tidak terlalu faham. Tapi aku sangat ingin melihat penampilanmu.

Aku yang tidak ikut merayakan hari besar ini, hanya bisa melihatmu dari luar aula. Aku sengaja mengintip diam-diam. Sebenarnya hari ini aku libur karna ada acara di hari besar agamamu ini. Tapi aku sengaja masuk hanya karna penasaran dengan penampilanmu. Aku yang biasanya selalu melihatmu di barisan depan, kini harus sedikit kecewa di acara besar agamamu. Karna aku memang harusnya tidak boleh ada disini.

Kamu yang sudah bersiap duduk bersila dengan benda bundar dari kulit hewan. Nampak terlihat senang. Sebagian temanmu yang tidak ku kenal juga membentuk barisan di samping kanan kirimu dan beberapa perempuan berjilbab di bagian depan. Perempuan-perempuan itu sudah siap dengan mic yang mereka pegang. Kamu mulai memukul benda bundar itu dan diikuti oleh alunan alat musik yang lain. Sedangkan yang perempuan mulai bernyanyi yang tidak terlalu aku fahami maknanya. Tapi aku bisa melihat senyum tipismu saat kamu sedang menutup mata. Senyumu seakan berkata kalau kamu sangat menikmatinya. Akupun ikut tersenyum saat melihat itu. Sesekali kamu ikut ambil suara untuk bersenandung. Dan aku bisa menangkap dengan jelas suara bass-mu itu. Seakan-akan suara yang lain menguap tak tersisa, yang ada hanya suaramu. Begitu merdu terdengar, menyanyikan puji-pujian untuk tuhanmu dan nabimu, menurutku.

Riuh tepuk tangan penonton melengkapi penampilanmu.

Aku tau kita tidak akan pernah bersatu. Aku tau aku tidak punya cukup nyali untuk sekedar menyapamu. Tapi aku tetap disini, untukmu. Karna ada sesuatu dalam hatiku yang menyerukan kepadaku agar aku tetap bersamamu. Walaupun aku tau kita memang tidak akan bersama. Karna kita beda.

Aku tersenyum kecut mendengar pengakuanku sendiri. Dan melangkah pergi dari area aula.

10 Mei 2015

I'm with Rafa

Rafa semakin mengencangkan kepalan di tanganya. Wajahnya sudah memerah menahan emosi. Begitupun dengan rahangnya yang mengeras. Matanya terasa sangat perih menyaksikan apa yang sedang dilihatnya sekarang. Dari sudut cafe ini, tempatnya bersembunyi dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di lakukan kekasihnya dengan kekasihnya yang lain. Gadis yang telah membuatnya jatuh hati dan sekarang menjadi pacarnya itu sedang asik bergurau dan terlihat bahagia dengan seorang lelaki seumuran Rafa, tanpa menyadari sedikitpun kalau sedari tadi ada sepasang mata yang menatap mereka penuh amarah. Lelaki yang sedang duduk dengan gadis Rafa itu sesekali memberikan perlakuan manis nan romantis yang semakin membuat Rafa geram melihatnya. Sedangkan Rasti yang sedari tadi juga sibuk menenangkan Rafa dengan mengelus punggunya lembut dan sesekali melirik ikut melihat ke arah pandangan Rafa. Rasti tidak pernah tega melihat Rafa yang terus-terusan memendam amarahnya seperti ini. Ingin rasanya Rasti meneriaki Rafa sekarang juga kalau itu benar-benar tidak ada gunanya.

"udahlah raf, jangan diliatin terus. Yang ada malah makan ati" ucap Rasti masih terus mengelus punggung Rafa dengan telaten. Bukan Rasti tidak mau membela Rafa, tapi Rasti lebih memilih untuk menjadi tempat pelampiasan keluh kesah Rafa dan penenangnya saja dan tidak mau ikut campur lebih jauh.

"Harusnya dia hargain gue juga dong Ras. Katanya dia udah mau mutusin cowoknya itu dan bakal serius sama gue. Tapi nyatanya sampe sekarang belum juga di putus. Gue labrak juga lama-lama ah" geram Rafa dengan nada berapi-api.

"Inget posisi lo dimana. Lo cuman lelaki cadanganya doang, jangan terlalu berharap banyak. Sabar aja, dia kan udah janji sama lo. Janji adalah hutang, dan hutang harus di bayar"

"Apa dia bener-bener akan bayar hutang dia?" Rafa mengucapkanya dengan nada putus asa. Hati Rasti miris mendengarnya.

"Pasti" tutur Rasti dengan semangat dan senyum mengembang. Membuat Rafa mendapatkan kepercayaan dirinya lagi.

Rasti tau betul bagaimana Rafa sangat mencintai Cleo, yang sedang duduk dengan pacarnya itu, cinta pertama Rafa. Gadis manja, dengan paras yang nyaris sempurna dan sangat populer di sekolah karna dia putri tunggal pemilik sekolah. Sayang, tingkah polahnya tidak mencerminkan kalau dia anak orang berada.

Rafa selalu menceritakan semua tentang kebersamaanya dan Cleo kepada Rasti, yang tebilang langka karna Rafa adalah pacar simpananya Cleo. Tapi persetan dengan itu, Rafa tidak peduli yang dia pedulikan asal bisa bersama Cleo, itu sudah membuatnya bahagia. Rafa mencoba menikmati setiap rasa yang diberikan kepadanya saat berdekatan dengan Cleo. Setiap degupan detak jantungnya yang semakin lama semakin terasa adalah hal yang paling ia sukai. Hingga ia tidak peduli lagi dengan statusnya yang tidak kunjung jelas dan nyata.

Andai Rafa tau, disaat Rafa memamerkan kedekatanya dengan Cleo ada hati yang perlahan tergores karenanya.

***

"Cleo, mana janji kamu" tagih Rafa saat ia dan Cleo sedang bersantai di kedai kopi.

"Ya, kamu sabar dong Raf. Aku masih cari cara buat mutusin Yuan" ucap Cleo dengan nada sedikit tinggi, emosinya terpancing dengan perkataan Rafa.

"Lalu mau sampai kapan Cleo. Aku lebih mencintaimu dari pada Yuan. Kenapa aku yang kamu sembunyikan" Rafa mengungkapkan dengan nada menyedihkan.

"Kamu nembaknya keduluan Yuan. Udahlah, nikmatin aja" kata Cleo santai, tidak menganggap serius ungkapan hati Rafa. Apa yang sedang Rafa rasakan, seakan dia tidak perlu ambil pusing dengan itu.

Lama mereka terdiam. Alunan musik jazz yang mendominasi atmosfer kedai kopi ini. Rafa sibuk dengan fikiranya dan hatinya. Sedangkan Cleo terlihat lebih santai sambil bermain dengan gadgetnya.

Haruskan Rafa tetap menunggu? Kenapa Rafa telalu dibutakan oleh cinta dan membaginya percuma denagn gadi egois didepanya? Atau Rafa harus mundur.

"Kamu sendiri, masih deket dengan sahabat udikmu itu. Mana bisa aku yakin kalau cintamu seratus persen hanya untuku" ucap Cleo tiba-tiba membuat Rafa mmenoleh ke gadis di depanya. Tatapanya mengisyaratkan jaga-mulut-kamu kepada Cleo. Seakan Cleo mengerti dia malah melanjutkan makianya pada sahabat terbaik Rafa itu.

"Apa? aku salah mengejek sahabat udikmu itu. Raf, akupun tidak suka kamu dekat-dekat dengan gadis itu. Dan kamu terlihat begitu dekat denganya. Siapa tau kamu diam-diam menaruh hati padanya dan mencuri kesempatan untuk lebih dekat denganya saat tidak denganku"

"Dia sahabatku Cle. Lalu bagaimana denagnmu? memangnya cintamu sepenuhnya untuku. Kamu aja masih punya pacar tapi jadi pacar aku juga" kata Rafa memutar pertanyaan. Merasa dipermalukan dengan mata yang penuh denagn kekesalan dia pergi meninggalkan cafe setelah dia berkata "kalau kamu tidak mau menungguku, aku tidak masalah. Masih banyak lelaki sepertimu yang mengantri penjang untuk menjadi pacarku. Dan aku rasa Yuan juga lebih baik dari pada kamu. Dengan sikap kamu seperti ini, aku semakin mengurungkan niatku untuk memutuskan Yuan dan bersamamu Raf. Aku pulang" dan dengan angkuh gadis kesayangan Rafa itu pergi meninggalkanya. Namun nyali Rafa tidak menyusut begitu saja. Ia masih tetap keukeh untuk menunggu Cleo.

Rafa mengeluarkan ponsel lalu menekan beberapa digit nomor yang dia hafal diluar kepala. Nomor yang sering ia hubungi untuk sekedar menemaninya atau diajak berbagi cerita denganya.

***

"Dan lo tetep masih mau nunggu?! Astaga Rafa, gue bener-bener gak habis pikir ya sama jalan pikiran lo. Udah jelas-jelas dia gak nganggep lo, dia datang disaat dia butuh lo aja. Dengerin ya Rafa, dengan tampang lo yang diatas rata-rata dan gue yakin otak lo yang masih berfungsi dengan baik walaupun udah terkontaminasi sama bitchy gak jelas itu, lo masih bisa kok dapet cewek yang lebih dari itu nenek lampir" cerosos Rasti tanpa henti saat Rafa selesai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

Tanpa Rafa sadari, senyum Rafa terukir begitu saja mendengar ocehan sahabatnya itu. Membuat Rafa gemas dan mencubit pipi chuby Rasti.Yang dicubit mencoba sebisa mungkin menutupi rasa senangnya yang disimpan dihati dengan pura-pura ngambek.

"Lo jangan ngejek cinta pertama gue. Kayak lo udah paling oke aja" ejek Rafa.

"Seenggaknya gue lebih baik ya dari pada pacar norak lo itu. Cantik sih cantik, tapi kalo tingkahnya kayak gitu mah gak ada berguna juga punya tampang cantik" ucap Rasti dengan senyuman hangat.

Mendadak tubuh Rafa menegang melihat senyum Rasti itu. Senyum yang selalu ditunjukan Rasti kepada Rafa, masih dengan senyum yang sama tapi kali ini auranya berbeda. Entah apa, Rafapun juga tidak kunjung memahami.

"Ya deh. What ever you say" Rafa tidak bisa banyak membalas perkataan Rasti, yang mencaci pacarnya. Berbeda dengan saat dia dengan Cleo. Rasanya saat Cleo mengejek Rasti, hati Rafa benar-benar tidak terima dengan perkataan Cleo.

Dan Rafa masih belum menyadari sebenarnya kepada siapa hatinya berpihak.

***

Rasti yang sedang asik membaca novel favoritnya harus terganggu karna tiba-tiba Cleo menyeretnya dengan paksa. Novel yang Rasti pegang terhempas dari peganganya dan jatuh di lorong kelas. Cleo dan dua anak buahnya yang setia menemani kemanapun Cleo pergi masih terus berusaha menarik Rasti untuk mengikuti mereka.

Tapi jangan panggil Rasti kalau tidak bisa melawan. "Hey! lepasin gak. Di kira gue kambing di tarik-tarik" pekik Rasti mencoba melepaskan cengkraman gadis-gadis gemulai di depanya ini. Dan berhasil, Rasti berhasil melepaskan tanganya. Tapi malah di dorong dengan paksa oleh Cleo dari belakang.

"Jangan coba-coba kabur. Lo harus di kasih pelajaran" ancam Cleo dengan tatapan tajam yang tidak membuat Rasti takut sedikitpun.

"Pelajaran apa? ada masalah apa lo sama gue?" tanya Rasti dengan suara lantang. Namun Cleo menanggapinya dengan tersenyum sinis dan kembali menyeret paksa Rasti untuk mengikutinya.

Sampailah Rasti di toilet perempuan yang kebetulan sepi. Toilet ini cukup luas dan juga sangat bersih.

Cleo mendorong tubuh Rasti hingga menubruk dinding keramik kamar mandi. Rasti yang sudah tidak tahan lagi menahan emosinya akhirnya angkat bicara.

"Masalah lo apa sama gue? huh?" bentaknya dihadapan Cleo tanpa rasa takut sedikitpun. Alih-alih menjawab Cleo malah menyeringai tajam ke arah Rasti. Tanpa di ketahui tangan Cleo mengambil sebotol ramuan busuk di balik punggungnya, membuka tutupnya dan menuangnya begitu saja dari puncak kapala Rasti.

Rasti terkejut bukan main dengan perlakuan Cleo kepadanya. Bau dari ramuan itu sangatlah busuk. Anak buah Cleo meraciknya sedemikian rupa sudah seperti masternya. Karna berhasil membuat Rasti berbau busuk.

"Itu karna lo udah berani-beraninya suka sama Rafa, itu juga karna lo dengan terang-terangan berdekatan dengan Rafa dan yang terakhir, itu juga karna lo udah berani jatuh cinta dengan Rafa"

"Jangan asal ngomong ya lo nenek lampir" sergah Rasti cepat.

"Gue gak asal ngomong kok, emang itu adanya, lo cinta sama Rafa. Emang Rafanya aja yang pinter dia lebih milih gue, karna gue lebih segalanya dari pada lo. Tapi disisi lain harus gue akui, Rafa emang terlalu bego karna segitu gak pekanya sama lo. Kasihaann"seketika tubuh Rasti yang di tembok menegang mendengar ucapan demi ucapan Cleo yang benar adanya. Nyalinya menguap entah kemana.

BRAAAKK!!

***

Sudah cukup lama Rafa menunggu kedatangan Rasti di meja kantin yang sering mereka tempati berdua. Berkali-kali dia mengecek ponselnya yang tidak kunjung bergetar menandakan pesan masuk. Rafa masih setia menunggu Rasti disana untuk makan bersama. Namun semakin lama Rafa menunggu perasaan tak enak semakin menyelimutinya pula.

Tanpa ba bi bu Rafa beranjak dari kursinya dan melangkahkan kaki keluar kantin untuk mencari Rasti. Rafa mencari kesana-kesini tidak juga ia temukan Rasti. Di kelasnya pun juga sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Rafa kebingungan mencari Rasti dengan perasaan tidak enak yang semakin lama semakin kental menyelimutinya.

Tak sengaja saat Rafa berlari untuk ke mencari Rasti lagi, kaki Rafa terasa menendang sesuatu. Dilihat dan diambilnya benda itu. Tertulis nama sahabatnya itu di halaman depan novel. Cepat-cepat Rafa berlari mencari jejak Rasti. Sampai ia melihat Rasti yang di seret oleh Cleo dan bawahanya masuk ke toilet perempuan di ujung lorong ini. Rafa berlari menuju ujung lorong yang cukup panjang.

Rafa sudah akan membuka pintunya namun tanganya terasa melemas mendengar ucapan yang di lontarkan Cleo dalam. "Lo udah berani jatuh cinta sama Rafa"

Deg! 

Jantung Rafa terasa sudah tidak terkendali. Kalimat itu terus mengiang di kepala Rafa, membuatnya tiba-tiba di terjang pusing. Terdengar ucapan Rasti yang tidak terima dari dalam. Rafa mempertajam pendengaranya. Kali ini ejekan yang diucapkan Cleo dan tertuju padanya. Membuat Rafa tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia  menendang pintu toilet dengan kaki kananya.

BRAAAKK!!

Beberapa pasang mata gadis yang ada di dalam toilet melotot sempurna, saat melihat siapa yang mendobrak pintu dengan kasar. Rafa tidak memperdulikan tatapan itu. Matanya tertuju pada Rasti yang sudah sangat tidak karuan. Rambutnya yang dikuncir kuda basah dan terlihat lengket. Begitu juga dengan seragam yang di kenakanya.

"Rafa! ini toilet cewek. Ngapain kamu masuk kesini" cetus Cleo marah dengan kelakuan pacarnya yang menganggu rencana jahatnya.

Seakan tidak punya telinga, Rafa tidak menggubris ucapan Cleo. Rafa berjalan sambil melepas jaket yang dia kenakan dan memakaikanya pada Rasti segera. Rafa memegang pundak Rasti dan akan menuntunya keluar toilet.

"Rafa! mau lo bawa kemana dia? urusan dia belum selesai sama gue" tanya Cleo membentak dengan mata yang menyiratkan emosi yang ia tahan.

"Kita putus" ucap Rafa tegas dan penuh penekanan lalu berjalan meninggalkan Cleo yang menganga.

"Lo pacaran sama Rafa Cle? pacar lo Rafa atau Yuan sih" tanya salah satu gadis berambut keriting sebahu di sebelah kanan Cleo.

"Bukanya lo bilang cuma crush cle?" ucap gadis yang lain.

Cleo membentak keduanya "Diem lo semua" lalu bejalan keluar dengan emosi yang menggebu-gebu.

***

"Heh, jangan masuk dulu. Ada orang di dalem" sergah Rafa cepat dengan membentangkan kedua tanganya menghalangi jalan lelaki itu.

Lelaki itu mengernyitkan alis bingung "yaudah sih, toiletnya juga banyak. Gue udah kebelet nih" sahut lelaki yang dihadang Rafa sambil sesekali berjingkrak menahan sesuatu yang sepertinya sudah tidak bisa lagi ditahan untuk keluar. Dia berusaha menerobos masuk melewati tanagn Rafa. Namun dengan cepat Rafa kembali menyergah.

"Eits.. gak bisa gak bisa. Cari toilet lain sono" ucap Rafa sambil mendorong lelaki itu menjauh dari toilet cowok.

Rafa kembali menyenderkan badanya  ke tembok. Dengan tangan yang di masukanya ke kantong. Kini gayanya hampir mirip dengan model majalah masa kini. Kepala Rafa masih di penuhi dengan kalimat Cleo yang tidak sengaja di dengarnya. Begitu pula dengan indra pendengaranya. Bagai kaset rusak, kalimat itu terus saja berputar lagi dan lagi dan lagi. Rafa memejamkan matanya berusaha membuat fikiranya kembali rileks. Tapi bukan rileks yang dia dapatkan, malah degup jantung yang semakin kencang yang ia rasakan. Saat ia kembali memikirkan bagaimana perasaan Rasti sebenarnya kapada Rafa.

"Raf, udah nih. Ke kelas yuk" suara Rasti dari arah belakang Rafa membuatnya tersentak kaget dan menoleh ke asal suara. Disana berjalan Rasti keluar dari toilet cowok dengan baju olah raganya yang ia dapat dari loker sebagai ganti bajunya yang basah dan busuk

"Eh.. udah" ucap Rafa mencoba menutupi detakan jantungnya yang semakin menjadi. Semoga dia gak denger batin Rafa berdoa.

"Nih jaket lo. Makasih ya" tangan Rasti menyodorkan jaket Rafa yang di pakai menutupi bajunya yang basah tadi.

Rafa hanya melihatinya. "Lo cuci dulu dong. Udah di pinjemin juga" goda Rafa sambil tersenyum miring.

"Iya iya bawel" kata Rasti pasrah "lo tadi ngusir siapa deh?" tanya Rasti setelah itu, karna dia mendengar suara Rafa dan seseorang dari dalam.

"Bukan siapa-siapa" Rafa langsung menautkan tanganya ke sela-sela jemari Rasti lalu menggandengnya begitu saja.

Rafa menyadari ada sesuatu yang tidak wajar. Rasanya tanganya seperti ada yang menyetrum tiba-tiba. Padahal sebelumnya saat ia menyentuh Rasti tidak pernah ia rasakan hal seperti ini. Sedangkan Rasti diam-diam tersenyum bahagia melihat tanganya yang di gandeng Rafa. Begitupun hatinya yang terasa berbunga-bunga. Jantung Rasti pun seperti tidak bisa di atur detakanya. Begitu cepat. Rafa melirik sedikit ke arah gadis yang digandengnya. Lalu ia tersenyum disaat ia menemukan semburat merah di pipi gadis itu saat sedang memandangi tangan mereka yang terpaut. Kini Rafa yakin, kemana hatinya berpihak.

***

Angin di taman belakang sekolah terasa begitu sejuk. Menerpa dengan lembut kearah dua anak yang sedang duduk berdampingan di bangku putih. Sesekali anak rambut dari si gadis ikut terbang perlahan tertiup angin. Membuatnya memancarkan aura kecantikan yang sebenarnya, yang selalu ia tuttupi, yang hanya ingin ia perlihatkan untuk lelaki disampingnya saja. Sedangkan si lelaki, diam-diam mencuri pandang ke arah si gadis yang menghadap lurus kedepan. Melihatnya dari samping. Membuat si lelaki tak sadar kalau senyumnya
mengukir begitu saja.Mengapa baru ia sadari sekarang, kalau sebenarnya dirinya terlalu naif untuk mengakui perasaanya yang telah jatuh ke gadis ini. Bukan ke yang lain. Kenapa begitu bodohnya dia mencoba mencari pelarian untuk menghapus rasa yang tumbuh di hatinya. Mencoba menghilangkan rasa yang menurutnya tak boleh ia rasakan kepada gadis di sebelahnya. Karna ia takut dengan perubahan. Perubahan yang pasti akan terjadi saatia mengungkapkan isi hatinya. Perubahan yang mungkin saja membuatnya tidak bisa bersama lagi dengan gadis yang dicintainaya ini.

Mereka masih diam. Tidak ada perbincangan dari keduanya. Masih sibuk dengan pikiranya masing-masing. Rasti dengan kebahagianya yang belum juga berhenti ia rasakan sejak Rafa menggandeng tanganya. Yang membuat Rasti merasa bahwa Rafa telah melihatnya sekarang, tidak lagi sebagai boneka bernafas yang hanya di gunakan Rafa untuk mendengarkan ceritanya. Rasti begitu yakin. Begitupun dengan Rafa yang sibuk menata hatinya dan mengumpulkan nyalinya untuk mengungkapkan apa yang di rasakan hatinya selamana ini.

Rasti berkali-kali mempergoki Rafa yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Senyum konyol Rasti mengembang saat dilihatnya pipi Rafa memerah.

"Mau sampe kapan disini Raf, gue mau pulang. Masa suruh nemenin lo yang lagi ngeliatin gue terus" senyum jahil Rasti mengembang.

Rafa terlihat salah tingkah mendapati tatapan Rasti dan senyumnya itu "apaan sih, ge er lo. Udah ah disini aja dulu. Gue males di rumah gak ada orang"

"Trus ngapain coba disini. Kita juga gak ngobrol gak ngapa-ngapain. Mending juga di rumah bocan" Rafa tiba-tiba meraih tangan Rasti lembut. Rasti yang diperlakukan tiba-tiba oleh Rafa seperti itu seketika membeku di tempat.

Rafa kembali menarik nafas dan menghembuskanya perlahan, merilekskan jantungnya yang terus berdegup tanpa ritme yang jelas "bener yang di bilang Cleo tadi? Lo suka sama gue?" tanya Rafa dengan mimik serius tapi tetap memperlihatkan mata teduhnya. Membuat Rasti merileks perlahan.

Rasti sempat bingung harus menjawab apa, sampai akhirnya ia berkata "tapi gue tau gue gak pantes. Lo kan sukanya sama Cleo yang lebih segala-galanya dari pada gue. Gue cukup sadar diri kok. Lo gak perlu khawatir. Lagian gue juga gak mau persahabatn kita ancur cuma gara-gara keegoisan gue yang cinta sama lo" Rasti menghembuskan nafas lega saat ia menyelesaikan kata-katanya.

"Kalo gue sekarang cintanya sama lo. Lo masih mau gak sama gue?" tanya Rafa yang langsung membuat Rasti terkejut dan senang disaat yang bersamaan."Lo tutup mata dulu deh" ujar Rafa, Rasti mengernyit bingung.

"Udah tutup mata aja" Rasti menuruti kata-kata Rafa. Sekarang ini lidah Rasti terasa kelu untuk sekedar bilang 'buat apa' atau 'ya' atau 'ngapain'. Rasanya suaranya berhenti di tenggorokan tidak bisa ia keluarkan.

Rafa menghadap kedepan "Gue sebenernya juga udah suka sama lo dari dulu. Namun gue sadar kita gak pernah bisa bersatu melebihi sahabat. Gue takut disaat gue ungkapin perasaan gue, lo gak bisa nerima gue dan akhirnya lo menjauh dari gue. Gue gak mau itu terjadi. Gue gak mau kehilangan cinta dan sahabat sekaligus. Akhirnya gue memutuskan untuk mencari pelarian. Dengan bersama Cleo, gue kira disaat gue sama Cleo gue bisa lupain rasa gue ke elo tapi gue malah lebih sakit hati lagi sama Cleo. Maaf, jika selama ini gue bikin lo enek sama cerita-cerita gue dengan Cleo. Gue yakin, pasti lo sebenarnya sedih dengernya. Tapi sekarang gue udah yakin kalo lo juga punya rasa ke gue, dan itu membuat gue gak takut lagi buat kehilangan lo. Gue pengen lo selalu ada buat gue Ras, gue mau lo jadi milik gue lebih dari sahabat"

Tanpa Rafa ketahui air mata Rasti lolos melewati pipi chubynya. Air mata haru dari Rasti. Bibir Rastipun tidak berhenti tersenyum bahagia mendengar ucapan Rafa. Kini cintanya telah terbalas. Sesuatu yang lembut bersentuhan dengan punggung tanagnya yang masih di pegang Rafa sejak tadi. Membuat Rasti membuka matanya.

"Sekarang lo pacar gue" ujar Rafa dengan senyum hangatnya setelah mencium punggung tangan Rasti. Rasti yang sudah kelewat senang segera memeluk lelaki yang dicintainya diam-diam itu. Ia sangat bahagia mendengar pengakuan Rafa.

"I love you Raf" kata Rasti masih terus memeluk Rafa erat, seakan tidak mau kehilanganya.

"I love you more Rast"

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...