18 Mei 2015

My little sister, My little crush

"aw.. Kael liat-liat dong kalo jalan. Jadi kecoret kan gambaran aku" seru gadis berkuncir kuda dengan kesal karna gambaran komiknya tercoret. Menyebabkan gambar anime perempuan cantik mempunyai kumis di bawah hidungnya.

Kael yang tadi sengaja menyenggol lengan gadis itu berjalan menghampiri. Merebut kertas yang sudah ada beberapa gambar dan balon-balon percakapan di sana. Kael menarik ujung bibirnya, membuat senyuman miring. Kael mendengus dan berkata "dasar anak kecil, kerjaanya gambar mulu, gak jelas lagi gambarnya. Sini" Kael mengambil pensil yang ada di tangan Sasi "gue ajarin bikin yang bagus" lanjut Kael. Sasi hanya diam dan memperhatikan.

Kael memulai lagi aksinya mengerjai Sasi. Ia menggambar sesuatu di kertas itu. Kini gambaran anime Sasi berubah menjadi botak di semua tokoh. Kael tertawa puas lalu memberikanya pada Sasi. Sasi melotot menyadari perubahan yang terjadi pada gambaranya.

"Kaela Devano Collins" teriak Sasi geram. Sedangkan yang di teriaki sudah menghilang entah kemana.

***

"Kael.. oper sini" seru lelaki berhidung mancung dengan tanganya melambai meminta bola. Lelaki lain yang sedang mendrible segera melempar bola oranye itu ke arah temanya yang meminta. Tetapi sayang meleset. Bola itu malah terlempar jauh hingga berhenti di kepala seseorang.

"Aww.." ringis gadis berkuncir kuda yang tadinya sedang membaca komik di pinggir lapangan. Bola oranye itu berhenti memantul di sebelah kakinya.

"Wah.. gue disini Kael. kenapa lo ngopernya kesana" Kael tidak memperdulikan ucapan temanya itu. Dia berlari menghampiri gadis yang tidak sengaja terkena bola lemparanya. Rasa bersalah menyelimuti hati Kael saat melihat gadis itu meringis kesakitan.

"Sas gak papa?" tanyanya camas. Sasi mendongak dan terlihatlah disana wajah seseorang yang selalu senang mengerjainya. Wajahnya Sasi memerah menahan emosi. Sasi berdiri dari duduknya, "Kael, kamu sengaja ya. Gak bisa apa sehari aja kamu gak ganggu aku" ucapnya dengan nada kesal sambil terus mengusap sayang keningnya yang terkena bola. Kael tersenyum tipis.

"Ya sorry sas, gue gak sengaja. Mana yang sakit?" kata Kael penuh penyesalan, tanpa ba bi bu Kael ikut mengusap kening Sasi yang terlihat benjol dan merah. Sasi sudah biasa melihat Kael yang seperti ini. Kadang dia bisa sangat menyebalkan karna suka sekali mengerjainya. Tapi sesaat kemudian dia menyesal jika itu melukai bagian tubuh Sasi. Tapi kalau membuat Sasi gemas dan kesal itu sudah menjadi kesukaan Kael. Kael belum puas mengerjai Sasi kalau belum melihat wajah kesalnya. Karna menurut Kael, Sasi sangat lucu saat seperti itu. Dan itu juga yang membuatnya menyukai Sasi.

Sasi yang selalu terlihat imut dan manis karna mempunyai lesung pipi. Walaupun kadang kekanak-kanakan telah membuat Kael jatuh hati padanya. Kael sudah menykainya sejak mereka pertama kali bertemu.

Saat itu Sasi kecil yang sedang menangis sendiri di tengah taman dengan komik di tanganya. Saat itu ada acara kantor Papa Sasi. Kael juga berada disana bersama Mamanya. Kael yang juga seumuran dengan Sasi menghampiri dan bertanya "dasar cengeng" ejek Kael saat sudah berada di depan Sasi.

Sasi mendongak melihat siapa yang mengajaknya bicara."komik aku rusak" ujar Sasi dan menyodorkan komik itu pada Kael. Dengan mata merah dan pipi sembab Sasi kecil terlihat seperti meminta bantuan pada Kael.

Kael menerimanya dan melihat bagian kertas yang robek "ini cuma robek. bisa di benerin"

"Coba deh benerin. Kalo bisa nanti kamu jadi temen aku" celetuk Sasi semangat. Kael mengeluarkan lem dari sakunya. Kael mulai mengelem bagian yang robek lalu merekatkanya hati-hati. Kael tersenyum puas saat sudah selesai. Sasi yang memperhatikan dari tadi ikut senang ternyata komiknya sudah tidak rusak. Sasi mengambil komiknya sambil tersenyum sendiri.

"Udah gak rusak kan. Jangan nangis lagi" ujar Kael kecil. Sasi yang kegirangan berhambur memluk Kael dan berterimakasih. "Sekarang kamu jadi temen aku" bisik Sasi dalam pelukan.

Sejak saat itulah Kael menyukai Sasi yang lucu, spontan, dan wajah kesalnya. Yang selalu membuat Kael tersenyum sendiri saat mengingat wajah kesal Sasi. Sasi terlihat cantik saat kesal. Tapi jauh lebih cantik bekali lipat saat iya tersenyum dan memamerkan lesung pipinya. Hingga kini mereka sama-sama duduk di bangku SMA perasaan Kael tidak pernah berubah.

Namun sayang. Sebesar apapun Kael mencintai dan menyayangi Sasi. Mereka tidak akan bisa bersama.

"Nanti di kasih salep ya. Biar benjolnya ilang" ucap Kael kemudian melepaskan tanganya dari kening Sasi setelah mengetuknya beberapa kali. Sebelum jantungnya semakin berdetak lebih kencang dan bisa keluar tiba-tiba. Sasi masih dengan wajah kesalnya mengangguk. Kael tidak bisa menahan rasa senangnya melihat raut wajah Sasi yang menggemaskan. Kael tersenyum lebar.

Sasi tidak peduli dengan senyuman Kael. Masih dengan perasaan kesal Sasi menyambar komiknya dan berjalan menggebu-gebu menuju kelas. Kakinya yang dihentak-hentakan membuat kucir kudanya ikut bergoyang kesana kesini. Kael hanya bisa tersenyum melihat tingkah adik tirinya itu.

***

"Kamu makan yang banyak ya Sasi. Biar cepet gede" cibir wanita cantik paruh baya yang sangat sasi sayangi di depanya. Sasi melihatinya kesal lalu mendengus "Mama, Sasi udah gede tau" protes Sasi. Sasi melirik tajam kesampingnya saat ia mendengar bunyi kekehan.

"Kael diem!" Sasi memperingati, tapi Kael masih tetap terkekeh, malah semakin keras hingga tertawa geli.

"Udah, anak kecil makan aja. Biar cepet gede" ujar Kael setelah berheti tertawa.

"Kening kamu kenapa benjol gitu sayang" tanya Linda mengerutkan dahi memperhatikan kening anak perempuanya.

"Dilempar bola sama Kael"

"Kael, kamu usil banget sama adeknya" kini suara berat seorang lelaki diujung meja makan yang bersuara membela Sasi.

"Gak sengaja pa. Siapa suruh dia duduk di pinggir lapangan. Ya wajar kalo kena bola. Dasar anak kecil" Kael membela diri.

"Kalo pemain basket beneran gak bakal salah oper. Kael aja yang amatiran. Makanya jangan sok sok an main basket. Main bekel aja sana" Sasi masih bisa menjawab kalimat Kael.

"Gue jago ya. Enak aja lo ngomong. Daripada lo kerjaanya gambar tuyul. Gak penting banget"

"Itu anime namanya. Itu gambar cowok ganteng. Kael yang ngerubah semuanya jadi botak. Ma, pokoknya besok Sasi gak mau sekelas sama Kael lagi. Kalo gak sekalian Sasi pindah sekolah aja. Sasi udah gak kuat maa.. di gangguin mulu sama manusia ini. Di rumah di rusuhin di sekolah juga gak berenti. Sasi capek ma" keluh Sasi dengan nada kekanak-kanakan sambil melambai-lambai.

Kael mendengus, "dasar sinetron"

"Pindah sekolah itu butuh duit, mama gak punya duit"

"Yah.. Mama gak seru"

"Kael punya adek itu di jagain jangan di kerjain" 

"Denger tuh kata Papa"

"Hemm"

"Eh, udah makan cepet. Dimeja makan juga masih aja ribut. Kalo masih ribut, besok gak dapet jatah makan malam" ucap Linda, Sasi terkejut dan cepat-cepat menyelesaikan makanya.

***

Kael mengintip ke pintu depan kamarnya yang sedikit terbuka. Didalam sana berada Sasi yang sedang bermain ponselnya di atas kasur. Kael beberapa di buat tersenyum saat Sasi menggerutu sendiri kepada ponselnya. Entah apa yang membuatnya kesal, tapi itu selalu bisa membuat Kael tersenyum.

"Andai gue nembak lo dari dulu sas. Pasti sekarang kita udah pacaran dan lo jadi milik gue seutuhnya. Sayang, Mama gue udah jatuh cinta lebih dulu sama Papa lo. Dan mereka udah bahagia sekarang. Kebahagiaan Mama gue lebih penting dari apapun di dunia ini" Kael tersenyum kecut mendengar gumamanya sendiri. Kael mengeluarkan benda persegi panjang dari kantongnya. Diam-diam Kael memotret Sasi yang sedang memegang ponsel sambol tersenyum. Ia menghembuskan nafas berat kemudian berbalik menuju kamarnya setelah menutup rapat pintu kamar Sasi.

Terasa tanganya di cekal seseorang, Kael berhenti dan berbalik. Dilihatnya wajah Linda dan matanya yang berair. "Kamu jatuh cinta dengan Sasi?" tanya Linda dengan suara bergetar.

Serasa di jatuhi gondam dada Kael terasa sesak. Rahasia yang di tutupinya 7 tahun terakhir di ketahui Mamanya. Kael yang tidak ingin mamanya menangis dan mengkhawatirkan perasaanya memeluk wanita kesayanganya dan mengusap punggungnya lembut.

"Maafin Mama, Kael. Mama terlalu egois dengan cinta Mama. Harusnya mama tau tentang perasaanmu pada Sasi sejak dulu. Jadi kamu bisa berbahagia denganya sekarang" ucap Linda susah payah sambil terisak.

"Gak papa Ma.. gak usah pikirin Kael. Kael bahagia kok kalo Mama bahagia. Kael bahagia banget sekarang punya Papa yang bisa jadi panutan Kael dan juga punya Sasi jadi adek Kael yang bisa Kael godain. Apalagi punya keluarga bahagia kayak gini. Ini sudah lebih dari cukup kok maa" ucap Kael mencoba menenangkan hati Linda. Tapi memang Kael sudah bahagia sekarang karna mempunyai seorang Papa yang sangat ia inginkan. Papa kandung Kael pergi menghilang saat Mama Kael melahirkanya. Kael tidak tau kenapa. Tapi Kael mencoba untuk tidak mengingatnya karna sekarang ia sudah mempunyai Papa yang jauh lebih baik.

"Mama jangan cengeng dong" cibir Kael saat Linda belum juga mau berhenti menangis.

Linda mendorong tubuh Kael menjauh. Linda memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap anak laki-lakinya. Kael memperhatikan Mamanya,dan menunggu apa yang akan dikatakan Linda. Jantung Kael berdegup kencang seketika. Perasaan senang, lega terasa saat Linda mengucapkanya.

"Kamu harus kejar cinta kamu. Kamu harus dapetin Sasi. Buat dia menjadi milikmu"

***

Sasi membantingkan tubuhnya ke kasur kamarnya. Dia merasa sangat kelelahan karna harus naik angkutan umum untuk pulang. Kael tadi tidak mau mengantarnya, karna katanya dia ada urusan mendadak. Dasar sok sibuk cibir Sasi dalam hati. Sasi sangat lelah sekarang.

Di intipnya jam dinding yang berdetak di atas ranjangnya. Jarum sudah menunjukan pukul 4 sore. Sasa segera bergegas mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket bagai di baluti madu sana sini. Setelah ia selesai membersihkan dirinya perutnya minta segera diisi. Sasi membuka knop pintu kamarnya hendak ke dapur. Tapi langkahnya berhenti saat kakinya terasa menginjak sesuatu. Dilihatnya sudah ada kelopak mawar putih bertebaran di depan kamarnya.

Sasi mengikuti arah mawar-mawar itu dan ternyata habis di depan kamar Kael. Terdapat notes menempel di pintu coklat kamar Kael. Sasi mengambilnya dan membaca isi notes tersebut. Tertulis di sana "sebuah peti dengan dua pintu putih, dan terasa dingin. Walaupun dingin semua tersedia disana" Ini sebuah teka-teki. Sasi pernah melihatnya di sebuah film yang di tontonya bersama Kael.

Sasi berfikir keras memecahkan maksud dari kalimat ini. Dia menjentikan jari saat ia mengetahui jawabanya. Ia segera berlari menuruni tangga menuju dapur. Dilihatnya lagi kelopak mawar putih bertebaran di depan lemari es. Membuatnya semakin yakin kalau ini jawabanya. Sasi mencari-cari clue selanjutnya. Matanya menangkap notes di antara magnet-magnet kulkas "Mama sama Papa kencan dulu. Kamu yang akur ya sama Kael -mama-" ini bukan notes yang ia cari. Sasi membuangnya sembarangan. Kembali ia mencari-cari diantara magnet kulkas. Dia tidak juga menemukanya.

Sasi menghela nafas panjang karna tidak kunjung ia menemukan clue selanjutnya. Padahal ia pikir ini akan seru. Tapi ini pasti hanya akal-akalan Kael untuk mengerjainya lagi. Sasi membuka pintu kulkas dan mengambil satu kaleng softdrink. Tanganya terasa menyentuh sesuatu dibalik kalengnya. Disana terdapat notes yang ia cari-cari. Cepat-cepat Sasi membacanya "jantungmu terasa begitu berdebar saat melakukanya. Keringatmu berkucuran saat mengerjakanya". Lagi-lagi ini sulit untuk di pecahkan. Pa yang sperti ini. Sasi mencoba mengingatnya.

Ia berlari menuju ruang gym yang ada di sekitar kolam renang. Ruangan ini, ruangan terbuka. Di buat seperti itu, karena agar dapat melihat pemandangan pegunungan sambil berolah raga. Ini tempat favorit Kael dan tempat paling di benci Sasi. Sasi tidak suka olah raga. Karna itu dapat membuat jantungnya berdebar hebat, terlebih setelah berlari dan juga membuatnya berkeringat. Sasi tidak suka membuat tubuhnya lengket.

Benar dugaan Sasi. Di sekitar ruang gym bertebar kelopak mawar putih. Sasi mendekat mencari-cari clue selanjutnya. Dan tak perlu waktu lama, ia langsung menemukanya di kaca ruang gym. Sasi membacanya dengan cepat "kesukaanmu yang sangat aku ketahui. hingga berak-rak. Tempat favoritmu saat memandang bintang dan bulan" Sasi tersenyum membacanya. Tanpa lama-lama ia segera berlari memutari kolam menuju rumah pohon yang ada di pojok halaman belakangnya.

Rumah pohon ini di buatnya bersama Kael saat mereka akan SMA. Ini sebagai hadiah dari Papa karna Sasi dan Kael lulus dengan nilai memuaskan. Di rumah pohon itu ada beberapa rak buku untuk Sasi menyimpan komik-komiknya. Ada juga beberapa barang Kael. Tapi lebih banyak barang-barang Sasi.

Di sekitar rumah pohon tersebut sudah ada kelopak bunga yang bertebaran disana sini. Sasi menaiki satu persatu anak tangga yang terbuat dari kayu. Ia terkejut saat melihat isi rumah pohonya itu. Clue selanjutnya ditulis Kael di tembok kayu rumah pohon itu dengan spidol. Tidak terlalu besar, tapi itu membuat Sasi marah karena Kael mengotori tempat favoritnya. Tertulis disana "Mereka akan abadi bersama satu sama lain". Sasi ingat betul dengan kalimat itu. Itu salah satu kutipan dari komik yang pernah ia baca.

Sasi mencari-cari komik tersebut di rak bukunya. Saat ia temukan komiknya, ia tidak menemukan clue selanjutnya. Sasi berfikir keras mengingat-mengingat kalimat itu tentang apa. Sasi hampir menyerah, ia terduduk di dekat jendela rumah pohonya.

Sasi menghembuskan nafas beratnya sambil memandang langit. Kebiasaanya sejak dulu. Ia suka memandang langit. Entah untuk melihat awan di siang hari, atau melihat bintang dan bulan di malam hari. Itu hal yang paling ia senangi. Sasi berfikir sejenak tentang perasaanya pada Kael. Ia kesal dengan permainan Kael ini. Kael pasti sedang mempermainkanya sekarang.

Sasi bergumam, "Permainanya ribet banget sih. Kalo aku jatuh cinta nanti, aku gak mau jatuh cinta sama orang kayak Kael. Udah nyebelin ribet pula. Argghh" Sasi memejamkan matanya sejenak. Mencoba merilekskan fikiranya untuk berfikir. Membiarkan angin sore menabrak wajahnya secara halus. Sasi menikmatinya.

Tiba-tiba seperti teringat sesuatu. Sasi kembali membuka matanya dan beejalan cepat ke arah aquarium pojok rumah pohon ini. Disana tempat Sasi meletakan kura-kuranya dan kura-kura Kael. Sasi pikir mereka berjodoh. Karna mereka terlihat serasi. Sasi tidak sengaja mengucapkan kelimat dari kutipan novel tersebut saat sedang bermain dengan kura-kuranya dan Kael.

Benar saja, terdapat sebuah notes di kaca aquarium itu. Sasi mengambilnya dan membacanya. "Tempat keramat yang tidak boleh ada yang memasukinya" Tak butuh waktu lama Sasi langsung bisa menangkap maksud kata-kata tersebut.

Ia berlari lagi masuk ke rumah. Menaiki tangga menuju lantai dua. Dilihatnya kelopak mawar putih lagi di depan kamar Kael. Sasi berfikir kembali. Ia harus masuk atau tidak. Kael selalu melarang siapapun memasuki kamarnya. Termasuk Mama dan Papa. Sasipun termasuk. Tidak ada yang boleh masuk ke kamar Kael. Pernah sekali Sasi ingin mengintip seperti apa kamar kakaknya itu. Baru Sasi memegang knopnya saja sudah di marahi habis-habisan oleh Kael.

Sasi mengurungkan niatnya untuk melanjutkan permainan ini. Ia hendak kembali ke kamarnya. Saat Sasi memegang knop pintunya, ia memandang nanar ke arah pintu di belakanganya. Tapi Sasi berbalik hendak membuak knop pintu kamarnya. Tapi sesuatu dalam dirinya membujuknya untuk masuk ke kamar itu.

Sasi menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Seperti sedang mengumpulkan energi. Sudah dirasa cukup, Sasi berbalik dengan cepat dan membuka pintu kamar Kael dengan cepat pula. Aroma tubuh Kael manyambut Sasi. Gini toh suasana kamar Kael  batin Sasi sambil tersenyum sendiri. Sasi melangkahkan kakinya lebih jauh masuk ke kamar. Ia terkejut bukan main dengan hiasan yang menempel di dinding kamar Kael. Tertulis seperti sebuah mading "My little sister, My little crush"

Dilihatnya satu persatu foto yang ada di dinding tersebut. Ada disana saat Sasi masih kecil sedang membaca komik sambil tengkurap. Ada juga foto Sasi umur 10 tahun memakai dress putih saat pesta pernikahan orang tua mereka. Sasi saat SMP sedang menyiram tanaman di bawah kamar Kael. Ada juga foto Sasi yang sedang berenang dengan mamanya. Foto Sasi yang memalu papan untuk rumah pohon. Foto mereka berdua sedang berangkulan dan tersenyum bahagia dengan Kael bersetelan jas dan Sasi bergaun putih di acara pernikahan orang tua mereka. Semua ada disana lengkap dengan tanggalnya. Dan yang terakhir, yang menurut Sasi adalah foto baru. Dia yang sedang memegang ponsel sambil tersneyum sendiri. Tertera tanggal kemarin disana.

Sasi menyeka cairan bening yang ternyata sudah lolos melewati pipinya. Tapi Sasi begitu terharu sekarang. Ternyata kakaknya sendiri menykukainya. Isakanya tak bisa lagi ia tahan. Ia menangis haru sambil menundukan kepalanya. Isakanya begitu terdengar keras. Selalu seperti itu Sasi menangis.

Dari arah pintu kamar tersebut berdiri lelaki dengan badan tegap dan wajah diatas rata-rata. Nafasnya terengah-enagh entah karna apa. Pleuh membasahi kaos birunya. Sasi menyadari kehadiranya. Kael mendekati Sasi yang masih bergetar punggungnya. Kael menatap Sasi dengan matanya yang teduh dan penuh cinta. Tidak ada lagi pandangan mengejek, menyebalkan seperti biasanya. Yang ada hanyalah pandangan yang membuat Sasi merasa tenang.

Kael menunduk melihat wajah sembab adiknya. Kael tersenyum hangat lalu jemarinya bergerak menghapus jejak air mata Sasi. Sasi tersenyum kecut. Lalu berhambur begitu saja kedalam pelukan Kael, mendekap erat tubuh Kael. Kael mengusap lembut punggung Sasi menenangkan. Sasi merasa rileks seketika.

Kael mendorong tubu Sasi menjauh. Ia mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi ia pegang dibalik punggungnya. Sebuket mawar putih. "Will you be mine?" tanya Kael tanpa basa basi.

Sasi hanya menatap Kael kes. Tanganya sudah bergerak memukul-mukul Kael tanpa ampun "Bisa-bisanya kamu suka sama aku, dan aku gak tau. Gimana sih. Harusnya kamu bilang dari dulu Kael" Kael hanya tersenyum. Sasi menghentikan pukulanya.

"Ngapain senyum-senyum?" tanay Sasi.

"Kamu tau gak arti semua clue tadi?" Sasi menggeleng lemah.

"Itu semua isi hati aku" Sasi mengernyit bingung mendengar jawaban Kael.

"maksudnya?"

"Dimulai dari kulka. Walaupun kadang aku cuek, nyebelin, dan kamu bilang gak punya perasaan, sebenernya aku sayang sama kamu. Aku salalu ada buat kamu. Lalu ruang gym yang paling kamu benci. Karna kamu gak suka olah raga karna takut senasaninya. Aku malah merasakan semau sensasi itu tanpa berolah raga. Itu karna kamu" Sasi berfikir sejenak sensasi yang di maksud Kael. Pasti jantung yang berdebar dan peluh yang membuat lengket  batin Sasi.

Kael tersenyum melihat Sasi berfikir lalu melanjutkan kalimatnya "Lalu rumah pohon, kalimat disana adalah impian aku. Impian aku bersama kamu. Aku ingin selalu sama kamu. Terus aquariumnya. Itu salah satu kenangan kita berdua bukan. Kita bareng-bareng belinya. Dan aku pengen punya lebih banyak kenangan sama kamu. Dan terakhir kamar ini. Aku larang keras kamu kesini karna ini semua adalah isi hati aku. Tentang kamu. Aku takut kamu tau isi hati aku yang sebenarnya sebelum aku benar-benar siap" Kael menyelesaikan kalimatnya sambil bernafas lega.

Sasi mengusap lagi air matanya. Lagi-lagi pertahananya jebol. Sasi terisak kembali. Dadanya terasa sesak, jantungnya begitu berdebar tak jelas, sesuatu berdesir hebat di darahnya saat tangan Kael kembali menyentuhnya.

"Aku gak tau Kael. Apa aku juga cinta sama kamu. Kalo misalnya gak gimana" tanya Sasi di tengah isakan.

"Cinta adalah saat kamu merasakan ada sesuatu yang bergetar saat merasakan sentuhanya. Saat kamu merasa nyaman dan berdebar disaat bersamaan saat di dekatnya. Saat kamu merasa bahagia hanya sekedar melihatnya, atau mendengar suaranya. Hanya kamu yang bisa rasaain sendiri"

Sasi mengerjap beberapa kali. Ia tidak menyangka selama ini yang ia rasakan yang dinamakan cinta. Sasi selalu nyaman dan terlindungi berada di dekat Kael. Jantung Sasi terasa sedang berjoget saat berhadapan dengan Kael. Sasi merasa sesutu yang sesak saat Kael jauh darinya. Sasi merasakan semuanya. Sasi juga mencintai Kael.

Sasi kembali meloncat kepelukan Kael. Memeluknya erat. Meluapkan rasa senangnya saat ini. Perutnya terasa geli. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan disana.

"Sasi?" panggil Kael yang mematung saat Sasi memeluknya.

"You'll be mine Kaela Devano Collins" teriak Sasi kegirangan. Kaelpun membalas pelukan Sasi. Dia begitu merasa lega saat ini. Akhirnyaa..

***

Sinar matahari menyapa. Melewati celah-celah jendela kamar Kael. Memberi sedikit penerangan di gelapnya kamar Kael.

Senyum Kael merekah bersamaan dengan ia membuka mata. Ini sudah menjadi rutinitasnya di pagi hari selama satu bulan terakhir. Kael segera bangkit dari tempat tidurnya. Kini ia menjadi lebih semangat dari biasanya saat pagi hari. Ia tidak mau berlama-lama di tempat tidur karna tau seseorang di sebrang kamarnya sudah menunggunya untuk di bangunkan.

Kael berjalan cepat-dari tempat tidurnya. Rasa kantuknya terasa menguap seketika membayangkan wajah kekasihnya yang menggerutu sebal. Dan itu yang sangat ia nantikan saat pagi menjelang. Saat sampai di depan pintu coklat di depan kamarnya, Kael langsung masuk tanpa permisi. Hal pertama yang di lakukanya adalah membuka gorden berwarna cerah itu. Membiarkkan sinar matahari melewati jendela kaca besar agar seseorang yang masih bergelut di selimutnya itu segera bangun. Usaha pertama, dia tetap tidak bergerak di dalam selimutnya. Kael mendesah sabar. Ia beranjak naik ke atas ranjang. Menyibakan selimut itu dan menampakan seseorang yang tidur melingkar bak janin di dalam perut. Sasi hanya menggeliat sambil bergumam tak jelas. Senyum tipis Kael mengembang melihatnya. Kael menggoyang-goyangkan tubuh kecil Sasi. Sasi bergeming dan kembali bergumam tak jelas.

Dasar kebo batin Kael dalam hati. Ini cara terakhir, dan Kael yakin paling ampuh. Kael mendekatkan wajahnya pada Sasi. Mengecup lembut kening Sasi. Seketika Sasi terbangun dengan mata membundar. Itu hal yang selalu ia tunjukan saat kejadian yang sama berulang sebulan terakhir. "Bangun my little crush" lirih Kael. 

Sasi segera mendudukan diri di kepala ranjang. Ia menatap sengit laki-laki yang sangat di sayanginya. Kakaknya sekaligus kekasihnya. "Udah sasi bilang. Jangan bangunin Sasi kayak gitu" gerutu Sasi.

"Salah sendiri kebo. Sana mandi. Kalo gak cepet, gue tinggal" ucap Kael sambil berjalan keluar kamar Sasi dengan wajah berseri dan senyum mengembang di sana. Senyum penuh kemenangan. Sedangkan Sasi menatap punggung orang yang di cintainya sambil tersenyum geli sendiri.

-Semoga gak aneh ^^-

16 Mei 2015

Kita Beda

Dari tempatku berada sekarang aku masih bersyukur. Karna dari celah beberapa kepala di depanku ini aku masih bisa melihatmu. Padahal aku selalu ingin menjadi yang paling depan saat kamu tampil. Dapat melihat dengan jelas bagaimana caramu memukul benda bundar dari kulit hewan itu sambil bersenandung. Aku sangat ingin melihatmu melakukanya tepat di depanku.

Ingat tidak? awal pertama kali aku melihatmu. Saat aku yang tidak sengaja menginjak tali yang sedang kamu buat simpul. Kamu yang mengerjakanya sambil duduk sembarangan di atas lantai, dan aku tau itu pasti dingin, kamu tetap mengerjakanya dengan tekun disana. Sampai-sampai kamu tak sadar kalau tempat yang kamu duduki adalah jalan lalu lalang menuju atau keluar dari kelasku. Aku yang akan masuk bersama teman-temanku ke dalam kelas terlonjak kaget saat tiba-tiba kamu membentaku.

"Heh! jangan di injak dong" katamu dengan sensitif. Padahal aku tidak sengaja menginjaknya. Karna kamu menatapku dengan tatapan tak suka aku langsung menarik kakiku dari tali yang sedang kamu pegang ujungnya. Aku tidak tau apa yang membuatmu terlihat begitu sensitif. Tapi aku asal menyimpulkan saja dengan pikiran positif. Mungkin kamu memang sedang lelah dengan kegiatan pramukamu. Aku mencoba memaklumi. Setelah sekilas tersenyum tipis dan meminta maaf aku menunduk menyusul teman-temanku masuk ke dalam kelas.

Tapi disitulah percakapan pertama kita tercipta. Walaupun sedikit tidak mengenakan hati tapi aku tetap mengenangya. Biarkan saja aku mengenangnya, walaupun aku tau pasti hanya aku, kamu tidak. Tak apa.

Sanggar pramuka yang bersebelahan dengan kelasku membuatku sering melihatmu hilir mudik melewati kelasku. Dan diam-diam aku mencari semua hal tentangmu. Kamu yang ternyata bukan hanya aktif dalam kegiatan pramuka, ternyata kamu juga menyukai olah raga voli. Aku tau semua tentangmu. Aku mengikuti semua akun media sosialmu. Aku tau kamu yang selalu pintar dalam pelajaran fisika. Kamu yang sering duduk di bangku kedua dari depan di kelasmu. Kamu yang selalu exited saat ada kegitan jelajah di kegiatan pramukamu. Kamu yang selalu memakai jersey club bola favoritmu saat berlatih voli. Dan aku juga tau, kamu yang suka sekali pisang goreng buatan ibu kantin. Kamu selalu membeli itu saat istirahat. Aku memperhatikanmu saat itu. Dan aku sangat yakin, kamu tidak tau soal itu.

Aku ingat, aku ada di barisan paling depan saat menontonmu bermain voli di kegiatan tengah semester kemarin. Aku yang selalu menyemangati kelasmu. Memberi semangat dengan berteriak-teriak heboh sambil memukul-mukul dua botol air mineral bekas. Dan tidak sia-sia perjuanganku membuat tenggorokanku terasa gersang. Kamu dan teman-temanmu dapat mengalahkan lawan. Aku di buat terkejut dengan tindakanmu yang langsung bersujud di lapangan voli saat kemenanganmu di umumkan. Itukah caramu bersyukur dengan hasil yang telah kamu dapat. Aku baru mengerti.

Dan sekarang, kamu yang notabene anggota pramuka, kamu dan teman-temanmu sesama anggota pramuka  akan menampilan sebuah pertunjukan di acara sekolah. Memperingati hari besar agamamu. Aku tidak terlalu faham. Tapi aku sangat ingin melihat penampilanmu.

Aku yang tidak ikut merayakan hari besar ini, hanya bisa melihatmu dari luar aula. Aku sengaja mengintip diam-diam. Sebenarnya hari ini aku libur karna ada acara di hari besar agamamu ini. Tapi aku sengaja masuk hanya karna penasaran dengan penampilanmu. Aku yang biasanya selalu melihatmu di barisan depan, kini harus sedikit kecewa di acara besar agamamu. Karna aku memang harusnya tidak boleh ada disini.

Kamu yang sudah bersiap duduk bersila dengan benda bundar dari kulit hewan. Nampak terlihat senang. Sebagian temanmu yang tidak ku kenal juga membentuk barisan di samping kanan kirimu dan beberapa perempuan berjilbab di bagian depan. Perempuan-perempuan itu sudah siap dengan mic yang mereka pegang. Kamu mulai memukul benda bundar itu dan diikuti oleh alunan alat musik yang lain. Sedangkan yang perempuan mulai bernyanyi yang tidak terlalu aku fahami maknanya. Tapi aku bisa melihat senyum tipismu saat kamu sedang menutup mata. Senyumu seakan berkata kalau kamu sangat menikmatinya. Akupun ikut tersenyum saat melihat itu. Sesekali kamu ikut ambil suara untuk bersenandung. Dan aku bisa menangkap dengan jelas suara bass-mu itu. Seakan-akan suara yang lain menguap tak tersisa, yang ada hanya suaramu. Begitu merdu terdengar, menyanyikan puji-pujian untuk tuhanmu dan nabimu, menurutku.

Riuh tepuk tangan penonton melengkapi penampilanmu.

Aku tau kita tidak akan pernah bersatu. Aku tau aku tidak punya cukup nyali untuk sekedar menyapamu. Tapi aku tetap disini, untukmu. Karna ada sesuatu dalam hatiku yang menyerukan kepadaku agar aku tetap bersamamu. Walaupun aku tau kita memang tidak akan bersama. Karna kita beda.

Aku tersenyum kecut mendengar pengakuanku sendiri. Dan melangkah pergi dari area aula.

10 Mei 2015

I'm with Rafa

Rafa semakin mengencangkan kepalan di tanganya. Wajahnya sudah memerah menahan emosi. Begitupun dengan rahangnya yang mengeras. Matanya terasa sangat perih menyaksikan apa yang sedang dilihatnya sekarang. Dari sudut cafe ini, tempatnya bersembunyi dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di lakukan kekasihnya dengan kekasihnya yang lain. Gadis yang telah membuatnya jatuh hati dan sekarang menjadi pacarnya itu sedang asik bergurau dan terlihat bahagia dengan seorang lelaki seumuran Rafa, tanpa menyadari sedikitpun kalau sedari tadi ada sepasang mata yang menatap mereka penuh amarah. Lelaki yang sedang duduk dengan gadis Rafa itu sesekali memberikan perlakuan manis nan romantis yang semakin membuat Rafa geram melihatnya. Sedangkan Rasti yang sedari tadi juga sibuk menenangkan Rafa dengan mengelus punggunya lembut dan sesekali melirik ikut melihat ke arah pandangan Rafa. Rasti tidak pernah tega melihat Rafa yang terus-terusan memendam amarahnya seperti ini. Ingin rasanya Rasti meneriaki Rafa sekarang juga kalau itu benar-benar tidak ada gunanya.

"udahlah raf, jangan diliatin terus. Yang ada malah makan ati" ucap Rasti masih terus mengelus punggung Rafa dengan telaten. Bukan Rasti tidak mau membela Rafa, tapi Rasti lebih memilih untuk menjadi tempat pelampiasan keluh kesah Rafa dan penenangnya saja dan tidak mau ikut campur lebih jauh.

"Harusnya dia hargain gue juga dong Ras. Katanya dia udah mau mutusin cowoknya itu dan bakal serius sama gue. Tapi nyatanya sampe sekarang belum juga di putus. Gue labrak juga lama-lama ah" geram Rafa dengan nada berapi-api.

"Inget posisi lo dimana. Lo cuman lelaki cadanganya doang, jangan terlalu berharap banyak. Sabar aja, dia kan udah janji sama lo. Janji adalah hutang, dan hutang harus di bayar"

"Apa dia bener-bener akan bayar hutang dia?" Rafa mengucapkanya dengan nada putus asa. Hati Rasti miris mendengarnya.

"Pasti" tutur Rasti dengan semangat dan senyum mengembang. Membuat Rafa mendapatkan kepercayaan dirinya lagi.

Rasti tau betul bagaimana Rafa sangat mencintai Cleo, yang sedang duduk dengan pacarnya itu, cinta pertama Rafa. Gadis manja, dengan paras yang nyaris sempurna dan sangat populer di sekolah karna dia putri tunggal pemilik sekolah. Sayang, tingkah polahnya tidak mencerminkan kalau dia anak orang berada.

Rafa selalu menceritakan semua tentang kebersamaanya dan Cleo kepada Rasti, yang tebilang langka karna Rafa adalah pacar simpananya Cleo. Tapi persetan dengan itu, Rafa tidak peduli yang dia pedulikan asal bisa bersama Cleo, itu sudah membuatnya bahagia. Rafa mencoba menikmati setiap rasa yang diberikan kepadanya saat berdekatan dengan Cleo. Setiap degupan detak jantungnya yang semakin lama semakin terasa adalah hal yang paling ia sukai. Hingga ia tidak peduli lagi dengan statusnya yang tidak kunjung jelas dan nyata.

Andai Rafa tau, disaat Rafa memamerkan kedekatanya dengan Cleo ada hati yang perlahan tergores karenanya.

***

"Cleo, mana janji kamu" tagih Rafa saat ia dan Cleo sedang bersantai di kedai kopi.

"Ya, kamu sabar dong Raf. Aku masih cari cara buat mutusin Yuan" ucap Cleo dengan nada sedikit tinggi, emosinya terpancing dengan perkataan Rafa.

"Lalu mau sampai kapan Cleo. Aku lebih mencintaimu dari pada Yuan. Kenapa aku yang kamu sembunyikan" Rafa mengungkapkan dengan nada menyedihkan.

"Kamu nembaknya keduluan Yuan. Udahlah, nikmatin aja" kata Cleo santai, tidak menganggap serius ungkapan hati Rafa. Apa yang sedang Rafa rasakan, seakan dia tidak perlu ambil pusing dengan itu.

Lama mereka terdiam. Alunan musik jazz yang mendominasi atmosfer kedai kopi ini. Rafa sibuk dengan fikiranya dan hatinya. Sedangkan Cleo terlihat lebih santai sambil bermain dengan gadgetnya.

Haruskan Rafa tetap menunggu? Kenapa Rafa telalu dibutakan oleh cinta dan membaginya percuma denagn gadi egois didepanya? Atau Rafa harus mundur.

"Kamu sendiri, masih deket dengan sahabat udikmu itu. Mana bisa aku yakin kalau cintamu seratus persen hanya untuku" ucap Cleo tiba-tiba membuat Rafa mmenoleh ke gadis di depanya. Tatapanya mengisyaratkan jaga-mulut-kamu kepada Cleo. Seakan Cleo mengerti dia malah melanjutkan makianya pada sahabat terbaik Rafa itu.

"Apa? aku salah mengejek sahabat udikmu itu. Raf, akupun tidak suka kamu dekat-dekat dengan gadis itu. Dan kamu terlihat begitu dekat denganya. Siapa tau kamu diam-diam menaruh hati padanya dan mencuri kesempatan untuk lebih dekat denganya saat tidak denganku"

"Dia sahabatku Cle. Lalu bagaimana denagnmu? memangnya cintamu sepenuhnya untuku. Kamu aja masih punya pacar tapi jadi pacar aku juga" kata Rafa memutar pertanyaan. Merasa dipermalukan dengan mata yang penuh denagn kekesalan dia pergi meninggalkan cafe setelah dia berkata "kalau kamu tidak mau menungguku, aku tidak masalah. Masih banyak lelaki sepertimu yang mengantri penjang untuk menjadi pacarku. Dan aku rasa Yuan juga lebih baik dari pada kamu. Dengan sikap kamu seperti ini, aku semakin mengurungkan niatku untuk memutuskan Yuan dan bersamamu Raf. Aku pulang" dan dengan angkuh gadis kesayangan Rafa itu pergi meninggalkanya. Namun nyali Rafa tidak menyusut begitu saja. Ia masih tetap keukeh untuk menunggu Cleo.

Rafa mengeluarkan ponsel lalu menekan beberapa digit nomor yang dia hafal diluar kepala. Nomor yang sering ia hubungi untuk sekedar menemaninya atau diajak berbagi cerita denganya.

***

"Dan lo tetep masih mau nunggu?! Astaga Rafa, gue bener-bener gak habis pikir ya sama jalan pikiran lo. Udah jelas-jelas dia gak nganggep lo, dia datang disaat dia butuh lo aja. Dengerin ya Rafa, dengan tampang lo yang diatas rata-rata dan gue yakin otak lo yang masih berfungsi dengan baik walaupun udah terkontaminasi sama bitchy gak jelas itu, lo masih bisa kok dapet cewek yang lebih dari itu nenek lampir" cerosos Rasti tanpa henti saat Rafa selesai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

Tanpa Rafa sadari, senyum Rafa terukir begitu saja mendengar ocehan sahabatnya itu. Membuat Rafa gemas dan mencubit pipi chuby Rasti.Yang dicubit mencoba sebisa mungkin menutupi rasa senangnya yang disimpan dihati dengan pura-pura ngambek.

"Lo jangan ngejek cinta pertama gue. Kayak lo udah paling oke aja" ejek Rafa.

"Seenggaknya gue lebih baik ya dari pada pacar norak lo itu. Cantik sih cantik, tapi kalo tingkahnya kayak gitu mah gak ada berguna juga punya tampang cantik" ucap Rasti dengan senyuman hangat.

Mendadak tubuh Rafa menegang melihat senyum Rasti itu. Senyum yang selalu ditunjukan Rasti kepada Rafa, masih dengan senyum yang sama tapi kali ini auranya berbeda. Entah apa, Rafapun juga tidak kunjung memahami.

"Ya deh. What ever you say" Rafa tidak bisa banyak membalas perkataan Rasti, yang mencaci pacarnya. Berbeda dengan saat dia dengan Cleo. Rasanya saat Cleo mengejek Rasti, hati Rafa benar-benar tidak terima dengan perkataan Cleo.

Dan Rafa masih belum menyadari sebenarnya kepada siapa hatinya berpihak.

***

Rasti yang sedang asik membaca novel favoritnya harus terganggu karna tiba-tiba Cleo menyeretnya dengan paksa. Novel yang Rasti pegang terhempas dari peganganya dan jatuh di lorong kelas. Cleo dan dua anak buahnya yang setia menemani kemanapun Cleo pergi masih terus berusaha menarik Rasti untuk mengikuti mereka.

Tapi jangan panggil Rasti kalau tidak bisa melawan. "Hey! lepasin gak. Di kira gue kambing di tarik-tarik" pekik Rasti mencoba melepaskan cengkraman gadis-gadis gemulai di depanya ini. Dan berhasil, Rasti berhasil melepaskan tanganya. Tapi malah di dorong dengan paksa oleh Cleo dari belakang.

"Jangan coba-coba kabur. Lo harus di kasih pelajaran" ancam Cleo dengan tatapan tajam yang tidak membuat Rasti takut sedikitpun.

"Pelajaran apa? ada masalah apa lo sama gue?" tanya Rasti dengan suara lantang. Namun Cleo menanggapinya dengan tersenyum sinis dan kembali menyeret paksa Rasti untuk mengikutinya.

Sampailah Rasti di toilet perempuan yang kebetulan sepi. Toilet ini cukup luas dan juga sangat bersih.

Cleo mendorong tubuh Rasti hingga menubruk dinding keramik kamar mandi. Rasti yang sudah tidak tahan lagi menahan emosinya akhirnya angkat bicara.

"Masalah lo apa sama gue? huh?" bentaknya dihadapan Cleo tanpa rasa takut sedikitpun. Alih-alih menjawab Cleo malah menyeringai tajam ke arah Rasti. Tanpa di ketahui tangan Cleo mengambil sebotol ramuan busuk di balik punggungnya, membuka tutupnya dan menuangnya begitu saja dari puncak kapala Rasti.

Rasti terkejut bukan main dengan perlakuan Cleo kepadanya. Bau dari ramuan itu sangatlah busuk. Anak buah Cleo meraciknya sedemikian rupa sudah seperti masternya. Karna berhasil membuat Rasti berbau busuk.

"Itu karna lo udah berani-beraninya suka sama Rafa, itu juga karna lo dengan terang-terangan berdekatan dengan Rafa dan yang terakhir, itu juga karna lo udah berani jatuh cinta dengan Rafa"

"Jangan asal ngomong ya lo nenek lampir" sergah Rasti cepat.

"Gue gak asal ngomong kok, emang itu adanya, lo cinta sama Rafa. Emang Rafanya aja yang pinter dia lebih milih gue, karna gue lebih segalanya dari pada lo. Tapi disisi lain harus gue akui, Rafa emang terlalu bego karna segitu gak pekanya sama lo. Kasihaann"seketika tubuh Rasti yang di tembok menegang mendengar ucapan demi ucapan Cleo yang benar adanya. Nyalinya menguap entah kemana.

BRAAAKK!!

***

Sudah cukup lama Rafa menunggu kedatangan Rasti di meja kantin yang sering mereka tempati berdua. Berkali-kali dia mengecek ponselnya yang tidak kunjung bergetar menandakan pesan masuk. Rafa masih setia menunggu Rasti disana untuk makan bersama. Namun semakin lama Rafa menunggu perasaan tak enak semakin menyelimutinya pula.

Tanpa ba bi bu Rafa beranjak dari kursinya dan melangkahkan kaki keluar kantin untuk mencari Rasti. Rafa mencari kesana-kesini tidak juga ia temukan Rasti. Di kelasnya pun juga sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Rafa kebingungan mencari Rasti dengan perasaan tidak enak yang semakin lama semakin kental menyelimutinya.

Tak sengaja saat Rafa berlari untuk ke mencari Rasti lagi, kaki Rafa terasa menendang sesuatu. Dilihat dan diambilnya benda itu. Tertulis nama sahabatnya itu di halaman depan novel. Cepat-cepat Rafa berlari mencari jejak Rasti. Sampai ia melihat Rasti yang di seret oleh Cleo dan bawahanya masuk ke toilet perempuan di ujung lorong ini. Rafa berlari menuju ujung lorong yang cukup panjang.

Rafa sudah akan membuka pintunya namun tanganya terasa melemas mendengar ucapan yang di lontarkan Cleo dalam. "Lo udah berani jatuh cinta sama Rafa"

Deg! 

Jantung Rafa terasa sudah tidak terkendali. Kalimat itu terus mengiang di kepala Rafa, membuatnya tiba-tiba di terjang pusing. Terdengar ucapan Rasti yang tidak terima dari dalam. Rafa mempertajam pendengaranya. Kali ini ejekan yang diucapkan Cleo dan tertuju padanya. Membuat Rafa tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia  menendang pintu toilet dengan kaki kananya.

BRAAAKK!!

Beberapa pasang mata gadis yang ada di dalam toilet melotot sempurna, saat melihat siapa yang mendobrak pintu dengan kasar. Rafa tidak memperdulikan tatapan itu. Matanya tertuju pada Rasti yang sudah sangat tidak karuan. Rambutnya yang dikuncir kuda basah dan terlihat lengket. Begitu juga dengan seragam yang di kenakanya.

"Rafa! ini toilet cewek. Ngapain kamu masuk kesini" cetus Cleo marah dengan kelakuan pacarnya yang menganggu rencana jahatnya.

Seakan tidak punya telinga, Rafa tidak menggubris ucapan Cleo. Rafa berjalan sambil melepas jaket yang dia kenakan dan memakaikanya pada Rasti segera. Rafa memegang pundak Rasti dan akan menuntunya keluar toilet.

"Rafa! mau lo bawa kemana dia? urusan dia belum selesai sama gue" tanya Cleo membentak dengan mata yang menyiratkan emosi yang ia tahan.

"Kita putus" ucap Rafa tegas dan penuh penekanan lalu berjalan meninggalkan Cleo yang menganga.

"Lo pacaran sama Rafa Cle? pacar lo Rafa atau Yuan sih" tanya salah satu gadis berambut keriting sebahu di sebelah kanan Cleo.

"Bukanya lo bilang cuma crush cle?" ucap gadis yang lain.

Cleo membentak keduanya "Diem lo semua" lalu bejalan keluar dengan emosi yang menggebu-gebu.

***

"Heh, jangan masuk dulu. Ada orang di dalem" sergah Rafa cepat dengan membentangkan kedua tanganya menghalangi jalan lelaki itu.

Lelaki itu mengernyitkan alis bingung "yaudah sih, toiletnya juga banyak. Gue udah kebelet nih" sahut lelaki yang dihadang Rafa sambil sesekali berjingkrak menahan sesuatu yang sepertinya sudah tidak bisa lagi ditahan untuk keluar. Dia berusaha menerobos masuk melewati tanagn Rafa. Namun dengan cepat Rafa kembali menyergah.

"Eits.. gak bisa gak bisa. Cari toilet lain sono" ucap Rafa sambil mendorong lelaki itu menjauh dari toilet cowok.

Rafa kembali menyenderkan badanya  ke tembok. Dengan tangan yang di masukanya ke kantong. Kini gayanya hampir mirip dengan model majalah masa kini. Kepala Rafa masih di penuhi dengan kalimat Cleo yang tidak sengaja di dengarnya. Begitu pula dengan indra pendengaranya. Bagai kaset rusak, kalimat itu terus saja berputar lagi dan lagi dan lagi. Rafa memejamkan matanya berusaha membuat fikiranya kembali rileks. Tapi bukan rileks yang dia dapatkan, malah degup jantung yang semakin kencang yang ia rasakan. Saat ia kembali memikirkan bagaimana perasaan Rasti sebenarnya kapada Rafa.

"Raf, udah nih. Ke kelas yuk" suara Rasti dari arah belakang Rafa membuatnya tersentak kaget dan menoleh ke asal suara. Disana berjalan Rasti keluar dari toilet cowok dengan baju olah raganya yang ia dapat dari loker sebagai ganti bajunya yang basah dan busuk

"Eh.. udah" ucap Rafa mencoba menutupi detakan jantungnya yang semakin menjadi. Semoga dia gak denger batin Rafa berdoa.

"Nih jaket lo. Makasih ya" tangan Rasti menyodorkan jaket Rafa yang di pakai menutupi bajunya yang basah tadi.

Rafa hanya melihatinya. "Lo cuci dulu dong. Udah di pinjemin juga" goda Rafa sambil tersenyum miring.

"Iya iya bawel" kata Rasti pasrah "lo tadi ngusir siapa deh?" tanya Rasti setelah itu, karna dia mendengar suara Rafa dan seseorang dari dalam.

"Bukan siapa-siapa" Rafa langsung menautkan tanganya ke sela-sela jemari Rasti lalu menggandengnya begitu saja.

Rafa menyadari ada sesuatu yang tidak wajar. Rasanya tanganya seperti ada yang menyetrum tiba-tiba. Padahal sebelumnya saat ia menyentuh Rasti tidak pernah ia rasakan hal seperti ini. Sedangkan Rasti diam-diam tersenyum bahagia melihat tanganya yang di gandeng Rafa. Begitupun hatinya yang terasa berbunga-bunga. Jantung Rasti pun seperti tidak bisa di atur detakanya. Begitu cepat. Rafa melirik sedikit ke arah gadis yang digandengnya. Lalu ia tersenyum disaat ia menemukan semburat merah di pipi gadis itu saat sedang memandangi tangan mereka yang terpaut. Kini Rafa yakin, kemana hatinya berpihak.

***

Angin di taman belakang sekolah terasa begitu sejuk. Menerpa dengan lembut kearah dua anak yang sedang duduk berdampingan di bangku putih. Sesekali anak rambut dari si gadis ikut terbang perlahan tertiup angin. Membuatnya memancarkan aura kecantikan yang sebenarnya, yang selalu ia tuttupi, yang hanya ingin ia perlihatkan untuk lelaki disampingnya saja. Sedangkan si lelaki, diam-diam mencuri pandang ke arah si gadis yang menghadap lurus kedepan. Melihatnya dari samping. Membuat si lelaki tak sadar kalau senyumnya
mengukir begitu saja.Mengapa baru ia sadari sekarang, kalau sebenarnya dirinya terlalu naif untuk mengakui perasaanya yang telah jatuh ke gadis ini. Bukan ke yang lain. Kenapa begitu bodohnya dia mencoba mencari pelarian untuk menghapus rasa yang tumbuh di hatinya. Mencoba menghilangkan rasa yang menurutnya tak boleh ia rasakan kepada gadis di sebelahnya. Karna ia takut dengan perubahan. Perubahan yang pasti akan terjadi saatia mengungkapkan isi hatinya. Perubahan yang mungkin saja membuatnya tidak bisa bersama lagi dengan gadis yang dicintainaya ini.

Mereka masih diam. Tidak ada perbincangan dari keduanya. Masih sibuk dengan pikiranya masing-masing. Rasti dengan kebahagianya yang belum juga berhenti ia rasakan sejak Rafa menggandeng tanganya. Yang membuat Rasti merasa bahwa Rafa telah melihatnya sekarang, tidak lagi sebagai boneka bernafas yang hanya di gunakan Rafa untuk mendengarkan ceritanya. Rasti begitu yakin. Begitupun dengan Rafa yang sibuk menata hatinya dan mengumpulkan nyalinya untuk mengungkapkan apa yang di rasakan hatinya selamana ini.

Rasti berkali-kali mempergoki Rafa yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Senyum konyol Rasti mengembang saat dilihatnya pipi Rafa memerah.

"Mau sampe kapan disini Raf, gue mau pulang. Masa suruh nemenin lo yang lagi ngeliatin gue terus" senyum jahil Rasti mengembang.

Rafa terlihat salah tingkah mendapati tatapan Rasti dan senyumnya itu "apaan sih, ge er lo. Udah ah disini aja dulu. Gue males di rumah gak ada orang"

"Trus ngapain coba disini. Kita juga gak ngobrol gak ngapa-ngapain. Mending juga di rumah bocan" Rafa tiba-tiba meraih tangan Rasti lembut. Rasti yang diperlakukan tiba-tiba oleh Rafa seperti itu seketika membeku di tempat.

Rafa kembali menarik nafas dan menghembuskanya perlahan, merilekskan jantungnya yang terus berdegup tanpa ritme yang jelas "bener yang di bilang Cleo tadi? Lo suka sama gue?" tanya Rafa dengan mimik serius tapi tetap memperlihatkan mata teduhnya. Membuat Rasti merileks perlahan.

Rasti sempat bingung harus menjawab apa, sampai akhirnya ia berkata "tapi gue tau gue gak pantes. Lo kan sukanya sama Cleo yang lebih segala-galanya dari pada gue. Gue cukup sadar diri kok. Lo gak perlu khawatir. Lagian gue juga gak mau persahabatn kita ancur cuma gara-gara keegoisan gue yang cinta sama lo" Rasti menghembuskan nafas lega saat ia menyelesaikan kata-katanya.

"Kalo gue sekarang cintanya sama lo. Lo masih mau gak sama gue?" tanya Rafa yang langsung membuat Rasti terkejut dan senang disaat yang bersamaan."Lo tutup mata dulu deh" ujar Rafa, Rasti mengernyit bingung.

"Udah tutup mata aja" Rasti menuruti kata-kata Rafa. Sekarang ini lidah Rasti terasa kelu untuk sekedar bilang 'buat apa' atau 'ya' atau 'ngapain'. Rasanya suaranya berhenti di tenggorokan tidak bisa ia keluarkan.

Rafa menghadap kedepan "Gue sebenernya juga udah suka sama lo dari dulu. Namun gue sadar kita gak pernah bisa bersatu melebihi sahabat. Gue takut disaat gue ungkapin perasaan gue, lo gak bisa nerima gue dan akhirnya lo menjauh dari gue. Gue gak mau itu terjadi. Gue gak mau kehilangan cinta dan sahabat sekaligus. Akhirnya gue memutuskan untuk mencari pelarian. Dengan bersama Cleo, gue kira disaat gue sama Cleo gue bisa lupain rasa gue ke elo tapi gue malah lebih sakit hati lagi sama Cleo. Maaf, jika selama ini gue bikin lo enek sama cerita-cerita gue dengan Cleo. Gue yakin, pasti lo sebenarnya sedih dengernya. Tapi sekarang gue udah yakin kalo lo juga punya rasa ke gue, dan itu membuat gue gak takut lagi buat kehilangan lo. Gue pengen lo selalu ada buat gue Ras, gue mau lo jadi milik gue lebih dari sahabat"

Tanpa Rafa ketahui air mata Rasti lolos melewati pipi chubynya. Air mata haru dari Rasti. Bibir Rastipun tidak berhenti tersenyum bahagia mendengar ucapan Rafa. Kini cintanya telah terbalas. Sesuatu yang lembut bersentuhan dengan punggung tanagnya yang masih di pegang Rafa sejak tadi. Membuat Rasti membuka matanya.

"Sekarang lo pacar gue" ujar Rafa dengan senyum hangatnya setelah mencium punggung tangan Rasti. Rasti yang sudah kelewat senang segera memeluk lelaki yang dicintainya diam-diam itu. Ia sangat bahagia mendengar pengakuan Rafa.

"I love you Raf" kata Rasti masih terus memeluk Rafa erat, seakan tidak mau kehilanganya.

"I love you more Rast"

8 Mei 2015

Mengagumi dari Jauh

Masih dengan posisi yang sama. Terduduk di bangku depan kelasku. Dengan seplastik es teh yang selalu menemaniku sewindu terakhir ini. Menemaniku untuk menunggumu yang hanya sekedar lewat depan kelasku untuk ke mushola sebelah kelasku. Aku selalu ada disini, di tempat yang sama menunggumu lewat di jam istirahat. Mungkin kamu tidak pernah memperhatikanku. Aku cukup sadar diri. Aku hanya murid biasa yang tidak terlalu populer di sekolah. Berbeda denganmu yang sudah mempunyai prestasi menggunung dan membuat sekolah bangga memilikimu. Dibanding denganku, aku jauh di bawahmu. Aku bukan siapa-siapa.

Karna itu, yang aku bisa hanya memandangmu dari jauh saat kau membasuh sebagian tubuhmu dengan air sambil diam-diam mengagumimu. Terkadang aku sangat ingin tersenyum saat melihatmu. Tapi aku berusaha untuk tidak memperlihatkanya, menyembunyikanya di balik ekspresi datarku. Dan hanya bisa bersorak dalam hati saat aku sadari ternyata kamu meliriku. Tapi tak lama kamu kembali bercengkrama dengan kawanmu yang juga populer.

Oh astaga, aku sanagt ingin berloncat-loncat sekarang. Betapa senangnya aku setelah sudah lewat sewindu ini akhirnya kamu meliriku. Tapi aku kembali sadar, kalau aku bukanlah siapa-siapa di matamu. Aku sanagt menyadarinya. Mungkin kamu tadi tidak sengaja meliriku, kamu tidak benar-benar berniat meliriku. Aku sangat tidak pantas untuk disandingkan denganmu.

Tapi aku akan tetap disini, mengagumimu dari jauh.

***

Sudah lewat beberapa bulan aku melakukan hobi baruku. Menunggumu keluar dari kelasmu, dilanjut dengan memandangimu saat sedang membasuh tangan, wajah, lengan sebagian rambutmu hingga kaki. Entah hanya perasaanku atau bukan, ketampananmu seakan bertambah beribu kali lipat setelah melakukan ritualmu sebelum beribadah tadi. Wajahmu tampak lebih segar dan berseri setelahnya.

Setelah melihatmu yang sudah berjalan masuk dengan kawan-kawanmu ke mushola, barulah aku melakukan hal yang sama denganmu.

Dan kadang aku langsung berlari mengambil shaf paling depan karna aku tau kebiasan bandel kamu yang lebih suka shaf paling belakang. Hanya untuk bisa lebih dekat denganmu. Mungkin ini agak bandel, tapi aku sangat ingin lebih dekat denganmu. Dan jujur saja, ini malah membuatku lebih khusyu' dalam setiap sujudku.

Ini sudah berjalan lebih dari lima bulan, dan aku tidak akan pernah bosan. Hanya ini satu-satunya kenangan yang sangat aku sukai di masa SMA ku. Mengagumimu dari jauh.

***

Haruskah aku menyatakanya sekarang? Ini sudah di akhir semester, dan sebentar lagi tamatlah masa SMA ku yang pasti akan sanagt aku rindukan. Masa-masa terindahku, karna aku dapat mengagumi dari jauh. Ini sudah di akhir semester, dan kamu juga belum sadar akan kehadiranku. Walaupun saat itu kamu sempat meliriku, apa kamu juga belum sadar kalau hadirku ini untukmu. Ini sudah akhir di akhir semester haruskah aku yang mengungkapkanya lebih dulu.

Kamu terlihat bahagia disana. Berkumpul dengan teman-teman satu kelasmu. Kamu terlihat semakin tampan dengan setelan kemeja putih yang sangat pas dengan badan atletismu dan dasi biru lautmu yang membuatku semakin gatal ingin mengucapkan "hey, gantengnya biasa aja dong" tepat di depanmu.

Kamu memotret banyak hal yang aku yakin ingin sekali kamu abadikan, dengan cameramu yang sering aku lihat kamu kalungkan di lehermu. Memotret kebersamaanmu dengan teman-teman sekelasmu yang pasti akan kamu rindukan. Bahkan memotret dirimu sendiri dengan seorang gadis yang kau rangkul pundaknya. Gadis yang dikabarkan dekat denganmu. Siratan dimatamu sangat menunjukan betapa bahagianya kamu. Aku ikut bahagia karenamu.

Walau kalau boleh jujur, sebenarnya tanpa kamu sadari perlahan kamu membuat hati ini semakin rapuh. Setiap kali melihatmu begitu bahagia dengan gadis pilihanmu. Aku tau diri, karna aku memang tak sebanding denganmu. Gadis itu yang lebih sebanding denganmu, terlihat begitu serasi berdampingan denganmu. Tapi aku masih tetap disini, mengagumimu dari jauh.

Aku akan sangat merindukanmu. Setiap lekukan wajahmu yang aku sukai saat terkena air wudhlu. Setiap senyuman hangatmu yang kau tujukan kepada setiap orang yang kau kenal. Setiap peluhmu yang selalu membuatku gatal ingin mengusapkanya untukmu saat kamu sedang asik bermain basket di sore hari. Setiap kekonyolanmu yang diam-diam aku mencuri dengar saat kau dan kawan-kawanmu berjalan di depanku menuju mushola.

Kalau boleh? izinkan aku merindukanmu di suatu hari nanti. Izinkan aku memendam perasaan suka yang telah berbuah menjadi cinta ini. Izinkan aku tetap memagumimu dari jauh.

Semoga saja surat yang aku titipkan pada temanmu, akan sampai kepadamu nanti. Aku pergi-

***

Make upku sudah hampir sempurna. Tinggal memoles sedikit bibir merahmudaku dengan lipstick. Dress yang akan aku kenakan juga sudah siap. Dress merahmuda selutut tanpa lengan dan aku padukan dengan heels putihku yang sangat aku sukai. Rambutku juga sudah aku tata sedemikian rupa agar terlihat lebih manis.

Hari ini hari pernikahan teman SMA ku dulu. Aku tidak kaget jika dia sudah memutuskan menikah di usianya yang masih terbilang muda. Dia memang sudah menyiapkan calonya sejak SMA. Yang aku kagetkan, kenapa mereka bisa begitu langgeng. Aku benar-benar takjub dengan hubungan mereka. Di jaman yang banyak hubungan yang putus-nyambung mereka malah terlihat sangat angteng saja. Harus aku beri selamat.

Sangat berbeda denganku. Sampai sekarang saja aku masih belum minat untuk menjalin hubungan dengan komitmen yang menurutku sangat susah untuk di jalani. Dan satu hal lagi yang membuatku masih menunda untuk itu, aku masih menunggu seseorang yang selalu aku impikan akan bersanding denganku nanti di pelaminan. Yang selalu aku ikuti kemana dia pergi saat SMA. Yang selalu aku kagumi karna kecerdasanya. Yang selalu aku tunggu di depan kelasku. Aku masih menunggunya, hingga kini.

Sahabatku Lili sangat terlihat cantik dengan kebaya putihnya dan rambutnya yang disanggul dan di beri beberapa polesan hitam di sekitarnya. Asal tau saja, kebaya yang dikenakan Lili sekarang adalah buatanku. Dia memesan di butiku. Bahkan sudah jauh-jauh hari dari tanggal pernikahanya. Dia memang sudah merencanakan dengan sanagt matang.

"Akhirnya lo dateng juga Vio" teriak Lili histeris saat melihat kedatanganku. Memang dasar Lili, tidak malu apa dengan Gio.

"Ya kali gue gak dateng di acara pernikahan sahabat gue sendiri" kataku lalu terkekeh pelan. Ku peluk tubuh mungil Lili dan memberinya selamat.

"Happy Wedding yaa.. makin langgeng sampe maut memisahkan" ucapku lembut di telinga Lili. Dia menjauhkan tubuhnya dariku.

"Duh.. jadi terharu gue. Makasii ya.." ucap Lili dengan mata berkaca-kaca.

"Ehem.. gue gak dikasih selamet nih. Gue kan juga pengantin di sini" sindir Gio yang kita cuekin dari tadi.

"Iya, iya selamet yaa.."

"Kapan nyusul?" celetuk Gio yang aku hadiahi pukulan di lengan kirinya.

"Heh, suami gue nih" protes Lili tak terima saat lelaki yang di cintainya kupukuli tidak santai.

"Ya.. abis nyeselin banget pertanyaanya" Gio malah cengengesan gak jelas.

"Gue incipin makanan cattering lo yaa" sahutku dan langsung meninggalkan panggung pengantin.

Aku melenggang menuju stand salad. Disana hanya tinggal satu piring salad yang tersisa. Pasti saladnya enak deh, buktinya sudah ludes tinggal satu. Aku hendak mengambilnya namun tanganku tiba-tiba di cekal oleh sebuah tangan yang cukup besar.

"Punya gue" ucap suara bass dengan nada datar.

"Eh, gabisa dong, gue dulua--n" suaraku mengecil di akhir kalimat saat aku mendongak dan melihat siapa yang mencengkram tanagn mungilku. Aku terkejut bukan main. Wajahnya masih sama saat terakhir kali kita bertemu. Saat dia masih sering aku perhatikan diam-diam dulu. Namun yang kali ini terlihat lebih dewasa dengan rahangnya yang terlihat tegas dan kumis tipisnya. Sorot matanya juga masih sama, dingin namun sangat aku sukai.

"Hai Vio" sapanya begitu ramah sambil tersenyum hangat. Oh astaga senyum hangatnya yang sangat aku rindukan, kali ini membuatku meleleh. Mendadak lidahku terasa kelu untuk membalas sapaanya. Sesuatu dibalik dadaku berdegup semakin kencang. Tanganku yang masih di pegangnya tiba-tiba terasa basah, dan tubuhku mendadak menggigil. Dia tau namakuuu..

"Ha..hai" balasku susah payah lalu tersenyum semanis mungkin.

"Kita bertemu lagi. Ternyata kamu masih sama ya. Tetap manis" kata-katanya berhasil membuat pipiku memanas. Tak sadar kalau sekarang aku sedang menahan nafas.

"Jangan lagi mengagumiku dari jauh. Mendekatlah, dan aku akan mempersilahkanmu tetap mengagumiku, dari dekat" sontak kalimat itu berhasil merubah hidupku. Tak lagi mengagumimu dari jauh.

7 Mei 2015

You are Mine

Aku mengenalnya telah lama. Tidak, kita saling kenal satu sama lain. Sangat mengenali satu sama lain. Satu yang aku harapkan dalam hubungan yang sudah berjalan 2 minggu ini. Kita akan selalu bersama sampai kapanpun. Itu adalah komitmen kita. Aku dan kamu. Yang slalu kita ucapkan sebelum tidur. Slalu kita ucapkan saat salah satu dari kita bersedih. Slalu kita ucapkan saat kita hilang arah. Hanya komitmen itu yang slalu kita jaga. Hanya dengan 'Aku sayang kamu' semua terasa kembali baik-baik saja. Sudah tidak ada lagi yang perlu kita takutkan. Hanya dengan kalimat sederhana itu kau membuatku jatuh cinta. Lagi-lagi aku terjatuh, jatuh kedalam lubang yang sama, yang sama dalamnya dengan yang lalu. Dan yang sangat aku benci, aku selalu tidak bisa meloloskan diri untuk tidak terjatuh.

Semua omong kosongmu. Semua janjimu. Semua impianmu untuk bersamaku, yang aku sadari hanyalah omong kosong. Yang baru aku sadari ternyata kamu mengucapkanya dengan begitu ringan. Kamu mengucapkanya bagai angin lalu. Yang setelah diucapkan tak lagi berharga untukmu. Tidak kamu tau? aku selalu menghargainya. Aku selalu menyukainya. Setiap kata yang kamu ucapkan. Aku selalu suka. Tapi aku tak tau. Apakah saat aku mengucapkan segala yang kurasakan, kamu juga menganggapnya berharga?

Tapi setelah melihatmu sekarang. Aku tak yakin, kamu benar-benar menghargainya, sama sepertiku. Setelah aku melihatmu sekarang, aku tak yakin kalimat yang kau ucapkan dari mulutmu yang terdengar manis itu benar-benar dari hatimu.

Aku ingin teriak di depan wajahmu sekarang juga. Aku ingin meneriakimu. Tapi aku bukan gadis tolol yang mau mempermalukan seseorang yang aku cintai di depan umum. Cintai? Iya, aku masih mencintaimu. Walaupun aku tau, kamu tak merasakan hal yang sama. Bahkan saat bersamakupun, mungkin kau juga tak merasakanya.

Aku berjalan cepat karah meja bundar di sudut cafe. Sudah cukup aku memperhatikan mereka dari jauh. Diamku bukan berarti aku tak peduli atau tak punya nyali, aku hanya mengumpulkan cukup energi untuk memarahimu nanti, hanya itu. Jangan berfikir aku sepengecut itu.

Lagi pula kalau difikir-fikir lebih pengecut mana? aku yang tidak berani menghampirimu, atau kamu yang diam-diam bersama wanita lain tanpa sepengatahuanku. Kalau kamu tak terima aku panggil pengecut harusnya kamu berani berselingkuh di depanku.

Aku menahan emosiku untuk tidak meledak sekarang. Tapi rasanya percuma. Kamu dan wanita itu tidak melihatiku yang sedang berapi-api. Aku pikir kamu akan menyeretku lalu memberi penjelasan. Tapi kamu malah terlihat acuh tak sadar kalau gadis yang sudah mencintaimu begitu tulus sedang berdiri disampingmu.

Tanpa ba bi bu, tanganku terasa ringan. Bergerak begitu saja, meraih segelas lemon tea yang kamu pesan sejam yang lalu, dan menumpahkanya dengan sengaja ke bajumu.

"Hey! dasar tidak tau malu. Beraninya kamu membasahi baju pacarku" teriak gadis dengan make up berlebihan itu.

"Hello! mirror please. Yang tidak tau malu siapa. Harusnya kamu yang malu. Mau maunya punya pacar tukang tipu kayak dia" teriaku berapi-api di depan muka gadis menor ini sambil menunjuk lelaki yang masih duduk menganga di kursinya.

"Makanya, kalo make up jangan tebel-tebel. Jadi susahkan liatnya, mana yang tulus dan mana yang muna. Udah kayak korban erupsi gitu bangga" caciku karna sudah sangat geram dengan gadis ini.

Aku berbalik menghadap lelaki yang masih saja dengan muka tololnya "nih, gue balikin cincin lo. Gue udah gak butuh cincin berlian murahan kayak gitu. Gue bisa beli sendiri yang asli se-truck nanti. MAKASIH" kataku menekan kata terimakasih di depan wajahnya.

Dia terlihat akan membuka mulutnya namun dengan cepat aku memotong "udah cukup jelas Vano. Lo gak perlu lagi ngomong apa-apa. Kita putus" dan meninggalkanya dengan berjalan cepat keluar cafe ini.

"Heh! balik lo cewek stress. Beraninya lo ngatain gue" samar-samar aku mendengar suara gadis menjijikan itu. Aku tidak menoleh sedikitpun. Masih terus berjalan cepat menuju mobilku yang terpakir diluar cafe. Jangan sampai bendungan di mataku jebol di depan umum.

***

Aku menyetir gila-gilaan di jalanan yang lengang. Sudah seperti kerasukan setan aku juga tidak peduli. Yang aku rasakan sekarang lebih penting untuk dipelampiaskan dari pada memikirkan bagaimana aku harusnya menyetir dengan benar.

Kuparkirkan mobilku dengan selamat didepan garasi rumahku. Lalu segera turun menuju halaman belakang rumah. Membuka pagar kecil yang ada di sana. Yang memisahkan antara rumahku dengan rumah seorang lelaki yang sedang duduk di atas ayunanya.

Aku berlari dengan mata berair. Tangisku pecah, berhambur ke pelukan lelaki itu.

"Dion..hiks" panggilku di tengah isakan. Tak kupedulikan lagi kaosnya yang basah karna ulahku.

"Lo putus lagi ya?" tanyanya dengan sabar mengelus punggungku lembut, mencoba menenangkan. Aku hanya mengangguk pertanda iya.

"Udah gue bilangin kan, Vano itu cowok berengsek. Gak baik buat lo. Dia gak bener-bener sayang sama lo. Lo aja yang terlalu buta gak bisa liat" cerocos Dion, sahabat kecilku yang sekarang sudah tumbuh besar  -sebesar aku- yang kerjanya menasihatiku ini itu. Dia sangat peduli denganku.

"Itu karna gue sayang sama dia. Salahin dia dong yang bikin gue jatuh cinta sama dia--"

"Siapa suruh cintanya sama cowok berengsek"

"Diem! gue masih ngomong tau. Dia udah bikin gue jatuh cinta sama dia yon, dia bikin gue buta sama cintanya yang busuk itu, dia udah bikin gue selalu tersentuh dengan kata-kata manisnya itu yon dan dia juga yang udah nyakitin gue dengan selingkuhin gue. Gue gak trima di giniin yon. Lo harus lakuin sesuatu" rengeku pada sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri ini.

Dia hanya diam tak bersuara. Aku melerai pelukan kami. Dia menatapku dengan alis menyatu dan dahi berkerut.

"Kok lo diem aja sih?" tanyaku akhirnya.

"Tadi lo bilang suruh diem. Lagian percuma juga gue ngomong, lo mana mau denger terus turutin" katanya dengan tangan di depan dada dan tatapan mengintimidasi. Seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya.

"Dion.." lirihku takut-takut memanggil namanya.

"Udah saatnya lo gak usah pikirin pacaran dulu. Lo udah beberapa kali pacaran dan selalu berakhir mengenaskan kayak gini. Lagian kitakan udah kelas tiga, mau UN. pikirin UN aja dulu" ucapnya lagi yang sudah sangat pantas menjadi bapak-bapak muda. "Lagian kalo jodoh juga gak kemana" lanjutnya dengan senyuman miring dan tatapan aneh.

"Mata lo biasa aja dong. Oke, gue bisa lupain Vano. Cepat atau lambat gue yakin dia pasti bakalan nyesel udah selingkuhin gue"

Dion terlihat malas dengan kalimatku barusan. Dia selalu mendadak seperti ingin buang air setiap aku menceritakan seseorang yang sedang dekatku atau aku bahagia karna orang lain. Tapi mungkin Dion memang sudah malas atau capek. Ini kan juga sudah malam.

"Masuk gih. Angin malam gak baik buat kamu" kalimat yang sama yang dia ucapkan untuk membuatku segera tidur. Dan aku selalu tersenyum setiap dia mengingatkanku. Aku selalu merasa aku tidak akan pernah sendiri walau aku di putus atau di khianati berkali-kali oleh mantan-mantanku, karna aku punya Dion. Yang slalu ada untuku dan slalu memihaku.

"iya, gue masuk ya" pamitku padanya dan tersenyum semanis mungkin untuknya. Siapa tau bisa membuat mimpinya lebih indah nanti.

"Slamat malam Karina" gumamnya jelas yang masih bisa kudengar walau aku sudah berjalan menjauh.

"Slamat malam Dion"

***

"Apa? lo putus lagi" hebonya Gina saat aku memberi tau kejadian mengenaskan kemarin. Yang masih sangat membuatku kesal setengah mati dengan makhluk tukang tipu bernama Vano itu. Benar-benar menyebalkan. Memangnya apa kurangnya aku di banding gadis menor yang bersamanya di cafe. Dia mah jauh di bawah aku lagi.

"Yap!" jawapku semangat menganggukan kepala lalu melanjutkan aktivitas minum orange jusku.

"Ya ampun Karina, gue gak habis fikir. Selama 3 bulan lo udah di putus cowok 5 kali. Lo nyadar gak sih. Lo yang selalu di boongin sama cowok-cowok berengsek mantan lo itu" kata Gina tak santai.

"Gue sadar, sangat teramat sadar" kataku dengan enteng.

"Dan lo mau cari cowok lagi?" tanya Gina dengan tatapan menyelidik

"Gak. Kata Dion gue harus fokus UN"

"Tumben lo nurut kata Dion"

"Gue emang anak penurut ya, enak aja lo" protesku tak terima.

"Lagian ternyata lo emang kelewat bloonya ya, pantes aja mudah di kibulin"

"Maksud lo?"

"Masa lo gak sadar-sadar. Lo itu sekarang sebenernya lagi ada dalam lingkaran setan tau"

"Maksud lo lingkaran setan? Gue setanya dong"

"Tuh kan bloon"

"Jelasin yang bener Ginaaaa"

"Lo gak bisa rasain apa kalo Dion itu--" tiba-tiba kalimat Gina mengambang di udara karna terpotong dengan suara bass Dion yang menyapaku dan langsung menempati dudukan kosong di sampingku.

"Rin, ikut gue latihan basket yuk" katanya padaku namun matanya melihat ke arah Gina. Gina yang dilihati seperti itu malah kelihatan salting gitu. Jangan-jangan Dion suka sama Gina lagi atau sebaliknya?!

"Lo ngomong sama gue apa sama Gina?" tanyaku yang langsung membuat Dion menoleh ke arahku.

"Ya lo lah, mau ya. Ntar gue traktir es krim"

"Boleh tuh kalo ada imbalanya" kataku bersemangat. Aku melirik Gina yang bergumam tak jelas. Aku menyenggol lenganya yang membuatnya terlihat kaget.

"Ngapain lo komat-kamit gitu. Tadi lo bilang Dion kenapa? lanjutin dong, gantung" rengeku pada Gina. Gina malah melihati Dion seperti minta tolong. Aku melihat Dion yang seperti sedang memberi peringatan. Ini kenapa jada ngomong bahasa kalbu gini sih?

Aku yang tidak mengerti hanya bisa diam memperhatikan keanehan mereka sambil menikmati orange jusku sampai habis.

***

Ujian Nasional yang membuatku begadang semalaman akhirnya terlewati sudah. Aku sangat senang karna bisa melewatinya dengan lancar. Ini juga berkat kerja sama Dion yang bersedia menjadi guru privateku dengan suka rela a.k.a gratis, sehingga aku bisa menghafal rumus-rumus yang menurutku mengerikan sebelumnya. Aku memang tidak jago dalam masalah pelajaran seperti ini. Dion rajanya. Kalo aku jagonya split, meleokan tubuh, berjingkrak-jingkrak kesana kemari sambil memegang pom-pom, itu lah bidangku. Aku anggota cheers, dan beruntungnya aku juga captainya.

Aku melirik Dion yang sedang membaca novel favoritnya di depanku. Hot chocolate yang dia pesan sudah berpindah ke perutnya dan menyisakan cengkir tanpa bekas sedikitpun. Sedangkan aku memperhatikanya dengan bertopang dagu.

"Dion, lo ke promnight gandeng siapa?" tanyaku setelah menyesap sedikit milkshake coklatku.

"Emm.." dia tampak berpikir meletakan novelnya diatas meja, pasti dia belum dapat pasangan "gue gak ikut" lanjutnya yang sangat mengecewakan.

"Yah.. kok gitu sih" ucapku kecewa.

"Lo sendiri sama siapa?" tanyanya balik dengan alis terangkat.

"Gue sih di banyak yang ngajak gue. Tapi gue tertariknya satu, sama captain basket"

"Maksud lo, Varo?" katanya tampak terkejut gak santai.

"I.. iya" jawabku yang tiba-tiba jadi gugup karna tatapan tajamnya sekarang.

"Gak boleh. Cari yang lain" katanya dengan angkuh kembali membuka novelnya dan membacanya.

"Yah.. kok gitu sih, gue kan maunya sama Varo" karna dia yang paling mempesona diantara yang lain.

"Lo bilang banyak yang ngajak lo. Pilih salah satu asal bukan mantan lo baru boleh" dasar ini manusia satu. Nyeselin emang. Mentang-mentang orang tua gue nitipin gue sama dia, dia jadi belagu ngatur-ngatur gue. Tapi gue memang harus menuruti kata-katanya, kalo gak dia bisa aja laporin ke orang tua gue di Paris. Dasar comel emang.

"Lo pergi sama yang lain atau lo gak usah pergi ke promnight" katanya dengan tegas, tiba-tiba senyum jahil muncul di wajahnya. "nemenin gue" katanya.

Aku menoyor kepalanya yang ada muka gak banget disana. Kalo aku nemenin dia, yang ada aku disuruh-suruh ini itu "itu sih maunya elo"

***

Aku menurunkan satu kaki jenajngku dari taksi. Memperlihatkan sepatu heels bermerk ku keluaran bulan ini, yang sengaja di belikan mama dari Paris untuk pesta perpisahan anak kelas tiga ini. Aku memilih untuk pergi sendiri ke prom. Walaupun tidak dengan Varo karna Dion melarang aku akan tetap pergi. Karna ini pesta terakhir sebelum kita berjalan meraih cita-cita kita masing-masing nanti. Jadi tidak mungkin aku melewatkanya.

Gina terlihat melambai di tengah kerumunan anak-anak lain. Aku yang baru datang dari pintu masuk mencoba mendesak masuk diantara kerumunan anak yang sedang berdansa. Ternyata sudah sangat ramai saat aku datang. Memang undanganya jam 7 malam, aku datang jam 8 karna masih sedikit berdebat dengan Dion. Dioa tidak merelakanku pergi ke prom sendirian. Kenapa dia tidak ikut saja menemaniku. Itu kan lebih baik dari pada berdebat panjang memaksaku agar tidak datang, karna itu percuma karna aku akan tetap datang ke prom.

Gina datang dengan gelas anggur ditanganya. Gina minum?

"Karina, lo lama banget sih datengnya" katanya.

"Gina lo minum?" tanyaku terkejut

"Cuman dua gelas kecil. Gak masalah" jawabnya enteng.

Tiba-tiba lampu yang tadinya terang meredup. Dan hanya meninggalkan beberapa lampu sorot yang menyala. Alunan instrument romantis terdengar jelas. Alunan lagu untuk berdansa.

Teman-temanku yang membawa pasangan mereka terlihat mulai memasuki lantai dansa. Begitupun teman-temanku anggota cheers yang menyapaku sekilas saat melewatiku dengan pasangan mereka. Semua dengan tenang berdansa di lantai dansa dengan alunan yang sangat romantis. Ini sangat membuatku iri.

Aku tidak membawa pasangan. Ini menyebalkan. Harusnya aku menerima tawaran  Varo untuk mengajaku sebagai pasanagnya. Dan mengabaikan ucapan Dion. Harusnya. Sayang terlambat, Varo ternyata sudah mempunyai pasanganya. Dia terlihat senagt lihai dalam berdanssa bersama Vivian pasanganya.

Yang aku lakukan sekarang hanya bisa termenung di sudut ruangan sambil menonton mereka yang terlihat sangat romantis. Lihatlah mantan-mantanku terlihat sangat romantis denagn pasangan-pasangan mereka.

Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh suara yang sangat aku kenal. Aku menoleh ke asal suara, melihat Dion yang berdiri disana dengan sebuket mawar putih. Jas hitam yang dikenakanya sangat pas denagn tubuhnya yang kekar itu. Dia terlihat sangat keren. Kenapa bisa gitu si Dion. Dan kenapa dia disini? bukanya dia bilang tidak mau datang.

"Karina, for you" katanya yang terdengar sangat lembut sambil tersenyum hangat. Aku menerima bunganya dengan mata berbinar. Ini bunga pertamaku dari seorang cowok.

Selama 17 tahun aku hidup baru kali ini aku dapat bunga. Dengan mantan-mantanku yang lain aku tidak pernah mendapatkan. Padahal aku sanagt menginginkanya. Mereka sang mantan-mantanku hanya sekejap berada di hatiku. Mereka selalu bisa membuatku jatuh hati tapi sayang, memang benar kata Gina. Aku yang terlalu bodoh bisa jatuh hati dengan mereka yang hanya memanfaatkanku agar populer. Dengan predikatku sebagai captain cheers tentu banyak yang ingin menjadi pacarku. Dan sepertinya hubungan asamaraku memang sangat menarik untuk di usik.Yang dalam hitungan jam saja bisa langsung booming satu sekolah. Jadi mereka memanfaatkanku saja. Aku juga baru akhir-akhir ini menyadarinya. Memang dasar aku ini gadis bodoh.

"Thank you Dion" kataku dengan mata berair. Entah kenapa, aku jadi terharu mendapat bunga pertamaku.

"Kenapa kamu menangis? kamu tidak senang dengan kejutanku" ucap Dion dengan mata yang terlihat sedih. Tanganya menghapus jejak air mataku. Aku menggeleng cepat dan tersenyum tulus.

"Tidak, aku hanya terharu" ucapku jujur, memang itu yang kurasakan.

Dion menggapai tanganku dan memegang keduanya erat. Matanya terlihat begitu teduh dan penuh cinta sekarang. Membuat sesuatu di balik dadatu tiba-tiba berdegup kencang. Ada apa ini? aku tidak pernah begini sebelumnya.

"Aku menyukaimu Karina, tidak, aku mencintaimu" katanya lembut. Aku terkejut mendengarnya. Dion menyukaiku, sejak kapan. Sejak kecil kita bersama, baru kali ini dia mengatakanya padaku. Aku menatap Dion tepat di manik matanya, dan aku menyerah. Aku memang tidak bisa melihat atau mencari kejujuran disaat menatap mata orang. Tapi hatiku merasakan, kalau Dion berkata jujur. Dion menyukaiku, tidak, Dion mencintaiku.

"Kenapa kamu baru mengatakanya" protesku padanya.

"Aku menunggu waktu yang tepat. Saat kamu benar-benar sudah tak ingin mencintai yang lain. Disaat itulah aku datang. Dan aku rasa, ini sudah saatnya. Sudah cukup aku bertahan di lingkaran setan ini, Friendzone yang sanagt aku benci. Sudah saatnya aku harus benar-benar menjadikanmu miliku Karin" Aku hanya diam mendengarkan ungkapan hatinya. Aku tidak pernah tau Dion menyukaiku. Kenapa aku tidak bisa melihat gelagatnya. Aku tidak pantas untukmu Dion, aku terlalu bodoh.

"aku sudah menyukaimu sejak kecil. Saat kamu bilang kamu ingin menikah denganku. Aku masih ingat betul, Karina kecil mengucapkanya dengan lucu. Aku menganggapnya serius. Aku ingin mewujudkan mimpimu. Menikah denganku" Oh astaga, itu kalimat yang diucapkan Karina kecil. Mana benar-benar dari hatinya. Tapi Dion ingin mewujudkanya. Astaga, aku tidak pernah berfikir begitu.

"I..itu cuman ucapan anak kecil. kamu percaya?" tanayaku pada Dion yang masih menatapku lembut. Membuat lidahku tiba-tiba kelu sejenak.

"Aku percaya. Karna aku melihat sebuah keinginan yang besar dimatamu saat itu. Aku ingin membahagiakan kamu Karin. Sungguh, jadi.. maukan kamu bersamaku, tetap disisiku, menemaniku--" Dion tak lagi melanjtkan kalimatnya. Karna sekarang aku sudah membekapnya dengan pelukanku. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya saat di tembak cowok. Biasanya aku langsung menerimanya dengan cuek. Tapi yang kali ini, aku benar-benar bahagia. Aku bahagia karna Dion yang menembaku.

"Aku mauuu" jawabku kegirangan tepat di telinga kirinya.

-Saat kamu sibuk mencari siapa yang sempurna untukmu, kadang membuatmu lupa untuk melihat kabelakang, siapa yang selalu ada untukmu-

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...