"aw.. Kael
liat-liat dong kalo jalan. Jadi kecoret kan gambaran aku" seru gadis
berkuncir kuda dengan kesal karna gambaran komiknya tercoret. Menyebabkan
gambar anime perempuan cantik mempunyai kumis di bawah hidungnya.
Kael yang tadi sengaja
menyenggol lengan gadis itu berjalan menghampiri. Merebut kertas yang sudah ada
beberapa gambar dan balon-balon percakapan di sana. Kael menarik ujung
bibirnya, membuat senyuman miring. Kael mendengus dan berkata "dasar anak
kecil, kerjaanya gambar mulu, gak jelas lagi gambarnya. Sini" Kael
mengambil pensil yang ada di tangan Sasi "gue ajarin bikin yang
bagus" lanjut Kael. Sasi hanya diam dan memperhatikan.
Kael memulai lagi
aksinya mengerjai Sasi. Ia menggambar sesuatu di kertas itu. Kini gambaran
anime Sasi berubah menjadi botak di semua tokoh. Kael tertawa puas lalu
memberikanya pada Sasi. Sasi melotot menyadari perubahan yang terjadi pada
gambaranya.
"Kaela Devano
Collins" teriak Sasi geram. Sedangkan yang di teriaki sudah menghilang
entah kemana.
***
"Kael.. oper
sini" seru lelaki berhidung mancung dengan tanganya melambai meminta bola.
Lelaki lain yang sedang mendrible segera melempar bola oranye itu ke arah
temanya yang meminta. Tetapi sayang meleset. Bola itu malah terlempar jauh
hingga berhenti di kepala seseorang.
"Aww.."
ringis gadis berkuncir kuda yang tadinya sedang membaca komik di pinggir
lapangan. Bola oranye itu berhenti memantul di sebelah kakinya.
"Wah.. gue disini
Kael. kenapa lo ngopernya kesana" Kael tidak memperdulikan ucapan temanya
itu. Dia berlari menghampiri gadis yang tidak sengaja terkena bola lemparanya.
Rasa bersalah menyelimuti hati Kael saat melihat gadis itu meringis kesakitan.
"Sas gak
papa?" tanyanya camas. Sasi mendongak dan terlihatlah disana wajah
seseorang yang selalu senang mengerjainya. Wajahnya Sasi memerah menahan emosi.
Sasi berdiri dari duduknya, "Kael, kamu sengaja ya. Gak bisa apa sehari
aja kamu gak ganggu aku" ucapnya dengan nada kesal sambil terus mengusap
sayang keningnya yang terkena bola. Kael tersenyum tipis.
"Ya sorry sas,
gue gak sengaja. Mana yang sakit?" kata Kael penuh penyesalan, tanpa ba bi
bu Kael ikut mengusap kening Sasi yang terlihat benjol dan merah. Sasi sudah
biasa melihat Kael yang seperti ini. Kadang dia bisa sangat menyebalkan karna
suka sekali mengerjainya. Tapi sesaat kemudian dia menyesal jika itu melukai
bagian tubuh Sasi. Tapi kalau membuat Sasi gemas dan kesal itu sudah menjadi
kesukaan Kael. Kael belum puas mengerjai Sasi kalau belum melihat wajah
kesalnya. Karna menurut Kael, Sasi sangat lucu saat seperti itu. Dan itu juga
yang membuatnya menyukai Sasi.
Sasi yang selalu
terlihat imut dan manis karna mempunyai lesung pipi. Walaupun kadang
kekanak-kanakan telah membuat Kael jatuh hati padanya. Kael sudah menykainya
sejak mereka pertama kali bertemu.
Saat itu Sasi kecil
yang sedang menangis sendiri di tengah taman dengan komik di tanganya. Saat itu
ada acara kantor Papa Sasi. Kael juga berada disana bersama Mamanya. Kael yang
juga seumuran dengan Sasi menghampiri dan bertanya "dasar cengeng"
ejek Kael saat sudah berada di depan Sasi.
Sasi mendongak melihat
siapa yang mengajaknya bicara."komik aku rusak" ujar Sasi dan
menyodorkan komik itu pada Kael. Dengan mata merah dan pipi sembab Sasi kecil
terlihat seperti meminta bantuan pada Kael.
Kael menerimanya dan
melihat bagian kertas yang robek "ini cuma robek. bisa di benerin"
"Coba deh
benerin. Kalo bisa nanti kamu jadi temen aku" celetuk Sasi semangat. Kael
mengeluarkan lem dari sakunya. Kael mulai mengelem bagian yang robek lalu
merekatkanya hati-hati. Kael tersenyum puas saat sudah selesai. Sasi yang
memperhatikan dari tadi ikut senang ternyata komiknya sudah tidak rusak. Sasi
mengambil komiknya sambil tersenyum sendiri.
"Udah gak rusak
kan. Jangan nangis lagi" ujar Kael kecil. Sasi yang kegirangan berhambur
memluk Kael dan berterimakasih. "Sekarang kamu jadi temen aku" bisik
Sasi dalam pelukan.
Sejak saat itulah Kael
menyukai Sasi yang lucu, spontan, dan wajah kesalnya. Yang selalu membuat Kael
tersenyum sendiri saat mengingat wajah kesal Sasi. Sasi terlihat cantik saat
kesal. Tapi jauh lebih cantik bekali lipat saat iya tersenyum dan memamerkan
lesung pipinya. Hingga kini mereka sama-sama duduk di bangku SMA perasaan Kael
tidak pernah berubah.
Namun sayang. Sebesar
apapun Kael mencintai dan menyayangi Sasi. Mereka tidak akan bisa bersama.
"Nanti di kasih
salep ya. Biar benjolnya ilang" ucap Kael kemudian melepaskan tanganya
dari kening Sasi setelah mengetuknya beberapa kali. Sebelum jantungnya semakin
berdetak lebih kencang dan bisa keluar tiba-tiba. Sasi masih dengan wajah
kesalnya mengangguk. Kael tidak bisa menahan rasa senangnya melihat raut wajah
Sasi yang menggemaskan. Kael tersenyum lebar.
Sasi tidak peduli
dengan senyuman Kael. Masih dengan perasaan kesal Sasi menyambar komiknya dan
berjalan menggebu-gebu menuju kelas. Kakinya yang dihentak-hentakan membuat
kucir kudanya ikut bergoyang kesana kesini. Kael hanya bisa tersenyum melihat
tingkah adik tirinya itu.
***
"Kamu makan yang
banyak ya Sasi. Biar cepet gede" cibir wanita cantik paruh baya yang
sangat sasi sayangi di depanya. Sasi melihatinya kesal lalu mendengus
"Mama, Sasi udah gede tau" protes Sasi. Sasi melirik tajam
kesampingnya saat ia mendengar bunyi kekehan.
"Kael diem!"
Sasi memperingati, tapi Kael masih tetap terkekeh, malah semakin keras hingga
tertawa geli.
"Udah, anak kecil
makan aja. Biar cepet gede" ujar Kael setelah berheti tertawa.
"Kening kamu
kenapa benjol gitu sayang" tanya Linda mengerutkan dahi memperhatikan
kening anak perempuanya.
"Dilempar bola sama
Kael"
"Kael, kamu usil
banget sama adeknya" kini suara berat seorang lelaki diujung meja makan
yang bersuara membela Sasi.
"Gak sengaja pa.
Siapa suruh dia duduk di pinggir lapangan. Ya wajar kalo kena bola. Dasar anak
kecil" Kael membela diri.
"Kalo pemain
basket beneran gak bakal salah oper. Kael aja yang amatiran. Makanya jangan sok
sok an main basket. Main bekel aja sana" Sasi masih bisa menjawab kalimat
Kael.
"Gue jago ya.
Enak aja lo ngomong. Daripada lo kerjaanya gambar tuyul. Gak penting banget"
"Itu anime
namanya. Itu gambar cowok ganteng. Kael yang ngerubah semuanya jadi botak. Ma,
pokoknya besok Sasi gak mau sekelas sama Kael lagi. Kalo gak sekalian Sasi
pindah sekolah aja. Sasi udah gak kuat maa.. di gangguin mulu sama manusia ini.
Di rumah di rusuhin di sekolah juga gak berenti. Sasi capek ma" keluh Sasi
dengan nada kekanak-kanakan sambil melambai-lambai.
Kael mendengus,
"dasar sinetron"
"Pindah sekolah
itu butuh duit, mama gak punya duit"
"Yah.. Mama gak
seru"
"Kael punya adek
itu di jagain jangan di kerjain"
"Denger tuh kata
Papa"
"Hemm"
"Eh, udah makan
cepet. Dimeja makan juga masih aja ribut. Kalo masih ribut, besok gak dapet
jatah makan malam" ucap Linda, Sasi terkejut dan cepat-cepat menyelesaikan
makanya.
***
Kael mengintip ke
pintu depan kamarnya yang sedikit terbuka. Didalam sana berada Sasi yang sedang
bermain ponselnya di atas kasur. Kael beberapa di buat tersenyum saat Sasi
menggerutu sendiri kepada ponselnya. Entah apa yang membuatnya kesal, tapi itu
selalu bisa membuat Kael tersenyum.
"Andai gue nembak
lo dari dulu sas. Pasti sekarang kita udah pacaran dan lo jadi milik gue
seutuhnya. Sayang, Mama gue udah jatuh cinta lebih dulu sama Papa lo. Dan
mereka udah bahagia sekarang. Kebahagiaan Mama gue lebih penting dari apapun di
dunia ini" Kael tersenyum kecut mendengar gumamanya sendiri. Kael
mengeluarkan benda persegi panjang dari kantongnya. Diam-diam Kael memotret
Sasi yang sedang memegang ponsel sambol tersenyum. Ia menghembuskan nafas berat
kemudian berbalik menuju kamarnya setelah menutup rapat pintu kamar Sasi.
Terasa tanganya di
cekal seseorang, Kael berhenti dan berbalik. Dilihatnya wajah Linda dan matanya
yang berair. "Kamu jatuh cinta dengan Sasi?" tanya Linda dengan suara
bergetar.
Serasa di jatuhi gondam
dada Kael terasa sesak. Rahasia yang di tutupinya 7 tahun terakhir di ketahui
Mamanya. Kael yang tidak ingin mamanya menangis dan mengkhawatirkan perasaanya
memeluk wanita kesayanganya dan mengusap punggungnya lembut.
"Maafin Mama,
Kael. Mama terlalu egois dengan cinta Mama. Harusnya mama tau tentang
perasaanmu pada Sasi sejak dulu. Jadi kamu bisa berbahagia denganya
sekarang" ucap Linda susah payah sambil terisak.
"Gak papa Ma..
gak usah pikirin Kael. Kael bahagia kok kalo Mama bahagia. Kael bahagia banget
sekarang punya Papa yang bisa jadi panutan Kael dan juga punya Sasi jadi adek
Kael yang bisa Kael godain. Apalagi punya keluarga bahagia kayak gini. Ini
sudah lebih dari cukup kok maa" ucap Kael mencoba menenangkan hati Linda.
Tapi memang Kael sudah bahagia sekarang karna mempunyai seorang Papa yang
sangat ia inginkan. Papa kandung Kael pergi menghilang saat Mama Kael
melahirkanya. Kael tidak tau kenapa. Tapi Kael mencoba untuk tidak mengingatnya
karna sekarang ia sudah mempunyai Papa yang jauh lebih baik.
"Mama jangan
cengeng dong" cibir Kael saat Linda belum juga mau berhenti menangis.
Linda mendorong tubuh
Kael menjauh. Linda memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap anak
laki-lakinya. Kael memperhatikan Mamanya,dan menunggu apa yang akan dikatakan
Linda. Jantung Kael berdegup kencang seketika. Perasaan senang, lega terasa
saat Linda mengucapkanya.
"Kamu harus kejar
cinta kamu. Kamu harus dapetin Sasi. Buat dia menjadi milikmu"
***
Sasi membantingkan
tubuhnya ke kasur kamarnya. Dia merasa sangat kelelahan karna harus naik
angkutan umum untuk pulang. Kael tadi tidak mau mengantarnya, karna katanya dia
ada urusan mendadak. Dasar sok
sibuk cibir Sasi dalam hati. Sasi sangat lelah sekarang.
Di intipnya jam
dinding yang berdetak di atas ranjangnya. Jarum sudah menunjukan pukul 4 sore.
Sasa segera bergegas mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat
lengket bagai di baluti madu sana sini. Setelah ia selesai membersihkan dirinya
perutnya minta segera diisi. Sasi membuka knop pintu kamarnya hendak ke dapur.
Tapi langkahnya berhenti saat kakinya terasa menginjak sesuatu. Dilihatnya
sudah ada kelopak mawar putih bertebaran di depan kamarnya.
Sasi mengikuti arah
mawar-mawar itu dan ternyata habis di depan kamar Kael. Terdapat notes menempel
di pintu coklat kamar Kael. Sasi mengambilnya dan membaca isi notes tersebut.
Tertulis di sana "sebuah
peti dengan dua pintu putih, dan terasa dingin. Walaupun dingin semua tersedia
disana" Ini sebuah teka-teki.
Sasi pernah melihatnya di sebuah film yang di tontonya bersama Kael.
Sasi berfikir keras
memecahkan maksud dari kalimat ini. Dia menjentikan jari saat ia mengetahui
jawabanya. Ia segera berlari menuruni tangga menuju dapur. Dilihatnya lagi
kelopak mawar putih bertebaran di depan lemari es. Membuatnya semakin yakin
kalau ini jawabanya. Sasi mencari-cari clue selanjutnya. Matanya menangkap
notes di antara magnet-magnet kulkas "Mama
sama Papa kencan dulu. Kamu yang akur ya sama Kael -mama-" ini bukan notes yang ia cari. Sasi
membuangnya sembarangan. Kembali ia mencari-cari diantara magnet kulkas. Dia
tidak juga menemukanya.
Sasi menghela nafas
panjang karna tidak kunjung ia menemukan clue selanjutnya. Padahal ia pikir ini
akan seru. Tapi ini pasti hanya akal-akalan Kael untuk mengerjainya lagi. Sasi
membuka pintu kulkas dan mengambil satu kaleng softdrink. Tanganya terasa
menyentuh sesuatu dibalik kalengnya. Disana terdapat notes yang ia cari-cari.
Cepat-cepat Sasi membacanya "jantungmu
terasa begitu berdebar saat melakukanya. Keringatmu berkucuran saat
mengerjakanya". Lagi-lagi
ini sulit untuk di pecahkan. Pa yang sperti ini. Sasi mencoba mengingatnya.
Ia berlari menuju
ruang gym yang ada di sekitar kolam renang. Ruangan ini, ruangan terbuka. Di
buat seperti itu, karena agar dapat melihat pemandangan pegunungan sambil
berolah raga. Ini tempat favorit Kael dan tempat paling di benci Sasi. Sasi
tidak suka olah raga. Karna itu dapat membuat jantungnya berdebar hebat,
terlebih setelah berlari dan juga membuatnya berkeringat. Sasi tidak suka
membuat tubuhnya lengket.
Benar dugaan Sasi. Di
sekitar ruang gym bertebar kelopak mawar putih. Sasi mendekat mencari-cari clue
selanjutnya. Dan tak perlu waktu lama, ia langsung menemukanya di kaca ruang
gym. Sasi membacanya dengan cepat "kesukaanmu
yang sangat aku ketahui. hingga berak-rak. Tempat favoritmu saat memandang
bintang dan bulan" Sasi tersenyum membacanya. Tanpa lama-lama ia
segera berlari memutari kolam menuju rumah pohon yang ada di pojok halaman
belakangnya.
Rumah pohon ini di
buatnya bersama Kael saat mereka akan SMA. Ini sebagai hadiah dari Papa karna
Sasi dan Kael lulus dengan nilai memuaskan. Di rumah pohon itu ada beberapa rak
buku untuk Sasi menyimpan komik-komiknya. Ada juga beberapa barang Kael. Tapi
lebih banyak barang-barang Sasi.
Di sekitar rumah pohon
tersebut sudah ada kelopak bunga yang bertebaran disana sini. Sasi menaiki satu
persatu anak tangga yang terbuat dari kayu. Ia terkejut saat melihat isi rumah
pohonya itu. Clue selanjutnya ditulis Kael di tembok kayu rumah pohon itu
dengan spidol. Tidak terlalu besar, tapi itu membuat Sasi marah karena Kael
mengotori tempat favoritnya. Tertulis disana "Mereka
akan abadi bersama satu sama lain". Sasi ingat betul dengan
kalimat itu. Itu salah satu kutipan dari komik yang pernah ia baca.
Sasi mencari-cari
komik tersebut di rak bukunya. Saat ia temukan komiknya, ia tidak menemukan
clue selanjutnya. Sasi berfikir keras mengingat-mengingat kalimat itu tentang
apa. Sasi hampir menyerah, ia terduduk di dekat jendela rumah pohonya.
Sasi menghembuskan
nafas beratnya sambil memandang langit. Kebiasaanya sejak dulu. Ia suka
memandang langit. Entah untuk melihat awan di siang hari, atau melihat bintang
dan bulan di malam hari. Itu hal yang paling ia senangi. Sasi berfikir sejenak
tentang perasaanya pada Kael. Ia kesal dengan permainan Kael ini. Kael pasti
sedang mempermainkanya sekarang.
Sasi bergumam,
"Permainanya ribet banget sih. Kalo aku jatuh cinta nanti, aku gak mau jatuh cinta sama orang kayak Kael. Udah nyebelin ribet pula. Argghh" Sasi memejamkan
matanya sejenak. Mencoba merilekskan fikiranya untuk berfikir. Membiarkan angin
sore menabrak wajahnya secara halus. Sasi menikmatinya.
Tiba-tiba seperti
teringat sesuatu. Sasi kembali membuka matanya dan beejalan cepat ke arah
aquarium pojok rumah pohon ini. Disana tempat Sasi meletakan kura-kuranya dan
kura-kura Kael. Sasi pikir mereka berjodoh. Karna mereka terlihat serasi. Sasi
tidak sengaja mengucapkan kelimat dari kutipan novel tersebut saat sedang
bermain dengan kura-kuranya dan Kael.
Benar saja, terdapat
sebuah notes di kaca aquarium itu. Sasi mengambilnya dan membacanya. "Tempat keramat yang tidak
boleh ada yang memasukinya" Tak
butuh waktu lama Sasi langsung bisa menangkap maksud kata-kata tersebut.
Ia berlari lagi masuk
ke rumah. Menaiki tangga menuju lantai dua. Dilihatnya kelopak mawar putih lagi
di depan kamar Kael. Sasi berfikir kembali. Ia harus masuk atau tidak. Kael
selalu melarang siapapun memasuki kamarnya. Termasuk Mama dan Papa. Sasipun
termasuk. Tidak ada yang boleh masuk ke kamar Kael. Pernah sekali Sasi ingin
mengintip seperti apa kamar kakaknya itu. Baru Sasi memegang knopnya saja sudah
di marahi habis-habisan oleh Kael.
Sasi mengurungkan
niatnya untuk melanjutkan permainan ini. Ia hendak kembali ke kamarnya. Saat
Sasi memegang knop pintunya, ia memandang nanar ke arah pintu di belakanganya.
Tapi Sasi berbalik hendak membuak knop pintu kamarnya. Tapi sesuatu dalam
dirinya membujuknya untuk masuk ke kamar itu.
Sasi menarik nafas
panjang dan menghembuskan perlahan. Seperti sedang mengumpulkan energi. Sudah
dirasa cukup, Sasi berbalik dengan cepat dan membuka pintu kamar Kael dengan
cepat pula. Aroma tubuh Kael manyambut Sasi. Gini
toh suasana kamar Kael batin
Sasi sambil tersenyum sendiri. Sasi melangkahkan kakinya lebih jauh masuk ke
kamar. Ia terkejut bukan main dengan hiasan yang menempel di dinding kamar
Kael. Tertulis seperti sebuah mading "My little sister, My little
crush"
Dilihatnya satu
persatu foto yang ada di dinding tersebut. Ada disana saat Sasi masih kecil
sedang membaca komik sambil tengkurap. Ada juga foto Sasi umur 10 tahun memakai
dress putih saat pesta pernikahan orang tua mereka. Sasi saat SMP sedang
menyiram tanaman di bawah kamar Kael. Ada juga foto Sasi yang sedang berenang dengan
mamanya. Foto Sasi yang memalu papan untuk rumah pohon. Foto mereka berdua
sedang berangkulan dan tersenyum bahagia dengan Kael bersetelan jas dan Sasi
bergaun putih di acara pernikahan orang tua mereka. Semua ada disana lengkap
dengan tanggalnya. Dan yang terakhir, yang menurut Sasi adalah foto baru. Dia
yang sedang memegang ponsel sambil tersneyum sendiri. Tertera tanggal kemarin
disana.
Sasi menyeka cairan
bening yang ternyata sudah lolos melewati pipinya. Tapi Sasi begitu terharu
sekarang. Ternyata kakaknya sendiri menykukainya. Isakanya tak bisa lagi ia
tahan. Ia menangis haru sambil menundukan kepalanya. Isakanya begitu terdengar
keras. Selalu seperti itu Sasi menangis.
Dari arah pintu kamar
tersebut berdiri lelaki dengan badan tegap dan wajah diatas rata-rata. Nafasnya
terengah-enagh entah karna apa. Pleuh membasahi kaos birunya. Sasi menyadari
kehadiranya. Kael mendekati Sasi yang masih bergetar punggungnya. Kael menatap
Sasi dengan matanya yang teduh dan penuh cinta. Tidak ada lagi pandangan mengejek,
menyebalkan seperti biasanya. Yang ada hanyalah pandangan yang membuat Sasi
merasa tenang.
Kael menunduk melihat
wajah sembab adiknya. Kael tersenyum hangat lalu jemarinya bergerak menghapus
jejak air mata Sasi. Sasi tersenyum kecut. Lalu berhambur begitu saja kedalam
pelukan Kael, mendekap erat tubuh Kael. Kael mengusap lembut punggung Sasi
menenangkan. Sasi merasa rileks seketika.
Kael mendorong tubu
Sasi menjauh. Ia mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi ia pegang dibalik
punggungnya. Sebuket mawar putih. "Will you be mine?" tanya Kael
tanpa basa basi.
Sasi hanya menatap
Kael kes. Tanganya sudah bergerak memukul-mukul Kael tanpa ampun
"Bisa-bisanya kamu suka sama aku, dan aku gak tau. Gimana sih. Harusnya
kamu bilang dari dulu Kael" Kael hanya tersenyum. Sasi menghentikan
pukulanya.
"Ngapain
senyum-senyum?" tanay Sasi.
"Kamu tau gak
arti semua clue tadi?" Sasi menggeleng lemah.
"Itu semua isi
hati aku" Sasi mengernyit bingung mendengar jawaban Kael.
"maksudnya?"
"Dimulai dari
kulka. Walaupun kadang aku cuek, nyebelin, dan kamu bilang gak punya perasaan,
sebenernya aku sayang sama kamu. Aku salalu ada buat kamu. Lalu ruang gym yang
paling kamu benci. Karna kamu gak suka olah raga karna takut senasaninya. Aku
malah merasakan semau sensasi itu tanpa berolah raga. Itu karna kamu" Sasi
berfikir sejenak sensasi yang di maksud Kael. Pasti
jantung yang berdebar dan peluh yang membuat lengket batin Sasi.
Kael tersenyum melihat
Sasi berfikir lalu melanjutkan kalimatnya "Lalu rumah pohon, kalimat disana
adalah impian aku. Impian aku bersama kamu. Aku ingin selalu sama kamu. Terus
aquariumnya. Itu salah satu kenangan kita berdua bukan. Kita bareng-bareng
belinya. Dan aku pengen punya lebih banyak kenangan sama kamu. Dan terakhir
kamar ini. Aku larang keras kamu kesini karna ini semua adalah isi hati aku.
Tentang kamu. Aku takut kamu tau isi hati aku yang sebenarnya sebelum aku
benar-benar siap" Kael menyelesaikan kalimatnya sambil bernafas lega.
Sasi mengusap lagi air
matanya. Lagi-lagi pertahananya jebol. Sasi terisak kembali. Dadanya terasa
sesak, jantungnya begitu berdebar tak jelas, sesuatu berdesir hebat di darahnya
saat tangan Kael kembali menyentuhnya.
"Aku gak tau
Kael. Apa aku juga cinta sama kamu. Kalo misalnya gak gimana" tanya Sasi
di tengah isakan.
"Cinta adalah
saat kamu merasakan ada sesuatu yang bergetar saat merasakan sentuhanya. Saat
kamu merasa nyaman dan berdebar disaat bersamaan saat di dekatnya. Saat kamu
merasa bahagia hanya sekedar melihatnya, atau mendengar suaranya. Hanya kamu yang
bisa rasaain sendiri"
Sasi mengerjap
beberapa kali. Ia tidak menyangka selama ini yang ia rasakan yang dinamakan
cinta. Sasi selalu nyaman dan terlindungi berada di dekat Kael. Jantung Sasi
terasa sedang berjoget saat berhadapan dengan Kael. Sasi merasa sesutu yang
sesak saat Kael jauh darinya. Sasi merasakan semuanya. Sasi juga mencintai
Kael.
Sasi kembali meloncat
kepelukan Kael. Memeluknya erat. Meluapkan rasa senangnya saat ini. Perutnya
terasa geli. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan disana.
"Sasi?"
panggil Kael yang mematung saat Sasi memeluknya.
"You'll be mine
Kaela Devano Collins" teriak Sasi kegirangan. Kaelpun membalas pelukan
Sasi. Dia begitu merasa lega saat ini. Akhirnyaa..
***
Sinar matahari menyapa. Melewati celah-celah jendela kamar Kael. Memberi sedikit penerangan di gelapnya kamar Kael.
Senyum Kael merekah bersamaan dengan ia membuka mata. Ini sudah menjadi rutinitasnya di pagi hari selama satu bulan terakhir. Kael segera bangkit dari tempat tidurnya. Kini ia menjadi lebih semangat dari biasanya saat pagi hari. Ia tidak mau berlama-lama di tempat tidur karna tau seseorang di sebrang kamarnya sudah menunggunya untuk di bangunkan.
Kael berjalan cepat-dari tempat tidurnya. Rasa kantuknya terasa menguap seketika membayangkan wajah kekasihnya yang menggerutu sebal. Dan itu yang sangat ia nantikan saat pagi menjelang. Saat sampai di depan pintu coklat di depan kamarnya, Kael langsung masuk tanpa permisi. Hal pertama yang di lakukanya adalah membuka gorden berwarna cerah itu. Membiarkkan sinar matahari melewati jendela kaca besar agar seseorang yang masih bergelut di selimutnya itu segera bangun. Usaha pertama, dia tetap tidak bergerak di dalam selimutnya. Kael mendesah sabar. Ia beranjak naik ke atas ranjang. Menyibakan selimut itu dan menampakan seseorang yang tidur melingkar bak janin di dalam perut. Sasi hanya menggeliat sambil bergumam tak jelas. Senyum tipis Kael mengembang melihatnya. Kael menggoyang-goyangkan tubuh kecil Sasi. Sasi bergeming dan kembali bergumam tak jelas.
Dasar kebo batin Kael dalam hati. Ini cara terakhir, dan Kael yakin paling ampuh. Kael mendekatkan wajahnya pada Sasi. Mengecup lembut kening Sasi. Seketika Sasi terbangun dengan mata membundar. Itu hal yang selalu ia tunjukan saat kejadian yang sama berulang sebulan terakhir. "Bangun my little crush" lirih Kael.
Sasi segera mendudukan diri di kepala ranjang. Ia menatap sengit laki-laki yang sangat di sayanginya. Kakaknya sekaligus kekasihnya. "Udah sasi bilang. Jangan bangunin Sasi kayak gitu" gerutu Sasi.
"Salah sendiri kebo. Sana mandi. Kalo gak cepet, gue tinggal" ucap Kael sambil berjalan keluar kamar Sasi dengan wajah berseri dan senyum mengembang di sana. Senyum penuh kemenangan. Sedangkan Sasi menatap punggung orang yang di cintainya sambil tersenyum geli sendiri.
-Semoga gak aneh ^^-