14 Des 2016

Kriteria Nyaman(nya) Anak Kos

Liburan udah tinggal menghitung hari. Semester ganjil di kelas sebelas sudah terlewati. Alhamdulillah. Kalo dipikir-pikir masa putih abu-abuku tinggal tiga semester lagi. Cepet banget rasanya. Perasaan baru kemarin aku merasakan exited jadi anak baru Madrasah Aliyah. Waktu memang terasa cepat saat kita bersama orang-orang yang kita sayang.

Satu semester terakhir banyak banget yang aku lewati. Berasa kayak anak sekolah beneran (emang dulu nggak jadi anak sekolah beneran?). Merasakan banyak tugas ini itu. Mapel ini diminta membuat laporan, mapel lain minta observasi, sedangkan mapel satu lagi minta tugas persentasi. Belum lagi mapel yang keliatanya gak tugas-tugas tiba-tiba mengajak ulangan mendadak. Berasa banget keteganganya jadi anak sekolahan. Apalagi kebetulan semester ketiga ini aku mendapat predikat anak kosan. Iya, aku ngekos. Karna jarak rumahku dengan sekolah yang hampir 27 km. Mengharuskanku mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan sekolah kalo tidak mau dihukum menyapu halaman sekolah jika telat.

Beruntungnya aku mendapat kosan yang mencukupi fasilitasya untuk rata-rata seorang pelajar, seperti aku. Apalagi fasilitas nomor satu seorang pelajar saat mencari kosan kalo bukan. . tau kan. . Yup, WiFi. Bukan hanya itu sih. Kosan sebagai tempat kita melepas lelah setelah sekolah atau kerja seharian juga harus memenuhi kriteria nyaman kita. Setiap orang punya kriterianya masing-masing. Misal, "gue harus sekamar sendiri, karna gue kalo tidur banyak gaya" atau "sekamar berdua deh biar irit biaya, kan bisa patungan". "Gue mau yang ada acnya" atau "Gue mau kosan gue kamar mandi dalem biar gak perlu antri". Sebuah kenyamanan dalam berkos-kosan itu perlu.

Kadang aku mikir, "Nanti kalo mau kuliah gimana ya cari kosanya. Kalo gak cocok sama temen sekos, anaknya gak asik asik bikin gak betah gimana, atau salah pilih kos trus malah nambah pengeluaran orang tua kan juga sayang" (karna temen sekosanku sekarang rame-rame parah. Love you ARD kos)

Tapi, semua masalah itu gak perlu di khawatirin lagi. Tempo hari aku dapet info yang sangat berguna buat lagi cari kosan atau cari teman sekos. Dan pastinya bisa banget untuk di cocokin dengan kriteria nyamanya kita. Yaitu website Serumah.com.

Apa tuh Serumah.com?

Serumah.com adalah platform yang bisa menghubungkan kita sebagai pengguna untuk mencari teman sekamar atau berbagi kamar. Kamu yang merasa terbebani dengan harga kos tapi merasa kosan itu type kamu banget kamu bisa share kamarmu dengan orang lain. Bisa banget kan patungan. Tinggal iklanin aja di Serumah.com.
Bukan cuma kosan aja yang bisa kamu ikalanin. Bisa juga apartemen atau rumah sewa. Untuk harganya berapa, gak perlu khawatir. Tinggal disesuaikan aja dengan budget yang kita punya dan juga lokasi yang kita inginkan.


Kenapa harus Serumah.com?

Karna situs ini adalah jawaban yang mudah bagi pelajar, mahasiswa dan profesional muda yang merantau jauh dari kota asal mereka. Yang sedang mencari tempat tinggal atau mencari roomate, housemate berdasarkan preferensi masing-masing dengan sangat mudah. Tinggal buka situsnya di laptop atau pc. Daannn.. serumah.com ini sudah mobile-fiendly. Jadi kalian juga bisa banget akses lewat smartphone dimanapun dan kapanpun (asal punya paketan hihi).

Untuk mempermudah lagi mencari tempat tinggal yang sesuai selera, ada opsi tambahan yang disediakan. Seperti tanggal tersedia kamar, berbagi kamar atau tidak, membawa hewan peliharaan diperbolehkan, merokok tidak, ada kamar mandi dalam atau tidak, semua bisa ditambahkan sendiri di profile pengguna.


Setelah menemukan yang dirasa cocok, langsung aja kontak si penyewa, mudah kan.

Kalo mau mengiklankan tempat tinggal kamu, caranya juga gampang banget.


  • Pertama: Daftarkan kamar sewamu dengan memasukan informasi selengkap mungkin. Kalo bisa di tambahkan sedikit gambaran tentang kamar yang kamu tawarkan.
  • Kedua: Share ke social media kamu
  • Ketiga: Cek e-mail kamu dengan rajin. Semisal ada yang tertarik dengan kamar yang kamu iklankan.
  • Keempat: Dan kamu akan segera mendapat roomate yang kamu inginkan.
Gimana? tertarik dengan Serumah.com

11 Des 2016

Teman Mengobrol di Kala Senggang

Kemarin seseorang mengetuk pintu kosanku. Dia membawakan dua bungkus nasi dan dua kantung plastik es teh manis. Aku tersenyum melihat kehadiranya. Aku masuk dan kembali ke teras dengan membawa dua sendok dan piring.

Dengan ditemani lauk warteg depan gang dan sekantung es teh manis perbincangan sore itu terbungkus hangat. Kita membicarakan segala hal. Bertukar cerita. Mulai dari kegiatan kampus, mengeluh tugas yang semakin banyak sampai ceritamu tetang abang tukang bakso depan kos mu yang lucu.

Kamu bercerita sangat antusias, seakan semua yang kamu ceritakan adalah alasanmu terlihat bahagia sejak tadi datang. Aku pun sama. Aku bahagia. Karna kau sedang bercerita di hadapanku.

***

Malam menjemput sore. Langit biru gelap tampak lebih terang oleh kerlipan bintang. Aku sedang duduk manis di atas kursi plastik putih di teras kosan. Dari sore hingga pukul 7. Perutku belum terisi apapun sejak siang. Sengaja aku bergegas pulang setelah jam kuliah terakhirku selesai. Agar dapat bersantap nasi bungkus bersamamu sore ini.

Namun, tak seperti hari kemarin kali ini kamu tidak datang. Aku menyerah sudah hampir 4 jam aku menunggumu di teras. Karna tak ingin lenganku menjadi santapan lezat nyamuk ganas, aku masuk ke dalam dengan perasaan khawatir. Apa yang membuatmu tidak datang sore itu?

***

Dua hari berlalu, kamu tak ada kabar. Aku mencoba mencari alamat kos mu yang pernah kamu ceritakan waktu itu. Di gang veteran nomor 29. Seorang laki-laki seumuranku sedang mengelap motor hingga berwana mengkilap.

Baru aku ingin memanggil, namun sepertinya, dia sudah menyadari kehadiranku dan menoleh sambil tersenyum hangat. Aku segera bertanya untuk mengusir rasa penasaranku ''Mas kos disini juga? kenal yang namanya Rendy?" Laki-laki itu mengernyit dan memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi.

"Mbak e yang namanya Chia bukan?" dengan logat jawanya dia bertanya. Dan aku hanya mengangguk kikuk.

"Mas Rendynya lagi pulang kampung, udah ada tiga hari. Katanya adeknya kecelakaan gitu. Trus cepet cepet pulang" aku memotong kalimat laki-laki berambut klimis itu "Kok Rendy gak ngabarin saya ya mas"

"Nah itu, mungkin karna handphonenya rusak mbak. Kebetulan saya yang rusakin. Hehe.." dia jayus.
"Tapi tunggu sebentar Mas Rendy nitipi sesuatu buat mbak" Dia bergegas masuk ke dalam sambil berlari kecil. Sedangkan aku, mengikuti perintahnya. Menunggu. Sambil tak berhenti memikirkan kekhawatiranku. Kenapa dia tidak mengabariku. Pinjam handphone temanya kek atau apa kek.

Di saat aku memikirkan kekesalanku. Laki-laki berlogat jawa itu kembali dengan sepucuk surat. "Apa nih?" tayak bingung.

"Oh.. ya saya gak berani liat to mbak. Katanya Mas Rendy kalo ada cewek cantik namanya Chia dateng kesini nyariin dia, suruh ngasih itu." Aku mengucapkan terimakasih dan berpamitan.

Saat aku keluar dari gang aru aku lihat isi surat itu dan membacanya sampai habis. Kurang lebih seperti ini

Untuk: Chia
Maaf aku gak bisa hubungi kamu. Maaf kalo aku harus menghilang tiba-tiba kayak gini. Ada hal mendadak yang harus aku selesaikan. Aku akan cerita ke kamu semua. Tapi bukan lewat surat ini. Kita ketemu hari Sabtu jam 7 malam di atraksi air mancur. Kamu gak perlu khawatir, semuanya baik-baik aja.

-Rendy-

Kalimat terakhir surat itu sedikit melegakan aku. Sedikit. Masih lebih banyak cemasnya kalo boleh jujur. Hari sabtu pukul 7. Oke, itu hanya 4 hari lagi. Its oke. Tahan saja rindunya, nanti juga bertemu.

Aku kembali ke kos setelah mampir membeli nasi bungkus untuk malam ini. Seperti sebelum Rendy selalu datang sore-sore dengan nasi bungkus warteg, aku juga begini. Aku meletakan kembali sepatu ke rak dan begegas menju kamar. Tapi aku berhenti sebentar di ruang tv untuk menyapa teman-teman satu kosku yang sibuk bermain gadget dengan tivi menyala.

"Kasian tv nya suruh liat orang maen handphone" sindirku. Mereka giliran mencibir dan mulai lah berbalas cibiran satu sama lain. Sekitar ada 10 anak di kosan ini. Aku tak pernah merasa sepi, mereka selalu penuh candaan dan hal baru setiap harinya.

"Ngomong-ngomong lo dari mana deh, baru keliatan?" tanya seorang temanku Keke, anak jakarta tapi dia kos. Katanya biar ada temenya terus, aneh emang.

"Dari kampus, trus mampir beli makan" jawabku.

"Tumben beli sendiri. Si bang Reren gak kesini emang?" tanya Sonya, dengan panggilan sayangnya ke Rendy. Leih tepatnya panggilan sayang anak-anak kos sih. Saking seringnya Rendy ke sini, jadi di godain terus.

"Gak, katanya lagi pulang kampung. Tadi gue ke kosanya. Udah dua hari gak ada kabar, trus gue mampir ke kosanya tadi. Kata temen se-kosnya dia pulang kampung" curhatku.

"Statusnya udah jelas belum? kok minta kabar?" celetuk Keke. Entah dengan sadar atau gak. Tapi perkataanya membuatku sedikit berfikir. Ada benarny yang di katakan Keke. Memang aku siapanya Rendy? Kita kan cuma teman. Untuk apa juga Rendy melapor dimana dia sekarang atau sedang apa sekarang padaku jika aku bukan seseorang yang dianggap lebih dari sekedar teman. Aku juga jarang berkomunikasi dengan Rendy via telfon, entah itu chat atau sms. Aku lebih sering bertemu denganya secara langsung. Karna saat kita bertemu, kita sampai lupa waktu. Bercerita ini itu, tantang kampus, gosip baru, politik, segala hal. Sedangkan saat tidak saling bertemu, aku hanya bisa menyimpan rindu. Aku tidak berani meyapa lebih dulu. Tapi sekarang, baru dua hari aku tidak bertemu Rendy, aku sudah secemas ini, setakut ini. Sampai mencari tau ke kosanya. Apa yang salah dengan kepalamu Chia?

Aku beranjak dari sofa deng berjalan menuju kamarku. Aku tersentak dan baru menyadari kalau aku berjalan sambil melamun setelah Sonya berteriak "Gak usah di fikirin chi, omongnya Keke suka ngawur." Aku menoleh dan brkata "Iya, gue cuma mau istirahat."

Ku hempaskan tubuhku ke atas kasur setelah selesai mandi. Aku memandang langit-langit kamarku dan fikiran bodoh Rendy lagi ngapain ya.

"Ngapain sih lo mikirin Rendy Chiaa.. apa faedahnya"

Aku beranjak menuju meja belajarku dan membuka laptopku untuk mengecek tugas apa saja yang belum aku selesaikan. Sebenarna aku mencoba untuk mengalihkan fikiran. Supaya tidak memikirkan Rendy. Tapi ahhh.. kenapa masih kepikiran terus.

Aku menyerah. Seketika saat mataku menangkap miniatur pesawat di atas rak meja belajarku. Aku mengambilnya. Jadi teringat alasan lucu yang dia berikan saat memberiku miniatur ini. Kebetulan dia memberinya tepat setelah aku bercerita salah satu impianku untuk keliling duia, naik peawat. Karna aku belum pernah naik pesawat.

Tiba-tiba dia mengeluarkan miniatur pesawat berwarna silver dari dalam tasnya. Katanya untuku. Saat aku bertanya untuk apa, dia bilang unuk mengatarku keliling dunia. Benar-benar jawaban konyol. Dia menarik jari telunjuku dan di naikanya ke atas pesawat kecil itu. Jari telunjuknya diatas pesawat kecil itu dan sedikit mendorongnya sehingga roda kecil pesawat berputar dan miniatur pesawat itu berjalan pelan.

"Sekarang kamu udah naik pesawat" katanya sambil tersenyum. Aku hanya tertawa melihat dia memperlihatkan candaan recehnya. Tapi itu benar-benar membuatku senang. Sangat senang,

Tanpa sadar, aku tersenum sendiri mengingat kejadian itu.

Ren.. tidak bisakah kita perjelas hubungan kita ini? Supaya saat aku mengingat kenangan kita berdua aku tidak di hantui kalimat 'sebenarnya kita itu apa'.


***
To be Continue


Ps: lagi pengen bikin cerita bersambung lagi. Kira kira enaknya sad ending atau happy ending ya

2 Nov 2016

November

Hallo November. Menginjak bulan baru aku jadi tidak rela meninggalkan Oktoberku yang mengesankan. Dimana aku baru saja menginjak umur remaja remajanya para remaja. Tapi.. ah omong kosong. Menurutku ini bukan umurnya remajanya remaja. Tapi ini malah menjadi umur yang membuatku harus lebih belajar banyak hal. Lebih memikirkan kedepanya aku mau jadi apa. Memilih jadi wanita karir dengan gaji bulanan dan berpenampilan classy atau sekedar ibu rumah tangga yang pakai daster tiap pagi belanja sayuran buat makan satu hari. Semua sudah harus di tentukan dan di fikirkan lebih matang lagi saat ini.

Memang bukna dikatakan terlambat. Tapi memulai lebih jauh juga tidak salah.

Aku mulai sadar kalau minggu minggu ini memang banyak sekali yang aku lalui. Tentang hal baru. Dunia yang beru aku kenal. Aku benar-benar merasa menjadi anak sekolah yang sebenarnya. Di kejar deadline tugas, deadline proposal yang tak kunjung mendapat acc, belum lagi guru mapel lain mendadak mengajak ulangan dadakan. Tidak taukah mereka beban yang harus di tanggung sebagai predikat murid k13 sebanyak 20 mata pelajaran dengan materi yang sangat berbeda dan tugas yang berbeda pula. Tak kasihan kah mereka dengan kami?

Sudah pukul 22 lewat 2, aku ingin segera tidur dan bermimpi indah. Sayangnya setiap ingin memejamkan mata, serasa bayang-bayang tugas yang belum rampung gentayangan diatas langit-lagngit kamar kost ku.

Lebih baik aku selesaikan. Demi secoret tanda tanganmu bu, dan ilmu yang barokah. Insya'allah..

Sebelum itu, aku ingin menitip salam pada bintang malam, katakan padanya aku ingin melukis sinarmu di hatinya. Embun pagi katakan padanya biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya.

Sampai bertemu kamu dengan jas dan gelarmu, begitupun aku. Dengan segala yang aku perjuangkan sekarang dan berbuah manis nanti. Akan aku tunjukan padamu, aku bisa membeli apa yang aku mau dengan uangku sendiri. Dan akan aku hadiahkan untuk mu novel pertamaku. Semoga nanti kita tetap dapat bertukar cerita, walau sudah dengan status berbeda. Atau mungkin dengan satu ikatan yang lain. Amiinn

17 Okt 2016

Sabar Bersyukur Ikhlas

Hari ini hari Senin. Awal minggu yang selalu ingin di skip saja dari daftar nama hari dalam seminggu. Tepatnya pukul sembilan lewat empat puluh enam malam. Aku masih belum terlelap. Sebenarnya mataku sudah dari tadi merayu untuk dipejamkan. Namun, aku masih belum ingin tidur. Berbanding terbalik dengan saat di kelas mendengarkan guru menerangkan dengan suara begitu syahdu. Rasanya rindu pada kasur kosan tak dapat lagi di tahan

Suara gonggongan anjing kecil milik tetangga kos ku menemani malam ini. Mataku memandang keyboard, mengetik apa yang aku tulis, namun fikiranku melayang. Membayangkan apa saja yang mungkin terjadi di esok hari. Apakah akan sesulit seperti biasanya? Apakah akan terasa berat seperti hari ini dan kemarin? Atau mungkin akan berubah jadi lebih ringan dan menyenangkan? Sepertinya opsi terakhir tidak pantas untuk aku bayangkan. Aku sudah pernah merasakan betapa kecewanya aku di sore hari ketika hari ku tidak seperti apa yang aku banyangkan semalam.

Sebelum ini aku tidak pernah tau apa yang selalu membuat wajah anak SMA terlihat begitu letih. Saat aku masih di sekolah dasar, aku selalu memperhatikan raut muka kakak laki-lakiku yang selalu murung saat pulang sekolah. Dan raut wajah bosan di pagi hari saat sebelum berangkat sambil menghabiskan sarapan. Hampir tidak pernah ada senyum di wajahnya. Kecuali saat menonton kartun atau melihat kecerobohan kecilku.

Dan sekarang aku baru tau jawabanya saat tadi pagi aku bercermin.

Tak jauh beda dengan yang aku lihat di wajah kakakku delapan tahun lalu. Tak jauh beda.

Otak anak SMA lah yang tercermin di wajah mereka saat berangkat dan pulang sekolah. Itu menurutku. Soal masalah organisasi, tugas yang belum rampung, materi pelajaran yang tertinggal, tidak begitu memahami persamaan satu dan yang lain, belum lagi urusan hati yang membuat semuanya menjadi semakin ruwet.

Kenapa sih? Urusan hati harus bersamaan dengan usia kita yang menginjak remaja. Kenapa rasa suka pada lawan jenis bersamaan dengan kita yang juga harus berkenalan dengan persamaan parabola, integral, turunan atau gerak harmonik. Kenapa?

Kuncinya cuma sabar, bersyukur dan ikhlas.

11 Sep 2016

why always you

My day is so bored. I just lazy at home, enjoy my time with my phone. Accidentally when i scroll up timeline on ig i found a picture of you. You look so excited. Smile to camera while bring like a board or something, idk. Stand up beside you, your old sister smile too while bring a big thropy.
Your face full of sweat still wearing your basket costume. And its makes your handsome up.
I don't know why. However, its was two years passed, why always you that can make heartbeat just too see your picture ? Why always you, who i think before i sleep? Always you.
Can not we just try make new story again?

8 Sep 2016

Balada anak sma di kamar kos lapar tengah malam

Rumus alkana menjadi satu dengan rumus integral juga fungsi. Bukan hal yang asing lagi jika kamu sengaja membuka dan ingin tau isi otak anak ipa sekolah menengah atas. Ya seperti iu lah isinya.
Belum lagi di tambah urusan organisasi yang mengharuskan mengurus kegiatan ini itu guna menunjang prestasi non akademik. Di tambah lagi kalo jauh dari orang tua, harus hidup sendiri di kota orang. Apapun di tentukan sendiri, terlebih harus dengan pemikiran yang matang. Mengesampingkan cucian kotor, nanti malam makan apa dan ''berapa hutangku padamu'' oleh tugas dari guru. Parahnya lagi sudah berkali-kali mencoba mengerjakan tetap tidak paham itu untuk apa nanti. Haruskah aku nanti memasak juga mengukur ketajaman pisau yang aku pakai, jumlah kalor setiap satu kali memasak atau unsur apa saja yang ada di sebuah jangan sop.

Dan semoga apa yang aku lakukan sekarang menjadi bekal yang sangat bermanfaat nantinya di kehidpanku yang lebih baik. Motivasi diri sendiri aja.

Ku harus kuad. Toh hasil yang aku petik juga aku nikmati sendiri.

11 Agu 2016

Jatuh Hati (lagi)

Seberapa lama dia menjauh dia akan terap utuh. Seberapa jauh kita berjarak dia selalu setia. Aku tak tau apa yang membuatnya sama. Setiap rasaku dulu kembali meluap.  Perasaan yang sama setelah setelah hampir dua tahun lalu.
Tetap denganya, dia-ku yang sama. Yang selalu bisa membuatku jatuh hati (lagi)

21 Jul 2016

Sesal.

Aku menyesal tidak membuka mulut lebih dulu. Aku menyesal hanya melihatimu hingga jauh. Aku menyesal tidak tersenyum di depanmu.
Di sebuah ujung lorong sekolah yang ramai, fikiranku terasa sepi. Aku terdiam di atas kursi panjang. Aku memikirkanmu.
Kamu nampak sibuk mondar mandir ke ujung sekolah paling belakang kembali lagi kedepan sebaliknya dan seterusnya. Yang aku tau kamu tak pernah suka dengan yang namanya kegiatan sekolah. Yang memaksamu melakukan ini itu. Dan yang katamu juga "alah gak penting". Tapi yang aku lihat sekarang kamu tengah melakukan hal yang kamu benci itu.
Sesekali melewati depan kelasku. Teman-temanku yang lain meneriakimu dan memberi semangat, namun terbungkus dengan ejekan. Kamu tak pernah membalas. Hanya tersenyum atau sesekali tertawa kecil dan memaklumi kelakuaan anak-anak sma.
Dan disaat yang sama, aku hanya berani melihatimu hingga jauh.
Suatu ketika. Hanya ada aku di depan kelas. Entah sengaja atau tidak kamu lewat bersama tasmu yang slalu kau gendong kemana mana. Aku tengah melamu, memikirkanmu. Aku tersentak dengan suara anak perempuan yang menjerit dari dalam kelas. Lamunanku hilang. Kembali aku mengangkat kepala dan mata kita bertemu. Kita hanya bertatapan hingga seorang temanmu mengajakmu berjalan lebih cepat.
Ironis. Aku hanya berani memandang. Tanpa berbincang. Betapa pengecutnya orang yang sedang jatuh hati padamu ini.
Aku menyesal tidak membuka mulut lebih dulu. Aku menyesal hanya melihatimu hingga jauh. Aku menyesal tidak tersenyum di depanmu.

20 Jul 2016

Meski Kita Sudah Berbagi Jarak

Kita berpapasan tanpa sapa. Bertemu pandang tanpa suara. Hanya hening dan rasa ingin temu. Ingin berseru. Ingin mengadu. Dan tak ingin berlalu.
Malamku tak seperti malam kemarin. Tak ada lagi chat darimu membuatku serba salah. Ingin tidur tapi penasaran. Ingin menunggu tapi percuma. Karna memang khayalku terlanjur mengudara. "Untuk apa?" hanya itu yang mereka katakan padaku. Dan aku hanya menjawab "untuk membuatku senang"
Ya. Aku senang dapat berpapasan denganmu. Aku senang dapat bertemu pandang olehmu. Aku senang saat kau memergokiku sedang menatapmu diam-diam. Karna mungkin saja di luar sana ada yang tak seberuntung aku. Aku bersyukur dapat melihatmu dengan kostum kuning bermain gesit di lapangan. Aku suka menatap wajahmu yang penuh peluh. Aku suka.
Aku memang tidak pandai menyembunyikan rasa. Aku suka kamu. Dan ingin tetap begitu. Walau sekarang kamu mulai berbagi jarak  denganku. Tak lagi sama seperti dulu. Tak ada lagi percakapan konyol sampai menjelang jam tidurku. Tak ada lagi ucapan selamat tidur darimu. Tak ada lagi lelucon jayus yang menurutku lucu jika kamu yang melontarkan. Aku suka. Aku tetap suka. Meski kita sudah berbagi jarak.

17 Jul 2016

Mari Berteman

Berlarian di bawah terik. Mengejar sesuatu yang dianggap menarik. Menomor duakan teriakan wanita membawa nasi. Hanya aku dan keingintauanku tentang hewan hijau kecil itu
"Maa.. Kenapa hewanya lompat lompat terus" aduku pada wanita yang terus mengejarku
"Kan kamu kejar ya dia lari. Coba kamu liat dari jauh. Perhatikan saja dari sini. Pasti hewanya diem anteng. Sini ak dulu.."
Mataku memperhatikan hewan pelompat itu sambil membuka mulutku lebar lebar lalu mengunyah nasi beserta telur. Hewan itu diam, aku memperhatikan. Ternyata cantik juga kalo di lihat saja. Kenapa aku harus mengejar susah payah kalau begini saja aku sudah puas.
Kepalaku berputar melihat mama sambil tanganku bergerak ingin coba memegang hewan hijau itu "maa.. Coba pegang bol-- awww!!"
Tiba-tiba tanganku terasa di remas seseorang. "Jangan nanti lompat lagi" kata anak laki-laki berbaju biru. Sepertinya dia seumuranku. Tinggi kita sama.
"Kalo mau pegang, sini aku ambilin" katanya lagi.
"Waahh.. Ada Ardi ternyata" teriak mama ku heboh. "Main sama Ardi dulu ya Kiara" ucap mama lalu kembali berbincang dengan tante yang tidak aku tau namanya.
Aku kembali menoleh memperhatikan anak laki-laki di depanku ini. Kami sama-sama berjongkok melingkari belalang yang asik duduk di atas daun.
Dengan satu kali tangkap hap! Anak laki-laki ini berhasil menangkapnya. Seketika aku berteriak "horree dapat!!" sambil melompat dan bertepuk tangan.
Dia menjepit belalang itu dengan dua jari. Dan mempersilahkanku untuk memegang.
"Umm.. Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Aku kiara" kataku pada anak laki-laki ini.
"Namaku Ardi. Kita tetanggaan lo. Rumah kamu itu kan?" jarinya menunjuk tumah bercat putih. Ya, rumahku.
"Rumahku sebelah rumahmu yang catnya merah" katanya lagi. Aku tersenyum. Karna sepertinya aku akan punya teman main baru.
"Aku baru pindah tiga hari kemarin. Dan aku belum punya teman disini. Umm kamu mau gak jadi umm.. teman main ku?" tanyaku malu malu.
"Tentu saja mauuu" jawab Ardi terlihat senang.
"Maaf ya Kaira. Sebenarnya aku sudah liat kamu dari kemarin. Aku pengen banget ngajak kamu main bareng"
Aku menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Tapi aku malu. Jadi aku cuma merhatiin kamu aja dari kemarin. Kamu suka makan es krim coklat kan? Warna kesukaan kamu pink bukan?" aku terkejut.
"Kok kamu tau?"
"Karna dari kemarin kamu pake baju warna pink terus. Pasti satu lemari baju kamu pink semua ya."
"Hahahahaaa enggak kok"
Aku tersenyum kemudian.
Ardi pov
Akhirnya kita bisa temenan.

12 Jul 2016

Paragraph

Debur ombak terdengar merdu. Aroma ikan dan terik mentari. Angin menyibak rambutnya lembut. Memperlihatkan rona merah di pipinya yang pucat. Bersama kaki telanjang dimanja pasir putih. Menikmati langit biru membentang di hiasi awan tipis. Hampir tidak ada garis batas antaranya dengan laut yang sama biru. Bibir tertarik mengulam senyum. Hal yang sangat amat kutunggu darinya.

"Sudah merasa lebih baik?" tanyaku yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan
"Hum.. Sangat baik. Terima kasih"

18 Jun 2016

Selamat Ulang Tahun 🎊

Seseorang berjalan lambat. Dari memori yang di genggam erat. Langkahnya terasa berat. Meninggalkan tempat ternyamanya yang teramat sangat.

14 Jun 2016

Come Back

Rasanya seperti mimpi. Bisa sedekat ini denganmu. Melempar sapa. Berbalas senyum. Sambil membicarakan banyak hal. Kalau benar ini mimpi aku tak akan pernah ingin bangun. Tak akan pernah.
Tapi ini sungguh nyata. Bukan mimpi semata. Kamu ada di hadapanku. Asik mengoceh tentang adik laki-lakimu yang nakal. Kamu bercerita dengan sangat antusias dan terlihat sangat jengkel dengan adik mu itu. Dan aku hanya dapat merespon dengan tawa atau sesekali menimpal dengan lelucon lain.
Rasanya seperti mimpi. Aku dapat bercengkrama santai denganmu seperti ini. Melihat binar matamu. Mendengar suara tawa lepasmu. Setelah peristiwa yang sangat aku sesalkan kita lalui beberapa bulan terakhir.
Dimana kamu mendiamkanku tanpa sebab. Aku tidak pernah tau dimana letak kesalahanku. Apa yang membuatmu menghindariku. Aku tak pernah tau.
Mukamu berpaling saat kita berpapasan. Sapaanku tak pernah kamu balas. Pesanku hanya kamu baca tanpa ada niat untuk membalas. Kamu tau apa yang aku rasakan di hari-hari itu? Kosong. Seolah duniaku hilang. Semua berubah semu. Aku tak pernah tau dimana letak kesalahanku. Aku tak pernah tau apa yang membuatmu sebegitu marahnya padaku. Tak pernah terlewatkan satu malampun tanpa memikirkan hal itu. Sampai membuat hitam sebagian kantung mataku.
Memang salahku sejak awal. Tanpa sadar telah membiarkanmu masuk kedalam duniaku. Yang sebelumnya tak pernah aku mempersilahkan siapapun sebelum kamu. Memang salahku yang mengajakmu berbagi dunia. Hingga saat aku kau tinggal, rasanya separuh dari duniaku hilang. Hampa.
Ingat tidak malam itu. Saat kita untuk pertama kalinya jalan berdua. Rasanya sangatlah menyenangkan. Hanya aku dan kamu. Aku sangat bahagia. Sampai sampai bahagiaku membuatku lupa, kalau sebenarnya kita hanya sebatas teman. Kamu sebatas bersikap baik. Dan acara jalan jalan itu hanya kau anggap sebagai balasan darimu karna aku menolongmu mengajarkan materi yang tidak kamu mengerti tempo hari. Aku terlalu senang kamu ada di sampingku. Berjalan beriringan denganku. Bercanda. Mengobrol. Menertawakan hal lucu. Senangku berlebihan. Sampai tanpa sadar diam diam aku menaruh hati padamu.
Aku bukan seseorang yang pintar memendam rasa. Karna itu hanya akan berdampak buruk padaku. Memikirkanya sepanjang malam sampai lupa tidur. Atau memunculkan banyak jerawat di area keningku. Keduanya adalah mimpi buruk untuku. Sampai akhirnya aku tahu. Mimpi terburuku bukan hanya dua hal yang baru saja aku tulis. Mimpi yang lebih buruk dari itu adalah kehilanganmu.
Aku bukan seseorang yang pintar memendam rasa. Jika aku suka akan ku bilang suka. Jika tidak, ku bilang tidak. Dan sifat sialan itulah yang membuatmu menjauhiku. Iya kan? Aku pikir juga begitu.
Aku memang bukan seseorang yang pintar memendam rasa. Akan aku tunjukan jika benar aku suka. Dan terang terangan aku tolak saat aku bilang tidak suka. Sayangnya tuan, kamu lah yang berhasil mengubah hatiku. Berusaha sekeras mungkin aku untuk menolak dan berkata tidak. Namun, kau terus saja menggangguku dengan sejuta kata manismu itu. Wanita mana yang tidak akan luluh dengan hal itu. Namun, saat aku mulai membuka hati dan membiarkanmu masuk di duniaku, dan menunjukan apa yang aku rasa dan di sanalah letak kebodohanku.
Hari berganti bulan. Tak ada lagi pesan darimu. Setelah pesan terakhirmu yang sangat panjang berisi niatanmu untuk permisi. Pamit untuk pergi.
Aku pikir kamu marah, dengan apa yang telah aku lakukan untukmu. Aku pikir kamu tak nyaman dengan apa yang aku tunjukan padamu. Tentang rasa. Aku coba meminta maaf. Tapi hanya kamu baca. Setelah rasanya cukup untuku memperjuangkan. Dan yang bisa aku lakukan di hari hari itu hanya diam, menunggu dan berharap. Bukan karna menyerah, aku hanya tidak ingin kamu merasa tak nyaman dengan hadirku. Ya, aku tetap menyukaimu, meski kamu telah menghancurkan harapanku. Biarkan aku berharap. Dalam angan.
Hingga beberapa saat lalu sikapmu yang tiba-tiba menyapaku ramah di lorong kelas membuatku merinding. Namun, diam-diam melonjak girang dalam hati. Coba bayangkan, orang yang kamu suka setelah mendiamkanmu 3 bulan tiba-tiba menyapa dan melempar senyum lagi padamu. Dan ini nyata, bukan yang sering aku mimpikan setiap malam.
"Hai Mentari, umm.. Apa kabar?" dia berkata dengan terbata. Mungkin karna canggung.
Tiba-tiba keningku terasa habis di jitak sesuatu. Atau seseorang. "Aww.." aku mengaduh sembil mengelus keningku sayang.
"Lo ditanyain malah bengong" katanya lagi dan kali ini di ikuti kekehan. Mungkin karna senang melihatku kesakiti. Kenapa sedari tadi aku hanya mengira tidak bicara. Ini kesempatan langka. Oh ya tuhan, kenapa sifat bodohku muncul di keadaan seperti ini.
"Lo lagi gak sehat ya, sakit ya lo. Dari tadi di tanyain diem terus"
Dengan spontan aku menjawab "gue sehaattt" ucapku semangat. Dan tanpa sadar ternyata tubuhku sedang melakukan pemanasan olah raga sambil cengar cengir gak jelas. Sekali lagi, kamu mempermalukan dirimu lagi mentari.
"Hahahaa.. Bagus deh kalo gitu. Emang kelihatan sehat banget" katamu lagi.
"Umm.. Ada apa ya tang? Tumben lo panggil gue" tanyaku basa basi. Sebelum ge er ku keluar. Yang ku maksud ge er adalah dia mau minta maaf karna sudah mendiamkanku 3 bulan. Mungkin saja ada hal lain yang lebih penting. Ya, aku tau aku memang tidak terlalu penting.
Bintang menoleh ke kanan kiri. Memperhatikan lorong kelas yang memang sedang ramai murid-murid lain.
"Umm.. Gak enak ngomong di sini. Ikut gue yuk" dan tanpa ba bi bu lenganku sudah ditarik olehnya. Lagi-lagi perutku terasa ada sesuatu yang menggelitik. Rasanya.. Umm.. Harus ya aku jelaskan.
Langkah Bintang berhenti di depan pintu gor (gedung olah raga) tempatnya sering berlatih bulu tangkis. Sebelum kita menjadi orang asing. Aku sering menemaninya berlatih setelah pulang sekolah. Tapi, sudah tak lagi setelah kejadian itu.
Bintang menariku masuk, memintaku mengikuti langkahnya. Gor tidak terlalu ramai. Hanya ada tiga-empat anak yang sedang berlatih bulu tangkis. Bintang mengajaku duduk di salah satu podium penonton. Setelah itu hening. Tak ada yang mau memulai percakapan diantara kami. Hingga mungkin ada sampai sepuluh menit. Sampai akhirnya aku yang mengalah.
"Bintang"
"Ya"
"Ngapain lo ngajak gue kesini?"
"Cuman pengen"
"Cuman pengen?"
"Ya cuman pengen"
Huh, kau tau tidak. Aku terlanjur sudah berharap macam-macam. Aku pikir dia mengajaku dari tempat ramai ke tempat yang lebih tenang karna ada sesuatu  serius untuk di bicarakan. Ternyata, lagi lagi dia mempermainkanku. Lagi lagi kebodohanku di salah gunakan.
"Gak penting banget sih lo. Sorry, gue banyak urusan" ucapku kesal sambil beranjak dari podium.
"Lo mau kemana?" tanya Bintang dengan polos.
"Bukan urusan lo" kataku kesal. Bisa-bisanya aku menunggu untuk orang kayak dia. Harusnya aku lebih berfikir.
Namun langkahku berhenti saat Bintang berkata "Temenin gue dulu lah tar. Masa gue harus bilang kalo gue kangen sama lo"
Deg. Jantungku terpacu lebih cepat. Aku berbalik badan menatap tajam ke arahnya. Melangkah lebih dekat.
"Lo bilang apa tadi?" kataku ketus.
"Gue bilang. Gue kangen sama lo" oh tuhan, rasanya ubun ubun ku sedang mendidih saat ini.
"Bisa-bisanya lo bilang lo kangen sama gue. Setelah beberapa bulan lo diemin gue tanpa sebab. Pamit buat pergi. Lo tuh jahat bintang" aku ungkapkan semua rasa kesalku padanya. Tangan kecilku tak berhenti memukul-mukul dada bidangnya.
Bintang hanya diam. Sampai akhirnya dia berbicara setelah membuang nafas berat.
"Maafin gue mentari. Gue terlalu cupu buat jujur sama lo. Bahkan jujur ke diri gue sendiri. Maaf kalo gue buat lo kecewa. Maaf udah buat lo bingung beberapa bulan terakhir. Gue pun juga di buat bingung dengan perasaan gue sendiri. Gue gak tau apa yang harus gue lakuin. Gue suka sama lo. Bukan, gue sayang sama lo. Tapi gue cuman gak yakin buat ngakuin itu. Gue bahkan gak bisa ngebuat percaya ke diri gue sendiri kalo gue sayang sama lo. Gue terlalu cupu buat nyatain itu ke lo. Maaf tar. Gue butuh waktu kemarin. Gue putusin buat jauhin lo dulu kemarin. Gue pikir dengan cara itu gue bisa hapus perasaan gue ke lo. Karna, gue ngerasa gak pantes buat lo. Tapi setelah itu gue sadar, kalo jauh dari lo malah ngebuat gue semakin gila. Gue sadar, kalo yang gue butuh itu cuma lo. Maaf kalo gue emang udah terlambat buat ngakuin perasaan gue" kepalanya tertunduk lesu. Aku tak pernah berfikir kalau ini alasan Bintang sebenarnya. Aku pikir dia memang tak pernah punya rasa padaku. Tapi ternyata. Dadaku mendadak sesak mendengar pernyataan Bintang. Kenapa dia tidak bilang sejak dulu?
"Gue cuma mau ngomong itu. Sekarang lo boleh pergi"
Sepertinya aku yang harus mengajarinya cara memperjuangkan sesuatu. Belum angkat senjata udah nyerah. Gimana sih. Katanya sayang. Masa aku mau di lepasin lagi.
"Lo gak mau berjuang sekali lagi buat gue?" tanyaku terus terang. Bintang menoleh cepat kearahku. Matanya berbinar. Apakah dia senang?
"Serius? Lo mau kasih gue kesempatan sekali lagi?" tanyanya sekali lagi sambil memegangi kedua lenganku. Aku tak dapat menahan senyumku melihatnya terlihat begitu bahagia.
Aku hanya mengangguk tak ingin berkata apa apa lagi. Tiba-tiba Bintang berteriak senang hingga suaranya menggema seantero gor.
Kami kembali duduk menikmati permainan anak anak bulu tangkis yang sedang berlatih.
Rasanya seperti mimpi. Bisa sedekat ini denganmu. Melempar sapa. Berbalas senyum. Sambil membicarakan banyak hal. Kalau benar ini mimpi aku tak akan pernah ingin bangun. Tak akan pernah.

8 Jun 2016

Stuck On You

"Apa lagi yang kamu harapkan? Semua sudah gak ada gunanya lagi. Kamu menyia-nyiakanku saat aku benar-benar tulus mencintaimu. Aku terima. Dan aku memilih pergi. Tapi kamu malah datang lagi dan memohon untuk memperbaiki? apa yang salah padamu?"

"Aku tau aku bodoh sudah menyia-nyiakanmu. Aku akui aku salah"

"Aku sudah memaafkanmu. Tapi kalau kamu minta aku untuk kembali bersamamu. Maaf, aku sudah menemukan penggantimu. Aku tidak bisa"

Gadis itu tertunduk. Tidak lagi berani menatap bola mata laki-laki dihapanya. Bukan apa-apa, ia hanya takut untuk melihat mata yang dulunya selalu memancarkan cinta dan keteduhan sekarang sudah tidak lagi.

Hanya terdengar suara barista yang mulai membesihkan gelas-gelas kosong. Diselingi dentingan dua gelas bertabrakan yang dibawa olehnya, menemani obrolan ungkapan hati dua sejoli yang sudah tak lagi dalam satu cerita.

Satu hati yang merasakan kekosongan selama 5 tahun terakhir. Bukan kosong, lebih tepatnya sunyi. Ada orang yang selalu disana. Tapi tidak berbuat apapun. Bukan karna mati. Hanya rasanya seperti sedang pergi dan pemilik hati berusaha mencari. Mencari sesuatu yang pergi. Dan saat ia menemukanya. Ternyata sudah tak lagi sama.

Sedang satu hati yang lain. Sudah di hiasi lagi oleh sosok baru, setelah sekian lama mati. Sosok yang berhasil menghidupkan hatinya lagi. Setelah dimatikan oleh masa lalu yang sangat ia cintai. Kalau boleh saja ia jujur. Ia lebih mencintai masa lalunya ketimbang sosok dihatinya. Tapi bagaimana bisa?

"Apa benar sudah tidak ada lagi cara? Apa aku sudah tidak lagi pantas untuk memperjuangkanmu?" tanya Kania sekali lagi masih dengan tertunduk.

Gilang hanya diam. Mulutnya terkunci, namun hatinya meronta. Seakan sedang menghakiminya. Logikanya berkata tidak. Hatinya berteriak kencang. Menyebut nama gadis di hadapanya.

Sisa malam itu hanya mereka habiskan dengan fikiranya masing-masing. Hening. ditemani gelas barista yang berdenting.


Perempuan.

Awalnya ingin biasa saja. Awalnya hanya ingin dianggap sebagai guyonan khas anak sma. Pasti tau lah, yang di bilang cantik sekali oleh teman laki-laki satu kelas yang heboh. Kata ''ciee'' menggema seantero kelas. Apalagi kalau diperlakukan istimewa. Lebih dari yang lain. Lebih spesial. Rasa ge er-nya semakin menjadi jadi.
Belum lagi tau kalau hanya kamu yang diperlakukan seperti itu. Di tahun 2016, dimana baper booming di kalangan remaja. Dan sialnya aku terjebak di situasi ini.
Persetan dengan Baper, yang aku sayangkan kenapa harus pada orang yang diam-diam aku kagumi. Manusia 2016 mana yang tidak baper diperlakukan seperti itu. Terlebih orang yang sedang kamu kagumi diam-diam.
Yahh.. sayang seribu sayang. Anganku lebih dulu mebuat ekspektasi tinggi. Hingga membuatku lupa sedang dalam posisi apa saat ini. Dan saat tidak sesuai realita, yang aku bisa hanya memendam. Sayangnya aku bukan tipikal ceplas ceplos sana sini, umbar sedih umbar senang umbar sakit. Aku sulit untuk berkata. Aku sulit untuk mengungkap rasa. Aku hanya pandai bermain aksara.
Panggil aku si kaku. Karna kerjaku hanya menunggu. Seolah stuck pada kodrat.
Ya, kodrat perempuan sesungghnya bukan. Mununggu, Ah, susahnya jadi perempuan.

Laki-Laki.

Bukan seseorang yang pandai dalam menyampaikan rasa. Dalam tindakan saja masih kaku. Terlebih dengan kalimat yang harus aku sampaikan langsung. Yang ada celanaku sudah basah lebih dulu. Membalas pesanmu sekarang saja aku masih bingung seperti apa aku harus menjelaskan. Satu yang membuatku ragu. Reaksimu. Akankah senang atau sebaliknya. Ah, aku memang payah.
Salah kata salah pemahaman. Alah, memang susah jadi laki-laki.

Celah

Di balik tirai biru. Seperti sudah kutemukan yang baru. Rautnya sangat jelas. Matanya penuh binar. Kata katanya lebih manis ketimbang madu yang aku minum saat sakit. Hanya bedanya madu ini aku nikmati sebelum merasakan sakit. Memperburuk fungsi otak. Menimbulkan banyak anak jerawat. Sungguh, aku tidak ingin memikirkanya terlalu keras. Tapi kau buatku melakukanya. Sekali lagi.

Aku salut padamu. Sangat pandai mencari celah. Celah untuk datang, dan pergi.

27 Mei 2016

Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?

Kita diam
Kita tak bersuara
Kita penuh rahasia
Kita simpan rapat untuk kita sendiri

Mataku jatuh ke dalam sosok masa lalu mu
Mengaggumi begitu hebatnya dia
Terlihat begitu mewah
Seakan dia adalah mutiara sedangkan aku keong kali

Fikiranmu rumit
Tak dapat ku tebak
Alasan apa yang membuatmu lebih memilih keong kali ketimbang mutiara indah dalam cangkang?
Aku sempat bertanya, tapi seperti yang aku bilang
Fikiranmu rumit

Tapi kata katamu seolah membawaku semakin dekat
Dekat pada pusaran yang sangat aku takuti dan ku hindari
Takut antara benarkah itu miliku?
Atau sekedar bayangan fana

Kala itu senja
Aku mengagumi sosok masa lalumu
Yang membuatku terus bertanya
Benarkah kamu sudah melupakanya?

Kala itu senja
Di dalam bioskop remang remang
Aku tau kau tak pandai berkata
Namun mudah untuk ku baca
Dari sorot matamu menatapku penuh binar
Dan seolah berkata dan menegaskan

"Aku sudah melupakanya, sudah tak ada lagi rasa antara aku dengan dia. Kini saatnya kau singgah di hatiku. Namun, siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?'

KitaKita diam
Kita tak bersuara
Kita penuh rahasia
Kita simpan rapat untuk kita sendiri

23 Feb 2016

Datanglah Kembali

Aku harus mengutarakanya. Walau sakit memang sudah menjadi konsekuensi tersulit. Tapi aku harus mengatakanya.
Jalan kita sudah berbeda. Kamu bukan lagi yang aku harapkan. Kita sudah dalam skenario berbeda. Dua tokoh yang dulunya di setting akan berbahagia selamanya sudah lenyap. Takdir berkata lain. Bukan tentang rasa yang sudah hilang. Tapi prinsip yang membuatku berubah fikiran tentang hal yang ku kira akan menjadi akhir dan akan menjadi selamanya. Maaf. Kamu bisa bilang aku ini bodoh. Aku tidak memiliki pendirian tetap. Tapi lihat lah tuan. Tak ada seorangpun di dunia ini yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Bila memang ini rencana tuhan. Apa yang bisa aku tentang? Jika memang kamu adalah yang terbaik menurut pilihan tuhan. Takdir juga lah yang mempertemukan kita. Jangan khawatir tuan.  Perbaiki saja dirimu dan akupun begitu. Karna aku sudah terlanjur jatuh dan aku tak pernah tau lagi bagaimana carana berdiri.

1 Jan 2016

Get Me Wrong

Mata coklatnya memandang lurus kearah dinding bercat abu-abu. Dimana ia menggantung semua piagam dan mendali yang begitu berharga baginya. Karna hanya untuk mendapatkan kertas dengan coretan dan kalung dengan mandel besar itu dibutuhkan keuletan dan perjuangan yang tidak mudah.

Fokusnya beralih ke titik pigura kosong. Yang sengaja sudah ia persiapkan untuk piagam yang sangat ia inginkan sejak kecil. Piagam kejuaraan nasional. Yang membuatnya semangat menjadi seorang perenang. Mengenang almarhum ayahnya sebagai atlit renang nasional. Berharap ia dapat memajang piagam tersebut sebagai hadiah untuk ulang tahun minggu depan.

Sayangnya impian dan harapan manusia terkadang tidak sejalan dengan realita. Bimo harus menelan pahit saat mendapati cidera. Membuatnya mustahil ikut kejuaraan itu. Bisa-bisa dia membawa pulang cidera yang lebih parah bukanya sebuah piagam atau mendali. Setidaknya masih ada kesempatan tahun depan.

Bimo membawa tubuhnya duduk santai di balkon kamar. Tanganya merogoh saku mencari ponsel disana. Saat dia mendapatkanya matanya berubah teduh menatap gambar seseorang di lock screen. Gadis manis berkulit pucat dengan rambut panjang kecoklatan tengah menunjukan wajah imutnya. Bimo tersenyum menatap tanpa henti. Seolah matanya sedang menyampaikan rindu yang teramat dalam.

Bimo terlonjak kaget saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang tertera disana adalah ‘Gilang’. Alisnya berkerut memikirkan apa yang mebuat sahabatnya itu menelfon di hari menjelang maghrib begini.

“Halo? Ada apa lang?”

***

Lelaki dengan rambut ikal keclokatan itu berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Sambil terus mengecek nomor yang tertera di setiap pintu. Langkahnya semakin cepat, sepertinya dia segera mendapati nomor yang dituju. Nafasnya yang terengah-engah, keringatnya yang sebesar biji jagung sudah tak dihiraukan.Yang ia fikirkan saat ini hanya harus menemukan Bintang dan mendapati ia baik-baik saja barulah ia bisa tenang. Namun, setelah apa yang dia dengar tentang Bintang dari 
Gilang, ia tidak yakin kalau Bintang sedang baik-baik saja.

Bimo menghentikan langkahnya saat menemukan Gilang duduk tertunduk di sebuah kursi panjang. 
Bimo menghembuskan nafas berat sebelum ia berlari menuju Gilang.

Gilang berdiri menyadari kedatangan Bimo.

“Mana Bintang? Dia di dalem? Huh?” Dengan panik Bimo melangkah mendekati pintu hendak masuk. Namun segera lenganya di tahan oleh Gilang. Gilang menarik Bimo hingga terduduk. Rasanya kaki Bimo lemas. Seluruh ototnya lelah. Hingga ia menurut saja saat Gilang menariknya duduk.

Gilang menepuk pundak Bimo beberapa kali. Tanda penyemangat dari seorang sahabat.

“Bintang..” Bimo menoleh dengan alis berkerut, menunggu Gilang menyelesaikan kalimatnya.

“Bintang koma bim, dan dia belum bisa di jenguk” lanjut Gilang yang langsung membuat tubuh Bimo lemas seketika. Bimo menyandarkan tubuh atletisnya pada sandaran kursi. Besi kursi yang dingin menyentuh kulit lehernya mebuatnya merasa beku sesaat. Matanya terpejam mencoba mencerna peristiwa yang baru saja menimpanya. Rasanya seperti sial sangat suka membututinya dan membuat hidupnya menjadi kacau.

Sudah cukup Bimo dibuat pusing dengan kejadian yang belakangan ini terjadi menimpanya. Mulai dari cidera yang ia dapat saat latihan renang yang membuatnya tidak dapat mengikuti kejuaraan. Dan kesalahfahaman yang terjadi diatara Bimo dan Bintang. Hingga Bimo membuat Bintang benar-benar kesal lalu meminta putus tanpa pikir panjang. Orang yang di harapkan Bimo selalu berada di sisinya disaat ia sedang down malah memilih mundur dan pergi.

Bimo sempat ingin meluruskan kesalahfahaman yang terjadi saat itu juga, namun Bintang tidak pernah mau mendengarkanya. Mungkin saat itu Bintang memang sedang dalam emosi yang memuncak. Sehingga Bimo mencoba memberi waktu agar Bintang sedikit redam, dan mudah untuk diajak bicara.

Namun, satu hari.. dua hari.. Bintang tak pernah muncul dihadapanya. Sekali bepapasan Bintang menghindar dengan muka merah. Entah karna marah atau malu atau bukan keduanya. Bimo berusaha mengejar namun selalu di hadang oleh sahabat Bintang.

Hingga setelah berlalu satu minggu, Bimo menemukanya dalam keadaan koma. Penyesalan mendalam meggelayut dalam benak Bimo. Seaakan senang dengan penderitaan yang di alaminya.

“gue gak tau kejadian sebenernya gimana. Bintang cuma pamit buat pulang setelah rapat osis. Ternyata dia pulang bareng Roy. Dan..” Bimo bangkit dari posisinya dan menatap Gilang dengan pandangan lanjutin-ceritanya.

Gilang menyadari tatapan Bimo. Membuatnya menghela nafas dan kembali berbicara “Dan gue gak tau lanjutanya. Untung gue ada di cafe sekitar situ tadi. Dari kejauhan sih gue lihat mobil roy ugal-ugalan kaya kesetanan gitu. Trus nabrak pohon, gak lama setelah Roy dan Bintang di selametin mobil Roy kebakar”

Rahang Bimo mengeras, tanganya terkepal disisi tubuhnya dan wajahnya merah menahan marah. “Dimana Roy sekarang?” tanya Bimo ketus.

“Dia juga koma Bim, mereka berdua dalam keadaan kritis” tanpa disadarinya Bimo menonjok dinding putih rumah sakit dengan sangat keras. Kakinya berjalan kesana kemari berulang-ulang. Sambil terus mengusap kasar rambutnya hingga berantakan. Sesekali ia mengintip ke arah jendela kecil di pintu bernomor 27 dengan perasaan kacau.

Tanpa pikir panjang Bimo segera membuka knop pintu dan masuk kedalam. Ia berjalan cepat menuju ranjang Bintang sebelum di cegah oleh Gilang.

Bimo menatap pilu orang yang sangat ia cintai. Beberapa selang menempel di tubuh Bintang dan perban yang menutupi luka di bagian kepala Bintang. Mata teduh yang sangat Bimo sukai sedang tertutup rapat dan Bimo tidak tau sampai kapan ia bisa menatap mata itu lagi.

Melihat keadaan Bintang yang begitu menyedihkan membuat Bimo ingin sekali berteriak memaki di depan orang yang mencelakakan Bintang dan menonjoknya hingga tersungkur.

Derapan beberapa kaki terdengar mendekat, “lo harusnya gak masuk” tegas Gilang dengan suara pelan yang tidak di gubris oleh Bimo.

“Bintang..” suara Anne dan Tere yang terdengar lesu melihat kondisi sahabatnya.

Rahang Bimo kembali mengeras. Ia tak mau hanya diam saja setelah melihat apa yang terjadi pada Bintang. “dimana ruangan Roy?” tanya Bimo.

Gilang hanya menatap Bimo dengan dengan tatapan lo-gak-akan-ngelakuin-hal-gila-kan. “gue gak yakin buat ngasih tau lo” jawab Gilang.

Setelah dipikir bertanya pada Gilang tidak berguna da hanya mebuang waktu, Bimo berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat. Masih dengan emosi yang memuncak dan kepalan yang semakin mengerat Bimo menanyakan kamar Roy kepada beberapa suster. Ia beruntung karna sang suster tidak bersekongkol dengan Gilang sehinga ia dapat menemukan kamar Roy dengan cepat.

Saat Bimo menemukan ruangan Roy, ia hanya diam di depan pintu. Mempehatikan sekeliling. Jika suasana di ruangan Bintang terlihat ramai dengan sahabat dan orang tuanya yang sempat ia lihat saat keluar tadi, berbeda dengan ruangan Roy. Disini sangat sepi. Tak ada seorangpun yang yang duduk menunggu dengan raut khawatir. Perasaan bersalah kembali menyusup dalam diri Bimo.

Bimo mengintip dari jendela kecil. Dan ia menangkap sosok lemah yang lain terbujur di atas ranjang dengan perban yang lebih banyak. Tanpa sadar Bimo membuka pintu dan melangkah masuk kedalam. Hatinya yang menyuruhnya berlaku spontan. Karna dalam hatinya ia masih sangat peduli pada Roy, sahabat lamanya.

Bimo berdiri tak jauh dari ranjang Roy. Menatap Roy pilu. Seakan amarahnya yang menggebu-gebu tadi hilang seperti asap rokok.

“Harusnya lo mati” ucap Bimo pelan namun tegas kepada Roy yang tidak sadarkan diri “lo hidup juga gak berguna. Lo nyelakain orang yang gue sayang. Dan lo udah nyiya-nyiain gue, satu-satunya orang yang peduli sama lo” suara Bimo tiba-tiba serak di akhir kalimatnya. Membuatnya harus menelan ludah untuk membasahi tenggorokanya.

Bimo yang sudah sejak smp bersahabat denga Roy mengetahui segalanya tentang Roy. Sifat luar dalam, kenakalan, kehidupan Roy dan keluarganya, Bimo tau semua. Karna mereka sangat dekat, dulu.

“coba liat sekarang. Lo sekarat juga gak ada yang peduli. Cuma gue yang ada disini” Bimo tertawa sinis sebelum melanjutkan kata-katanya “andai aja lo lebih ngeliat keberadaan gue dan gak nyia-nyiain gue dulu. Gue pasti jadi orang pertama yang khawatir saat lo kayak gini” Bimo tersenyum miring. Namun segera berubah datar saat melihat jari-jari Roy bergerak.

Melihat itu Bimo tak mau lagi melanjutkan kata-katanya. Sebelum penyesalan masa lalu kembali menghantuinya Bimo memilih berbalik dan berjalan keluar. Namun tanpa Bimo sadari, Roy mendengar semua yang Bimo katakan. Semua.

***

Bimo berjalan cepat ke arah kamar bernomor 27 dengan bunga lili favorit Bintang. Setelah berada di dalam, Bimo segera mengganti bunga lili yang mulai layu degan yang berada di genggamanya. Ia tersenyum memandangnya.

Tak lama matanya beralih fokus pada gadis berwajah pucat yang masih belum mau memperlihatkan mata teduhnya setelah 4 hari berlalu. Lengkungan garis tipis terbentuk menghiasi wajah lelah Bimo setelah seharian sekolah dan dilanjut berlatih renang. Rasa lelahnya terasa terbayar saat melihat gadis yang dicintainya.

Bimo menarik kursi terdekat dan mendudukinya. Tanganya meraih tangan Bintang yang tertempel selang infus. Bimo menggenggamnya lembut sambil menatap setiap lekukan wajah Bintang. Dia tetap terlihat cantik batin Bimo sambil tak henti-hentinya tersenyum.

“Bintang. . kamu masih marah yaa. Udahan dong marahnya. Kamu marahnya sama aku tapi semua orang ikut khawatir” sejenak Bimo berfikir, merasa malu mangatakan hal menjijikan seperti itu. Pasti jika Bintang sadar Bimo sudah dipukuli tanpa ampun. Bintang memang aneh, tidak pernah mempan dengan rayuan gombal.

Bimo memainkan jari-jari Bintang sambil terus melanjutkan kalimatnya“Tang aku mau lurusin masalah yang kemaren. Sebelum aku makin gila kepikiran ini trus setiap malam. Sebenernya aku sama Luna itu gak ada apa apa. Luna cuma minta bantuan aku biar dia bisa deket sama Gilang. Luna sukanya sama Gilang bukan sama aku” Bimo menghela nafas lega.

“Harusnya aku bilang sejak awal. Maaf Bintang. Kamu bangun dong tang” berfikir bahwa usahanya juga akan percuma Bimo kembali diam dan memerhatikan raut wajah Bintang yang pucat.

Bimo membanting tubuhnya pada sandaran kursi “Kapan sih lo bangun tang? Gue kangen ngobrol sama lo” mata Bimo melirik gitar disamping kursinya. Dia meraihnya dan mulai bermain. Lagu favorit Bintang.

“Gue kasih lagu ini, biar lo gak ngerasa kesepian”

Breath deep breath clear

Know that i’m here, know that i’m here waiting

Stay strong stay gold

You don’t have to fear, you don’t have to fear waitng

I’ll see you soon i’ll see you soon

How could i heart like yours, ever love a heart like mine

How could i live before, how could i have been so blind

You opened up my eyes, you opened up my eyes

Suara Bimo menghilang di bagain akhir Berubah serak yang tak dapat ditutupi. Hatinya perih melihat kondisi Bintang.

“Bintang lo pasti bakal bagunkan? Please.. lo harus bangun buat orang-orang yang sayang sama lo. Karna gue sayang sama lo” Bimo tertnduk lesu. Membiarkan pikiranya terbang. Namun, saat tiba-tiba tanganya terasa disentuh seseorang pikiranya kembali pada tempat semula.

Bimo terkejut dengan senyum mengembang. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Mata teduh yang ia tunggu menatapnya lagi. Dengan binar yang sangat indah tercetak disana. Garis tipis terbentuk dari bibir pucatnya. Dan senyum Bimo semakin mengembang saat Bintang memanggil namanya.

“Bimoo..”

***

“Nih, aku buatin spesial buat kamu” ucap Bintang setelah mengambil tempat di samping Bimo yang sedang memainkan kakinya di dalam air.

“Sandwich lagi?” celetuk Bimo dengan nada protes. Membuat Bintang mengerucutkan bibirnya. Dan Bimo malah tertawa kecil melihat kelakuan Bintang.

“Emang baru bisanya bikin sandwich. Nanti kalo aku udah bisa bikin rendang, kamu aku buatin setiap hari deh” kata Bintang jutek.

“Kalo kamu yang buatin, singkong rebus pake garam tiap hari juga aku makan kok” dan Bimo menyesali ucapanya saat itu juga karna mendapatkan pukulan maut dari Bintang.

“Gak usah gombal deh lo. Udah makan aja bekalnya gak usah bawel”

“Iya nyonyaa” goda Bimo.

Tak ada lagi percakapan setelah itu. Keduanya menikmati sore di pinggiran kolam renang tempat Bimo berlatih. Bintang tersenyum memandang Bimo yang sangat lahap memakan bekal darinya. Bintang tak habis fikir, meski mereka berdua sudah berkali-kali putus nyambung gara-gara hal sepele, tapi akhirnya mereka tetap akan bersama di akhir cerita. Sifat Bimo yang keras kepala dan keukeh dengan keinginanya selalu dapat membuat Bintang kembali jatuh hati. Dengan segala yang Bimo perjuangkan untuknya. Bintang hargai itu. Dengan membalas perasaan Bimo.

“Bimo”

“Hmm..”


“Terus buat gue jatuh cinta sama lo yaa”

Aksi Panggung The 1975 Mengecewakan

Setelah ini mendengarkan Robbers rasanya ga akan lagi semenyenangkan dulu, karna bercampur aduk dengan perasaan marah dan bersalah. Baru saj...